My Love My Bride

My Love My Bride
Keluarga empat sekawan


__ADS_3

Happy reading ....


Tak hanya obrolah para orang tua yang meramaikan meja makan. Bunyi sendok yang sengaja dipukulkan juga menambah suasana ruangan itu semakin ramai.


Tiga cucu keluarga Wira Atmadja benar-benar membuat Nura kewalahan. Arkana selalu bisa memprovokasi si kembar untuk mengikuti tingkahnya.


"Aduh, Nara. Jangan sambil lari-lari, duduk Sayang. Tuh lihat Raya jadi ngikutin. Arka, kasihin mainannya. Biar pada duduk. Nanti keselek loh kalau sambil lari-lari begitu. Ayo, sini!" Nura membuang kasar napasnya dan berjalan mendekati ketiga cucu yang masih saja menggodanya.


"Al, kamu dong yang suapin," ujar Rafael.


"Ah, itu sih mama aja yang terlalu memanjakan. Mereka udah belajar makan sendiri kok," sahut Alya santai.


"Jeng Nura, ayo sini makan bersama. Biarkan saja mereka menikmati makanan dengan cara mereka sendiri," ujar Resty.


"Kalau nggak disuapin begini, makannya jadi nggak benar Jeng Resty. Yang ada cuma berantakannya aja."


"Nggak apa-apa, anak-anak memang begitu. Zein sama adik-adiknya juga dulu begitu. Belepotan dimana-mana," kenang Resty sambil tersenyum.


"Senang ya, yang sudah punya cucu," timpal Widiya.


"Betul. Senang, bahagia, gemes, semua jadi satu. Nanti Jeng Widi juga akan merasakannya. Sama cucu itu sayangnya beda banget. Melebihi sama anak sendiri. Kalau ke cucu, rasanya nggak bisa marah. Mau ditegur juga bawaannya kok takut ya sama ibu bapaknya. Haha, padahal ibu bapaknya kan anak kita. Tapi ya begitulah," tutur Resty sambil terkekeh.


"Seribu untuk Jeng Resty. Saya kira cuma saya yang berpikir seperti itu," imbuh Nura sambil tersenyum.


Entah mereka menyadarinya atau tidak, obrolan para Oma itu didengarkan oleh anak menantu mereka. Sedangkan opa-opa hanya mengulumkan senyum melihat kehebohan para istri membicarakan tingkah polah cucu mereka.


"Lena, kayanya Tante Widiya bakalan minta cucu banyak dari kamu. Riky kan anak tunggal," ujar Laura pelan.


"Enggak dong, Kak. Kan ada Ajeng. Dia aja yang banyak anak," sahut Alena yang tak kalah pelan namun sepertinya masih dapat didengar Ajeng. Buktinya, kedua manik Ajeng membulat sambil mengelengkan kepalanya dengan sangat cepat.


"Woy, Kalian! Bisik-bisik tetangga. Ngomongin apa?" tegur Alya.


"Ini, katanya Kak Laura ingin punya baby lagi. Heheh," sahut Alena asal.

__ADS_1


"Really?" Manik Alvin terlihat berbinar.


"Setuju, Kak. Kak Laura sama Amira harus nambah, masa iya cuma Mey yang anaknya paling banyak," seloroh Meydina. Laura bingung dan salah tingkah. Ia pun menggeleng dengan wajah yang merona.


"Sstt, by the way kalian ngomongin punya anak, nambah anak. Nggak kasihan apa sama yang masih jomblo," ujar Riky dengan gerakan mata tertuju pada Ajeng.


Sontak mereka menoleh pada Ajeng dan tentu saja gadis itu merasa sangat malu.


"Sabar ya, Ajeng. Nanti juga bakalan ketemu jodohnya. Tante doakan semoga kamu mendapatkan pria baik yang sayang keluarga. Seperti Rendy dan kuartet ini," ujar Resty.


"Kuartet? Siapa itu, Tante?" tanya Ajeng heran.


"Jangan kuartet dong Tante, nanti lama-lama kecentet," protes Rafael.


"Haha, kecentet. Bahasa Lo nggak banget, Raf," ujar Riky.


"Terus apa dong? Kalian kan memang selalu berempat. Empat sekawan?"


