My Love My Bride

My Love My Bride
di kampus


__ADS_3

Happy reading...


Gelak tawa terdengar saling bersahutan dari sekelompok mahasiswa yang berkumpul didekat kantin. Mereka sangat suka menggoda seorang teman yang baru ada di tengah mereka setelah seminggu tidak datang ke kampus. Siapa lagi kalau bukan Alena dan teman-temannya.


Selain Nindy, teman lain pun ikut menggoda Alena yang memang mereka ketahui selama ini menjalani long distance relationship dengan suaminya.


"Len, bantu kita dong," pinta seorang teman Alena.


"Bantu apaan?"


"Kakak kamu kan CEO perusahaan besar, bantu kita mendapatkan tempat magang ya. Please..."


"Iya, Len. Bantu ya. Kamu sih enak, Al-Azmi Corp. sama Bramasta Corp. tinggal pilih mau di mana. Belum lagi mertua kamu ex-pejabat. Kalau kamu ingin magang di kantor perpajakan juga gampang. Kalau kita? Susah. Please, ya..." pinta satu teman lainnya.


"Nanti aku coba ya. Tapi nggak bisa janji, secepatnya aku akan kabari kalian. Semoga saja bisa," sahut Alena sambil tersenyum kikuk.


"Terima kasih," ucap teman-teman Alena serempak dengan gayaereka yang sok imut. Membuat Alena mengulumkan senyum.


Alena tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya dari sisi lain tempat itu. Seorang pria yang merasa cemburu sekaligus juga rindu.


Siapa lagi kalau bukan Agam. Sejak diberitahu temannya bahwa hari ini Alena datang ke kampus, ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah manis pujaan hatinya.


Agam tersenyum tipis dan hendak berlalu dari tempat itu. Saat membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat, tanpa sadar ia menabrak seseorang.


"Aww!" Pekikan pelan terdengar dari orang yang di tubruknya.


"Maaf," ucap Agam sedikit membungkukkan badannya. Ia kemudian berlalu meninggalkan orang yang ditabraknya itu.


"Itu kan?" Ditatapnya punggung pria yang berlalu, sambil mengingat-ingat siapa pria itu.


Di sisi lain...


"Len, itu kan sepupu Kak Riky."


Alena menoleh pada arah yang ditunjuk Nindy. Kedua alisnya tertaut melihat Ajeng sedang memperhatikan seseorang yang entah siapa.


"Ajeng! Sini!" Serunya.


Ajeng menoleh dan tersenyum tipis. Namun ia terlihat ragu saat hendak mendekati Alena dan teman-temannya itu. Dengan senang hati, Alena memperkenalkan Ajeng pada teman-temannya. Ajeng hanya tersipu menanggapi kehebohan teman-teman Alena.


Ajeng menunggu Alena selesai dengan mata kuliahnya di sebuah kursi taman. Tadi mereka berangkat bersama-sama dan pulangnya juga bersama. Sambil menunggu, ia menelepon mamanya.

__ADS_1


"Hallo, Ma. Sedang apa?" tanya Ajeng dengan suara yang sedikit bergetar.


"Mama sedang bersama teman-teman. Kamu kenapa, kok suaranya begitu? Kamu nangis ya?" tanya Hesty khawatir.


"Ma, video call ya." Pintanya. Karena selama ini, Mama Hesty selalu menolak jika ia ingin melakukan panggilan video.


"Mama lagi sama teman-teman, kamu mau apa memangnya? Kamu kenapa nangis, ada masalah apa?"


"Ajeng kangen, Ma. Mama di mana sih? Kenapa lama nggak ke rumah Tante Widiya?"


"Mama sedang ada urusan. Kalau ada apa-apa bilang saja sama tantemu. Mama sudah titipkan beberapa surat kepemilikan aset atas nama mama sama Tante Widiya. Kalau suatu saat kamu perlu uang dalam jumlah besar, bilang saja. Dijual juga nggak apa, asalkan itu untuk keperluan kamu."


"Kok Mama bicaranya seperti itu? Ajeng nggak mau aset mama. Ajeng mau ketemu mama." Ucapnya lirih.


Sesaat hening. Tak lama kemudian terdengar suara Mama Hesty yang minta segera diakhiri.


"Nanti dulu, Ma. Ajeng masih kangen," pinta Ajeng terdengar memelas. Sebisa mungkin ia menahan isakannya.


"Ma..."


"Udah dulu ya, mama mau ke kamar mandi." Pungkasnya.


