My Love My Bride

My Love My Bride
Pras


__ADS_3

Happy reading ....


"Kenapa?" tanya Andri, saat mendengar satu helaan napas dibuang kasar oleh Ajeng.


"Nggak kenapa-napa, Kak." Sahutnya sambil memaksakan senyuman tipis.


Sejak melihat kilasan wajah papanya tadi, Ajeng jadi merasa tak enak hati. Berkali-kali ia menepis, namun tetap saja bayangan wajah papanya seakan ada di depan mata.


"Bagaimana kalau benar itu papa?" Batinnya.


"Jeng, mmm maaf ya kalau kamu kurang nyaman. Aku sudah terlalu lama tidak ke tempat seperti ini. Bagaimana kalau kita belanja, mau?" tawar Andri.


Melihat ekspresi Ajeng yang tidak seriang saat mereka pergi tadi membuat Andri merasa tidak enak hati. Pikirnya, mungkin saja ia terlalu kaku untuk gadis muda seusia Ajeng.


"Kakak mau beli apa? Biar Ajeng bantu carikan."


"Apa ya? Apa aja deh, kita lihat-lihat saja dulu. Biasanya kalau sudah lihat, baru ingat."


"Oke. Yuk!"


Andri merasa cukup lega melihat Ajeng kembali bersemangat. Mereka berjalan beriringan meninggalkan cafe pinggir jalan menuju mall yang berada di sampingnya.


Keduanya berjalan diantara lalu lalang pengunjung pusat perbelanjaan. Melihat-lihat sekilas pada jejeran toko brand yang ternama.


"Kakak sebenarnya mau cari apa sih? Dari tadi cuma lihat-lihat aja."


"Cari ... itu." Tunjuknya.


Belum sempat Ajeng menoleh, tangannnya sudah ditarik oleh Andri. Ajeng tersipu melihat tangan Andri yang menggenggam tangannya.


"Kakak mau beli jam tangan?" Ajeng baru menyadari mereka berada di toko jam tangan. Andri hanya menjawab dengan senyuman.


"Kamu suka yang mana?"


"Ajeng? Kakak mau membelikan Ajeng?" Andri mengangguk malu.


"Mmm gimana kalau pilih yang couple?"


"Couple? Boleh juga," sahut Andri membuang muka agar wajahnya yang merona tak terlihat gadis dihadapannya.


Mereka pun mulai memilih. Setelah beberapa kali berbeda pendapat, akhirnya pilihanpun jatuh pada sepasang jam tangan dengan model clasic yang elegan.


"Kakak suka?" Andri mengangguk cepat.


"Dipakai ya."


"Pasti." Sahutnya cepat. Keduanya pun tersipu sambil memyembunyikan degup jantung yang meronta.


Ajeng malarang Andri untuk turun sesampainya mereka di depan rumah Salim. Melihat suasana yang sepi, Andri pun menyanggupi dan berpamitan pulang.


Setelah memastikan mobil yang dikendarai Andri tak terlihat, dengan senyum yang terkulum, Ajeng pun masuk ke dalam rumah.


"Tante, sedang apa? Serius sekali." Ajeng menghampiri Widiya yang terduduk di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ini loh, Jeng. Pemasukan bagi hasil dari investarsi punya mamamu jadi dua kali lipat?"


"Tante aneh. Harusnya senang, mungkin memang mereka sedang mendapat laba tinggi."


"Bisa jadi, tapi aneh aja bisa sampai seratus persen."


"Coba saja tanyakan." Usulnya.


Widiya pun menelepon seseorang untuk menanyakan. Ajeng memperhatikan dengan seksama raut wajah tantenya itu.


"Apa katanya, Tan?"


"Katanya sejak bulan kemarin, bagi hasil yang ditujukan untuk papa kamu dialihkan jadi kepada kamu, Jeng."


"Papa?" Widiya mengangguk. Ajeng kembali mengingat sosok pria yang tadi sempat dilihatnya. Apa benar itu papanya?


***


Malam yang semakin sunyi, tak lantas membuat Ajeng bisa memejamkan mata. Beberapa kali ia mencoba menghubungi, ponsel papanya tidak aktif.


Bayangan wajah papanya terlintas terus dalam ingatannya. Papa yang telah menghianati mamanya. Papa yang meninggalkan keluarga demi kesenangan semata. Papa yang ...


"Bagaimanapun, tetap saja dia papaku," gumam Ajeng.


Ajeng menoleh pada jam yang terpaku di dinding. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


"... Nanti malam baru ramai."


Ajeng mengingat ucapan Andri dan mulai menimbang. Ia pun berpikir untuk menelepon pria itu.


"Kak, bisa tolong antar Ajeng?" tanya Ajeng ragu.


"Jam segini? Kamu mau kemana?"


"Ke tempat yang tadi kita lewati."


"Tadi? Kamu mau kita kemana? Ini sudah malam."


