
dua minggu telah berlalu, hubungan Risa dan Febriyan sudah tidak canggung. kaki Nadia bahkan sudah berjalan dengan lancar, malam itu Nadia membawa tas besar berisikan buku buku favoritnya yang ada di rumahnya dulu. Risa melihat itu ia pun menghampiri Nadia dan membantunya.
"oh hai.." ucap Nadia saat melihat Risa, Risa tersenyum.
"akan kubantu, ayo.." ucap Risa membawa tas Nadia.
"eh terima kasih, merepotkan!" ucap Nadia.
"bukan kah kita saudara, jadi tidak merepotkan." saut Risa membawa tas Nadia masuk kedalam, Nadia tersenyum.
"dimana Kara?" tanya Risa.
"sudah letakkan, Kara masih menelfon dibawah." ucap Nadia,
Risa ingin sekali mengatakan tentang semuanya pada Nadia, tapi mulutnya tidak mau bergerak malah diam membisu. Risa bahkan tidak tahu harus mulai cerita dari mana dan seperti apa reaksi Nadia nantinya.
"Risa, ada apa?" tanya Nadia, Risa tersenyum.
"aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" ucap Risa, Nadia tersenyum memegang tangan Risa.
"katakan, kenapa kau seperti banyak beban?" Risa memeluk Nadia, Nadia bingung dibuatnya.
"Nadia maafkan aku, maaf. semua ini kesalahanku, salahku. aku membahayakan nyawa kalian, kalian semua.." ucap Risa, Nadia melepas pelukan itu dan menatap Risa.
"apa yang terjadi?" tanya Nadia, Risa terdiam sejenak.
"Nadia.. maafkan aku hiks.. maaafkan aku.. aku benar benar minta maaf... aku yang sudah mencelakaimu selama ini karena cemburu." Nadia terkejut bukan main dengan pengakuan Risa.
"waktu dipuncak kursi itu aku sengaja melepasnya agar kau jatuh kejurang, dan juga kebakaran waktu itu.. aku sengaja melakukannya, agar mencelakai wajah cantikmu.." Nadia menutup mulutnya karena terkejut.
"ular, sebenarnya Kara menaruh ular mainan ditasmu agar kau terkejut dan berlari kearahnya, tapi aku mengganti ular mainan itu dengan ular asli, agar membuatmu celaka." Nadia masih terkejut, ia hanya bisa diam melihat Risa menyesali semuanya.
"kecelakaan itu..."
"kenapa dengan kecelakaan?" tanya Kara tiba tiba, Risa terkejut dengan itu.
sebenarnya Kara sudah berdiri disana saat Risa memeluk Nadia dan minta maaf, Kara memilih untuk berdiri untuk mendengarkan mereka. Kara juga terkejut ketika Risa mengatakan semua itu, mendengar perkataan Risa mengenai kecelakaan Kara menjadi semakin penasaran.
dengan angkuh Kara berjalan mendekati Risa dan Nadia, Risa berkeringat ketakutan dengan Kara.
"ada apa dengan kecelakaan!" ucap Kara sedikit menekan, Nadia mencoba menenangkan Kara.
"kecelakaan.. aku sengaja menyuruh mas Riyan mengambil barangku ditoko itu, aku bilang padamu mas Riyan sudah lama diluar. padahal mas Riyan baru 10 menit keluar. aku..." belum Risa meneruskan perkataannya Kara menarik Risa keluar dari kamar itu.
"katakan dihadapan semua orang!" ucap Kara selagi menarik Risa, Risa hanya menangis.
"Kara lepaskan dia, Kara dengarkan dia sampai habis." ucap Nadia mencoba memberhentikan Kara, tapi Kara tidak menghiraukannya.
Kara menyeret Risa menuruni anak tangga hingga keruangan tengah. pak Wijaya, ibu Kumala terkejut dengan Kara yang menyeret Risa, Febriyan dari kamar mendengar keributan Kara ia pun melihat apa yang dilakukan Kara pada Risa, Febriyan berlari ke arah mereka mencoba menghentikan Kara.
"Kara apa yang kau lakukan?" tanya Febriyan, Kara terus menyeret Risa.
"tanyakan pada istrimu, apa yang dia lakukan." Kara melempar Risa ketengah ruangan, Risa terhempas dan menangis. Nadia mencoba membantu Risa berdiri, begitu juga dengan ibu Kumala.
"ceritakan, apa yang kau ceritakan tadi pada Nadia, ceritakan pada semua orang disini!" ucap Kara berteriak, ibu Kumala dan pak Wijaya terkejut.
"Kara ada apa ini?" tanya pak Wijaya.
"Kara apa ini?" saut ibu Kumala juga.