Belum sempat Ajeng menjawab, panggilan itu sudah terputus. Ajeng memejamkan kedua matanya mencoba menahan sesak yang terasa di dada. Namun tetap saja, butiran air mata keluar juga dari kedua ujung matanya itu.


Ajeng terperanjat mendengar suara seseorang di dekatnya. Cepat-cepat ia mengusap wajahnya dan saat membuka mata, ia terbelalak.


"Nih. Kalau nggak punya tisu, kamu bisa pakai sapu tanganku. Bersih kok, belum kupakai." Ujarnya.


"Dia kan... yang tadi. Yang waktu itu juga," batin Ajeng menatap tak berkedip pada orang di depannya. Ia lupa dengan wajahnya yang terlihat agak sembab.


"Lap tuh. Ingus kamu mau keluar." Ucapnya lagi.


Seketika wajah Ajeng memerah. Cepat-cepat ia mengambil sapu tangan yang disodorkan.


"Terima ka-sih," ucap Ajeng pelan, karena orang itu berlalu begitu saja.


Ajeng tertegun, hari ini kedua kalinya ia menatap punggung orang itu. Dan tak lama, ia mendengar gelak tawa Alena terdengar diantara teman-temannya. Ajeng menoleh, dalam hati ada sedikit rasa iri pada Alena yang selalu terlihat bahagia. Ia menundukkan kepalanya, berharap perasaan seperti itu tidak terlihat di matanya.


"Kita mau kemana, Kak?"


"Ke kantor Kak Maliek. Hari ini papa ada di sana dan akan makan siang dengan Kak Alvin juga. Nggak apa-apa kan? Aku udah kangen sama papa, jadi kita ke sana ya?" Ujarnya dan diangguki pelan oleh Ajeng.

__ADS_1


***


Raut wajah bahagia terpancar dari wajah pria paruh baya yang menyambut Alena. Setengah berlari, Alena menghampiri dan memeluknya. Ia merasakan pucuk kepalanya dikecup berkali-kali. Saat mendongakkan wajah, satu kecupan mendarat di keningnya.


"Bagaimana kabar Riky?"


"Baik, Pa. Mmm, Lena kangen." Ucapnya terdengar manja.


"Baru satu minggu. Apalagi satu bulan atau satu tahun, mau bagaimana kamu Len?" sindir Alvin.


"Papa ke sana ya, Pa." Pintanya.


"Kamu yang ke sini," sahut Evan.


"Ya udah, ketemu aja di tengah jalan." Alvin menimpali dengan senyum yang terkulum.


"Hmm, bilang aja Kak Alvin sirik." Deliknya.


"Sorry ya, aku nggak manja seperti kamu. Meydina sama Amie juga nggak seperti itu. Kamu aja yang manjanya nggak ketulungan," sahut Alvin datar.


"Papa kan nggak seperti Om Salman. Serem..." balas Alena.


"Eh nggak boleh begitu. Nanti menantunya ngadu loh," sindir Alvin pada Maliek yang terduduk di sampingnya.


"Gue cuma menantu, nah loe anaknya?" sahut Maliek datar.


"Sudah ah, itu siapa Len?"


"Eh iya, lupa. Maaf... sini Jeng!"


Alena menggandeng tangan Ajeng dan memperkenalkannya pada Evan, dan juga Alvin. Sementara melihat Maliek yang tak acuh, Alena hanya sekilas menyebutkan namanya.


Melihat keakraban Alena dan ayahnya, lagi-lagi menimbulkan rasa iri di hati Ajeng. Terlebih saat mengetahui selain Riky, Alena juga dikelilingi para pria tampan yang belakangan diketahuinya sebagai sahabat sepupunya tersebut.


"Enak sekali hidup Alena. Pantas saja dia selalu merasa bahagia. Mengapa Tuhan tidak adil padaku? Di saat keadaanku seperti ini, justru segalanya dimiliki Alena." Batinnya.


"Hei, Jeng. Kok melamun? Ayo dimakan," tegur Alena.


"I-iya." Sahutnya.


Sekali lagi Ajeng memperhatikan raut wakah Alena. Ketulusan terlihat jelas dari setiap tindakannya.

__ADS_1


"Apa karena dia orang baik, kehidupannya juga baik? Apa jika aku mampu lebih baik, kehidupanku juga akan membaik? Sepertinya aku harus mencobanya. Mencoba memperbaiki diri. Siapa tahu Tuhan memperbaiki kehidupanku juga. Apalagi kalau mama bisa sembuh, aku akan mencurahkan perhatian dan baktiku pada mama." Tekadnya dalam hati.


__ADS_2