My Love Story 2

My Love Story 2
50. selamat ulang tahun Kara


__ADS_3

keesokan harinya nya Nadia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, pagi pagi Kara membawa Nadia pulang ke vila. semenjak insiden itu Kara dan Nadia tidak mau membahas lagi.


didalam mobil Kara terdiam banyak pikiran yang ada pada otaknya.


"Kara.. kamu kenapa?" tanya Nadia, Kara tersenyum tapi pandangannya masih fokus menyetir.


"tidak sayang, aku tidak apa apa!" jawab Kara, kemudian ia diam lagi.


"hari ini ulang tahun mu, apa kau mengundang teman teman?"


"iya Reno sudah mengatur, aku juga sudah memberitahu David juga." Nadia tersenyum.


"Kara.. aku akan memberimu satu kejutan lagi nanti." ucap Nadia, Kara melihat ke arah Nadia yang tersenyum.


"apa itu?"


"kejutan sayang." ucap Nadia, Kara pun mengangguk.


****


divila semua orang sibuk mendekor untuk pesta ulang tahun Kara, bukan pesta besar hanya pesta berkumpul teman dekat dan semua keluarga. terlihat Nadia setia duduk dikursi rodanya ditemani Reni menggendong putranya.


"aku mendengar kecelakaanmu dari tante, bagaimana bisa terjadi?" tanya Reni, Nadia tersenyum.


"hm.. belum dipastikan, tapi kami sudah melupakannya mbak. Kara juga tidak mau membahas." jelas Nadia,


"Risa kenapa berdiri disana, kemarilah." ucap Reni lagi karena melihat Risa berdiri dipinggir tangga.


"tidak, aku harus memberi Bagas susu." saut Risa langsung pergi.


"ada apa dengannya?" tanya Reni pada Nadia.


"aku tidak tahu mbak, dari pagi dia seperti menjauhi ku!" jawab Nadia, Nadia sangat penasaran apa yang terjadi pada Risa.


"aku tinggal ya, putraku menangis." Nadia mengangguk, Reni masuk untuk menyusui putranya.


Nadia menghampiri Risa yang sedang memberikan susu pada Bagas, Risa terkejut dengan kedatangan Nadia, ia menjadi kelagapan. Nadia melihat itu semakin penasaran, ia mencoba mendekati Risa.


"Risa.. kamu tidak apa kan?" tanya Nadia


"a..aku.. tidak apa!" jawab Risa tanpa melihat ke arah Nadia.


"Risa.. kenapa kamu sepertinya menjauhiku."


"tidak Nadia, aku tidak menjauhi mu." Risa berdiri, saat ingin meninggalkan Nadia, tangannya ditahan oleh Nadia.


"Risa!" Nadia melihat wajah Risa yang bengkak, seperti habis menangis.


"Risa kamu kenapa, ada apa?" tanya Nadia, Risa menatap Nadia ia meneteskan air mata.


"apa kau peduli padaku?" tanya Risa menatap Nadia yang terlihat khawatir padanya.


"tentu saja, kemarilah duduk. aku akan melihat ada apa dengan wajahmu." Risa duduk dikasur, Nadia memegang pipi Risa, Risa malah menangis.


"hei.. apa sakit maaf kan aku, aku akan mengambil air hangat." Nadia hendak pergi Risa menahannya.


"Nadia.. hiks... Nadia.. maafkan aku.. maaf.." ucap Risa menunduk.


"Risa ada apa?" tanya Nadia.


"aku hanya ingin minta maaf, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan." ucap Risa, Nadia menghapus air mata itu.


"kita menjadi teman, setelah itu kita menjadi saudari, tidak perlu minta maaf ataupun berterima kasih." ucap Nadia tersenyum, Risa memeluk Nadia.


"terima kasih, aku sangat minta maaf." ucap Risa memeluk Nadia, Nadia membalas pelukan itu.


"sudah, katakan padaku siapa yang melakukan itu?" Risa melepas pelukannya, dan menggelengkan kepala.


"tidak ada, ini hanya terbentur tembok." Nadia tidak percaya dengan itu.

__ADS_1


"baiklah, kompres dulu dengan air hangat biar tidak tambah bengkak." Risa mengangguk dan pergi dari sana.


saat akan menuju dapur Risa bertabrakan dengan Febriyan, Febriyan menatap wajah Risa yang masih bengkak bekas tamparannya, Risa menunduk berusaha menutupinya.


"maaf!" ucap Febriyan, Risa mengangguk dan pergi.


"maaf telah menamparmu, maafkan aku." ucap Febriyan melihat Risa dari belakang.


semua persiapan sudah siap tinggal menunggu acara pesta dimulai terlihat beberapa keluarga dan teman dekat sudah berkumpul disana, Nadia berada dalam kamar bersama Reni dan Risa yang menggendong Bagas.


"bunda sangat cantik." ucap Bagas, Nadia tersenyum


"jadi tante tidak cantik?" ucap Reni.


