
Happy reading ....
Menjalani kehidupan seorang diri membuat Pras mau tak mau harus melakukan segalanya sendiri. Ia mulai terbiasa memasak, dan mencuci pakaiannya sendiri. Pagi menjelang siang ini, ia melajukan motornya ke pasar tradisional yang berada cukup jauh dari rumah kontrakannya.
Pras memilih dan memilah bahan makanan yang akan dibelinya. Ia pun menggeleng pelan saat melihat ibu-ibu yang ngotot menawar barang dengan harga yang tak seberapa.
"Pak Pras?" Pras menoleh dan mengernyitkan keningnya. Wanita yang menyapanya adalah pengasuh Zee, putri Risa.
"Pak Pras belanja di sini juga?"
"I-iya. Kamu kok belanja? Disuruh Risa ya." Pras menatap heran pada belanjaan pengasuh itu.
"Bukan, Pak. Ini belanjaan saya. Sudah hampir satu bulan ini saya sudah tidak mengasuh Non Zee."
"Apa? Kamu berhenti bekerja?" Pras sangat terkejut.
"Ibu tidak sanggup membayar gaji saya, Pak. Yang kemarin juga belum dibayar."
"Lalu Zee?"
"Non Zee dengan ibu berdua saja, Pak. Saya dengar, apartemen itu juga sedang menunggu pembeli."
Pras tertegun. Ia benar-benar tidak menyangka dengan ini semua.
"Mari, Pak. Saya permisi."
"Tunggu. Saya minta nomer ponsel kamu. Nanti saya juga akan minta nomer rekening kamu. Bagaimanapun gaji itu adalah hak kamu."
"Bapak akan membayarnya?"
"Tentu. Saat ini saya tidak membawa cukup uang. Saya akan transfer nanti, mungkin siang atau sore. Tapi pasti akan saya transfer."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak." Pras mengangguk pelan. Wanita itu pun meminjam pulpen dan meminta kertas pada salah satu penjual.
Perasaan Pras menjadi tidak karuan setelah mendengar penuturan eks-pengasuh Zee itu. Bukan Risa yang ia pikirkan, ataupun apartemen yang pernah ia berikan, melainkan Zee yang membuatnya khawatir.
Saat ini, Risa pastilah kesulitan ekonomi. Jika saat berkecukupan pun ia kurang memperhatikan Zee, lalu bagaimana kabar anak itu sekarang?
***
Kehangatan dan keceriaan keluarga besar kembali terasa saat anak-anak datang ke rumah Salim. Salma terlihat sangat bahagia di suguhi hal seperti itu. Anak-anak juga tak segan memanggilnya Oma Mima.
Setelah makan malam, mereka pun berpamitan pulang. Sebelum ke bandara, mereka harus berkemas terlebih dahulu.
Namun sebelum itu, mereka kewalahan membujuk Fatima. Putri Maliek itu merengek menginginkan Baby Mima ikut bersama mereka.
"Kakak Fatum di sini sama Uncle ya," ujar Riky.
"Nggak mau. Baby yang ikut aku." Sahutnya sambil terisak.
"Sayang, Baby kan masih harus mimik susu. Jadi belum bisa diajak. Nanti kalau Uncle Riky ke rumah, Baby-nya suruh dibawa. Benarkan Uncle, Auntie?" bujuk Meydina.
"Yups!" sahut Riky cepat dan diangguki juga oleh Alena.
"Janji?"
"Janji."
"Papi, kalau Uncle bohong, hukum ya." Ujarnya saat Maliek menempatkannya dalam dekapan.
"Oke. Awas Uncle, nanti dijewer sama Papi!"
"Aduh, jangan dong. Ampun!" Riky berlagak sambil menutupi telinganya. Fatima yang semula hanya mengulumkan senyum terkekeh melihat Rafael juga ikut-ikutan berlagak mengimbangi akting Riky.
__ADS_1
Di sisi lain ....
"Kamu kapan kembali?"
"Aku belum tahu, mungkin Kak Salim tidak akan mengizinkan aku pergi lagi." Sahutnya sambil bertukar nomer ponsel.
"Salma, boleh nanti aku bicara secara pribadi denganmu?"
"Tentu."
"Oke. Terima kasih," ujar Aldo senang.
"Sama-sama, hati-hati ya."
"Bye."
"Bye, Aldo."
Dengan berat hati, Widiya dan Salim melepas rombongan itu. Anak-anak terlihat riang memasuki mobil yang akan membawa mereka. Lambaian tangan menandai perpisahan. Widiya berusaha untuk tersenyum lebar.
"Sepi lagi deh," ujar Salim.
"He-em. Untung ada Mima," sahut Widiya. Mereka kembali ke dalam rumah. Widiya merasa senang melihat Salma menggandeng tangan Alena.
