
Happy reading ....
Sebuah mobil menepi di halaman parkir rumah sakit. Sang pengemudi turun dan berjalan menuju pintu depan rumah sakit. Setelah diarahkan ke bagian informasi oleh petugas keamanan, ia pun menanyakan pasien yang akan dikunjunginya.
"Maaf, Pak. Untuk sementara pasien tidak bisa dikunjungi selain keluarga dekat."
"Tapi saya suaminya, Mbak. Maksud saya, mantan suaminya." Ujarnya yang tak lain adalah Pras.
"Saya mohon maaf. Saat ini pasien tidak bisa dikunjungi."
Pras harus menelan kekecewaan. Tepat di saat yang sama, ujung matanya melihat sosok yang terasa tak asing. Pras langsung menoleh, dan ternyata benar itu Widiya dan suaminya.
"Wid, Widiya. Tunggu sebentar." Panggilnya.
"Pras? Kamu ...." Widiya menoleh pada Salim. Sepertinya wanita itu merasa bingung melihat keberadaan mantan suami adiknya ada di tempat itu.
"Aku ingin bertemu Hesty. Aku mohon, Wid." Ujarnya.
Widiya dan Salim saling menatap. Kemudian Widiya bertanya, "Apa Ajeng yang memberitahumu?"
"Iya," angguk Pras.
"Baiklah. Kamu bisa ikut dengan kami," ujar Widiya akhirnya.
Mereka bertiga menggunakan lift untuk menuju ke ruang ICU. Pras nampak terkejut mengetahui keadaan Hesty yang tiba-tiba memburuk.
Setibanya di depan ruang ICU, mereka harus mengunggu. Dokter sedang melakukan tindakan di dalam ruangan.
"Pa, bagaimana kalau ...."
"Kita doakan yang terbaik," ujar Salim menyela ucapan istrinya.
"Wid, sebenarnya apa yang terjadi? Sejak kapan Hesty sakit?" tanya Pras bingung.
Mendengar pertanyaan konyol Pras, Widiya tersulut emosi.
"Sejak kapan? Kamu ingin tahu sejak kapan Hesty sakit heh? Sejak dia tahu kamu suka main perempuan. Sejak dia tahu kamu suka memelihara j*lang," ujar Widiya penuh penekanan.
"Apa kamu lupa, kamu sudah menikah, Pras? Apa kamu pikir ijab qobul itu hanya sekedar ucapan di mulut saja? Kamu yang memintanya sendiri untuk menikahi Hesty. Kamu yang berjanji untuk membahagiakan dia. Tapi apa yang kamu lakukan? Saat dia berobat sampai ke luar negeri, kamu makin menggila dengan j*alangmu itu. Tidak ada keinginan untuk sekedar mendengarkan, apalagi bertanya. Kamu itu tidak pantas menjadi suami atau ayah Ajeng sekalipun."
Widiya merasa dadanya terasa sesak. Ia kemudian terisak di dada suaminya. Ia merasa sedikit lega telah mengeluarkan sebagian dari kegeramannya terhadap Pras.
Di sisi lain, Pras masih belum mengerti. Ia masih mencoba mencerna ucapan Widiya.
"Permisi, saudari Ajeng ada? Pasien memanggil nama Ajeng," ujar perawat yang keluar dari ruang ICU.
"Ajeng belum datang, Suster. Mungkin sebentar lagi. Bagaimana keadaan adik saya?"
"Maaf, Bu. Saya tidak ada kewenangan memberi tahu keadaan pasien. Sebentar lagi dokter selesai, ibu dan bapak dapat bertanya pada beliau. Mohon jika saudari Ajeng sudah datang, tolong beritahukan pada saya. Permisi." Ujarnya.
__ADS_1
Widiya menghela nafasnya. Mama dari Riky itu kemudian mencoba menghubungi Ajeng lagi. Tak lama ia pun mematikannya saat melihat perawat itu kembali membuka pintu.
"Bu Widiya?"
"Saya, Suster."
"Silahkan masuk, tidak membawa apapun juga ya, Bu."
Widiya mengangguk pelan. Setelah mengenakan pakaian khusus ruangan itu, ia menyapa dokter dengan membungkuk pelan.
"Hesty ... ini Mbak, Hes." Lirihnya.
"Mbak, nitip Ajeng." Ujarnya sangat pelan dan lemah.
"Kamu jangan begitu. Kamu tahu kan Mbak menyayangi Ajeng. Jadi jangan khawatir ya," ujar Widiya dengan tatapan yang sendu.
"Ma-af, merepotkan."
Widiya menggeleng dan sebisa mungkin menahan air matanya yang tergenang. Suara Hesty sudah sangat lemah bahkan tersenggal-senggal.
"Mbak akan panggilkan dokter," ujar Widiya dengan suaranya yang berat.
Hesty menggeleng pelan dan tiba-tiba tersenggal. Widiya mulai panik dan menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Hes, Hesty. Mbak mohon bertahanlah. Ajeng akan segera datang, Hes. Mbak mohon," lirih Widiya sambil terisak.