"semuanya cantik, mama Risa juga cantik." Risa tersenyum mendengar itu.


"aku keluar dulu, waktunya Bagas minum susu, ayo Bagas." Bagas mengangguk, Nadia dan Reni mengiyakan, Risa keluar dari kamar itu.


"kalian sudah baik?" tanya Reni


"sepertinya Risa ada masalah, tapi aku tidak tahu apa itu, dia tidak mengatakannya!" ucap Nadia, Reni pun hanya ber oh saja.


"eh aku keluar dulu ya, kamu disini saja." Nadia mengangguk, Reni keluar dari kamar itu.


Nadia mengirim pesan pada Kara.


Nadia: "Kara, aku sangat mencintaimu."


"kenapa Kara tidak menjawab?" gumam Nadia, ia pun mengirim pesan lagi.


Nadia: "Kara temui aku dikamar, cepat."


setelah beberapa menit pintu kamar Nadia terbuka, terlihat Kara berdiri menggunakan jas berwana hitam dengan kemeja biru muda serasi dengan gaun Nadia yang berwarna biru muda. Kara tersenyum melihat Nadia sudah berias diri, begitu juga Nadia tersenyum melihat Kara.


"kenapa tidak menjawab pesanku?" tanya Nadia, Kara berdiri dibelakang Nadia dan mencium pundak Nadia.


"kenapa?" tanya Nadia lagi, Kara tersenyum tipis.


"karena harus dikatakan langsung, aku juga sangat mencintaimu." ucap Kara mencium kening Nadia, Nadia tersenyum.


"Kara kenapa kita bisa memakai pakaian yang serasi, padahal aku tidak menyiapkan untukmu." ucap Risa tersenyum, Kara pun tersenyum.


"karena pilihan kita selalu sama, jadi ya seperti ini." Nadia tersenyum, tapi ia melihat wajah sedih pada Kara.


"apa kau tidak senang?" tanya Nadia, Kara melihat wajah Nadia.


"kenapa, kenapa aku harus tidak senang?" saut Kara.


"aku telah membaca matamu Kara, mata mu mengatakan kesedihan. katakan padaku apa yang terjadi padamu?" tanya Nadia, Kara menggelengkan kepala.


"tidak ada, tidak ada masalah!" jawab Kara, Nadia menghampiri Kara yang duduk dikasur


"bohong, kamu berbohong. katakan padaku apa ada yang salah, apa ada yang kamu sembunyikan dari ku?" tanya Nadia lagi, Nadia memegang wajah Kara yang terlihat sedih.


"tidak ada yang salah. mengapa aku harus menyembunyikan sesuatu, aku masih merasakan ketakutan kehilanganmu saat kamu berbaring meringik kesakitan lalu tidak sadar." jelas Kara.


"katakan itu dengan menatap wajahku dan melihat mataku. ini acaramu Kara dan ini juga acara bagiku, jika kamu tidak senang lalu bagaimana aku bisa senang. berjanjilah untuk bahagia malam ini, ayo tersenyum hm..?" Kara memegang tangan Nadia dan memeluk Nadia.


"bagaimana aku bisa bahagia dan tersenyum setelah hal besar terjadi padamu?.." ucap Kara, Nadia tidak mengerti apa maksud Kara.


***


acara yang ditunggu pun telah tiba, terlihat semua teman dekat Kara dan Nadia datang. memberikan ucapan selamat ulang tahun pada Kara, Kara menyambut mereka dengan senang, begitu juga Nadia.


"selamat ulang tahun KR!" ucap Niko memeluk Kara, Nita memeluk Nadia.


"nikmati acaranya!" ucap Nadia.


Semua orang senang kecuali Kara yang masih merasa bersalah atas keputusannya yang dia ambil di rumah sakit.

__ADS_1


Kara meninggalkan acara di tengah -tengah. Nadia menyadari itu dan khawatir. Nadia bertanya pada Febriyan tentang alasan di balik perubahan perilaku Kara.


"mas ada apa dengan Kara?" Febriyan melihat kearah Kara yang pergi meninggalkan pestasnya.


"coba kamu ikutin dia Nad!" Nadia pun mengangguk, dan mengikuti Kara yang menuju halaman belakang.


"Kara..." panggil Nadia, Kara menoleh kearah Nadia.


"kenapa kau disini?" tanya Kara mendekati Nadia


"aku yang seharusnya bertanya, ini pestamu seharusnya kamu disana." ucap Nadia, Kara hanya diam.


"Kara apa yang kamu khawatirkan, katakan padaku bukan kah aku istrimu!" Kara berlutut dihadapan Nadia.


Kara akhirnya menceritakan pada Nadia tentang keputusan yang dia ambil di rumah sakit, lebih menyelamatkan Nadia dan bukan bayinya.


