My Love My Bride

My Love My Bride
extra-part (persalinan Laura)


__ADS_3

Happy reading ....


Beberapa bulan kemudian ...


Dalam keheningan, Laura meringis kesakitan. Kontraksi pada kehamilannya sudah dirasa intens dan terasa cukup lama. Mungkin ini sudah waktunya melahirkan.


Berbeda dari kehamilan sebelumnya, pada kehamilan kali ini Laura ingin melahirkan secara normal. Sudah sembilan tahun lebih, dan sejujurnya ia tidak ingat pernah merasakan kontraksi sesakit ini. Karena saat melahirkan Queena semua sudah terjadwal.


Laura menoleh pada Alvin yang terlelap. Saat ini pukul satu dini hari, dan Alvin baru kembali dari Timur Tengah. Laura tak tega membangunkan Alvin. Namun ia juga merasa tak kuat menahan sakit lebih lama lagi.


"Hubby. Wake up, please!" Lirihnya sembari mengguncang pelan lengan Alvin.


"Vin, perutku sakit. Baby-nya udah ingin lahir, hiks ...." Laura terisak sambil mengusap-usap perutnya.


Tak pernah terbayangkan akan sesakit ini. Sakit luar biasa yang membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya.


"Vin!" pekik Laura sambil mencubit lengan Alvin.


Alvin menggeliat sambil mengusap-usap lengannya. Rasa kantuk membuatnya belum sadar dari mimpi yang membuai. Namun kemudian isakan Laura mengusik tidurnya. Alvin mengerjap dan terkejut mengetahui Laura sedang terisak.


"Sayang, ka-kamu kenapa? Sakit? Sudah akan lahir ya? Se-sebentar aku siapkan dulu mobilnya. A-ku juga akan menelepon dokter," ujar Alvin yang terlihat bingung karena belum sadar sepenuhnya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Vin, suruh dokternya datang ke sini. Aku tidak kuat lagi," rengek Laura.


"Ba-baiklah, Sayang. Tunggu sebentar, aku akan meminta Riky membawa dokternya ke sini."


Alvin berlari ke luar kamar dan menuju kamar Alena. Sejak mengetahui perkiraan kelahiran anak keduanya, Alena sengaja pulang dan sudah tiga hari ada di rumah itu.


"Rik! Riky!" seru Alvin berkali-kali sambil mengetuk pintu cepat.


Tak hanya Riky dan Alena, seruan Alvin juga membangun Papa Evan.


"Ada apa, Vin?" tanya Riky yang membuka pintu kamar sambil mengucek salah satu matanya.


"Tolong gue. Lo tahu kan dokter Yuli. Itu loh yang langgganan Meydina dulu."


"Iya-iya gue tahu. Dokter Yuli kenapa?"


"Kak Laura mau melahirkan, Kak?" tanya Alena dari yang menghampiri mereka. Papa Evan juga terlihat di ujung tangga.


"Iya. Len. Dia sedang kesakitan. Rik, tolong minta Dokter Yuli datang, Laura ...." Alvin tidak meneruskan kalimatnya karena mendengar pekikan Laura. Ia pun menyodorkan ponselnya pada Riky.


"Vin! Vin!" Mendengar pekikan Laura yang histeris mereka segera berlari ke kamar Alvin. Sedangkan Riky bergegas mengambil kunci mobilnya sambil mencari nama Dokter Yuli pada kontak di ponsel Alvin, kemudian meneleponnya.


"Dok. Maaf mengganggu. Laura sudah akan melahirkan. Saya akan menjemput Dokter sekarang juga."


"...."


"Sepertinya begitu, Dok. Dari pada melahirkan di mobil, lebih baik di rumah. Saya ke rumah dokter sekarang juga."


"...."


"Baik, Dok."


Suasana di kamar Alvin sangat menegangkan. Papa Evan yang tak tega melihat menantunya yang kesakitan memilih keluar kamar bersama Zemima yang juga ikut terbangun.

