
Happy reading ....
Ajeng terduduk di samping tempat tidur papanya. Rasa kantuknya sudah tak tertahan lagi, mengingat saat ini sudah dini hari.
Tadi, Ajeng menolak saat Tante Widiya memintanya pulang untuk beristirahat. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi papanya yang benar-benar lemah.
Di sisi lain ruang observasi itu, juga ada Andri. Pria itu ditemani sang mama yang sesekali melirik pada Ajeng.
Ajeng merasa salah tingkah. Dalam diamnya, mama Andri sepertinya marah saat mengetahui Ajeng yang mengajak putranya ke club itu.
"Hei, belum tidur?" tanya Andri pelan dari ranjangnya.
Ajeng tertunduk sambil menggeleng. Ia tak berani membalas tatapan Andri karena mamanya masih terjaga. Ajeng merebahkan kepala di atas lipatan tangannya. Menatap sendu wajah papanya yang kini terbaring tak berdaya.
Ajeng tak habis pikir, mengapa papanya seperti kehilangan arah. Bukankah ada Risa dan juga putri mereka? Kemana wanita itu, hingga papanya berakhir seperti ini.
Tanpa terasa air matanya menetes. Mengingat keluarganya yang tak sebahagia keluarga lain. Ajeng terisak pelan, entah gadis itu menyadarinya atau tidak. Kemuadian ia terperanjak saat merasakan pundaknya ada yang memegang.
"Tante? Hehe, maaf." Ucapnya sambil menunduk dan mengusap air matanya.
Ajeng tertegun merasakan gerakan tangan mama Andri yang mengusap-usap punggungnya. Wanita paruh baya itu menarik pundak Ajeng agar mendekat padanya.
Ajeng memeluk pinggang mama Andri dan terisak di sana. Ia mengesampingkan rasa malunya dan memilih untuk mengeluarkan air mata yang membuat dadanya terasa sesak.
"Sabar ya," ucap mama Andri.
"Terima kasih, Tante." Ajeng terisak dan mengusap wajahnya dengan tisu. Kepalanya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sembap.
"Tidurlah, kamu pasti lelah." Ucapnya lagi.
Ajeng mengangguk dan kembali merebahkan kepalanya di atas lipatan tangan. Mama Andri tersenyum tipis sambil mengusap surainya.
"Mama tidur juga dong," ucap Andri.
"Iya. Mama tadi sedang tidur waktu Riky menelepon. Jadi hilang ngantuk mama," sahut Mama.
"Maaf ya, Ma."
"Sekarang kamu tidur. Biar besok sehat, jadi nggak usah nginep lagi di sini. Nungguin di rumah sakit itu capek," ujar Mama setengah menggerutu.
"Mama tidur di sini aja, berdua sama Andri. Atau kalau enggak, mama di sini, Andri yang duduk." Tawarnya.
"Enggak. Memangnya kamu masih kecil, mau dikelonin mama. Nanti mama yang diperiksa dokter."
"Ya udah, besok Mama pulang aja. Kan ada Ajeng yang menemani Andri."
"Ih, kamu ini. Memangnya dia istri kamu," delik Mama.
"Mungkin calon," sahut Andri sambil melirik pada punggung Ajeng. Kalimat Andri menghadirkan seulas senyum di wajah mamanya juga di wajah gadis yang sedang membelakanginya.
__ADS_1
***
Dalam keheningan, Pras mengerjap dan melirik pucuk kepala yang berada di sampingnya. Di ranjang lain, ia melihat seorang wanita juga sedang terlelap, begitu juga pria muda yang terbaring seperti dirinya.
Pras ingat pria itu yang bersama dengan putrinya. Ditatapnya langit-langit ruangn itu dengan tatapan menerawang.
Perlahan, ia mengangkat tangannya, berusaha mengusap surai Ajeng. Kedua maniknya berkaca-kaca, dengan rasa sesal di dalam dada.
Ajeng terhenyak dari tidurnya. Ia segera beranjak dan bertanya pada papanya, "Papa ingin sesuatu? Atau ada yang sakit? Ajeng panggil perawat ya."
Pras menggelengkan kepala sambil menatap sendu pada putrinya. Ajeng kembali terduduk dan mengarahkan lengan papanya yang ingin mengusap wajahnya.
"Maafkan papa." Ucapnya lirih. Ajeng mengangguk tanpa bersuara.
