My Love My Bride

My Love My Bride
kedatangan Ajeng (bagian 2)


__ADS_3

Happy reading...


"Siapa, Mbak?" Pertanyaan Risa yang bernada tinggi itu membuat dada Ajeng seketika bergemuruh.


"Jadi benar, Papa tinggal dengan j*lang di tempat ini." Batin Ajeng.


Sekuat tenaga Ajeng menahan perasaannya ketika suara sang papa terdengar juga.


"Coba lihat, Ris. Mungkin teman kamu," titah Pras.


"Ish, siapa sih!" decihnya pelan.


"Siapa Mbak?" tanyanya lagi.


Belum sempat pengasuh Baby Zee itu bertanya, Ajeng sudah menerobos masuk.


"Ini Ajeng, Pa." Ujar Ajeng dengan suara yang lantang namun terdengar bergetar.


Uhhuk ... uhhuk.


"Ajeng?"


Sambil mengusap kopi di ujung bibirnya, Pras bergegas menghampiri Ajeng. Terlihat jelas keterkejutan yang tidak dapat ditutupi pria paruh baya itu.


"Sayang? Dengan siapa kamu ke sini?" tanya Pras salah tingkah. Ia memang bukan ayah yang baik, namun ia tak pernah ingin sisi buruknya itu terlihat oleh putrinya.


"Oh, jadi ini anak sialan itu." Batin Risa.


Sambil menggendong Zee, Risa mendekati Pras dengan anggunnya. Senyum yang diukir paksa siap menyambut kedatangan Ajeng.


"Di suruh duduk dong, Mas. Zee, ada Kakak Ajeng. Salim, Sayang." Ujar Risa mengulurkan tangan Baby Zee.


Ajeng terpaku menatap wajah mungil yang cantik itu. Degup jantungnya berpacu manakala senyum polos anak itu menyapanya. Sialnya lagi, anak itu merentangkan tangan ingin dipangku oleh Ajeng.


"Wah, Zee tahu ya ini kakak. Nggak biasanya minta digendong orang yang baru kenal. Ternyata benar, kalau darah itu memang lebih kental dari pada air."


"Sudah-sudah, ada-ada saja kamu. Ayo duduk, Sayang. Sudah sarapan belum? Risa, buatkan sarapan untuk Ajeng." Titah Pras sambil merangkul pundak Ajeng. Pras bahkan mengecup pucuk kepala Ajeng yang masih terdiam dengan langkah yang dipaksakan.


"Pa, Ajeng mau bicara." Ucap Ajeng tanpa basa-basi.


"Bicara apa, Sayang? Nanti saja bicaranya, Papa rindu sama kamu. Bagaimana kuliahmu? Apa ada sesuatu yang harus dibayar?" tanya Pras yang mengusap-usap sofa yang akan diduduki Ajeng.


"Heh, dia pasti ke sini untuk meminta uang. Pura-pura kangen supaya dikasih lebih oleh Mas Pras," decih Risa dalam hatinya.


"Tidak ada, Pa. Tante Widiya sudah mengurus semuanya." Sahut Ajeng pelan.


Mendengar jawaban Ajeng, Pras tidak bisa menyembunyikan raut wajah tidak sukanya. Bagaimanapun dirinya masih ada, tapi Hesty justru meminta Widiya yang mengurus semua keperluan Ajeng dan aset-aset berharga atas nama putrinya tersebut.


Apa yang dilakukan wanita itu? Menikmati hari tua dengan teman-teman sosialitanya? Benar-benar mengecewakan. Jauh berbeda dengan sosok Hesty yang dikenalnya dulu.


"Pa ...."

__ADS_1


"Jeng, kamu sengaja ngambil penerbangan pagi, Nak? Penerbangan jam berapa?"


"Ajeng ke sini naik kereta, Pa."


"Apa? Kamu naik kereta? Kenapa? Jangan bilang kalau Widiya tidak memberimu uang." Pras telihat mulai naik pitam.


"Bukan begitu, Pa. Tante ...." Kalimat Ajeng terhenti saat ujung matanya menangkap sosok Risa mendekatinya.


"Dia pasti menggunakan uang Ajeng untuk keperluannya sendiri. Iya kan, Mas? Bukankah dia itu istri mantan pejabat? Pasti untuk beli barang-barang branded. Heh, memang dasar licik." Tuduh Risa yang datang dengan sepiring roti isi yang diletakkannya di atas meja.


"Tante Widiya tidak seperti itu. Menjauhlah dariku! J*lang sepertimu tidak seharusnya ada di hadapanku." Tegas Ajeng dengan tatapan menajam terarah pada Risa.


Risa menganga mendengar pernyataan Ajeng. Hatinya menggeram dengan tatapan yang nyalang.


Sementara itu, Pras mengepalkan tangannya. Mencoba menahan emosi dengan membuang muka.


"Mas. Mas dengar apa sebutan anakmu ini untukku? Jangan diam saja dong, Mas!" Pekik Risa.


"Kalau bukan j*lang lalu apa, hah? Apa sebutan yang pantas untuk kamu. L*nte?"


Plak.


Satu tamparan yang dilayangkan Risa membuat suasana hening seketika. Ajeng terpaku. Sementara Pras langsung berdiri dan menarik tangan Risa. Dengan kasar Pras menghempaskan Risa ke ujung sofa.


"Berani sekali kamu, Risa." Bentaknya.


"Mas!"


"Menjauh dari Ajeng, Pa."


