My Love My Bride

My Love My Bride
perkelahian di club


__ADS_3

Happy reading ....


Satu jam yang lalu ...


Riky menelusupkan wajahnya di ceruk leher Alena. Menikmati aroma istrinya sambil memeluk dan sesekali mengusap-usap perutnya.


"Geli, Kak. Lena ngantuk," protes Alena merasakan lidah suaminya bermain di lehernya.


Beberapa notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Riky yang tergeletak di atas nakas. Karena malas, Riky tidak menghiraukannya.


"Kak, itu dibaca dulu."


"Males ah. Pengen, Yang ...."


"Baca dulu. Siapa tahu penting."


Mau tak mau Riky pun menuruti. Dengan enggan ia meraih ponselnya sambil menggerutu, "Siapa sih malam-malam begini?"


Sesaat kemudian, Riky tertegun membaca pesan yang masuk itu. Karena penasaran, Alena mendekati dan Riky memberikan ponselnya.


📩 Andri [Bos, maaf mengganggu.]


📩 Andri [Izin mengantar Ajeng. Dia ingin pergi ke Club. Katanya ingin bertemu papanya.]


Alena menoleh pada Riky. Untuk lebih meyakinkan, Andri bahkan mengirim foto club yang didatanginya bersama Ajeng dari bagian depan.


"Ajeng bertemu Om Pras? Kok di club?"


"Aku nggak tahu, Sayang. Perasaanku jadi nggak enak. Nggak apa kan kalau aku menyusul mereka?" Alena mengangguk cepat. Ia tidak habis pikir, mengapa seorang ayah meminta bertemu putrinya di sebuah club.


***

__ADS_1


"Pa, apa maksud papa? Ini, Ajeng," ucap Ajeng pelan. Pria itu menyeringai mendengar ucapan gadis yang terpaku itu. Ia menoleh pada Pras dan Ajeng bergantian.


"Aku harus percaya pada siapa, Pras?" Ejeknya.


"Dia bukan putriku, Tuan. Aku tidak punya siapa-siapa sekarang." Pras mencoba meyakinkan.


"Pergilah, Nak. Papa mohon, pergi dari tempat ini," batin Pras.


"Tuan, jika gadis ini bukan putrinya, tidak apa kalau kita menjadikannya mainan malam ini. Sepertinya dia masih polos," ujar pria lain dengan seringaian menatap miring pada Ajeng.


Andri menarik Ajeng semakin dekat padanya. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Ajeng dan membuat gadis itu menganga tak percaya.


"Dia wanitaku. Jadi jangan ada yang mengganggunya. Pria itu benar, kurasa dia mulai mabuk untuk mengenali seseorang." Andri mendekatkan wajahnya seperti akan mencium Ajeng.


"Ma-mabuk?" batin Ajeng dengan kedua matanya yang membulat sempurna. Degup jantungnya sangat cepat merasakan hembusan nafas Andri menyapu lembut wajahnya. Wajah Ajeng merona melihat Andri mengedipkan sebelah matanya.


"Ah, dasar! Pergi kalian dari sini. Cari kamar! Atau kalian mau kami menontonnya, hah!" bentak pria tadi kesal.


"Sepertinya kita harus mencari kamar, Sayang. Baiklah, kami permisi," pamit Andri.


Pria tadi merasa kesal karena gadis yang diinginkannya ada yang punya.


Bugh!


Ia pun meninju Pras hingga tersungkur ke lantai.


Ajeng tersentak dan refleks lari ke arah papanya. Pras meringis namun tetap berusaha meminta Ajeng meninggalkan tempat itu.


"Pergilah." Ucapnya sangat pelan.


"Pa." Ajeng menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mencoba membantu papanya untuk berdiri.

__ADS_1


"Hoo, jadi dia putrimu, Pras? Dasar pembohong!" Bentaknya sambil menarik paksa Pras untuk bangun dan meninjukan kepalan tangannya.


Ajeng memekik saat seseorang akan menjamahnya. Beruntung Andri sigap dan memberikan pukulan telak di wajah pria itu.


Suasana jadi memanas. Andri terlibat baku hantam dengan beberapa pria yang justru tertarik untuk menggoda Ajeng. Sedangkan Ajeng bingung harus berbuat apa. Sebisa mungkin ia melawan dengan tatapan tak lepas dari papanya yang meronta saat diseret paksa oleh para penjaga.


"Hehe, kau harus membayar hutang ayahmu pada Tuanku." Seorang pria berhasil menarik Ajeng dan membuatnya tersungkur dihadapan tuan itu. Andri yang menyempatkan untuk menoleh pada Ajeng terkena pukulan keras dibagian rahangnya.


Beberapa kali mendapat pukulan, Andri pun tersungkur di samping Ajeng.


"Kak." Ajeng segera mendekati Andri, namun kemudian terhenti karena pria tadi mencengkram rahangnya.


"Br*ngsek, lepaskan dia!" Melihat Ajeng meringis, Andri hendak bangun. Namun ia tak kuasa karena ada kaki yang menginjak kuat punggungnya.


"Dia wanitamu hah? Bagaimana kalau aku 'main' di sini dengannya? Kau pasti kan menyukainya," decih pria tadi.


"Tuan, aku mohon lepaskan dia. Aku akan membayar semua hutangku. Aku janji, Tuan." Pras yang bersusah payah melepaskan diri terjatuh tak jauh karena tubuhnya yang tak kuat lagi.


"Pa ...." Ajeng menangis melihat keadaan papanya. Ia hanya bisa menatap nanar saat para pria itu kembali menyeret tubuh Pras.


"Kau tidak harus membayar, Pras. Putrimu yang akan membayarnya," seringai Tuan itu.


"Tidak. Putriku tidak tahu apa-apa. Jangan menyentuh putriku. Ku mohon, Tuan," ujar Pras dengan suara yang terdengar lemah.


"Maaf, Pras. Aku tidak bisa mempercayai pembohong sepertimu. Bawa gadis itu ke sini. Tempatnya bukan di lantai, tapi di pangkuanku."


"Tidak, Tuan. Jangan ...." Pras masih mencoba memohon meski ia mendapat pukulan bertubi-tubi.


Begitu juga dengan Andri. Kaki yang menekan kuat di atas punggungnya membuat Andri yang sudah kehabisan tenaga tak bisa berbuat apa-apa.


"Aku tidak mau. Lepaskan!" pekik Ajeng meronta saat dua orang pria memaksanya berdiri dan menarik lengannya agar mendekat pada pria yang dipanggil 'tuan' itu.

__ADS_1


Prang!


Semua menoleh ke arah datangnya suara.


__ADS_2