
Happy reading ....
Hujan gerimis mengiringi langkah Andri dan Ajeng yang menyusuri gang menuju kediaman Pras. Pasangan itu sengaja ingin memberi kejutan dengan tidak memberi kabar terlebih dahulu.
Suasana di sekitar rumah Pras nampak sepi, padahal ini masih jam delapan. Mungkin karena malam ini hujan, orang-orang memilih berdiam diri berkumpul bersama keluarga di dalam rumah.
"Sssttt." Ajeng menempatkan jari telunjuknya di tengah bibir, sebagai isyarat pada Andri.
Saat hendak mengetuk pintu, gelak tawa Pras terdengar samar dari dalam. Ajeng dan Andri pun saling menatap heran. Tak lama terdengar tawa anak kecil yang riang sambil berseru, "Zee dulu, Pa!"
"Zee? Bukankah itu ...," gumam Ajeng. Ada rasa tak suka menyeruak dalam hati Ajeng, mengetahui papanya masih saja berhubungan dengan Risa.
"Jangan-jangan Risa juga ada di dalam." Batinnya.
Ajeng merasa kecewa. Ia mengurungkan niatnya mengetuk pintu dan hendak berlalu dari tempat itu. Namun langkahnya tertahan oleh pegangan tangan Andri.
Ajeng menoleh dengan raut wajahnya yang sendu. Andri menggelengkan kepalanya pelan, meminta Ajeng untuk tidak pergi begitu saja.
Tok ... tok ... tok.
"Siapa?"
"Andri, Om."
Ceklek.
Raut wajah Pras terlihat bahagia melihat kedatangan Andri yang tidak sendiri. Ajeng memaksakan senyum dan langsung melirik pada Zee yang menyusul papanya dari belakang.
Pras mempersilahkan mereka masuk. Zee nampak senang melihat makanan yang di bawa Andri dan ditaruh di atas meja.
"Kamu kok nggak bilang sayang kalau mau ke sini? Kalau bilang kan papa bisa siapkan makan malam," ujar Pras sambil menempatkan Zee di atas pahanya.
Andri mencoba untuk bersikap tak acuh. Ia membukakan kotak martabak manis dan asin, lalu disodorkan pada Zee.
Pras mulai menyadari raut wajah Ajeng yang tak biasa. Perlahan ia menggenggam tangan Ajeng sambil berkata, "Maaf, Sayang. Papa tidak bermaksud menyakitimu dengan membawa Zee tinggal di sini. Papa ...."
"Apa papa berniat kembali pada wanita itu?" tanya Ajeng menyela ucapan papanya dengan nada yang sinis.
"Tidak. Tidak sama sekali, Jeng. Dengar ya, papa mau menceritakan semuanya."
Pras menurunkan Zee dari pangkuannya. Ia beranjak menyalakan televisi dan mencari acara anak-anak untuk ditonton Zee.
"Zee, nontonnya di sini ya."
"Kakak, a ...."
Zee menyodorkan potongan martabak yang dipegangnya pada Ajeng. Melihat Ajeng yang membuang muka, cepat-cepat Andri mengambil alih.
"A .... aam. Mmm enak, terima kasih. Sama Kakak yuk nonton di sana, sekalian makan ini," tawar Andri dan langsung diangguki senang oleh Zee.
"Nak Andri ganti baju punya Om, mau? Baju Nak Andri sepertinya basah," tawar Pras.
"Tidak usah, Om. Cuma basah sedikit."
"Jeng, ganti dulu bajunya, Sayang. Dingin," pinta Pras. Ajeng tetap diam menatap tak suka pada Zee yang saling menyuapi dengan Andri.
Pras terduduk di samping Ajeng. Ia mengerti benar perasaan putrinya saat ini.
"Jeng, Zee bukan anak papa." Ujarnya pelan.
Ajeng langsung menoleh dengan tatapan heran, dan mendapat anggukan kepala dari papanya. Pelan-pelan Pras menceritakan perihal awal mula perpisahanya dengan Risa. Sampai peristiwa di malam ia menemukan Zee di aparteman itu.
Raut wajah Ajeng mulai melembut. Bahkan hatinya terenyuh sekaligus merasa geram pada Risa. Jika dibandingkan dengannya, tentu ia sangat beruntung mempunyai ibu seperti mendiang Hesti. Di tatapnya Zee yang sedang terkekeh melihat serial tv kesukaannya. Tatapan sendu yang mewakili perasaannya yang pilu.
"Pengasuh Zee tinggal di dekat sini, Pa?"
__ADS_1
"Iya. Dia pulang setelah papa datang. Besok papa libur, jadi meminta dia untuk tidak datang. Malam ini kamu menginap kan?"
Ajeng mengangguk, dan membuat raut wajah papanya bahagia.
"Zee, malam ini bobonya sama Kak Ajeng loh." Zee sangat senang. Bahkan Andri juga merasakan hal serupa.
Zee beranjak mendekati Ajeng dan meminta naik ke pangkuannya. Walau terlihat masih ragu, Ajeng akhirnya tersenyum juga.
"Kakak bobo yuk!"
"Zee sudah mengantuk?" Zee menggeleng.
"Baca cerita dulu." Pintanya.
"Boleh. Kakak juga mau ganti baju." Mereka beranjak menuju kamar. Andri menghampiri Pras yang tersenyum lebar.
"Maaf, Nak Andri. Om jadi malu."
"Tidak apa-apa, Om. Semoga ke depannya lebih baik lagi." Pras mengangguk-anggukan kepalanya.
"Om, saya ingin meminta izin menjalin hubungan serius dengan Ajeng."
Pras menetap lekat pada Andri. Ia melihat keseriusan dalam sorot mata pria itu.