"Salma, kamar kamu sedang di siapkan pelayan. Tunggu sebentar lagi nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, Mbak Wid. Malahan kalau boleh, malam ini inginnya tidur di kamar Mima." Ujarnya sambil menoleh pada Alena.
"Tentu boleh dong, Tante."
"Yang benar?" Alena mengangguk cepat.
"Yes. Akhirnya papa nggak tidur sendiri lagi."
"Sirik ... kamu sendirian kan? Ka-sihan," ejek Salim.
"Nasib ... nasib."
"Sabar, Rik, puasa dulu. Nanti kalau udah beres, Mima biar tidurnya sama Tante. Untuk anak kamu, tante siap deh jadi babysitter-nya."
"Berarti tante akan lama dong?" tanya Alena senang.
"Lama nggak ya?" Salma balik bertanya dengan senyum menggoda.
"Bukan cuma lama, tapi selamanya," ujar Salim.
"Gitu dong, Tante. Atau jangan-jangan ...."
"Apa?"
"Ya siapa tahu, tante berjodoh dengan Pak Aldo." Riky mengankat kedua tangannya lalu mengusapnya ke wajah.
"Kami hanya teman lama, Rik."
"Ya nggak apa-apa. Pak Aldo pria yang baik. Aku setuju aja," ujar Salim.
"Riky juga setuju."
"Lena juga."
"Mbak juga setuju. Pak Aldo bukan orang baru, sedikit banyaknya kita sudah tahu. Pikirkan lagi ya, mudah-mudahan dia punya niat baik sama kamu."
"Ah, Mbak ini ada-ada saja. Ya enggak lah."
__ADS_1
"Siapa tahu? Ya nggak?" tanya Widiya dan langsung mendapat anggukan dari anggota keluarga lainnya.
"Udah ah, Mimanya nungguin tuh," ujar Salma malu.
***
Pras mengendarai motornya di tengah angin dingin yang terasa menusuk. Tujuannya saat ini adalah sebuah club yang cukup ternama di kota itu.
Pras sebenarnya enggan, namun kliennya meminta bertemu di tempat itu. Melihat tempat hiburan malam yang berjejer di sepanjang jalan, membuat ayah Ajeng itu mengingat masa-masa yang pernah dilewatinya.
Pras menepikan motornya. Berjalan memasuki sebuah club yang disebutkan kliennya.
Hentakan musik yang memekakan telinga menyambutnya di tempat itu. Riuh suara pengunjung terdengar terutama dari lantai dansa.
Pras bertanya pada bartender, lalu menuju ruangan tempat kliennya berada.
"Pak Pras, terima kasih anda bersedia datang."
"Tentu. Bisa langsung pada pembicaraan?"
"Wah, anda buru-buru sekali. Ini masih sore."
Memang, bagi penikmat hiburan malam, pukul sepuluh belumlah apa-apa.
"Maaf, saya sedang menghidari alkohol." Tolaknya, saat klien itu menyodorkan gelas berisi minuman.
"Benarkah?" Ekspresi kliennya itu antara tak percaya dan mengejek.
"Begitulah. Saya bisa dimarahi dokter kalau membandel," ujar Pras berusaha santai.
"Oke, kita bisa pesan yang lain."
"Tidak, terima kasih."
Pras bisa melihat kliennya itu mulai kesal. Namun ia tak perduli dan mulai membicarakan kerjasama yang akan mereka jalin.
Tidak lama Pras di sana, setelah sekitar setengah jam, ia pun pamit ke luar. Pras melewati beberapa ruangan serupa dan berpapasan dengan seorang pelayan yang membawa gelas dan botol minuman.
Pelayan itu memasuki sebuah ruangan. Dari dalam terdengar gelak tawa beberapa wanita dan pria. Pras tertegun, merasa mengenali suara itu. Ia memberanikan diri mengintip dan terkejut melihat Risa ada di sana. Diapit dua pria yang sedang mengelus-elus bagian tubuhnya yang terbuka.
Pras menjauhi pintu saat melihat pelayan itu hendak keluar ruangan.
"Mas. Maaf mau tanya sebentar."
"Ada apa, Pak?"
"Yang di dalam itu siapa ya?"
"Maksud bapak yang mana? Yang ditemani para wanita malam itu? Kalau itu saya tidak tahu, Pak."
"Wanita malam? Jadi maksud Mas, yang didalam itu wanita bookingan?"
"Iya."
"Semua?"
"Iya benar semua."
"Oh begitu. Terima kasih, Mas. Maaf sudah mengganggu."
Pras terpaku ditempatnya sambil menatap bingung pintu ruangan itu.
"Kalau Risa ada di sini, lalu Zee dengan siapa?" Gumamnya.
__ADS_1