My Love My Bride

My Love My Bride
hamil?


__ADS_3

Happy reading ....


"Daddy!" Seruan Queena yang mengetuk pintu kamar orang tuanya membangunkan Alvin yang masih terlelap.


Alvin mengerjap dan langsung melihat pada jam yang terpaku di dinding. Saat ini sudah jam sembilan, namun matanya masih terasa mengantuk. Dini hari tadi, Alvin baru saja tiba dari Timur Tengah setelah dua hari di sana.


Belum sempat Alvin menjawab, lagi-lagi Queena berteriak memanggilnya. Putrinya itu pasti sudah ingin bertemu saat mengetahui daddy-nya sudah ada di rumah.


"Sebentar, Sayang." Sahutnya pelan.


Alvin menuruni tempat tidur, namun langkahnya menuju pintu terhenti mendengar suara Laura yang seperti sedang muntah-muntah. Alvin berbelok ke kamar mandi menghampiri istrinya tanpa menghiraukan pekikan Queena.


"Laura, kenapa sayang? Kamu sakit?" tanya Alvin yang langsung memijat pundak Laura.


"Entahlah. Hubby, tolong ambilkan air hangat." Pintanya yang terdengar lemas.


"Oke. Kamu bersiap ya. Kita akan ke dokter."


Alvin berlalu ke luar kamar, mencium pipi Queena dan menuruni tangga hendak mengambil air hangat.


"Mommy, kok pucat? Mommy sakit?"


"Mungkin sayang. Mommy saat ini merasa lemas."


Laura membaringkan tubuhnya. Ini pagi kedua ia seperti itu. Kemarin, karena merasa lemas ia pun kembali tertidur. Anehnya rasa mual itu hilang tak ubahnya sebuah mimpi yang akan terlupakan saat bangun yang kedua kali.


"Mommy tidur, Sayang?" tanya Alvin pelan. Queena menggeleng sambil mengangkat bahunya.


Laura membuka malas kedua matanya, lalu memaksakan diri menyandarkan punggungnya. Diterimanya air yang disodorkan Alvin, kemudian meminumnya.


"Are you okay?"


"Aku ingin tidur lagi sebentar."


"Baiklah. Kau ingin disiapkan apa untuk sarapan?"


"Apa saja." Sahutnya sambil menarik selimut. Alvin membetulkan posisi selimut itu.


"Ayo, Sayang! Kita turun! Sebentar, Daddy lupa belum cuci muka." Queena terkekeh melihat daddy-nya yang bergegas ke kamar mandi.


Sepeninggal Alvin dan putrinya, Laura belum juga bisa memejamkan mata. Ia mulai berpikir tentang apa yang sedang dialaminya.


"Apa aku hamil?" Gumammya.


"Aaah, tidaak," rengek Laura kemudian. Istri Alvin itu menutupi wajahnya dan menggeleng-gelengkan kepala.


Ceklek.


Laura segera melihat ke arah pintu. Alvin menatapnya dengan raut menyesal dan meminta maaf karena berpikir sudah mengganggu tidur Laura.


"Hubby."


"Hmm, ada apa? Kau ingin berc*nta?" goda Alvin yang menghampiri dan mengecup kening Laura.


"Kau tidak lihat, aku sedang tidak bertenaga," delik Laura malas.

__ADS_1


"Aku bercanda, Sayang. Ada apa? Ada yang kau inginkan?" Tanyanya, sembari mengusap lembut pipi Laura.


"Belikan aku testpack," pinta Laura ragu.


"Testpack. Kamu hamil?" tanya Alvin dengan tatapan yang berbinar.


"Mungkin saja. Aku baru ingat melewatkan siklus datang bulanku di bulan kemarin," sahut Laura pelan. Wajahnya merona melihat senyum Alvin yang sedang menatapnya lekat.


"Terima kasih, Sayang," ucap Alvin sambil mendaratkan ciuman di bibir Laura.


"Baru perkiraan, jangan dulu merasa senang."


"Aku sudah senang walaupun itu baru perkiraan," sahut Alvin cepat.


"Nanti setelah sarapan, belikan ya."


Alvin menggeleng, "Aku tidak akan menunggu nanti. Akan kubelikan sekarang juga."


Alvin beranjak mengambil jaket. Sebelum pergi ia bertanya, "Kau ingin membeli berapa? Tiga, lima, atau sepuluh mungkin?"


"Jangan berlebihan, satu saja cukup."


"Setidaknya aku akan membeli dua. Jika satu negatif, siapa tahu satunya lagi akan positif."