"Om akan mendukung kalian apapun itu. Tapi Om minta, jangan melukai perasaan Ajeng. Om tahu ini memalukan, meminta hal yang Om sendiri tidak sanggup melakukannya. Tapi sebagai seorang ayah, Om sangat ingin ada yang bisa menjaga Ajeng. Tidak hanya diri, tapi juga perasaannya," tutur Pras pelan.
"Saya mengerti, Om. Akan saya lakukan yang terbaik, semaksimal mungkin untuk Ajeng."
"Terima kasih, Nak Andri." Andri tersenyum senang. Kini ia hanya tinggal mengenalkan Ajeng secara resmi pada keluarganya.
***
Gerimis di luar sana, membawa serta angin malam yang dinginnya menusuk hingga ke pori. Dinginnya malam ini membuat setiap insan ingin berselimutkan kehangatan.
Aldo dan Salma misalnya. Mereka menghangatkan malam dengan bersenda gurau lewat panggilan video. Sesekali mereka terkekeh, namun ada saatnya mereka merasa canggung menyadari lawan bicaranya sedang menatap lekat.
Mereka saling melempar kata seakan tak pembicaraan mereka tak akan pernah ada akhirnya. Suasana pun berubah manakala Aldo mengungkapkan keinginannya.
"Salma, maukah kamu menikah denganku?"
"Apaan sih, Do? Ada-ada aja deh."
"Aku serius, Sal. Aku memang banyak kekurangan, dan aku berharap kehadiranmu mampu menutupi kekuranganku itu. Aku juga tak sebaik mendiang suamimu, namun aku akan mengupayakan yang terbaik untukmu."
Salma terdiam, menatap wajah Aldo pada layar ponselnya. Salma berusaha mencari keraguan dari sorot mata pria yang juga sedang menatapnya. Namun nihil, hanya keyakinan dan kepercayaan diri yang terlihat di mata itu.
"Salma."
"Iya, Do?"
"Iya? Apa itu artinya kamu menerima lamaranku?"
Salma terkekeh, lalu menjawab, "Bukan begitu. Iya, ada apa, Do?"
"Hmm kukira kamu menerimaku."
"Kita ini bukan anak muda lagi, Do. Udah bukan masanya main tembak-tembakan begini."
"Aku kan nggak tahu harus bagaimana, Sal. Atau kamu mau aku melamarmu langsung dihadapan keluargamu?"
"Enggak ah. Malu sama cucu dong, Do."
"Ya nggak apa laah. Oma-nya masih muda kok, cantik lagi."
"Ish, kamu ini." Wajah Salma yang merona semakin memerah menyadari tatapan Aldo yang menggoda.
__ADS_1
"Sal, bolehkan aku meminta izin menikahimu pada Pak Salim? Mari menua bersamaku. Kita bisa saling menemani di sisa umur kita."
"Tapi, Do. Bagaimana kalau aku tidak bisa memberiku keturunan? Usiaku sudah tidak muda lagi. Meski tak ada yang mustahil jika Tuhan menghendaki, tetap saja aku tidak percaya diri."
"Kamu setuju menikah denganku?"
"Aku tidak bilang begitu," kilah Salma.
"Itu barusan. Bukankah artinya kamu mau menikah denganku, tapi ragu karena perihal keturunan?"
"Kamu salah mengartikan, Do." Salma terlihat malu.
"Tidak, aku yakin maksud kamu seperti itu. Aku akan kembali ke sana secepatnya."
"Idih, pemaksaan." Deliknya.
"Maksa dikit boleh dong. Katanya enak loh kalau yang dipaksa gitu."
"Mana ada yang dipaksa enak."
"Ada. Awalnya bilang 'tolong!' lama-lama, 'lontong!'. Lontong kan enak, apalagi pake kuah kari, haha."
"Ngelantur." Salma mendelik sambil mengulumkan senyuman.
"Sorry, kalau kata Riky sih ini efek kelamaan jomlo." Lagi-lagi Aldi terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Ada-ada aja, yang pasti ini efek udah malam."
"Bener tuh. Malam gini enaknya ngomongin yang anget-anget ya?"
"Mulai deh. Udah ah!"
"Ciee, pasti pikirannya aneh-aneh. Apa coba yang anget?" Salma menggeleng cepat dengan wajahnya yang terasa panas.
"Jangan piktor, jagung rebus anget enak dimakan di cuaca begini. Singkong goreng, pisang goreng juga boleh."
"Bohong, udah ah. Ngantuk nih," ujar Salma sambil menarik selimutnya.
"Kirain mau bilang, dingin nih."
"Kalau aku bilang gitu memangnya kamu mau jawab apa?"
"Mau aku angetin?"
"Yee, memangnya aku makanan, diangetin."
"Ya nggak apa-apa. Kalau kamu makanan, aku rela jadi microwavenya."
"Aduh, Do! Udah ah. Makin ngelantur omongan kamu." Salma mendelik pada Aldo yang tertawa terbahak-bahak.
"Mingkem, di kira tetangga kamu gila loh. Tengah malam ketawa-ketawa."
"Biarin aku gila, kan kamu dokternya."
Salma benar-benar sudah kehabisan kata. Aldo yang masih tersenyum lebar pun akhirnya mengakhiri panggilan.
"Jangan merindukanku ya. Kata anak muda sekarang, rindu itu berat."
"Terserah, bodo amat."
Lagi-lagi Aldo tergelak melihat raut wajah Salma yang mulai kesal. Ia pun pamit dan mengucapkan salam.
Setelah percakapan mereka benar-benar berakhir, Salma hanya bisa menyembunyikan senyumnya dibalik selimut.
Aldo, Aldo ... ada-ada saja.
__ADS_1