
Happy reading ....
Untuk sesaat mereka saling menatap, lalu wanita itu menyapa seakan tak percaya.
"Aldo, ini beneran kamu? Oh My God!" Salma menyambut uluran tangan Aldo.
"Lama banget ya nggak ketemu," ujar Aldo sambil mengeratkan tangannya.
Salma tersenyum lebar, kemudian ekspresinya terlihat bingung. Aldo yang mengerti pun memberi isyarat dengan tangannya.
"Pak, maaf ibu ini tidak jadi menggunakan taksi. Tolong diterima sebagai permintaan maaf saya." Ujarnya sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
"Ini terlalu banyak, Pak."
"Nggak apa-apa, panglaris. Masih pagi," sahut Aldo.
"Terima kasih, Pak. Bu ...."
Supir itu mengeluarkan koper milik Salma dan diberikan pada Aldo.
"Kamu mau ke mana? Sepertinya baru ke kota ini?" tanya Aldo mengingat tadi Salma menunjukkan alamat pada supir taksi.
"Ke rumah kakakku. Aku ingin melihat cucu," sahut Salma dengan wajah bahagia.
"Cucu," gumam Aldo dalam hati.
"Oke, bisa lihat alamatnya?" Salma menyodorkan ponselnya dan Aldo menganggul pelan.
"Apa kesibukanmu?" tanya Aldo sambil mengemudi.
Salma dengan santai menceritakan kegiatannya selama ini. Tidak ada rasa canggung meski mereka lama tidak bertemu. Sesekali Aldo menanggapi singkat dengan raut wajah yang kagum.
Salma dan Aldo teman semasa SMP dan SMA. Mereka cukup dekat karena secara kebetulan selalu satu kelas. Di kelas tiga SMA mereka mengambil jurusan berbeda, Salma di IPA, sedangkan Aldo di IPS.
Siapa yang tidak mengenal Salma. Selain cantik, dia juga dikenal cerdas. Dan siapa yang tidak tahu Aldo, siswa yang langganan dihukum saat upacara. Karena terlambat atau lupa membawa topi.
"Sepertinya aku mengenal jalan ini," gumam Aldo.
"Oh ya? Kamu pernah lewat jalan ini, kapan? Kamu sekarang tinggal di kota ini, Do? Anakmu sudah berapa? Aku baru punya cucu, makanya ingin sekali bertemu."
"Semalam aku lewat sini. Tunggu, rumahnya nomer berapa?"
"Nomer lima."
"Lima? Seingatku kemarin aku lihat rumah Riky juga nomer lima." Gumamnya.
"Kamu kenal Riky, Do? Anaknya Kak Salim?"
"Iya. Kamu ...."
"Dia keponakanku. Wah, kebetulan sekali. Kenal di mana?" Salma terlihat sangat senang dan antusias. Mereka berdua tidak menyangka hal tersebut. Aldo pun menceritakan secara singkat perihal hubungannya dengan Riky.
"Oh, jadi istri Riky itu adik dari kakak majikanmu. Aku benar-benar nggak nyangka loh."
"Apalagi aku, Sal. Jadi kamu mau melihat anaknya Riky, aku kira beneran cucumu." Aldo terlihat lega.
"Jangankan cucu, anak aja aku belum punya. Mungkin nggak akan pernah punya," ujar Salma pelan.
"Kok begitu sih, kamu kan dokter. Jangan pesimis," hibur Aldo.
"Aku eks-dokter, Do."
"Iya, sama aja. Aku aja yang bukan dokter nggak pesimis, walaupun udah kadaluarsa." Kelakarnya.
"Kadaluarsa gimana?"
__ADS_1
"Ya kadaluarsa, haha."
"Kamu juga belum punya anak? Sabar ya, tumben kita samaan. Dulu kita selalu bertentangan."
"Iya, kamu maju ke bagian depan di lapangan sebagai juara umum dan dapat hadiah. Aku di belakang memisahkan diri karena nggak bawa topi."
Salma terkekeh mengenang masa-masa sekolahnya. Mobil Aldo memasuki pekarangan rumah Salim. Di teras, Widiya sedang berjemur dengan Baby Mima sambil menikmati teh dan camilan bersama tamunya. Di taman, Alvin dan Queena sedang bercanda.
Melihat semua itu, Salma mengerutkan keningnya. Ia merasa asing dan mengira salah alamat. Namun kemudian Widiya menoleh. Ibunda Riky itu langsung beranjak dan memberikan Mima pada Laura. Ia benar-benar terkejut melihat adik iparnya ada di sana.
"Salma! Ya ampun, ini beneran kamu? Pa! Salma datang! Rik!"
Widiya langsung memeluk Salma dengan mata yang berkaca-kaca. Salim yang langsung menghampiri nampak tertegun melihat kehadiran adiknya.
"Kak ...."
Salma memeluk Salim yang juga membalas pelukannya. Setengah berbisik Salim berkata, "Terima kasih sudah pulang."