"tanyakan padanya! tanyakan apa yang dia lakukan untuk mencelakai Nadia, Risa katakan!" Kara terus berteriak
__ADS_1
"aku.. aku minta maaf Kara.. Nadia.. aku benar benar minta maaf, maafkan aku." ucap Risa pada Nadia.
"aku penyebab kecelakaan itu, aku ingin mencelakai Kara dan dirimu, bahkan aku juga ingin mencelakai suamiku sendiri. aku membuat mobil Kara kehilangan oli, aku juga membiarkanmu keluar dari vila karena untuk mencelakaimu."
plak!!
satu tamparan mendarat dipipi Risa oleh Nadia, Risa terkejut dan memegangi pipinya ia menangis. Nadia sangat marah ketika mendengar Risa mengatakan ingin mencelakai suaminya dan juga Suami Risa sendiri.
"apa kau sudah gila, apa kau sudah tidak waras. kau ingin mencelakai suamimu." ucap Nadia.
"aku.. minta maaf, aku memang gila. aku mengakui semua kesalahan yang aku perbuat, hiks... aku menyesal.." ucap Risa, Nadia menangis.
"kau hampir membunuh bayi ku Risa, hampir saja..." ucap Nadia, Risa menangis memohon maaf.
"aku salah, kalian boleh marah. tapi tolong jangan pernah benci aku..." ucap Risa, Kara sangat marah ia menarik Risa dan membawa Risa keluar, mengusir Risa.
"pergi! pergi dari sini!, tidak ada tempat untukmu dirumah ini!" ucap Kara, Risa menangis ia sudah ikhlas jika semuanya terjadi. Febriyan tidak bisa melakukan apapun.
"maaf kan aku..." ucap Risa, Risa melangkah menjauh.
"berhenti."
saat Risa ingin pergi, Nadia berucap membuat langkah Risa terhenti dan berbalik. dengan wajah sendu Risa menatap Nadia, perlahan Nadia mendekati Risa.
"dia keluarga kita, dia saudari ku" Risa meneteskan air mata, Nadia tersenyum melihat Risa.
orang yang ingin aku celakai membelaku, orang yang aku benci sedang membelaku sebagai saudarinya, aku benar benar sangat malu pada diriku sendiri.
"dia telah berbuat jahat Nad, apa kau tidak bisa melihatnya. dia tidak akan bisa berubah sampai kapan pun, lihatlah itu semua air mata buaya yang dia keluarkan!" ucap Kara emosi.
"tidak Kara!, dia telah menyesali perbuatannya. apa kau tidak melihat betapa tulusnya dia meminta maaf dan menangis." ucap Nadia, Risa menangis disamping Nadia.
"Risa aku memaafkanmu, berkat kamu aku juga bisa berjalan." Risa menggelengkan kepala.
Risa melihat kearah Febriyan, ia menghampiri Febriyan.
"maafkan aku mas, terima masih sudah menyadarkan kesalahanku. tidak perlu menahanku, ini pantas untukku, aku akan pergi. percayalah padaku aku sangat menyayangi Bagas, kasih sayangku tidak palsu padanya. satu lagi, biarkan aku memelukmu sekali saja.." Febriyan langsung memeluk Risa, Risa menangis dalam pelukan itu.
"maaf.. maaf.. hiks.. jangan membenciku.." ucap Risa disaat menangis, Febriyan hanya diam.
setelah beberapa menit Risa melepas pelukan itu, Risa meminta maaf pada ibu Kumala. ibu Kumala hanya diam begitu juga dengan pak Wijaya, Risa menangis dan perlahan menjauh. Risa melihat Nadia yang menangisinya, ia tersenyum.
"Kara.. aku mohon maafkan dia.." ucap Nadia, Risa menangis disetiap langkahnya meninggalkan rumah itu.
"ayo masuk, ma pa, mas.." ucap Kara menarik Nadia.
"Kara kenapa kau sangat kejam." ucap Nadia, Kara tidak menghiraukannya.
"mas Riyan kenapa kau diam saja, dia istrimu." Febriyan tetap diam karena memang itu kesalahan Risa dan harus menerima semua itu pikirnya.
Febriyan menutup pintu, ia melihat Risa yang berjalan menjauh dengan menangis. Risa melihat kearah Febriyan dengan wajah sendu ia tersenyum, tidak terasa air mata Febriyan menetes setelah menutup pintu rumah itu.
"maafkan aku Risa, maaf.." gumam Febriyan didepan pintu.
Risa tersenyum melihat Febriyan perlahan menutup pintu itu, Risa melangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu. Risa benar benar merasa hancur, ia menangis disepanjang jalan.
"ini memang kesalahanku, aku terima semuanya dengan ikhlas. pa.. maafin Risa..." ucap Risa menangis.