"Kakak itu enggak?" tanya Ajeng menunjuk pada Rendy.


"No. Kalau itu suamiku, limited edition," sahut Amiera cepat.


"Hati-hati Jeng, jangan asal nyeletuk apalagi memuji suami orang di hadapan istrinya, salah-salah kamu disangka mau ngerebut suami mereka. Uuh, kamu nggak tahu aja kalau para istri marah seperti apa. Kecuali istriku, dia yang paling lembut," puji Salim.


"Bisa aja, Pak Salim. Tapi memang benar loh. Kita ini disegani bahkan ditakuti sama orang lain. Tapi kita sendiri takut ya sama istri. Wah, para istri memang luar biasa," imbuh Bram.


"Hmm, Om Salim nggak tahu aja gimana Tante Widiya kalau lagi ngamuk," batin Ajeng.


"Karena apa coba, Om?" tanya Rafael.


"Karena apa? Karena cinta?"


"Salah satunya. Tapi yang pasti, karena ingin menjaga keharmonisan keluarga," sahut Rafael.

__ADS_1


"Haha, tumben Lo pinter," kelakar Alvin.


"Ah, itu alasan basi. Bilang aja karena takut nggak dapat jatah," delik Alya.


Mereka tergelak melihat Rafael yang menggaruk tengkuknya sambil tersenyum masam dengan jawaban istrinya.


"Jangan-jangan tadi malam ada yang nggak dapat jatah nih," sindir Riky, yang diamini tawa oleh Alvin dan Wira.


"Gue sih mending cuma semalam, nah Lo? Rasain LDR-an lagi. Kasihan deh Lo, mainnya sama sabun lagi," balas Rafael dan sontak gelak tawa terdengar kambali di ruangan itu.


"Om Riky kan udah gede, kok masih suka main sabun sih, Pi?"


Mendengar pertanyaan polos Fatima membuat tawa itu langsung terhenti. Sebagai gantinya mereka berdehem dengan raut wajah merona menahan tawa.


"Mmm kenapa ya? Papi juga bingung. Oh, mungkin karena Om Riky mau punya baby. Jadi dia latihan mandiin baby. Tapi karena baby-nya belum ada, main sabun aja dulu," sahut Maliek sekenanya. Pria itu membulatkan mata pada Rafael yang sudah membuatnya kebingungan menjawab pertanyaan putrinya.


"Sorry," ujar Rafael tanpa suara. Bram terkekeh pelan, begitu juga Wira dan Evan.


Setelah selesai makan, Rendy menemani anak-anak berkumpul di ruang keluarga. Mereka selalu suka menontong bersama sambil menikmati dessert yang disajikan Laura.


Para wanita masih berkumpul di ruang makan kecuali Nura. Mertua Rafael itu menemani si kembar yang ingin tidur siang di kamar tamu.


Evan dan para bapak lainnya mengobrol di teras depan. Sementara empat sekawan berada di taman. Mereka sengaja mengambil tempat terpisah, karena terbiasa merokok saat berkumpul bersama.


"Gila Lo Rik, kalau aja video nyokap Lo yang lagi ngamuk di kantor nggak langsung ketahuan, panjang urusannya. Gue aja tahu dari Maliek. Untung Dani gerak cepat sebelum Om Bram tahu. Kalau enggak, geger dong dunia perbisnisan. Bramasta Corp jadi tempat cakar-cakaran," ujar Rafael pelan.


"Iya, sorry ya, Liek. Gue juga benar-benar nggak nyangka akan terjadi hal seperti itu."


"It's ok. Udah kelar kan urusannya?" Riky menjawab dengan anggukan.


"Gimana kejadiannya sih, Rik? Yang gue dengar dari Alena, sekretaris Lo itu simpanan bokapnya Ajeng. Benar begitu?" tanya Alvin.


Riky mengangguk pelan. Ia merasa terharu mengetahui Alena yang menyembunyikan kebenaran tentang Risa yang juga ingin merusak rumah tangga mereka. Alena tentu tidak ingin melihat kemarahan di mata Alvin dan papanya. Entah akan seperti apa buntut permasalahannya seandainya mereka mengetahui semua itu.

__ADS_1


__ADS_2