
Happy reading ....
Saat Alena keluar dari kamar, ia melihat Ajeng sedang memamerkan rumah baru itu pada seseorang di layar ponselnya. Dari suara yang terdengar, sudah pasti itu Queena.
"Ayo sarapan, Sayang. Susunya juga belum diminum. Gimana suasana di sini, suka? Kamarnya gimana? Menurut mama bagus."
"Mmm suka banget, Ma." Sahutnya sambil meneguk susu hangat buatan ibu mertua.
"Pagi, Ma. Papa mana?" tanya Riky.
"Pagi juga, Rik. Tuh, sama Paijo. Dari semalam papamu khawatir sama Paijo. Takut nggak mau makan lah, takut sakit lah, aah ada-ada saja." Keluhnya.
"Ciee Mama cemburu sama Paijo," goda Alena sambil terkekeh.
"Bukan begitu, Len. Masa cemburu sama burung. Mama ini khawatir papamu kecapean. Istirahat yang benar, kemarin kan perjalanan lumayan lama. Eeh dia malah khawatir sama Paijo."
Riky terkekeh dan menyempatkan mencium pipi Alena saat mama membelakangi mereka. Setelahnya, Alena membutkan kopi untuk suaminya dan dibawa Riky ke teras belakang.
"Itu tadi Queen ya, Jeng?"
"Iya, Kak. Hmm, Ajeng pengen jalan-jalan deh selama di sini. Tapi ngajak siapa ya? Kalau ngajak Kak Lena pasti nggak dibolehin sama Kak Riky. Kan nggak boleh terlalu capek. Terus sama siapa ya? Coba Ajeng punya teman yang tinggal di kota ini." Ujarnya pelan.
"Modus tuh, Len," celetuk Mama.
"Iya. Padahal bilang aja ya Ma, kalau mau minta nomer ponsel Pak Andri," sindir Alena.
"Hehe. Minta dong, Kak." Ajeng tersipu sambil menggaruk pelan lehernya.
"Harus bilang dulu dong. Gimana kalau Pak Andri nggak ngijinin nomernya dikasih ke kamu."
"Nggak mungkin lah," sahut Ajeng cepat.
"Idih, ke-PD-an. Nih, bilang sendiri."
Alena menyodorkan ponselnya yang sedang memanggil Andri. Ia seakan tidak perduli pada Ajeng yang tiba-tiba saja merasa gugup.
"Mau nggak? Ya sudah."
"Eee nanti dulu. Mau dong, hehe."
Alena mengulumkan senyumnya begitu juga Mama Widiya. Mereka tidak mengira akan melihat Ajeng segugup itu.
Ajeng menutup bagian bawah ponsel Alena dengan telapak tangannya. Setelah berdehem beberapa kali, ia mulai bicara.
"Halo, Kak Andri." Ujarnya pelan.
"Kamu?"
"Iya. Ini Ajeng."
"Ada apa?" Nada suara Andri terdengar datar.
"Mmm mau nggak nemenin Ajeng jalan-jalan? Hari ini, mumpung Kak Andri libur kerja." Ujarnya ragu. Hening, Andri tak segera menjawabnya.
__ADS_1
"Kak?"
"I-iya. Boleh. Jam berapa?"
"Jam 10?"
"Oke. Aku jemput kamu jam 10."
"Terima kasih, bye!"
"Duuh, ada yang senang. To the point banget. Terus, dibolehin nggak nomernya?" goda Alena.
"Eh iya ya. Lupa," sahut Ajeng sambil menepuk keningnya sendiri. Widiya dan Alena pun terkekeh sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu di tempat lain, Andri yang semula masih bermalas-malasan di tempat tidur bergegas ke kamar mandi. Raut wajah pria itu terlihat senang setelah sebelumnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Sambil membersihkan diri, pria itu bersiul dengan riangnya. Setelahnya, ia mencoba beberapa pakaian dari yang berkesan santai hingga yang formal.
"Kok aku jadi begini? Padahalkan cuma jalan-jalan," gumam Andri yang kini sedang mengamati wajahnya sendiri. Setelah mencoba setenang mungkin, ia pun memilih pakaian yang akan akan dikenakannya.
"Pagi, Ma." Andri menyapa mamanya yang ada di ruang makan. Di sana juga ada Kamil yang sedang menatapnya heran.
"Kak Andri mau kemana? Biasanya kalau nggak ada pekerjaan, weekend gini di rumah aja."
"Ada deh, mau jalan-jalan sama someone." Sahutnya dengan senyuman lebar.
