My Love My Bride

My Love My Bride
Agam vs Laura


__ADS_3

Happy reading...


Ajeng tersenyum tipis pada Nindy yang melambai dan pergi meninggalkanya. Alisnya tertaut melihat Agam yang kembali berjalan ke arahnya.


"Sorry, kalau gue agak kasar. Oh ya, mau makan siang di mana?" tanya Agam dengan senyum tipis di wajahnya.


"Bagaimana kalau di Queen Resto?"


"Queen Resto, di mana itu?"


"Itu di jalan TM, restoran saudara Kak Alena. Hari ini aku nggak bawa motor, di rumah juga nggak ada siapa-siapa. Jadi main ke sana aja, sekalian ngajak kakak makan siang sebagai ungkapan terima kasih." Sahutnya.


"Kak Alena? Alena yang mana? Anak Akuntansi itu bukan? Aku tahunya Alena yang itu," ujar Agam berpura-pura.


"Iya. Dia istri kakak sepupuku."


"Oh, jadi cewek ini sepupunya dia..." batin Agam.


"Tidak usah berlebihan, itu hanya sapu tangan. Aku yang traktir deh. Alena nanti ke sana nggak?"


"Iya, kalau sudah selesai. Biar sekalian nebeng pulang, hehe. Jadi siapa nih yang traktir?" tanya Ajeng antusias.


"Aku. Masa iya cowok ditraktir cewek," sahut Agam santai.


Dalam hati pria itu bersorak karena bisa bertemu Alena setelah beberapa hari tidak melihat wanita itu. Sepertinya Alena menghindarinya setelah kejadian itu. Dan mereka pun kini berjalan menuju tempat parkir.


***


Raut wajah lega tersirat dari wajah para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan mata kuliah mereka. Betapa tidak, satu jam lebih mereka menikmati materi yang disampaikan dosen yang terkenal 'si ratu tega'. Julukan yang disematkan karena sang dosen tak segan memberi nilai rendah untuk mereka yang tidak menyimak penyampaian materinya.


"Alena. Bagaimana, sudah ada kabar baik tentang magang kita?" tanya seorang teman dekat Alena.


"Kalau aku sepertinya nggak jadi deh, Len. Karena aku udah diterima di kantor perpajakan di daerah asalku," ucap Nindy dengan raut wajah senang.


"Ciee, yang bisa pulang lama. Enak dong," goda Alena.


"Bisa aja, kamu juga enak bisa barengan terus sama suami kamu. Iya nggak?" tanya Nindy pada temannya yang lain. Dan diangguki oleh mereka.


"Di Al-Azmi Corp. hanya ada untuk 2 orang, begitu juga di Bramasta Corp. Aku cukup lega, karena awalnya aku akan merasa tidak enak pada salah satu dari kalian. Syukurlah Nindy sudah ada tempat magang."


"Terima kasih, Len."


"Sama-sama, kalian harus serius ya. Jangan main-main."


"Siap. Kami tidak akan mengecawakanmu. Sekali lagi terima kasih ya, bye..."

__ADS_1


Alena melambaikan tangan pada keempat temannya. Kini hanya ada Nindy yang bersamanya.


"Langsung pulang atau mau ke mana dulu?" tanya Nindy.


"Mau ke restoran Kak Laura. Tadi Ajeng mengirim pesan katanya dia ada di sana. Hari ini dia nggak bawa motor." Sahutnya, namun kemudian keningnya berkerut.


"Tunggu, dia kan nggak bawa motor. Lalu bisa ada di sana pakai apa?" tanya Alena dengan tatapan heran pada Nindy.


"Ojek online mungkin. Kenapa dia tidak menunggu kamu?"


"Aku juga nggak tahu. Kamu ikut nggak?"


"Pengen sih, tapi aku ada perlu. Salam aja ya sama Kak Laura." Ujarnya.


"Oke deh kalau begitu. Yuk ah," ajak Alena yang mulai beranjak dari tempatnya. Di susul Nindy yang juga akan mengarah ke tempat parkir.


***


Di Queen Resto, Ajeng dan Agam sudah selesai dengan makan siang mereka. Laura tentu menolak saat Agam akan membayar makanannya. Mau tak mau dengan wajah tersipu pria itu mengucapkan terima kasih.


"Jeng, katanya Alena mau ke sini. Kok belum datang?" tanya Agam pada Ajeng yang sedang fokus berbalas pesan dengan seseorang.


"Sebentar lagi. Katanya baru selesai," sahut Ajeng tanpa menoleh.


"Alena mau ke sini, Jeng?" Laura datang dengan satu wadah es krim yang cukup besar.