"Papa sudah merepotkan kamu." Ajeng menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan lalu mengecupnya.
"Ajeng akan menemani Papa sampai papa benar-benar sehat."
"Terima kasih, Sayang." Ucapnya dengan air mata yang berderai di kedua ujung mata.
Ajeng mengangguk sambil tersenyum. Diusapnya air mata Pras, kemudian mengecup keningnya.
"Istirahat ya, Pa." Pras mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
Pras merasa malu, bahkan sangat malu. Putri yang selama ini sering ia tinggalkan, justru ada saat dirinya sendirian.
***
Ajeng merasa sedih mengetahui papanya tak punya tempat tinggal. Pras juga menolak tinggal bersama keluarga Salim. Untungnya, Riky menawarkan untuk tinggal di apartemen lamanya. Walau merasa malu dengan keluarga itu, Pras bersedia karena tak ingin Ajeng mengkhawatirkannya.
Ting ... tong.
"Sebentar!"
Ajeng yang sedang mencoba membuatkan sarapan bergegas membuka pintu apartemen. Pras yang terduduk di sofa menoleh sambil bertanya, "Siapa, Jeng?"
"Kak Andri, Pa."
Ceklek.
"Hai, aku boleh masuk?"
"Boleh dong, Kak. Masuk aja. Ajeng ke dapur dulu ya. Takut masakannya gosong, hehe."
Andri tersenyum tipis dan mengikuti langkah Ajeng. Melihat Pras, ia pun menyapanya.
"Pagi, Om. Bagaimana keadaan Om sekarang?" Tanyanya sambil menaruh plastik yang dibawanya di atas meja makan.
"Sudah lebih baik. Kamu sendiri bagaimana?"
__ADS_1
"Baik, Om."
"Belum mulai kerja kan?" tanya Pras.
"Kakak bawa apa?" tanya Ajeng pelan.
"Belum, Om. Mungkin besok," sahut Andri sambil mengambil piring untuk menyajikan makanan yang dibawanya.
"Suka nggak?" tanya Andri, lalu menyuapkan satu dari makanan itu ke mulut Ajeng.
"Hmm, enak."
Ajeng tersipu saat ibu jari Andri mengusap makanan di ujung bibirnya. Pras yang melihatnya cepat-cepat membuang muka, tak ingin mereka merasa canggung karena kehadirannya. Dalam hati ia bersyukur, jika saja Andri sampai berjodoh dengan putrinya.
Ting ... tong.
Mereka menoleh ke arah pintu. Andri segera berlalu untuk membuka pintu.
"Siapa, Kak?"
"Si Bos sama istrinya."
"Kak Lena?" Ajeng mematikan kompor dan bergegas menyambut mereka.
"Waah, siapa ini pagi-pagi di sini? Bukannya ke kantor," delik Riky.
"Kan besok, Bos."
"Kenapa nunggu besok kalau udah sehat begini?"
"Ih, Kak Riky. Nggak bisa apa lihat Kak Andri santai sehari," gerutu Ajeng.
"Ciee ada yang belain. Besar kepala dong dia."
Andri melengoskan wajah sambil tersipu. Riky berlalu menghampiri Pras setelah memberikan plastik yang dibawanya pada Ajeng.
Alena dan Ajeng ke dapur, sambil mengobrol mereka menikmati panganan yang tadi dibawa Andri.
"Wah, lontong sayur. Hmm harumnya. Pagi ini banyak makanan. Kak Lena sudah sarapan apa belum?"
"Sudah, tadi di tempatnya."
"Om Pras, bakalan cepat punya mantu nih kayanya," sindir Riky.
"Mudah-mudahan ya, Rik. Om lihat sih, ada yang lagi pendekatan," timpal Pras.
"Tapi kayanya cuma pendekatan deh, Om. Belum tentu kan dia punya niat serius."
"Bisa jadi sih. Carikan dong, Rik. Om ini tahu diri nggak bisa jagain Ajeng. Kalau ada pria baik yang mau sama Ajeng, calling-calling ya."
__ADS_1
"Siap, Om. Tapi siapa ya?"
Riky menahan tawa melihat Andri yang salah tingkah. Ia merasa senang bisa melihat sisi lain dari Andri yang selalu terlihat cuek pada setiap wanita yang selama ini ditemuinya.