
Happy reading...
Sore semakin menjingga, namun Ajeng masih seorang diri. Pemilik rumah belum kembali membuat gadis itu merasa sepi.
Ajeng masih terduduk di teras belakang, menyaksikan sang mentari yang mulai mengundurkan diri. Sesekali ia menoleh pada Paijo, binatang peliharaan yang bahkan diistimewakan oleh sang paman.
Di tatapnya ponsel yang tergeletak di atas meja. Sedari tadi ia berharap seseorang menghubunginya. Karena tak kunjung ada, akhirnya ia jua yang memulainya.
Beberapa kali ia menekan nomer yang sama, namun tetap tak dijawab oleh seseorang di ujung sana. Hingga saat ia mulai menyerah, terdengar suara seseorang yang saat ini sedang di rindukannya.
"Ma..."
"Ada perlu apa?" tanya mamanya ketus.
"Mama sedang di mana? Sepertinya ada orang lain di sana."
"Bukan urusan kamu. Sudah ya, kamu bisanya cuma mengganggu mama saja."
"I-iya. Hari Senin ini Ajeng sudah mulai ospek, Ma. Ajeng juga sudah membeli semua keperluan kuliah."
Hening. Tak ada sahutan dari sang mama.
"Ya sudah. Ajeng tutup dulu ya, Ma. Bye..." Pungkasnya pelan.
Ajeng tertunduk dengan tangan yang mengepal erat ponselnya. Ia menoleh pada Paijo yang tidak bisa diam seolah sedang mengejek dirinya. Karena kesal, ia menyambar buah apel yang ada di atas piring dan melemparkannya ke sangkar Paijo. Membuat burung itu semakin terlihat gelisah.
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita paruh baya terisak sambil mendekap ponsel yang digenggamnya. Seseorang datang menghampiri dan sontak membuatnya mengusap air mata.
"Anginnya sudah mulai dingin, Bu. Sebaiknya kita segera masuk ke kamar." Ujarnya.
"Sebentar lagi, Sus. Saya masih ingin menikmati sunset yang indah ini." Sahutnya dengan wajah memelas dan mata yang sembab.
Wanita itu mengangguk pelan sambil membetulkan syal dan selimut tipis yang menutupi bagian kaki.
"Bu Hesty suka sekali melihat sunset."
Sambil tersenyum ia menjawab, "Pemandangan seperti ini menjadi pengobat rindu pada anak saya. Dulu dia sangat menyukainya."
"Saya penasaran dengan sosok putri ibu itu. Dia belum pernah datang ke sini ya?"
Hesty menggeleng pelan sambil berkata, "Saya tidak berharap melihat dia datang ke tempat ini. Sekalipun saya sangat merindukannya."
"Baiklah, jika itu keputusan ibu. Sekarang, ayo kita masuk." Ajaknya.
Wanita itu perlahan mendorong kursi roda yang diduduki Hesty. Sebelum berlalu dari tempat itu, ia menyempatkan untuk menoleh sesaat pada senja yang sebentar lagi akan berganti dengan malam yang gulita.
__ADS_1
***
Betapa indah pemandangan Riky pagi ini. Cahaya mentari yang menyelinap lewat ventilasi, memantulkan sinarnya pada wajah sang istri. Memanjakan matanya yang baru saja terbuka.
Perlahan ujung jarinya bergerak menyusuri setiap bagian wajah Alena. Mengusap alisnya yang terlihat bak semut beriringan. Pipi bak puah dilayang, juga bibirnya yang merah bak delima merekah. Dan suaranya yang manja terdengar merdu bagai buluh perindu. Membuatnya susah payah menahan rasa selalu ingin bersama.
Tak tahan dengan perasaannya sendiri, kedua tangan Riky menangkup wajah Alena dan menghujani bibir itu dengan gemas. Membuat istrinya mau tak mau mengerjap sambil mengernyitkan keningnya.
"Kak Riky kenapa? Hah!" Alena membuka lebar mulutnya dan membuang nafasnya di wajah Riky.
"Aah, bau naganya bikin kleyengan." Ujarnya bergaya seperti merasa pusing.
"Rasain, hah! Hah! Hah!" Dengan sengaja Alena melakukannya berulang-ulang membuat suaminya kelimpungan.
"Nyerah aku, Yang. Perutku tiba-tiba mual karena bau nagamu."
"Masa sih bau? Semalam kan gosok gigi. Ini pasti bakteri dari bekas bibir Kak Riky." Gumamnya sambil menghembuskan nafasnya ke telapak tangan dan menciumnya. Baru saja Alena akan berucap, suara pekikan Riky membuatnya terperanjak.