"Alena mau ke sini?" tanya Laura lagi dan diangguki oleh Ajeng yang mulai menyendok es krim itu.


"Restoran kakak rame ya," ucap Agam berbasa-basi.


"Apalagi kalau ada Queen sama Zein dan adik-adiknya, rame banget."


"Mereka siapa?"


"Keponakan Alena. Kamu teman seangkatan Alena atau Ajeng," telisik Laura.


"Alena, Kak."


"Oh..."


"Kak Agam ini mau Ajeng ajak ke sini karena tahu Kak Alena juga mau ke sini. Iya kan Kak?" todong Ajeng.


"Oh ya?" Laura menatap penuh tanya pada pria seusia Alena itu.


"Hehe, iya. Beberapa hari ini saya tidak bertemu, jadi kangen." Sahutnya tanpa rasa malu. Membuat Laura dan Ajeng tertegun heran dan sekilas saling melirik.

__ADS_1


"Kamu tahu kan Alena sudah menikah?" tanya Laura datar.


"Tahu, Kak. Saya juga tahu Alena selama ini LDR-an sama suaminya."


"Lalu, kalau sudah tahu Alena bersuami kenapa masih mengharapkan dia?" Kali ini Laura bertanya penuh penekanan. Nampaknya kakak ipar Alena itu mulai merasa geram.


"Ya namanya juga perasaan, Kak. Saya juga tidak bisa menahannya," sahut Agam sambil tersenyum tipis. Mendengar hal itu membuat Laura mulai membulatkan mata.


"Kamu tahu siapa suami Alena?"


"Sepupunya Ajeng," sahut Agam singkat.


"Benar, namanya Riky. Selain itu juga sahabat suami saya, Alvin. Kakak Alena, apa.." ujar Laura yang mencoba memberi Agam pengertian, namun pria itu sudah menyelanya.


"Saya sudah pernah lihat," sela Agam.


"Sudah? Kapan?" Melihat percikan emosi di mata Laura, membuat Ajeng merasa serba salah. Alhasil gadis itu memilih untuk diam dan mendengarkan keduanya.


"Beberapa hari yang lalu. Sepertinya dia marah melihat saya sedang bersama Alena. Apalagi saat itu Alena memutus panggilannya," sahut Agam dengan penuh percaya diri.


"Apa?" Laura menoleh pada Ajeng yang memberinya senyuman ketir.


"Kamu jangan main-main ya. Saya tahu hak kamu untuk menyukai siapa saja. Tapi jangan Alena, jangan perempuan yang sudah menikah. Dan jangan menjadi duri dalam rumah tangga adik saya. Sikap kamu ini membuat saya muak. Jangan sampai saya adukan pada suami saya. Kamu masih terlalu muda untuk mengerti bagaimana kehidupan ini. Saya ingatkan kamu, jangan dekati Alena lagi." Tegasnya.


Entah karena peringatan itu keluar dari mulut seorang wanita atau karena Agam tertutup telinganya. Bukannya merasa takut, pria itu justru tersenyum tipis mendengar ucapan Laura. Bersamaan dengan itu, tatapan mereka teralihkan pada Alena yang baru datang dan menyapa beberapa pegawai di sana.


"Hai, Kak Laura! Loh kok kamu juga ada di sini, Gam?"


"Hai, Len. Tadi Ajeng yang mengajakku ke sini." Sahutnya sambil tersenyum lebar.


Alena menoleh pada Ajeng yang tersenyum kikuk padanya. Ia juga merasa heran dengan raut wajah Laura yang tidak bersahabat.


"Ada apa? Kamu nggak buat masalah kan di sini?" tanya Alena pada Agam yang masih menatap dengan senyumnya.


"Lena, selesaikan urusan kamu sama dia sekarang juga. Kakak mau ke dapur dulu," ujar Laura mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Urusan, urusan apa?" gumam Alena bingung.


"Ini, Non. Biar segar diminum dulu," tawar Ari, pegawai Laura.


"Terima kasih, Kak Ari." Sahutnya pelan.


"Ciee, siapa itu yang datang?" goda Ari.


"Siapa?" Alena menoleh ke arah yang ditujukan gerakan mata Ari.

__ADS_1


Tidak hanya mereka yang ada di meja itu yang menoleh ke arah pintu masuk. Laura yang sedang menuju dapur juga menghentikan langkahnya. Ia terkejut melihat pria yang berjalan menghampiri meja Alena.


"Oh My God, perang dunia sepertinya akan terjadi di sini." Gumamnya sambil membuang pelan nafasnya.


__ADS_2