
Apakah aku salah jika mengharapkanmu untuk kembali...
Apakah aku salah jika menunggumu...
salahkan jika aku berharap kau mencintaiku...
Baru saja kita berbagi cerita...
Canda tawa kita yang selalu ku ingat...
Yang bisa aku lakukan hanyalah menunggumu...
Aku selalu datang kak...
Datang dimana tempat terkahir aku melihatmu...
Aku selalu berharap bisa menjadi orang pertama...
Orang pertama yang melihatmu muncul kembali...
Aku benar benar merindukanmu...
Dan tanpa aku sadari, aku telah jatuh cinta padamu...
Jatuh cinta meskipun kau tidak berada disisiku...
Apakah kamu merasakan hal yang sama?...
Merasa mencintaiku juga...
Aku harap jawabannya adalah iya sama...
Kak.. aku menyayangimu, mencintaimu, selalu...
Jakarta, Indonesia
15 tahun telah berlalu, harapan Naira untuk bertemu dengan pria yang disayangi tidak pernah hilang. Naira selalu datang setiap tahunnya, dimana tempat dulu saat berpisah dengan Adnan. jika kejadian 15 tahun yang lalu terjadi, Naira tidak akan pernah membiarkan Adnan untuk pergi darinya. Naira tidak akan percaya dengan ucapan Adnan, karena setiap ucapan Adnan adalah kebohongan untuknya.
"apa kamu melupakan aku kak, aku selalu menunggumu disini kak. aku tidak melupakanmu, kumohon kembalilah." gumam Naira, ia menyeka air matanya.
drtt drtt drtt
hp Naira berdering, ia melihat hpnya yang bertuliskan nama Kak Bagas Naira segera mengangkat telfon itu.
"halo kak?"
"kamu dimana, kok menghilang. kamu lupa ya, hari ini hari kelulusan kamu dan Riana. kenapa malah hilang sih, cepet pulang. om sama papa sudah nungguin nih!"
Naira teringat tentang hari bahagianya, yaitu kelulusannya menjadi sarjana. karena terburu buru pergi Naira melupakan semuanya.
"hehe iya kak, Naira lupa. oke aku pulang sekarang, bye kak!" ucap Naira lalu mematikan telfon itu.
Naira hendak pergi dari sana, tapi hatinya sangat yakin bahwa Adnan akan datang. tapi Naira tidak tahu kapan Kak Anan nya itu akan datang, Naira masuk kedalam mobilnya dan berlalu pergi dari sana.
Naira memegang kalung pemberian Adnan yang selalu ia pakai, setiap kali melihat kalung itu Naira merasakan rindu pada Adnan. Naira rindu saat saat kenangannya bersama Adnan, Naira ingin bertemu dengan Kak Anannya.
__ADS_1
"non Naira mau pergi kemana?" pernyataan supir Naira membuatnya tersadar dari lamunannya, Naira menghela nafas.
"iya mang, pergi kerumah. papa udah nunggu, hari ini saya mau lulusan." ucap Naira tersenyum, supir itu mengangguk lalu pergi dari sana. Naira menatap keluar jendela mobil, ia melihat semakin menjauh dari bandara.
"selamat ya non, non akhirnya lulus sarjana." ucap pam Supir.
"iya mang, gak terasa waktu berjalan begitu cepat." saut Naira lembut, supir itu manggut manggut saja.
"enak ya non setelah ini non kerja, kerjanya pun gak perlu jauh jauh. ada perusahaan milik tuan Kara dan tuan Vano." ucap supir itu, Naira tertawa pelan.
"saya sih maunya kerja ditempat orang mang, karena kalau ditempat papa sama tempat papa Vano. nanti saya dibedakan, atau lebih diistimewakan. saya kan gak pengen itu, saya pengennya seperti karyawan lainnya. diistimewakan karena hasil kerja yang baik dan bertanggung jawab." jelas Naira, supir itu merasa kagum dengan pemikiran Naira.
