My Love My Bride

My Love My Bride
perkelahian anak-anak


__ADS_3

Happy reading...


Deru laju motor matic yang dikendarai Riky melaju perlahan di jalanan yang cukup ramai. Alena yang berada dibelakngnya memeluk erat dengan wajah yang di tempelkan pada pundak suaminya. Sesekali ia mengecup bagian pundak itu sambil menghirup aroma khas dari pria-nya.


"Kak, kita dilihatin sama orang-orang."


"Nggak apa-apa, selama itu masih orang." Sahutnya santai.


"Emang apa kalau bukan orang?"


"Dedemit," sahut Riky yang terkekeh pelan.


Alena menepuk pelan pundak Riky, kemudian ia kembali memasukkan tangannya ke dalam saku jaket yang dikenakan suaminya itu.


Pagi ini sebelum berangkat ke kampus, Alena terlebih dahulu mengantar suaminya ke bandara. Hal seperti ini sering mereka lakukan hanya untuk sekedar menikmati detik-detik perpisahan.


Semakin dekat jarak untuk sampai ke bandara, semakin berat dirasa hati keduanya. Mereka harus bersabar, tersisa beberapa bulan lagi sampai Alena lulus. Setelah itu, keduanya sepakat akan bekerja di tempat yang sama. Yakni di perusahaan yang dipimpin Riky.


Riky memarkirkan motor matic istrinya. Sebelum melepas helmnya, ia terlebih dulu melepas helm Alena. Setelahnya, mereka berjalan bergandengan menuju area bandara.


"Minggu depan pulang nggak?" tanya Alena pelan sambil menengadahkan wajahnya.


"Belum tahu, Sayang. Mudah-mudahan ya," sahutn Riky kemudian mengecup kening istrinya.


Meski enggan, mereka harus saling merelakan. Walaupun hal serupa terjadi hampir disetiap pekan, tetap saja hal tersulit adalah perpisahan.


Alena melambaikan tangannya pada Riky yang mulai mengantri akan melakukan check in. Dengan isyarat tangan, pria itu meminta Alena segera meninggalkan tempat itu.


Namun wanita itu tidak bergeming. Ia tetap ada di sana sampai suaminya masuk ke ruang tunggu penumpang.


***


"Pak, bisa lebih cepat?" tanya Meydina pada Pak Budi, supirnya.


"Saya coba ya, Bu." Sahutnya.


Perjalanan menuju ke sekolah kedua putranya terasa sangat lama. Baru saja, ia mendapat telepon dari pihak sekolah yang memintanya datang ke sana. Beruntung Mama Resty sedang ada di rumah. Meydina pun meminta ibu mertuanya itu untuk menjemput Fatima.


Meydina merasa bingung apakah harus memberitahukan perihal pemanggilan itu pada Maliek. Ia khawatir jika Maliek mengetahuinya, maka permasalahan bisa jadi panjang dan tentunya rumit.


Saat mobil sudah menepi di depan gerbang sekolah, Meydina bergegas turun dan memasuki area sekolah. Ia langsing menuju ruang kepala sekolah sesuai dengan arahan dari penjaga sekolah di sana.


Meydina mengetuk pintu ruangan itu. Seorang guru wanita membukakan pintu untuknya.


"Permisi, saya Meydina. Ibu dari Zein dan Amar Maliek."

__ADS_1


"Mami!" seru Zein yang berhambur memeluk bagian kaki Meydina. Di belakangnya, Amar mengikuti langkah sang kakak.


Meydina terkejut melihat kening Amar yang benjol dan sedikit memar. Cepat-cepat ia meraih lengan Amar.


"Sakit, Sayang. Ini kenapa?" tanya Meydina dengan raut wajah khawatir.


"Itu, Mi. Sama si Tarzan," tunjuk Zein pada seorang temannya yang mendelik dengan wajahnya yang sembab. Sedangkan teman satunya lagi menundukkan kepala.


Belum sempat Meydina berucap, seorang wanita berseru sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Eh, enak saja. Kalian yang mulai, dasar anak-anak nakal!"


"Tolong jaga bicara anda," hardik Meydina dengan tatapannya yang menajam. Si ibu mendelik dan terlihat enggan saat dipersilahkan duduk oleh Bapak kepala sekolah (Kepsek).


Meydina dan ibu itu duduk bersebelahan di depan meja kepala sekolah. Sedangkan anak-anak bersama guru wanita yang tak lain merupakan wali kelas mereka.


Sekilas Meydina menoleh. Amar menolak memarnya di kompres oleh sang guru. Putra kedua Meydina itu memegang sendiri es batu yang dibungkus kain itu lalu diletakkan di keningnya.


"Begini Ibu Meydina. Seperti yang sudah saya informasikan di telepon, jadi sekitar kurang lebih satu jam yang lalu terjadi semacam perkelahian di kelas. Kebetulan pada saat kejadian, guru wali kelas sedang mengikuti rapat. Dan guru pendamping juga kebetulan sedang izin ke toilet."


"Dan saat itu dua anak ibu ini mengeroyok anak saya," ujar si ibu sinis.


Meydina balas menatap nyalang oada wanita itu. Kepala sekolah cepat-cepat menengahi.


"Sebentar, Bu. Beberapa anak yang sudah kami tanya, menyatakan bahwa putra ibu yang bernama Dafa-lah yang memulai. Jadi..."