Laura terkekeh mendengar ucapan Alvin. Baru kali ini Alvin terdengar sangat konyol. Melihat Laura yang sudah bisa tertawa, Alvin merasa lega. Ia pun meminta pelayan agar membuatkan sarapan untuk istrinya.


***


Di tempat lain ....


"Hai, siapa ini?" tanya Kamil dengan gayanya yang ceria menyambut Zee yang berlari menghampiri.


"Zee."


"Zee?" Anak itu mengangguk. Tanpa ragu Kamil memangkunya.


"Om, Kak ...." Ajeng memcium punggung Papa dan menyapa Kamil. Ada rasa canggung saat mengetahui Kamil sedang berada di rumah.


"Hai, Jeng. Ayo masuk!" Ajak Kamil yang terlihat grogi.


"Biasa aja kali ah. Nggak usah grogi gitu," ujar Andri menggoda adiknya.


"Gimana nggak grogi, Kak. Ajeng kan juniorku, tapi di rumah dia bakalan jadi kakak ipar. Aku panggil nama apa Kak Ajeng nih?"


"Nama aja, Kak. Ajeng berasa tua kalau Kak Kamil panggil Ajeng, Kakak. Hehe."


"Boleh nggak?" tanya Kamil pada Andri, dan dijawab dengan acungan ibu jari.


Mama yang datang dari dapur terlihat senang menyapa Ajeng. Keduanya langsung akrab, terlebih ada Zee yang menghangatkan suasana.


"Jeng, Tante boleh minta sesuatu?"


"Boleh, Tante," sahut Ajeng dengan raut wajah bingung dan menoleh pada Andri.


"Mau ya menikah dengan Andri secepatnya. Tante akan sangat senang kalau kamu tinggal bersama kami."

__ADS_1


Ajeng terkesiap, dan bingung harus menjawab apa.


"Jangan terburu-buru. Pikirkan lagi, Jeng. Maaf ya, kalau mamanya Andri terkesan mendesak," ujar Papa.


"Tidak apa-apa, Om. Ajeng mengerti, dan akan memikirkannya. Terima kasih sudah menerima Ajeng di keluarga ini." Ujarnya sambil menundukkan kepala.


"Kapan pulang, Jeng?" tanya Kamil.


"Mungkin malam, Kak."


"Sama Bos Riky," ujar Andri dan diangguki oleh Ajeng.


"Nak Riky mau ke sana?"


"Iya, Ma. Besok ada rapat di kantor pusat. Jadi malam ini ke sana."


"Pasti ingin ikut ya?" goda Kamil.


"Tahu aja. Hmm sayangnya nggak bisa."


"Kasihan," ejek Kamil sambil tersenyum lebar.


"Kerja. Mau berkeluarga justru harus semangat kerja, Ndri. Jangan malah jadi kendor," ujar Papa mengingatkan.


"Siap, Pa."


Setelah makan siang, mereka bercengkrama sebentar. Mama pun harus merelakan calon mantunya pulang, karena Zee merengek ingin minum susu dan tidur siang. Lagi-lagi Mama meminta Ajeng memikirkan permintaannya, membuat Andri merasa tak enak hati pada Ajeng.


***


Di kediaman Salim, suasana rumah nampak sepi, hanya sesekali terdengar rengekan dari kamar Alena dan Riky. Sedangkan Salim dan Widiya sedang tak ada di rumah.


"Mi. Cepat, Mi! Aku lapar. Ulu-uluu ... Sayang Papi, tunggu sebentar ya. Mami lagi di kamar mandi," bujuk Riky pada Baby Mima yang sedari tadi merengek.


Tak lama Alena keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke tempat tidur. Wajahnya terlihat senang setelah tadi mendapat kabar bahagia dari kakaknya, Alvin.


"Mi, kita juga nambah lagi ya," ujar Riky sambil mengusap-usap pipi Mima yang sedang menyusu pada ibunya.


"Nanti aja lah, Kak. Jangan terlalu dekat jaraknya," sahut Alena dengan wajah memelas.


"Berapa lama? Biar Mima ada teman mainnya," kilah Riky.


"Lima tahun?"


"Kelamaan."


"Tiga tahun?" Riky menggeleng.


"Masa iya satu tahun?" Alena memasang wajah cemberut saat Riky mengangguk cepat.


"Ya? Please ...."


"Papi gitu deh. Mami kan ingin kerja," delik Alena.


"Jangan, Sayang. Capek. Di rumah aja dengan anak-anak kita. Hmm, oke?"

__ADS_1


Alena membuang kasar napasnya, lalu menjawab, "Oke."


__ADS_2