"Tidak, itu tidak mungkin. Mama!" Pekikan Ajeng tertahan di tenggorokan. Gadis itu berlari menuju pintu ruang ICU.
"Ajeng."
"Om, Mama kenapa? Ma! Dokter! Saya mau melihat keadaan mama. Dokter!" Ajeng menggedor pintu ruangan ICU.
Dari dalam, Widiya seperti sedang meminta izin perawat untuk membukakan pintu. Benar saja, perawat itu membukakan pintu dan Ajeng segera menghambur pada mamanya.
"Ma, ini Ajeng. Ma!"
Ajeng meraih tangan mamanya dan menggenggamnya. Hatinya seakan terhempas merasakan remasan tangan sang mama. Hanya sesaat, dan terkulai begitu saja.
Ajeng tertegun, melihat para dokter itu sangat sibuk. Lengkingan suara monitor terdengar memekakan telinga, namun tak cukup membuat Ajeng tersadar.
Ajeng masih tertegun, menatap kosong pada dokter yang menggelengkan kepalanya perlahan. Air matanya jatuh begitu saja, mewakili dadanya yang sesak terhimpit beban yang berat.
"Ma, jangan tinggalkan Ajeng." Tangisnya mengiringi kepergian sang mama. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, tidak perduli dengan seorang dokter yang menyebutkan waktu kematian sang mama.
"Hes ...." Widiya menangis dipelukan suaminya. Sedangkan Pras menatap kosong jasad wanita yang dulu pernah sangat dicintainya itu. Dalam mimpi pun Pras tak pernah ingin ada dalam situasi ini.
Kamil segera menghampiri Ajeng. Pria itu menarik pelan tubuh Ajeng agar masuk ke dalam pelukannya. Dibiarkannya Ajeng menangis sesegukan di sana. Ia tidak perduli jika dadanya dibanjiri air mata.
"Sabar ya, Jeng." Ucapnya pelan.
__ADS_1
"Mama, Kak."
"Yang sabar, semua sudah kehendak Tuhan. Ini yang terbaik untuk mamamu."
Tangis Ajeng kembali menjadi. Widiya yang mencoba untuk tegar menghampiri dan memeluk Ajeng.
"Sabar ya, Sayang. Tuhan lebih menyayangi Hesty. Tuhan pastinya tidak ingin melihat mamamu merasakan sakit lagi. Kita harus ikhlas, Jeng."
Suara tangisan Pras mengalihkan perhatian mereka. Pras menangis di samping jasad Hesty dengan kaki yang menekuk di lantai dan tangan menggenggam erat tangan Hesty.
"Maafkan Mas, Hes. Mas minta maaf," ujar Pras disela tangisannya.
Ajeng mengusap air matanya. Berjalan perlahan menghampiri jasad sang mama yang sudah tak bernyawa itu. Ditatapnya wajah pucat yang nampak tenang tersebut, kemudian dikecup berkali-kali sambil menahan air mata.
"Ajeng sayang mama." Bisiknya dengan suara tertahan.
Beberapa orang perawat meminta izin untuk mengurus jenazah. Ajeng mengangguk pelan dan menghampiri papanya.
"Pa, kita tunggu di luar."
Pras beranjak dari posisinya semula. Memeluk Ajeng dan menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan papa, Jeng. Papa benar-benar tidak tahu." Isaknya.
Ajeng mengangguk sambil mengusap punggung papanya. Berkali-kali ia juga mengusap air matanya.
***
Pemakaman almarhumah Hesty dilakukan sore hari. Berdampingan dengan makam kedua orang tuanya di pemakaman keluarga. Sudah ada Riky dan Alena di sana. Menantu Widiya itu mencoba menenangkan Ajeng sambil mengusap air mata.
"Kak ...."
"Kakak turut berduka cita, Jeng. Kamu harus kuat dan harus bisa menerimanya," ujar Riky yang kini memeluk Ajeng.
"Iya, Kak. Terima kasih," ucap Ajeng yang kembali terisak di ceruk leher Alena.
Suasana malam di rumah yang pernah ditinggali Hesty itu kini nampak sepi. Setelah beberapa orang tetangga datang untuk mengucap bela sungkawa meninggalkan rumah tersebut.
Ajeng dan anggota keluarga lainnya berkumpul di ruang keluarga. Mendengarkan Salim yang sedang bicara.
"Pras, seperti yang kamu tahu, Almarhum Hasty menginginkan Ajeng berada dalam tanggung jawab kami. Maaf, kami tidak bermaksud menyinggung ataupun maksud-maksud lainnya. Kami hanya ingin yang terbaik untuk Ajeng, dan akan sebisa mungkin melakukan yang terbaik sesuai amanat Hesty."
Pras mengangguk, ditatapnya Ajeng yang terduduk di samping menantu Salim itu.
"Sekarang aku sudah tahu mengapa Hesty melakukan itu. Aku sangat berterima kasih pada kalian, dan meminta izin untuk tetap melaksanakan kewajibanku sebagai seorang ayah."
"Tentu, Pras. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu."
"Sekali lagi terima kasih," ujar Pras yang menatap lagi wajah sembab putrinya.
__ADS_1