***
Nadia melihat kearah luar jendela dikamarnya, terlihat hujan deras mengguyur setelah beberapa menit pengusiran Risa. Nadia sangat khawatir pada keadaan Risa ditengah malam, apalagi sedang hujan yang sangat deras. Kara masuk melihat Nadia dipinggir jendela, ia pun mendekati Nadia dan memeluknya.
__ADS_1
"kamu akan masuk angin!" ucap Kara, Nadia tidak tetap diam.
"ada apa denganmu?" tanya Kara lagi melepas pelukannya.
"aku yang seharusnya bertanya, ada apa denganmu?" saut Nadia.
"kamu terlalu baik padanya!"
"Kara, dia itu perempuan. kenapa kau tega mengusirnya dimalam seperti ini, lihatlah diluar hujan dengan. aku tidak habis pikir, kenapa kau bisa bersikap seperti ini." ucap Nadia, Kara ingin bicara tapi tidak jadi saat Nadia berbaring dan menutup dirinya dengan selimut.
"aku sangat sedih Kara, sangat sedih." ucap Nadia, Kara diam dan keluar dari kamar itu.
dikamar Febriyan, ia melihat foto Ina bersama Bagas, ia juga melihat foto Risa dan Bagas. tanpa di sadari ia menangis, Febriyan menggenggam foto keduanya sangat erat dengan kesedihan mendalam.
"maafkan aku Risa, maaf.. hiks... maaf.. aku tidak tahu harus apa.." ucap Febriyan memegang foto keduanya, ia duduk dilantai.
"kau mencintainya.."
Febriyan terkejut mendengar suara seseorang, ia pun mengangkat kepalanya dan terlihat Ina duduk disampingnya, ia sangat terkejut.
"jangan menangis."
ucap Risa menghapus air mata Febriyan, Febriyan memegang tangan Ina dan menciumnya.
"Ina aku merindukanmu." ucap Febriyan, Ina tersenyum.
"kenapa kau tidak mencegahnya, kau sangat mencintainya."
"tidak, aku hanya mencintaimu."
"coba tutup matamu, jika saat kau menutup mata melihatku itu artinya kau masih mencintaiku. tapi jika kau melihat Risa, kau benar benar jatuh cinta padanya."
tangan Ina menutup kedua mata Febriyan, sesaat Febriyan menutup mata. terlintas wajah Risa disana, mulai wajah Risa yang marah, senang, bahkan wajah Risa yang menangis beberapa menit yang lalu. perlahan Febriyan membuka mata, dan saat itu pula wujud Ina sudah tidak ada. Febriyan meyakinkan dirinya, bahwa ia telah jatuh cinta pada Risa.
"kau benar Ina, seharusnya aku mencegah dia untuk pergi." Febriyan menaruh kedua foto itu diatas kasur, dan melangkah keluar.
saat melangkah keluar ia bertemu dengan Kara, Kara melihat Febriyan yang terburu buru.
"diluar hujan, kau mau kemana mas." ucap Kara.
"mencari istriku, dia istriku Kara tidak seharusnya kita mengusirnya. dia telah mengakui kesalahannya, dan dia telah sangat menyesal. tindakanmu salah." saut Febriyan Kara terdiam sesaat.
"mas Riyan benar, dia sudah sangat menyesal Kara. kita hanya perlu memaafkan, lagian itu sudah berlalu." ucap Nadia yang tiba tiba muncul, Kara tetap diam, Febriyan mengambil kunci mobil dan berjalan keluar dengan cepat.
"tunggu!"
Febriyan berhenti melangkah ketika Kara memanggilnya, Kara mendekat ke arah Febriyan.
"aku ikut, kita akan mencarinya." ucap Kara, Nadia tersenyum. Febriyan mengangguk lalu mereka pergi untuk mencari Risa.
****
Risa berjalan menyusuri jalanan yang sepi, Risa tidak tahu harus pergi kemana, apalagi dengan keadaan yang sedang hujan sangat deras. Risa duduk disebuah halte bus yang sepi, Risa merasakan hujan sangat deras menerpa tubuhnya.
"Aihh dingin.. sekali, aku... tidak.. kuat.." ucap Risa gemetar, ia memeluk tubuhnya sendiri. terlihat wajah Risa sangat pucat, ia juga memegangi perutnya.
"kenapa perutku sangat sakit, aku harus mencari tempat.. yang.. lebih hangat..." ucap Risa berdiri, tiba tiba kepala Risa merasa pusing ia memegangi kepalanya dan sampai dirinya ambruk disana.
"hei.. bangunlah nona, apa kau oke?" ucap seseorang mencoba membangunkan Risa.
"to..long.." ucap Risa, ia tidak jelas melihat wajah orang itu sampai saatnya Risa tidak sadarkan diri.
__ADS_1
*****