
Assalamu'alaikum, Readers🤗
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan minal'aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat hari raya idul fitri 1442 H🙏🙏 Terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu cerita ini😍
Happy reading...
Siang ini nampak sangat cerah, namun ternyata tak secerah hati Widiya. Wanita paruh baya itu terlihat sendu mengingat ini adalah hari kepergian sang menantu.
Suara roda koper yang ditarik Riky, menyadarkan ketertegunan Widiya. Ia menyadari sudah saatnya berpisah. Jika Salim, Alvin dan Evan berbincang sambil diselingi tawa, maka hati Widiya saat ini sedang berduka.
"Ma..." Suara riang Alena mengalihkan perhatiannya. Lagi-lagi yang ia lihat berbanding terbalik dengan perasaannya.
Tentu Alena senang bisa pergi dan tinggal bersama Riky, putranya. Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa menjalani biduk rumah tangga seperti pada umumnya.
Satu pelukan terakhir mengantar kepergian Alena dari rumah mertuanya. Dengan berat hati, Widiya harus rela berpisah dengan menantu satu-satunya itu.
"Udah dong, Ma. Lena usahakan akan sering pulang." Alena mengusap air mata di kedua ujung mata Mama Widiya.
"Kabari mama setiap hari ya," pinta Widiya dengan wajah yang sayu.
"Oke. Alena pergi sekarang ya, Ma." Ujarnya yang kembali memberi mertuanya satu pelukan perpisahan. Kemudian ia melambaikan tangan dengan senyum mengembang.
"Jeng, titip mama ya! Jangan lupa kasih kabar kalau kamu mau ke sana."
"Siap, Kak," sahut Ajeng sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Daah, Mbok!" Serunya lagi.
"Selamat jalan, Non. Hati-hati," sahut Si Mbok.
"Papa..." Alena mencium punggung tangan Salim dan memeluknya.
"Duuh, senangnya. Apalagi yang itu tuuh..." Gerakan bibir Salim menunjuk pada Riky yang sedang berpamitan pada mamanya.
"Weis... jangan ditanya kalau dia, Om. Hajar terus," timpal Alvin sambil berkelakar.
__ADS_1
"Ditunggu kabar gembiranya ya, Sayang," ujar Salim sambil mengusap pucuk kepala Alena.
Alena hanya tersenyum tipis. Sementara itu Riky yang datang menghampiri berucap, "Sabar dong, Pa. Magangnya baru dimulai. Belum lagi wisuda, yuk ah Sayang."
Riky tentu mengerti harapan besar orang tuanya yang ditujukan pada istrinya. Namun ia juga mengerti masih ada tahapan akhir dari pendidikan Alena.
Pasangan muda itu melambaikan tangan pada mereka yang mengantar. Dengan diantar Papa Evan dan Alvin, mereka menuju ke bandara.
"Sudah ah, mama kok jadi cengeng. Malu tuh sama si Mbok. Alena itu ikut Riky ke kota D, bukan ke luar negeri. Kan papa sudah bilang, kita akan ke sana kalau dia tidak sempat pulang. Papa juga berencana membeli rumah di kota itu. Biar nanti mereka tidak usah tinggal di apartemen lagi. Kalau perlu kita juga pindah ke sana." Tuturnya.
"Janji ya, Pa."
"Iya... Ayo Jeng, kita masuk. Tante kamu kok jadi melow," delik Salim sambil menahan senyum. Begitu juga dengan Ajeng yang mengulumkan senyum dan mengikuti pasangan itu masuk ke dalam rumah.
***
Sementara itu di kediaman Salman...
Hari Minggu selalu menjadi hari yang paling ditunggu. Terutama bagi anak-anak. Mereka berlarian menuju kolam renang tanpa menghiraukan seruan Laura.
"Queen, aku udah bisa gaya punggung. Balapan yuk!" ajak Amar.
"Enggak ah. Kakak mau nemenin Baby. Baby, Kakak ajarin berenang yuk!"
"Jangan dilepas ya, Kak," pinta Fatima.
"Nggak dong."
"Kakak Amar pernah lepasin aku. Jadinya kelelep," ujar Fatima dengan wajah cemberut dan nada yang manja.
"Bilangnya sama kakak, nanti kakak yang ngajarin."
"Oke deh." Dengan riangnya mereka berenang di kolam itu. Tanpa mereka sadari, sang kakek sedari tadi menatap dari balik kaca jendela kamarnya dengan senyum terukir di wajah.
"Ayah..."
__ADS_1
Salman menoleh pada Meydina yang memasuki kamarnya. Seulas senyum menyambut tangan Meydina yang melingkar di pinggangnya.
"Ayah kenapa belum keluar kamar? Mey tanya Dokter Agus, katanya ayah ingin istirahat. Ayah kan belum sarapan. Di teras yuk, sambil melihat anak-anak." Meydina menatap lembut wajah ayahnya yang terlihat sayu.
Salman mengangguk pelan dan berjalan meninggalkan kamarnya sambil bergandengan. Ia tahu anak-anaknya sedang mengkhawatirkan keadaannya. Hal itu membuat Salman semakin berat meninggalkan mereka.
"Kakek!" seru anak-anak menyapanya.
Salman membalas dengan melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Semangkuk hummus terhidang lengkap dengan senyuman Laura yang menyajikannya.
"Alvin ikut mengantar Alena?"
"Iya, Yah."
"Kata Bram, Maliek juga akan ke luar kota. Kapan?"
"Nanti malam, sama Kak Alvin juga. Yah..."
"Sama Alvin?"
"Iya, mereka ingin memastikan proyek kerjasama sebelum ke sana."
"Ke sana, kemana?" tanya Salman heran.
"Ke Timur Tengah. Sebentar lagi anak-anak libur sekolah. Kita akan liburan di sana, Yah. Dan yang lebih penting, ayah harus menajalani pengobatan di sana," sahut Meydina.
Salman terdiam, ia mulai menyuapkan hummus tanpa berucap apapun juga.
"Ayah harus semangat ya, kami akan menemani ayah. Anak-anak sangat antusias saat mengetahuinya. Apalagi Kakak Zein," ujar Laura.
"Kalau dia sih pasti senang. Ayah tahu, Queen sama Fatum sudah request ingin naik unta. Dan Amar, dia bilang ingin main ke kebun kurma."
"Kalau kamu ingin ke mana, Mey?" tanya Laura.
"Mey ingin menghabiskan waktu di taman anggrek ibu. Duduk di taman itu sambil mengenang ibu. Kakak ingin ke mana?"
__ADS_1
"Belanja," sahut Laura spontan dan dijawab acungan jempol oleh Meydina.
Salman tersenyum tipis mendengarnya. Ia berusaha menutupi rasa haru yang sedang dirasakannya. Pekikan anak-anak yang saling mengganggu membuatnya terkekeh. Tatapannya menerawang menyaksikan keceriaan cucu-cucu yang akan menjadi generasi Al-Azmi selanjutnya.