
Happy reading...
Seperti biasa jika Riky pulang, empat sekawan itu selalu menyempatkan untuk berkumpul di tempat biasa. Mereka seolah tak ingin kehilangan moment kebersamaan seperti sebelum menikah.
Riky terdiam mendengarkan antusiasme Rafael yang menceritakan bagaimana si kembar yang sedang lucu-lucunya. Sesekali pria itu tersenyum tipis sambil menghisap sigaret dan menghembuskan asapnya perlahan.
"Besok loe balik lagi, Rik?" tanya Alvin.
"Iya."
"Minta libur dong sama Maliek. Kasihan Alena ditinggal terus," ujar Alvin.
"Maksud loe apa, Vin? Riky libur itu nggak ada urusan sama gue. Dia bisa libur kapanpun dia mau. Dia aja yang nggak bisa percaya sama asistennya. Tapi emang benar sih, gue juga sekarang merasa begitu," sahut Maliek.
"Maksudnya?" tanya Alvin.
"Ya nggak seperti waktu Riky yang jadi asisten gue. Gue bisa percayain rapat, atau yang lainnya sama dia. Mungkin karena baru atau apalah." Sahutnya.
"Kalian tuh udah couple banget. Kenapa juga harus pisah sih?" ujar Rafael.
"Mau gimana lagi. Kalau bukan dia, siapa lagi yang akan memegang perusahaan itu. Hmm?"
"Iya juga sih," sahut Rafael.
"Mendingan honeymoon lagi deh, Rik," saran Alvin.
"Boleh tuh," sahut Rafael antusias.
"Dasar loe, honeymoon sana sendiri." Alvin melemparkan bantal sofa yang berada di dekatnya.
"Kalau sendiri bukan honeymoon namanya," ujar Rafael.
"Apa? Poisonmoon?" Alvin tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Bisa aja loe. Mati dong," sahut Rafael sambil tertawa. Maliek menyeringai, sedangkan Riky terkekeh pelan.
***
Gelapnya malam terlihat dari kaca jendela kamar Alena yang sengaja di buka sebagian. Hembusan angin yang masuk ke dalam kamarnya, menemani Alena yang sedang menunggu suaminya yang belum pulang.
Perlahan, Alena mengambil kalender meja yang ada di atas meja belajarnya. Tak ada lagi angka yang dilingkari di bulan ini. Tapi bukannya lega ia justru merasa gelisah.
"Sudah lewat tiga hari, apa sebaiknya aku test?" Gumamnya. Alena menatap nanar pada bagian perutnya.
__ADS_1
Alena mengusap pelan perutnya. Ia sengaja tidak memberitahukan perihal keputusannya pada Riky karena ingin memberi kejutan yang indah bagi keluarga, terutama bagi suaminya.
"Semoga secepatnya," ucapnya penuh harap.
Alena beranjak dan mengintip ke luar jendela. Terlihat mobil Riky yang memasuki halaman rumah. Ia pun bergegas keluar dari kamarnya.
"Selamat malam, Cintaku!" Riky tersenyum senang malihat Alena yang membukakan pintu.
"Kok belum tidur, Sayang? Nunggu aku ya," ujar Riky yang memeluk erat istrinya. Alena pun mengangguk pelan. Ini sudah jam sebelas malam. Suasana rumah sudah sunyi. Sebagian lampu juga sudah dimatikan.
"Maaf ya," ujar Riky sambil menangkup wajah Alena, lalu mendaratkan ciuman di bibirnya.
"Mulut Kak Riky bau alkohol," ujar Alena pelan saat tautan bibir mereka terlepas.
"Sedikit kok, Sayang." Sahutnya.
Riky mengangkat bokong Alena, membuat istrinya itu refleks membuka kakinya serta mengeratkan lingkaran tangannya di leher Riky.
"Berat nggak?" Bisiknya.
"Lumayan, sepertinya nambah lima kilo dari terakhir kali aku menggendongmu."
"Ish, yang benar? Itu kan dua minggu yang lalu? Masa iya Alena naik lima kilo?" Protesnya.
"Ish, Kak Riky!" pekik Alena sambil memukul pelan bahu suaminya.
"Sstt, berisik sayang."
Alena tersipu dan mengeratkan pelukannya juga mengeratkan tautan kakinya di pinggang Riky. Menyembunyikan wajah di ceruk leher sambil menikmati aroma maskulin dari suaminya.