"Tante."
"Riky, selamat ya! Tante pulang karena ingin bertemu langsung dengan putrimu." Ujarnya sambil memeluk Riky.
"Terima kasih, Tante."
Salma mengangguk sambil tersenyum.
"Ini?" tanya Salma sambil menoleh pada Laura.
"Iya. Ini Mima, Oma," sahut Laura.
Salma tanpa ragu memangku Mima dan ikut bergabung dengan tamu Widiya. Mereka saling menyapa dan memperkenalkan diri dengan ramah.
"Datangnya sama Pak Aldo?" tanya Salim.
"Bisa dong," sahut Aldo.
"Aldo teman sekolah Salma, Kak."
"Oh, kirain calon," ujar Riky asal dan membuat Tantenya mendelik.
"Aku balik lagi ya, Sal. Mari semua."
"Terima kasih, Do."
"Wih, cocok nih. Kalau disatuin jadi SalDo," kelakar Riky. Membuat keduanya tersipu.
"Berapa saldo kamu, Rik? Transfer dong ke Papa," canda Salim. Widiya menepuk lengan suaminya, melihat Aldo yang salah tingkah.
"Uncle, ikut! Mau ketemu Fatum," seru Queena.
"Dibolehkan nggak sama Daddy?" Queena menoleh pada Alvin yang mengangguk pertanda mengizinkan.
"Asik. Ayo, Uncle!"
Aldo menoleh pada Salma yang juga tersenyum tipis. Salma kembali mengobrol dengan mereka dengan riangnya. Hal yang sangat jarang dilakukannya selama ini. Walau di desa ia selalu berkumpul dengan warga, namun dengan keluarga dan kerabat sudah lama Salma melewatkannya.
"Istrimu mana, Rik?"
"Ada di kamar, Tante. Mau mandi dulu. Riky tinggal dulu ya." Pamitnya.
Riky bergegas menuju kamarnya. Tadi ia meninggalkan Alena di kamar mandi.
"Kak Riky kok lama? Memangnya si Mbok nggak ada? Di bawah ada siapa? Rame gitu," ujar Alena yang sedang mengenakan korset.
"Ada Tante Salma." Riky membantu Alena mengenakannya.
__ADS_1
"Tante Salma adiknya papa? Dateng?"
"He-em." Angguknya sambil tersenyum.
Terdengar ada yang mengetuk pintu, ternyata si Mbok membawakan segelas jamu yang sengaja dibuatkan untuk Alena.
"Terima kasih, Mbok," ujar Alena.
"Jamu apa ini, Yang?" tanya Riky sambil mencium aromanya.
"Beras kencur."
"Bau apa ini?"
"Ya bau kencur, Kak."
"Oh, enak nggak?"
"Coba aja."
"Uweek. Ih, nggak enak." Ujarnya sbil bergidik.
"Aneh, jamu yang bikin sehat nggak suka. Wine, whisky, malah suka," delik Alena.
"Mmm jangan bilang begitu dong, aku jadi malu." Riky menelusupkan wajahnya di tengkuk leher Alena.
" Ya udah, sana mandi. Bau."
"Mandiin." Alena melongo mendengarnya.
"Hehe. Canda, Mi. Mau digendong turunnya?"
"Enggak ah malu."
"Tadi nggak malu."
"Tadi subuh kan belum pada bangun."
"Aku temenin kamu di tangganya ya. Baru mandi." Alena mengangguk, kemudian meminum jamu buatan si Mbok.
Setelah selesai, pasangan itu keluar dari kamar. Alena berjalan sangat perlahan. Apalagi saat menuruni tangga.
Riky yang berada di depan istrinya, berjalan mundur sambil memegangi satu tangan Alena.
"Berasa pengantin kita ya, Kak?" Riky tersenyum lebar.
Tak lama terdengar Alvin berkata, "Hadirin dipersilahkan untuk berdiri. Kita sambit kedua mempelai yang sedang menuruni tangga."
"Woy, Lo kira kita apaan pake disambit segala."
"Kalau disambut kan udah waktu married. Sekarang ya tinggal disambit. Lagian romantis dikit dong, dibopong gitu ala-ala bridal."
"Tuh dengar, Yang. Sini."
Hampir saja Alena memekik saat Riky tiba-tiba mengangkatnya. Alena menepuk dada Riky dengan wajah yang bersemu merah.
"Awas, jangan minta jatah. Masih basah, Rik," gurau Alvin.
"Justru kalau udah basah enak. Pura-pura nggak tahu Lo," sahut Riky.
"Yee, basah apa dulu. Ini abis ngelahirin, Bro."
"Udah ah, turunin. Kalian ngomongin apaan sih?"
"Kue basah, enak. Ya kan, Vin?" kilah Riky. Alvin terkekeh melihat Riky yang berekspresi seakan mengejeknya.
__ADS_1