"wah.. non Naira hebat, pikiran yang cerdas. bukan hanya baik, dan cantik, non Naira juga sangat pintar dan cerdas." saut supir itu, Naira tertawa.
"mang Didin bisa aja, gak gitu kok hehe..." ucap Naira tersenyum.
"non teh sama kayak nyonya Nadia cantik, baik, kalau pinter dan cerdasnya teh seperti tuan Kara, top deh!. memang ya buah jatuh teh tidak akan jauh dari pohonnya hehe..." ucap supir itu, mereka tertawa bersama.
Mang Didin adalah supir yang selalu menemani Naira pergi kemanapun, Mang Didin bekerja saat usia Naira menginjak 8 tahun. ketika Naira suka bepergian tanpa pamit, Kara menyiapkan satu supir khusus untuknya. karena itu mereka menjadi teman, Naira selalu menganggap Mang Didin seperti orang tuanya, begitu juga Mang Didin yang menganggap Naira sebagai putrinya.
setelah beberapa menit Naira sampai dirumah, terlihat semua orang sudah menunggu dirinya. terlihat Kara, Vano, dan juga Febriyan, disana juga terdapat Nadia, Amelia dan juga Risa. Naira berlari kearah Kara dan langsung memeluknya, semua orang tersenyum.
"hei, kamu sudah besar ternyata!" ucap Kara, Naira mengerucutkan bibirnya.
"papa, Naira sayang papa. Naira tetap putri kecil papa!" ucap Naira, Kara tertawa dan mencubit pipi Naira.
"iya sampai kapanpun kamu putri kecil papa!" ucap Kara mencium kening Naira, Naira mencium pipi Kara.
"hei kalian ini, Naira nanti kamu terlambat!" ucap Nadia, Naira tetap memeluk Kara.
"kakek dan nenek sudah tua sayang, mereka tidak bisa bepergian jika jauh. bisa mengganggu kesehatan, kamu bisa mengobrol dengan mereka video call ya..." saut Kara, Naira mengangguk lalu memeluk Kara lagi membuat Riana kesal dengan itu.
"keterlaluan nanti dandanan ku akan hilang Naira, ayo!!" kesal Riana, Naira hanya tertawa karena senang membuat Riana kesal.
"lihatlah ketiga bocah ini, dulu masih sangat kecil sekarang sudah dewasa semua." ucap Febriyan, Amelia teringat pada Adnan, karena sudah bertahun tahun tidak ada kabar dari putranya itu. Nadia melihat reaksi wajah Amelia, ia mengelus pundak Amelia.
"dia pasti sudah jadi orang hebat, percayalah!" ucap Nadia, Amelia mengangguk dan tersenyum.
"kalian melupakan aku, huhh mentang mentang aku paling kecil!" suara seseorang mereka semua menoleh, terlihat seorang gadis kecil berdiri sangat imut. dia adalah Nanda, putri kecil Vano dan Amelia.
"wah lihat lah putriku merajuk, sini!" ucap Vano, Nanda mengerucutkan bibirnya.
"oh sikecil nakal." ucap Riana, Naira dan Bagas tertawa.
"jahat sekali!" semua orang tertawa disana, mereka senang menggoda Nanda.
****
London, Inggris.
terlihat seorang pria sedang duduk dimobil, mobil itu berhenti disebuah rumah besar bagaikan istana. saat pria itu turun dari mobil, terlihat beberapa pelayan rumah berbaris dan memberi hormat. pria itu berjalan dengan gagah dan berpakaian rapi berjas serba hitam, langkah pria itu diikuti beberapa orang kepercayaannya.
"tuan muda sangat tampan, semakin dewasa ia semakin tampan!" ucap seorang pelayan wanita,
"tentu, dulu saat kecil saja sudah datang. tapi aura dinginnya juga terlihat dulu, sekarang lebih menakutkan!" ucap pelayan lainnya.
__ADS_1
"iya setiap kali datang membuatku merinding, tapi dia akan pergi loh!!"