"Ciee, yang udah punya someone. Ma, dengar kan? Berarti Kamil boleh dong kalau mau ngelamar anak gadis orang?"
"Belum boleh. Kamu kerja dulu, Dek. Mama kan sudah pernah bilang," sahut Andri.
"Kerja dulu yang benar," sahut Mama.
"Yaa, Mama. Kak Andri janjian jam berapa sih? Kencan kok pagi-pagi."
"Jam 10," sahut Andri santai.
"Ini masih jam 8, Kak. Mau nunggu sampai make up-nya luntur?" kelakar Kamil.
"Siapa yang pakai make up? Sembarangan," delik Andri. Ia pun menatap nanar pada angka yang diitunjuk jarum jam itu. Karena terlalu senang, ia sampai-sampai lupa kalau ini masih terlalu pagi.
Sementara kakaknya menikmati sarapan, Kamil berkirim pesan dengan Ajeng yang diketahuinya juga ada di kota ini.
📨 Me[Jeng, jalan yuk!]
📩 My Girl [Sorry, Kak. Ajeng sudah ada janji.]
📨 Me [Kapan pulang? Kalau bareng gimana?]
📩 My Girl [Kakak pulangnya kapan?]
📨 Me [Nanti sore. Aku kan besok harus kerja.]
📩 My Girl [Sorry, Kak. Ajeng di sini satu minggu. Sorry ya.]
__ADS_1
📨 Me [It's ok.]
Kamil terlihat lesu dan menekuk wajahnya. Di sisi lain, Andri mulai menimbang perihal memberitahukan tentang perasaannya terhadap Ajeng pada adiknya.
"Cerita sekarang jangan ya? Tapi kan, pacaran juga belum." Batinnya.
"Kenapa, Dek? Lesu gitu."
"Hmm nggak bisa kemana-mana. Dia pasti udah janjian sama saudaranya," sahut Kamil bergumam.
"Dia siapa?"
"Ada deh. Rahasia," sahut Kamil yang beranjak dari kursi dan melangkah kembali ke kamarnya.
"Ya sudah, aku juga rahasia." Andri bermonolog sambil tersenyum.
***
Setelah berbagai cara dilakukan Andri untuk mengusir kejenuhannya menunggu waktu, akhirnya mereka berada dalam satu mobil juga. Beruntung saat Andri ke rumah Riky, atasannya itu sudah pergi memeriksakan kandungan istrinya.
Namun sedari tadi tak ada yang berani memulai pembicaraan. Bukan Andri tak mau, tapi ia bingung harus memulai dari mana.
"Ajeng nggak ganggu acara Kak Andri hari ini kan?" tanya Ajeng ragu.
"Ganggu banget," sahut Andri datar, namun kemudian ia menyesali jawabannya sendiri.
"Oh ya? Maafkan Ajeng ya, Kak. Memangnya hari ini kakak ada rencana kemana?" tanya Ajeng dengan raut penyesalan.
"Nggak kemana-mana, rencanaku hari ini tiduran di rumah." Sahutnya santai.
"Oh, Ajeng kira ada acara penting."
"Itu juga penting. Kapan lagi aku bisa santai kalau bukan waktu libur." Lagi-lagi nada suara Andri terdengar datar.
"Maaf."
Andri menoleh dan tersenyum melihat Ajeng yang menunduk. Sambil memutar kemudi, ia pun bertanya, "Kita mau kemana?"
Ajeng menoleh, ia tersenyum mendengar nada bicara Andri yang menghangat.
"Kemana aja. Kan Ajeng belum tahu banyak kota ini."
"Oke. Aku bawa kemanapun aku mau." Ujarnya.
Ajeng tersipu dan mengalihka pandangannya ke luar. Saat ini mereka melewati jalanan yang sepi.
"Kok di sepanjang jalan ini sepi ya, Kak."
"Kalau jam segini memang sepi. Nanti malam baru ramai."
"Oh, pantas saja. Di jalan ini kebanyakan tempat hiburan malam ya," gumam Ajeng setelah melihat beberapa papan nama yang tertera di masih-masih bangunan.
Ajeng terkesiap. Sekilas ia melihat sosok yang tak asing sedang terduduk di dekat pintu salah satu club sambil menyelonjorkan kakinya. Jantungnya berdegup kencang saat melewati sosok yang sedang tertidur itu. Ia bahkan menoleh ke belakang saat mobil yang dikendarai Andri sudah melewatinya.
__ADS_1
"Tidak mungkin itu papa." Batinnya.