"Apa? Siapa tersangka dan siapa korbannya di sini? Ibu tidak lihat memar di kening Amar anak saya? Bisa-bisanya ibu menyebut anak ibu yang jadi korban? Dan dengar ya, anak-anak saya bukan kriminal. Jadi jangan menyebut mereka tersangka!" tegas Meydina masih dengan tatapannya yang tajam.


"Kata siapa? Mereka mendorong anak saya. Dan yang itu-tu, dia menginjak kaki anak saya." Sahutnya tak mau kalah sambil menunjuk pada Amar.


Meydina yang merasa geram menepuk lengan si ibu agar tak menunjuk pada putranya.


"Sudah. Saya mohon tenang dulu ibu-ibu. Kita akan selesaikan masalah ini sampai tuntas. Jadi untuk itu, mari kita..."


Lagi-lagi kalimat Bapak kepala sekolah terpotong oleh suara pintu yang dibuka. Seorang pria tinggi tegap terlihat di ambang pintu.


"Papi!" seru Zein.


Reaksi Maliek saat melihat Amar tidak jauh berbeda dengan Meydina. Namun kemudian pria itu dengan santainya mengusap pucuk kepala Amar. Meydina merasa terkejut dengan kehadiran Maliek.


"Selamat siang, Pak!" sapa Maliek.


"Selamat siang, Pak Maliek. Apa kabar?" tanya Bapak Kepsek.


"Baik," angguk Maliek.

__ADS_1


Guru wali kelas mempersilahkan Maliek duduk di kursi yang digesernya, tepat di samping Meydina.


"Dasar beraninya keroyokan. Awas ya, aku panggil suamiku baru tahu rasa." Batinnya. Tanpa sepengetahuan mereka, saat Bapak Kepsek menjelaskan duduk persoalannya pada Maliek, ibu dari Dafa itu mengirim pesan pada suaminya. Meminta untuk datang.


"Dimohon tenang sebentar. Untuk memastikan kejadian yang sebenarnya, mari kita lihat cctv kelas anak-anak."


Bapak Kepsek itupun mulai memutar rekaman cctv kelas Zein dan Amar. Dalam rekaman itu terlihat Amar yang terjatuh karena tersandung kaki Dafa. Kemungkinan kening Amar terbentur lantai kelas.


Bukannya minta maaf, Dafa dan seorang teman di dekatnya justru berdiri sambil terbahak menertawakan. Zein yang kesal pun datang dan mendorong Dafa sampai terhuyung.


Merasa tak terima, Dafa dan seorang temannya balik membalas. Perkelahian dua lawan dua pun tak terelakkan. Bahkan beberapa orang yang melerai hampir terkena layangan tangan.


Sampai saat posisi Dafa yang terjatuh setengah terduduk, Amar menghampirinya dan sekuat tenaga menghentakkan kakinya. Menginjak kaki Dafa yang tadi membuatnya terjatuh.


Seketika Dafa histeris. Bertepatan dengan guru pendamping dan wali kelas yang datang. Karena Dafa sulit dibujuk, akhirnya wali kelas meminta ibunya segera datang.


"Tuh kan, saya benar. Anak saya korban di sini."


"Anak saya juga korban," sahut Meydina tak mau kalah.


"Tapi itu kan tidak sengaja. Beda sama anak kamu yang sengaja menginjak kaki anak saya."


"Kakinya kan pakai sepatu. Dan kaki anak ibu juga nggak kenapa-napa. Kalau memang tidak sengaja ya minta maaf dong, bukannya menertawakan."


"Begini saja, biar adil. Anak ibu injak kaki anak saya saja."


"Setuju," sahut si ibu cepat. Meydina menatap kesal pada Maliek.


"Tunggu dulu, saya belum selesai. Anak ibu menginjak kaki anak saya. Anak saya menjatuhkan anak ibu supaya keningnya juga sama memarnya. Bagaimana, adil kan?"


Si ibu itu terdiam tak berani menyela. Meydina yang kesal menimpali ucapan suaminya.


"Berani nggak? Tadi bilangnya setuju?"


"Bagaimana kesepakatannya? Menurut saya sebaiknya anak-anak saling meminta maaf. Saya yakin besok juga mereka seperti biasa lagi," ujar Bapak Kepsek.


Tak berani menerima solusi dari Maliek, si ibu pun akhirnya menyanggupi jalan damai. Namun mesalahnya selain satu teman mereka, ketiga anak itu tak mau memulai meminta maaf. Mereka mendelik satu sama lainnya.


Selama menunggu anak-anak berdamai, Maliek keluar menerima panggilan telepon. Tidak Meydina, tidak juga ibu itu. Keduanya tidak ada yang membujuk anaknya untuk lebih dulu meminta maaf.


Seorang pria datang dan masuk ke ruangan tersebut. Si ibu terlihat sangat senang karena ternyata yang datang adalah suaminya. Namun berbanding terbalik dengan raut wajah suaminya. Ia terkejut saat melihat istri dan anaknya sedang berurusan dengan siapa.


---------


Hai, readres! Maaf ya, belakangan ini author sibuk. Selalu telat up-nyaπŸ™πŸ™

__ADS_1


Terima kasih untuk semua bentuk dukungan kalian😍😍😘


__ADS_2