"Tapi bo-ong!" Pekiknya sambil memeluk Alena sangat erat.
Alena menepuk pelan pundak Riky yang kini menekankan hidungnya di pipi sambil menggerakkan kepala. Perlahan Riky mengarahkan bibirnya dan membuat Alena kewalahan dengan gerakan lidahnya yang liar.
"Olah raga pagi yuk!" Ajaknya saat tautan bibirnya terlepas.
"Jalan-jalan aja deh, sambil nyari sarapan. Pasar yang di dekat alun-alun kan banyak yang jualan sarapan. Apalagi weekend, iya kan? Alena ingin beli kue basah yang waktu itu, Kak. Panganannya di sana enak-enak." Ujarnya.
"Alena lapar, Kak. Sudah habis tenaga Lena dari semalam. Memangnya Kak Riky nggak lemas?"
"Enggak. Aku kan nabung tenaga selama seminggu." Kelakarnya.
"Ish dasar. Nyari sarapan aja ya, lapar..." Rengeknya.
"Mandi dulu dong, Sayang. Sambil mandi kita main. Bukan main air atau main busa, tapi... kita main kuda-kudaan!" Ujarnya sambil membopong Alena ke kamar mandi.
"Sama aja bohong," delik Alena manja.
"Kan sambil menyelam minum air, sambil mandi kita main." Sahutnya tak mau kalah.
"Iya deh, iya...."
***
Cuaca pagi ini cukup cerah untuk dinikmati sambil berjalan-jalan di trotoar jalan raya. Setiap hari jalanan di sekitar pasar ini tak pernah sepi. Terutama di akhir pekan seperti saat ini.
Banyak dari mereka sengaja datang untuk menikmati setiap panganan berupa jajanan pasar yang menggugah selera. Jajanan tradisional yang di jajakan ibu-ibu yang kebanyakan sudah lanjut usia.
__ADS_1
Riky hanya bisa tersenyum melihat antusias istrinya saat membeli makanan tersebut. Dengan cueknya Alena membeli sambil mencoba makanan yang dipilihnya.
"A.. ini enak deh, Kak." Ucapnya sambil menyuapkan ke mulut Riky.
"Terbuat dari apa ini, Bu?" tanya Alena pada sang penjual.
"Dari labu kuning, Neng." Sahutnya.
"Enak, Bu. Ibu yang membuatnya sendiri?"
Pedagang itu mengangguk sambil tersenyum. Alena mengacungkan dua ibu jarinya sebagai tanda memuji. Setelah membayar, Alena melambaikan tangan berpamitan. Dengan canggung, Riky juga mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Sudah? Mau dimakan di mana? Di alun-alun atau di taman di sebelah sana?" tanya Riky sambil merengkuh pundak Alena agar lebih dekat padanya.
"Di taman yuk, biar udaranya lebih segar."
"Ayo."
Keduanya pun menyebrangi jalan. Langkah mereka tertuju taman yang letaknya tak jauh dari posisi awal mereka.
Taman itu cukuo ramai, dengan anak-anak yang berlarian dan bermain di area permainan. Beruntung ada kursi kosong dan keduanya pun terduduk di sana. Menikmati makanan sambil memperhatikan tingkah polah anak -anak itu.
"Zee, jangan lari-lari!"
Suara seruan wanita yang terdengar tak asing di telinga Riky. Pria itu menoleh melihat ke arah suara.
"Risa?" Batinnya.
Seorang wanita yang tak lain adalah sekretarisnya berjalan mengikuti langkah seorang anak perempuan yang berlari kecil seolah menggoda. Anak itu tergelak saat Risa berhasil menangkapnya.
"Lihat apa, Kak?" tanya Alena sambil menoleh pada apa yang dilihat suaminya.
"Itu kan sekretaris Kak Riky," ujar Alena pelan.
"Namanya Risa."
"Apa itu anaknya?"
"Aku juga nggak tahu, Sayang. Kukira dia belum menikah."
"Kenapa nggak disapa, Kak? Anaknya lucu, jadi keinget Fatum waktu kecil."
"Sudahlah, biarkan saja. Kalau dia melihat kita, ya sapa. Kalau tidak, ya biarkan saja." Ujarnya sambil kembali menyuapkan makanannya.
"Hei, Cantik!" sapa Alena pelan sambil melambaikan tangannya pada anak kecil yang kebetulan sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
Risa nampak menautkan kedua alisnya dan memangku anak kecil itu dan berjalan menuju mereka.
"Risa ke sini, Kak." Ucapnya setengah berbisik.