Langkah Pras terhenti. Hatinya bergetar melihat air mata menetes di pipi Ajeng. Terlihat jelas rasa jijik itu. Rasa jijik pada dirinya dari sorot mata Ajeng yang digenangi air mata.


"Sayang .... Papa minta maaf." Suara Pras terdengar bergetar.


"Untuk apa, Pa?" Suara Ajeng tak kalah bergetarnya. Gadis itu menahan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.


"Tetap di situ, Pa." Cegah Ajeng saat melihat papanya mulai mendekat.


"Ajeng benci pada Papa. Papa egois. Papa tidak menyayangi Ajeng lagi. Papa tidak perduli pada mama. Papa hanya memikirkan diri sendiri. Ajeng benci!" pekiknya.


"Eh! Seharusnya yang kamu benci itu mama kamu. Dasar ...."


"Diam, Kamu! Jangan pernah menyebutkan apapun tentang mamaku dengan mulut kotormu itu. Bangkai sepertimu, jauh saja sudah bau. Jadi jangan pernah mendekatiku!" Hardik Ajeng dengan tatapannya yang nyalang.


"Cukup, Ajeng. Kamu datang ke sini hanya untuk merusak suasana hati Papa, hah? Risa benar, bukan cuma papa yang salah. Kamu tidak adil jika hanya menyalahkan papa." Tegas Pras.


Risa menyunggingkan senyum senangnya mendengar hal itu. Ia menggeram sudah tidak sabar melihat Ajeng menjadi sasaran amarah Pras.


"Salahkan juga mama kamu. Sukanya hanya menghambur-hamburkan uang dan meninggalkan kamu sendirian." Imbuh Pras.


"Mama seperti itu karena tahu kelakuan papa," sahutnya sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Bukan berarti kamu membenarkan sikapnya, Ajeng. Mamamu juga egois. Dia juga mementingkan diri sendiri." Tegasnya. Menatap tajam pada Ajeng yang terisak sambol merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


"Ajeng kecewa pada Papa." Ujar Ajeng dengan suara yang berat sambil menaruh kasar sebuah kertas di atas meja.


Gadis itu berlalu meninggalkan papanya, berjalan cepat menuju pintu yang ternyata sedikit terbuka.


"Ajeng. Kamu mau ke mana?" tanya Pras meraih lengan putrinya.


"Lepaskan, Pa. Ajeng mau pulang. Mama sudah benar dengan menitipkan Ajeng pada Tante Widiya. Setidaknya Tante Widiya lebih menyayangi Ajeng dari pada Papa." Ujar Ajeng sambil melepaskan genggaman tangan papanya.


Pras tertegun. Ia baru tersadar saat mendengar suara pintu yang ditutup kasar.


"Mas. Kalau Mas menyusul Ajeng, Risa akan pergi dari kehidupan kamu, Mas." Cegah Risa dengan suaranya yang lantang.


Pras berbalik, menetap tajam pada Risa.


"Mas ...."


Terlihat raut wajah Risa yang mulai merasa takut, menyadari sorot mata Pras yang tidak biasa. Benar saja, pria itu meraih tangannya dan menariknya paksa ke dalam kamar.


"Berani sekali kamu mengancamku. Tangan ini, tangan ini sudah lancang karena berani menampar putriku." Desisnya dengan tatapan nyalang.


"Aww! Sakit, Mas," rintihnya.


"Sakit, hah? Lalu bagaimana denganku? Putriku sendiri mengatakan bahwa dia membenciku. Apa kau pikir Ajeng tidak merasa sakit saat kau lancang menamparnya? Bahkah aku tidak pernah mengangkat tangan pada putriku. Berani sekali, Kau!"


Plak.


Satu tamparan membuat Risa terhuyung. Sialnya bagi Risa, Pras belum merasa cukup dengan satu tamparan saja. Pria itu menarik paksa dan menampar Risa lagi dan lagi.


Tidak sedikitpun rasa iba itu terlihat dari sorot mata Pras. Bahkan saat Risa bersimpuh memohon pengampunan karena ujung bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.


Risa menjerit saat Pras menjambak rambut dan menariknya untuk berdiri. Melihat wajah Risa yang membiru di beberapa sisi, barulah membuat Pras tersadar dan menjatuhkan genggaman di rambut Risa.


Risa terjatuh di lantai. Ia menangis sejadi-jadinya sambil merasakan sakit di raga juga hatinya.


Sementara itu Pras melangkah keluar kamar dengan emosi masih menguasai diri. Ia berniat menyusul Ajeng dan memastikan putrinya itu baik-baik saja.


Langkah Pras terhenti saat ujung matanya melihat kertas yang tadi diletakkan Ajeng. Pria itu berjalan mendekati meja.


Sekilas Pras melihat Baby Zee yang digendong oleh pengasuhnya di salah satu pojok ruang makan. Anak kecil itu pasti merasa takut mendengar pertengkarannya tadi.


Pras membuka lipatan kertas itu.


"Surat keterangan dari Rumah Sakit? Siapa yang sakit?" Gumamnya heran.


Perlahan Pras mulai membaca tulisan pada kertas itu. Hanya beberapa detik saja, tangannya terlihat gemetar dengan kaki yang mulai terasa lemas.


"Hesty sakit?"


Wajah Pras memucat. Tubuh lemasnya terjatuh di sofa. Sekali lagi dibacanya surat keterangan itu. Tanpa terasa ujung matanya mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Maafkan aku, Hesty." Sesal Pras.


__ADS_2