***
Hari telah berganti. Di kejauhan samar-samar terdengar suara kokokan ayam jantan menyambut sang mentari yang sebentar lagi menyinari bumi.
Keluar dari kamar mandi, Riky tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap lagi. Pria itu membungkuk memunguti pakaian istrinya yang tadi dilemparnya asal. Setelah di letakkan di sandaran sofa, perlahan ia membaringkan tubuhnya di samping Alena.
Terbayang ekspresi ketiga sahabatnya saat menceritakan buah hati mereka. Ingin rasanya ia juga melakukan hal yang sama. Tapi entah kapan, karena ia tidak ingin membebani pikiran Alena.
"I love you, Sayang." Gumamnya sambil mengecup kening Alena.
Riky berniat tertidur untuk mengembalikan energi yang sudah keluarkan untuk olah raga malam dan dini hari tadi. Setelah pagi menjelang, ia akan kembali ke kota B dan menyibukkan hari dengan pekerjaan.
Baru saja pria itu akan terlelap, suara ponsel Alena mengagetkannya. Perlahan ia mengerjap dan dengan malas meraih ponsel tersebut.
__ADS_1
"Agam, siapa?" Riky menoleh pada Alena. Belum sempat ia mengangkat, panggilan itu sudah dimatikan. Saat Riky hendak menaruh kembali ponsel itu, ada sebuah notifikasi pesan masuk. Karena penasaran, Riky membuka dan membacanya.
📩 [You're my sunshine.]
Riky menautkan kedua alisnya. Seketika ada sesuatu yang menyeruak dalam dadanya. Tak ingin menduga-duga, Riky pun menelepon nomer tersebut.
Satu kali, dua kali, sampai tiga kali Riky mencoba menghubungi, pria bernama Agam itu tak mengangkat ponselnya. Karena kesal ia pun memblokir nomer itu dari daftar kontak Alena.
Tidak hanya sampai di situ, Riky juga mematikan ponsel Alena. Pria itu terlihat gelisah, karena sepertinya rasa kantuk sudah pergi meninggalkannya.
***
Di tempat lain, seorang pria sedang merasakan bahagia yang teramat sangat. Pasalnya baru kali ini wanita yang jadi incarannya merespon cepat pesannya. Bahkan ia sampai menelepon balik padanya.
Agam tersenyum menatap layar ponselnya. Karena teramat gugup, ia sampai tidak berani mengangkat telepon dari Alena.
Agam sudah mengetahui bahwa Alena sudah menikah. Tapi entah mengapa bukannya mundur, ia justru semakin penasaran. Apalagi setelah mengetahui suami Alena bekerja di luar kota.
Sayangnya, mencuri perhatian Alena tidak semudah yang ia kira. Wanita itu nampak tidak acuh pada setiap teman prianya. Ia juga sangat jarang berkumpul jika bukan urusan yang sangat penting dalam organisasi di kampus mereka.
"Aku yakin, kesabaranku selama ini akan berbuah manis." Gumamnya.
***
Sinar sang surya yang memantul dari kaca cukuo menyilaukan dan mengganggu tidur Alena. Wanita berparas ayu itu menggeliat seolah meregangkan otot-otot di tubuhnya yang lelah.
Alena tersipu malu saat menyadari tubuhnya tidak mengenakan apa-apa. Selimut yang tersingkap memperlihatkan tanda kepemilikan yang disebar suaminya.
Ditatapnya wajah rupawan yang sedang terlelap. Garis wajah Riky yang tegas memberi kesan serupa. Belum lagi kharisma yang terpancar dari sikap dan juga mimik wajah suaminya.
"I love you, Hubby." Gumamnya sambil mengusap rahang Riky dengan punggung telunjuknya.
"Morning, Sayang," gumam Riky yang tersenyum sambil mengerjap.
"Morning, Hubby." Sahutnya.
"Aah, apa ini? Kamu menggodaku lagi?" ujar Riky yang membenamkan wajahnya di dada Alena.
"Iih, Kak Riky! Geli..."
"Aku mau sarapan, Sayang."
"Sarapan apa di situ?" Alena tertawa pelan sambil menahan geli. Dibiarkannya suaminya itu puas menikmati setiap inci bagian dari tubuhnya. Karena kebersamaan seperti ini jarang terjadi dan akan terulang seminggu lagi. Itupun jika memungkinkan Riky untuk kembali.
__ADS_1