"maafkan aku Nadia, aku benar benar salah ingin menyakiti anak kita, karena itu aku merasa bersalah pada kalian." ucap Kara menunduk, Nadia mengangkat kepala Kara.


"ini bukan Kara, Kara tidak pernah menunduk pada siapapun. aku tahu dilema mu, aku tahu keputusan itu terburu buru. Kara kami sudah baik baik saja, tidak perlu merasa bersalah lagi. lupakan semuanya, tidak perlu minta maaf. kamu suami terbaik didunia.." Kara tersenyum, ia memeluk Nadia.


"terima kasih, terima kasih Nadia. aku mencintaimu." ucap Kara, Nadia membalas pelukan itu.


"aku juga mencintaimu, Kara berjanjilah satu hal jika kejadian seperti ini terjadi lagi dimasa depan, berjanjilah padaku kau akan menyelamatkan anak kita dari pada aku, anak kita adalah prioritas kita, berjanjilah." ucap Nadia, Kara mencium kening Nadia.


"iya aku berjanji sayang." jawab Kara mereka pun tersenyum, dan kembali ke tempat acara.


acara dimulai, ketika satu persatu dari mereka mengucapkan selamat ulang tahun pada Kara. membuat Kara tersenyum dan tertawa bahagia. Febriyan melihat itu ia mendekati Nadia.


"kamu mengembalikan senyumnya." bisik Febriyan, Nadia tersenyum.


"iya, dan itu sangat susah." Febriyan tertawa geli, begitu juga dengan Nadia.


"hm.. selamat ulang tahun untuk Kara, semoga pernikahanmu langgeng sampai tua, dan kamu cepat memiliki keturunan, usiamu sudah 30 tahun, sangat tua" semua orang bersorak dan tertawa, mendengar perkataan Reni.


"ya.. semua sudah mengatakan doa terbaik dan memberikan hadiah mereka pada Kara, sekarang giliran istrinya yang akan memberikan ucapan dan hadiah istimewa untuk Kara, persilahkan untuk nyonya Nadia.." ucap Reno.


Kara berniat untuk menggendong Nadia dan ia menghampiri Nadia, saat sedang berjalan Kara menghentikan langkahnya ketika Nadia menggerakkan kakinya satu persatu untuk turun dari kursi rodanya. bukan hanya Kara tapi semua orang juga dikejutkan, Nadia berjalan dengan normal mengarah ke tempat dimana Reno berada.


"hm.. hai Kara.. selamat ulang tahun." ucap Nadia berdiri memegang mikrofon, semua orang terdiam.


"ini kejutan yang ingin kuberikan padamu, aku bisa berdiri lagi, aku juga sudah berjalan normal. aku tidak akan menyusahkanmu lagi, terima kasih selama ini kamu selalu menjagaku, kamu selalu ada saat aku membutuhkanmu. kamu tidak pernah lelah untuk mencintaiku, cintamu selalu bertambah semakin lama." Kara nampak begitu bahagia sampai matanya terlihat ingin menangis.


"aku tidak tahu Kara, apa yang harus aku berikan padamu. hanya ini.." Nadia memegang perutnya.


"bayiku, anak kita." semua orang terkejut karena pasalnya Nadia belum mengatakan kalau dirinya hamil, Kara perlahan menghampiri Nadia


"aku sangat terkejut, sangat bahagia." ucap Kara terharu, Nadia tersenyum.


"Kara katakan apa yang kamu inginkan lagi?" ucap Nadia.


"cinta, aku ingin kamu selalu mencintaiku, aku ingin kamu selalu menemaniku dalam susah maupun senang." ucap Kara, Nadia menangis dan mengangguk.


"aku ingin kau berlari kearahku, berlarilah Nadia." tanpa menjawab Nadia berlari sekuat tenaga dan langsung memeluk Kara, Kara memeluk Nadia dengan sangat erat.


"terima kasih Nadia, terima kasih. aku sangat bahagia, aku mencintaimu." ucap Kara, Nadia memeluk Kara erat.


"iya.. aku juga mencintaimu.." saut Nadia,


semua orang terharu melihat mereka, semuanya bersorak dan bertepuk tangan. semua ikut bahagia dengan kebahagian Nadia dan Kara, Risa menangis melihat mereka begitu saling mencintai. Risa merasa sangat jahat saat berusaha ingin memisahkan mereka, Risa merasa kejam saat ingin menyakiti Nadia bahkan juga anak yang tidak bersalah, Risa menangis memikirkan semua itu. Febriyan melihat Risa, ia pun mendekati Risa.


"tenanglah." ucap Febriyan, Risa melihat kearah Febriyan.


"hiks.. hiks.."


Risa menangis saat melihat wajah Febriyan, ia ingat bahwa dirinya hampir mencelakai suaminya, tiba tiba Risa tidak sadarkan diri, Febriyan langsung menggendong Nadia dan membawanya masuk kekamar.


****


jangan lupa like dan komen kalian😍

__ADS_1


__ADS_2