__ADS_1


Sementara itu Alvin hanya bisa menguatkan hati istrinya sambil mengusap-usap punggungnya. Sedangkan Alena merasa bingung harus apa dalam keadaan seperti itu. Ia menelepon Riky berulang kali untuk memastikan Dokternya segera datang.


"Aaah! Vin, ada yang keluar."


"Apa yang keluar, Sayang?" tanya Alvin bingung.


"Keluar? Jangan-jangan ...," gumam Alena menduga.


"Vin, ketubannya pecah. Lena, bagaimana ini?" Laura terlihat panik.


"Baby-nya keluar?" Alvin cepat-cepat memeriksa dengan meregangkan kaki Laura. "Belum ada, hanya basah." Gumamanya.


"Tenang, Kak. Dokternya sebentar lagi akan datang. Sabar ya."


"Gimana ini, Vin? Anak kita gimana?" Laura menangis.


"Tidak akan terjadi apa-apa, Sayang. Kita berdoa, oke?" Laura mengusap air matanya sambil menahan sakit yang semakin menjadi.


Sepuluh menit kemudian, Dokter bersama Riky masuk ke dalam kamar. Melihat keadaan Laura dengan ketuban merembes, dokter pun melakukan induksi melalui selang infusan.


Karena tak ada tiang infusan, Riky berdiri memegangi botol infus sembari membelakangi Laura. Ia tak mungkin lancang melihat dokter yang akan memeriksa jalan lahir anak sahabatnya.


Alvin dan Alena bertugas mengikuti setiap intruksi dokter. Alvin yang menjadi sandaran untuk Laura berpegangan, sedangkan Alena mendampingi Dokter Yuli membantu proses persalinan.


Rintihan kesakitan Laura menyayat keheningan malam yang gulita. Alvin sampai meneteskan air mata melihat penderitaan istrinya. Begitu juga Riky yang gemetar karena merasa tak tega mendengarnya. Beruntung infusan itu di lepas. Riky bergegas ke luar kamar dan tak berani menoleh ke arah tempat tidur.


"Bagaimana, Rik?" tanya Evan yang ternyata sedari tadi berada di luar kamar.


"Belum lahir, Pa." Riky memangku Zemima dan mengayun-ayunkannya. Perasaannya berkecamuk saat menatap wajah putrinya, terbayang penderitaan Alena saat melahirkan Mima.


"Kamu harus sayang sama mami ya, Sayang." Batinnya.


"Iya, begitu. Bagus, sekali lagi tarik napas dalam-dalam lalu tekan sekuatnya. Jangan ragu ya, Bu."


"Semangat, Kak Laura! Kakak pasti bisa," ujar Alena sambil menyiku kedua tangannya yang terkepal.


Laura mencoba bertahan dengan sisa tenaga yang ia punya. Sekuat tenaga ia menekan sambil menjerit merasakan sobekan di jalan lahir anaknya. Seiring dengan itu, tangisan bayi terdengar menggema di kamar mereka.


Alvin terisak di pundak Laura yang bersandar padanya. Laura yang terkulai lemas tersenyum tipis mendengarnya. Sambil mengusap wajah Alvin, Laura berucap pelan, "Dua aja ya?" Alvin mengangguk cepat, lalu mencium pipi Laura sambil mengucapkan terima kasih.


"Selamat ya, Kak. Sepasang deh," ujar Alena riang. Alvin dan Laura merasa terharu saat memperhatikan Alena yang dengan hati-hati mengurus bayi mereka. Sementara Dokter menuntaskan pekerjaannya.


***


Queena selalu suka mendengarkan suara cicitan burung di pagi hari. Melihat burung-burung itu beterbangan di setiap dahan selalu menjadi awal pagi yang menyenangkan.


Queena keluar dari kamarnya. Ia merasa heran karena rumah itu tidak biasanya sangat sepi. Saat ini ia sedang libur semester ganjil. Mungkinkah para orang tua juga libur bekerja dan belum keluar dari kamar mereka?