"kenapa?"
"dia itu orang hebat, orang kaya. banyak perusahaan yang ia miliki, katanya sih tuan muda membuat perusahaan terbesar di.. dimana ya.. aku lupa!"
"negara lain?"
"iya, tapi entahlah dimana. tuan Nikil yang tau, dia kan selalu pergi kemana mana bersama tuan!."
"ahh sayang sekali, aku tidak akan melihat tuan muda ganteng lagi."
"huhu iyaa..."
pria itu masuk kedalam kamarnya dan melangkah kearah kamar mandi, terdengar suara air gemericik yang menyatakan pria itu sedang mandi. seorang pria berkacamata masuk dalam kamar berukuran besar itu, pria itu berpikir tuannya itu sedang mandi. pria berkacamata adalah orang kepercayaan pria itu, sekaligus asisten pribadinya.
"tuan muda, kapan kita akan berangkat?" ucap asisten itu, tapi tidak ada sahutan dari tuannya itu.
"baiklah tuan muda, saya akan datang lagi nanti!." ucap asisten itu lagi, belum sempat pergi terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
ceklik...
terlihat pria itu terbalut dengan piyama mandinya, sangat tinggi dan tampan. pria itu mengusap rambutnya yang basah dan tidak memperdulikan pria berkacamata itu, pria itu melepas piyamanya dan berganti dengan pakaian yang ringan saat berada dirumah, tapi tidak menghilangkan ketampanannya. ya dia adalah Adnan Pratama dan asistennya Nikil.
"buat jadwalku yang padat itu kosong, baru kita akan berangkat." tegas Adnan dengan suara menawan.
"baik tuan muda, hari ini ada rapat. kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan semuanya." ucap Nikil, belum sempat pergi lagi sudah dihentikan dengan suara Adnan.
"om Nikil, apa mereka mengingatku?" tanya Adnan lembut tidak terdengar angkuh, Nikil tersenyum.
"mereka pasti mengingat mu tuan muda, dulu mereka tidak pernah rela saat anda memutuskan untuk pergi bersama nyonya besar." saut Nikil, Adnan sangat kesal saat Nikil mengucapkan kata nyonya besar.
"jangan menyebutnya, jangan membuatku marah dengan menyebut namanya." ketus Adnan, Nikil mengangguk.
"baik tuan muda, saya mengerti perasaan anda. saya permisi dulu. " ucap Nikil, lalu pergi dari sana.
Adnan melihat tangannya yang memakai sebuah gelang bertuliskan nama Kak Anan & Nara.
"apa kamu membenciku Nara, apakah kamu membenciku karena aku telah berbohong padamu, Nara maafkan aku." gumam Adnan dengan melihat foto Naira kecil yang sedang berfoto dengannya, saat masih kecil dulu.
"aku harap kamu tidak melupakan aku, karena aku tidak pernah melupakanmu." gumam Adnan lagi,
Adnan menatap langit langit atap kamarnya, ia merasakan rindu pada Naira dimana dulu saat saatnya bertemu Naira untuk pertama kalinya. dan pertama kalinya juga dia menyukai seseorang setelah ibunya, Adnan memegang gelangnya dengan membayangkan wajah Naira.
"seperti apa saat kamu dewasa, apa masih nakal atau bertambah nakal?" gumam Adnan, ia tersenyum sendiri.
"apakah kamu mengharapkan aku kembali, Naira aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu sejak kita masih kecil. aku ingin kamu merasakan hal yang sama, dengan juga mencintaiku. Naira aku akan menemuimu lagi, aku akan kembali."
****
halo semuaa!!. ππ
sedikit kisah dimulainya Adnan dan Naira, tunggu ya di DO YOU REMEMBER? ( Squel Adnan dan Naira) , tetap selalu dukung author ya biar semangat untuk buat storynya. terima kasih, dadah!! ππΌππΌππΌ
PERHATIAN: tetap sabar menunggu ya...π
__ADS_1