My Love My Bride

My Love My Bride
extra-part (berat melepaskan)


__ADS_3

Happy reading ....


Perkiraan usia :


Zein : 15 tahun.


Amar : 14 tahun.


Queen : 13 tahun lebih.


Fatima : 12 tahun.


Arkana : 8 tahun.


Nara & Raya : 7 tahun.


Zemima : 4 tahun lebih.


King : 2 tahun lebih.


***


Dari balkon kamarnya, Meydina menatap sendu kecerian anak-anak di kejauhan. Zein dan Amar berlomba dengan memacu kuda mereka. Sementara anak-anak lain bergantian menunggangi kuda poni dengan ditemani Rendy dan ketiga sahabat Maliek.


Hari berganti minggu, bulan demi bulan pun berlalu. Anak-anak kini telah tumbuh dengan pribadi mereka masing-masing. Namun berpisah dengan kedua putranya, tak pernah sedikit pun terpikirkan oleh Meydina.


Ya, Zein dan Amar akan meneruskan pendidikan mereka di London, bersama Kakek dan Nenek mereka di sana. Bramasta dan Resty memutuskan untuk menemani kedua cucunya.


Keluarga sudah memutuskan, kedua putra Maliek dan Meydina itu akan meneruskan sekolah menengah atas hingga universitas di London. Tak hanya itu, mereka juga akan disiapkan menjadi pengusaha muda oleh sang kakek, Bramasta.


"Mi, kenapa sendirian di sini?" Maliek melingkarkan tangannya di pinggang Meydina.


Meydina yang tersentak mencoba tersenyum dan memeluk suaminya. Maliek mengerti benar perasaan Meydina. Ibu dari anak-anaknya itu hanya menginginkan Zein dan Amar tumbuh seperti remaja lainnya.


Tapi kenyataan tak selalu sesuai harapan. Anak-anaknya bukanlah anak-anak biasa. Ada tanggung jawab yang akan mereka emban di masa depan.


Zein yang akan memegang kendali Al-Azmi Corp. Juga Amar yang akan mewarisi Bramasta Corp. Keduanya harus dipersiapkan sedini mungkin, agar mereka siap saat tiba waktunya.


Sementara itu, anak-anak terlihat riang dengan kuda yang mereka tunggangi. Para ayah dengan setia menemani sambil sesekali berlari kecil sembari memegangi tali.


Fatima didampingi Riky. Queen di dampingi Daddy-nya. Begitu juga dengan Arkana yang didampingi Papa Rendy. Sedangkan si kembar-Nara dan Raya, tentu saja didampingi ayah mereka-Rafael.


King sedang asik bermain dengan Alena. Zemima yang merasa bosan, ingin naik kuda juga.


"Mami, aku mau naik kuda." Rengeknya.


"Tunggu sebentar, Sayang. Tunggu sampai ada yang kembali ke sini. Ke rumah yuk, main lego sama King," bujuk Alena.


"Nggak mau. Aku mau kuda," ujar Mima dengan mata berkaca-kaca.


Alena mulai kebingungan. Ia tak membawa ponsel, dan posisi mereka kini berada cukup jauh dari kediaman Meydina.


King mulai merengek dengan menarik tangan Alena. Putra Alvin itu ingin kembali ke rumah dan bermain mainan lain.

__ADS_1


"Mami ...." Zemima sudah akan menangis.


"Gimana kalau kita antar King dulu ke rumah? Nanti kita susul Papi ke sana. Hmm?" Bujuknya lagi.


"Nggak mau." Mima menghentak-hentakkan kakinya.


Derap kaki kuda terdengar. Alena segera menoleh, dan tersenyum lebar melihat siapa yang datang.


"Aah, ada Kakak Zein," ucap Alena senang sekaligus lega.


"Kak Zein!" pekik Mima senang.


"Kenapa? Kok sedih, Beib?" tanya Zein sembari membungkuk dengan tangan masih memegangi tali pada kudanya.


"Aku mau naik kuda, Kak." Mima mengangkat kedua tangannya di udara.


"Hehe kebetulan, Kak Zein. Boleh ya, nitip sebentar aja," pinta Alena.


"Ooh, boleh dong. Ayo sini," sahut Zein sembari menepuk bagian depan pelana kudanya.


Alena mengangkat putrinya untuk kemudian didudukkan di depan Zein. Gadis kecil Riky itu memegangi tali dengan kedua tangannya.


Satu tangan Zein memeluk Mima, sedangkan satu tangan lain memegangi tali untuk mengendalikan kuda.


"Dadah dulu nggak sama Mami?" tanya Zein pada Mima.


"Dah, Mami! Dadah, King!"