"Ke salah satu club di jalan yang tadi kita lewati."


"Apa? Jangan macam-macam deh. Kamu tidak pantas ke tempat seperti itu."


"Ajeng punya alasan, Kak. Ajeng nggak akan macam-macam, janji. Ajeng hanya ingin bertemu seseorang."


"Siapa?"


Ajeng pun menceritakan perihal sosok pria yang tadi dilihatnya. Pikirnya, jika Andri tidak mengetahui alasan dibalik permintaannya, dia pasti tidak akan menyetujui.


"Oke. Tapi janji ya, kalau tidak bertemu kita langsung pulang."


"Iya, Kak." Setelah panggilan diakhiri, Ajeng pun bersiap. Ia menunggu Andri tiba di depan rumah.


Dengan mengendap-ngendap, Ajeng berhasil ke luar dari rumah. Ia merasa lega, namun tiba-tiba terperanjat mendengar ada yang menyapanya.

__ADS_1


"Pak, tolong ya. Sekali ini saja," ucap Ajeng menangkupkan kedua tangannya.


"Tapi kalau Tuan dan Nyonya marah, bagaimana Non?"


"Saya ke luar dengan Pak Andri. Bapak kenal kan? Nggak lama kok." Ajeng menunjuk pada Andri yang turun dari mobil hendak menghampirinya.


"Baiklah, Non. Tapi jangan lama ya. Saya takut Tuan marah."


"Oke, Pak. Terima kasih ya."


Ajeng menarik lengan Andri dan mengajaknya cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.


***


Saat sebagian penghuni alam memilih untuk terlelap, di tempat itu segalanya justru baru dimulai. Di salah satu lantai sebuah club, terdapat ruangan yang biasa digunakan oleh sebagian pengunjung untuk berjudi.


Aroma alkohol dan kepulan asap rokok sangatlah menyengat. Beberapa wanita berpakaian seksi terlihat diantara para pria yang sedang berjudi.


Diantara mereka, seorang pria yang terlihat lusuh berdiri entah menunggu apa. Penampilannya membuat beberapa orang merasa jijik.


"Hei, Kau. Apa penjaga di sini tidak ada, sampai-sampai sampah ini bisa masuk dan menggangguku?"


"Maaf, Tuan. Pria ini sudah berkali-kali kami usir. Tapi dia tidak tahu malu. Bahkan kemarin dia tidur di depan tempat ini sampai pagi."


"Tuan, beri aku pinjaman sekali lagi. Aku ingin ikut main. Sekali lagi," ujar pria itu memohon.


"Pras, kau bahkan belum mengembalikan uang yang kau pinjam dua hari yang lalu. Dan sekarang kau mau pinjam lagi? Heh, kau tidak punya apa-apa lagi, dan aku tidak tertarik dengan nyawamu." Decihnya.


"Tuan, kudengar dia punya seorang anak gadis yang cantik," ujar seseorang yang berada tak jauh dari pria itu.


"Benarkah? Boleh juga. Apa kau akan menjadikannya taruhan malam ini? Atau mau kau jadikan untuk membayar hutang-hutangmu? Aku sepertinya mulai tertarik."


"Tidak, Tuan. Itu tidak benar. Aku tidak memiliki seorang putri. Istriku sudah meninggal, dan semua yang kumiliki sudah habis, aku hanya ingin meminjam sekali lagi saja, Tuan. Aku berjanji akan membayarnya."


"Heh, tidak tahu diri. Tidak punya apa-apa, tapi masih mau bermain. Apa kau berharap mendapat peruntungan di meja ini?" Hardiknya.


"Seret dia dari tempat ini!" Imbuhnya tegas.


Beberapa orang berbadan tegap mulai mendekati dan memaksa Pras meninggalkan tempat itu. Bertepatan dengan Ajeng yang tiba di lantai tersebut.


"Papa!" Ajeng spontan berlari melihat Pras yang menolak untuk pergi. Pria itu lansung terpaku mendengar suara yang tentu tak asing baginya.


"Ajeng." Batinnya.


"Pa." Langkah Ajeng terhenti. Beberapa pria menghalanginya.


"Hoho, jadi ini anak gadismu, Pras?" Pria tadi beranjak dari duduknya. Menatap dengan antusiasnya pada gadis muda yang terlihat sedang bingung itu.


"Ajeng." Andri menarik Ajeng agar dekat padanya. Ia bisa merasakan aura di ruangan ini tidak baik-baik saja.


"Tidak, Tuan. Dia bukan siapa-siapa. Aku tidak mengenalnya," sanggah Pras sambil mendekati pria itu.


"Benarkah?" Pria itu memberikan tatapan menyelidik pada Ajeng.

__ADS_1


"Pa, apa maksud papa? Ini, Ajeng," ucap Ajeng pelan. Kedua maniknya berkaca-kaca mengetahui papanya sudah tidak mengakui dirinya sebagai putri.


__ADS_2