Queena tertegun saat melewati kamar orang tuanya. Ada suara rengekan bayi terdengar dari dalam sana. Karena penasaran, Queena mencoba memutar gagang pintu. Ia merasa lega karena pintu itu tidak terkunci.


Queena mendekati tempat tidur orang tuanya, kemudian tertegun saat melihat ada bayi mungil diantara mommy dan daddy-nya.


"Mom. Baby-nya udah lahir," pekik Queena kegirangan. Putri Alvin itu membangunkan mommy-nya.


Laura mengerjap, lalu tersenyum lebar pada putrinya. Kemudian menoleh pada bayi yang belum lama lahir ke dunia ini.

__ADS_1


"Selamat, Kakak Queen. Sekarang udah jadi kakak," ujar Laura sambil menyodorkan salah satu pay*dara pada bayi laki-lakinya.


Queena yang merasa senangpun memeluk Laura dari sisi lain.


"Thank you, Mom." Ujarnya sambil mencium pipi Laura dan menatap gemas pada adiknya.


"Daddy, bangun. Lihat, Dad! Baby-nya sudah lahir. Iih, Daddy ketinggalan berita nih, tidur terus. Daddy!"


"Daddy masih capek, Queen. Kasian," ujar Laura.


"Tapi Daddy harus tahu. Kalau baby udah lahir. Dad ... bangun." Laura terkekeh pelan melihat Queena menciumi wajah Alvin agar terbangun.


"Hmm apa sih, Sayang. Daddy masih ngantuk."


"Daddy, Baby udah lahir." Bisiknya.


"Oh iya, hampir aja lupa. Selamat pagi, Jagoan. Selamat pagi, Mommy sayang." Sapanya sambil mengusap dagu Laura.


"Selamat pagi," sahut Laura sambil mengulumkan senyuman.


"Dad, pinjam ponsel. Mau telpon Fatum." Alvin menyodorkan ponselnya yang dengan cepat disambar Queena. Tak lama terdengar suara Meydina yang seperti tak percaya, lalu terbelalak saat kamera ponsel diarahkan pada Laura dan bayinya.


"Siapa namanya, Kak?" tanya Meydina.


"Siapa ya? Belum dikasih nama," sahut Laura.


"Aku aja yang ngasih nama. Boleh ya, Dad?"


"Tanyakan Mommy," sahut Alvin.


"Please ...." Queena memperlihatkan raut wajah memohon.


"Tentu, Sayang. Siapa namanya?" tanya Laura.


"Aku-Queen, adikku ... King!" Serunya.


"Whats?" Alvin melongo mendengar nama yang disematkan Queena pada adiknya. Sedangkan Laura dan Meydina mengulumkan senyum mendengar nama itu.


"Sayang, apa tidak ada nama lain?" tanya Alvin.


"Pokoknya nama adik Queen harus King," tegas Queena.


"Ka-kalau King, panggilannya siapa?" tanya Alvin bingung.


"Siapa aja," delik Queena.


"Hai, Fatum! Lihat, adikku cute kan? Namanya Baby King. Cepetan kesini! Kasih tahu juga kakak Zein sama Amar." Pekiknya riang.


Laura terkekeh melihat Meydina yang kewalahan saat Fatima sudah merengek. "Oke, Kakak Queen nanti kita semua ke sana ya." Meydina mengakhiri percakapan. Namun masih terdengar rengekan Fatima, "Sekarang, Mi."


"Sarapan dulu, Sayang."


"Nggak mau sarapan. Mau lihat Baby King."


"Baiklah. Ayo kita bangunin Papi."

__ADS_1


Tuut ... barulah panggilan itu benar-benar diakhiri.


King Alvin Al-Azmi. Satu nama lagi yang menambah daftar keluarga Salman Al-Azmi. Selamat datang, Baby King.


__ADS_2