"Dah, Sayang. Hati-hati ya. Nanti sama papi aja. Mami mau bantuin Mommy King masak."


"Oh, ya sudah. Bye ...."


Zein menghentakkan kedua kakinya pada badan kuda. Kuda itu pun berlalu dengan kecepatan sedang. Sesekali terdengar pekikan Mima. Kemudian gelak tawa pun terdengar dari keduanya.


***


Setelah makan siang, semua berkumpul di ruang keluarga. Queena dan Fatima tengah dilanda demam aplikasi berbagi video dan hiburan. Mereka asik sendiri. Mima hanya ikut-ikutan meniru gaya mereka dari belakang.


Arka, Amar, dan Zein tengah bermain game online. Sedangkan para bapak, memutuskan ke luar untuk menikmati sigaret mereka.


Si kembar dan King asik bermain lego. Mereka mengingatkan Meydina pada Amar sewaktu kecil. Nara suka sekali menggangu kembarannya, mirip Zein yang selalu usil bila melihat adiknya sedang bermain.


"Hmm ... jadi semakin berat melepas mereka," ujar Meydina pelan.


"Sabar, Mey. Kamu dan kita semua akan merasa kehilangan mereka. Tapi kan kita bisa ke sana kapan saja. Di sana juga sama Opa dan Omanya," sahut Laura.


"Iya, sih. Tapi rumah ini akan sepi, Kak."


"Ya produksi lagi dong. Biar Fatum ada teman mainnya," goda Laura.


"Ish, Kak Laura." Meydina mendelikkan mata.


Queena dan Fatima sudah selesai dengan kesenangan mereka. Keduanya kini heboh dengan idol K-pop yang tengah digandrungi para remaja.

__ADS_1


"Aku mau sama Seok-Jin aja. Uuu cakep banget," ujar Fatima gemas.


"Kalau aku J-Hope, cute." Ekspresi Queena tak kalah gemasnya.


Sikap keduanya membuat para ibu yang ada di sana menautkan alis mereka.


"Eh, kalian masih bocah. Udah tahu aja mana yang cakep. Aneh deh anak-anak sekarang, kalau ditanya cita-citanya apa? Jawabannya nggak kaya kita dulu. Jadi model, wanita karir, atau apa lah. Eeh jawabannya, jadi istrinya Jimin, terus ada yang jawab jadi istrinya ... siapa itu?" Alya mencoba mengingat nama-nama anggota idol yang dimaksud.


"Aku mau jadi istrinya J-Hope," ujar Queena dengan semangatnya.


"Tuh kan," imbuh Alya.


"Coba Mommy lihat. Mana sih yang namanya J-Hope itu? Gantengan mana sama daddy," ujar Laura.


Queena menghampiri Mommy-nya sambil menunjukkan foto idolanya. Laura melongo horor melihat wajah pria yang dimaksud putrinya.


"Kalau Fatum nggak begitu kan maunya. Jangan ya, Mami nggak mau punya menantu idol," seloroh Meydina.


"Yaa, Mami. Aku juga kan mau jadi istrinya Seok-Jin." Fatima merengut kecewa.


Alya dan Alena terkekeh melihat raut wajah Fatima. Meydina hanya bisa nyengir sambil menggelengkan kepala.


"Untung anak gadisku belum kenal idol. Jadi cita-citanya nggak bakalan yang aneh-aneh. Iya kan, Sayang?" ujar Alena pada Mima yang menghampirinya.


"Auntie mau tahu dong. Cita-cita Mima mau jadi apa sih?" tanya Meydina sambil menatap gemas pada wajah imut Zemima.


"Jadi istrinya Kakak Zein," sahut Mima polos.


"Hah!" Semua melongo menatap Mima yang tersenyum sembari mengedip-ngedipkan matanya. Tidak terkecuali Zein yang menatap aneh pada Mima. Sampai kemudian pekikan Amar menyadarkan Zein.


"Yee, aku menang. Kakak kalah, kakak kalah," sorak Amar.


"Enak aja. Mulai lagi ah," protes Zein tak terima.


"Nggak mau. Siapa suruh nggak fokus." Amar dan Arkana bertos ria, tidak mengacuhkan Zein yang hanya bisa menggaruk kepalanya.


Zein menoleh pada Mima. Ia terkekeh pelan menertawakan dirinya sendiri yang kalah telak dalam permainan hanya kerena terkesiap mendengar ucapan konyol Zemima.


_Selesai_


***


Terima kasih, teman-teman🙏🤗


Sampai jumpa di cerita lainnya.


Jangan lupa mampir ya ...


ada cerita lain juga yang masih on going.



__ADS_1


Terima kasih😍


__ADS_2