
satu minggu telah berlalu, hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu oleh Kara dan Nadia. semuanya sedang menyiapkan acara pernikahan itu, disana ada juga Vano dan Amelia yang ikut hadir menjadi bagian keluarga
Kara berada dalam kamarnya ia bersiap untuk acara siang ini, Kara memakai jas berwarna hitam untuk acara akad nikah. Kara duduk disamping kasurnya, lalu melihat foto Nadia dan Naira bersama.
"aku berjanji setelah ini kita akan hidup bahagia bersama." gumam Kara.
dikamar Nadia, Nadia sedang bersiap dibantu oleh Amelia dan juga Risa. Angel terlihat sangat cantik dengan kebaya berwarna putih.
"Nadia kamu kenapa?" tanya Risa, terlihat Nadia sangat gugup.
"entahlah, aku merasa gugup sekali." saut Nadia, Risa dan Amelia tersenyum.
"ini bukan pernikahanmu yang pertama, kenapa harus merasa gugup!" ucap Risa meledek, Amelia tertawa.
"huftt iya iya.." Nadia mencoba mengatur nafasnya.
beberapa menit kemudian acara pernikahan dimulai, Nadia berjalan turun dari kamarnya, disampingnya terdapat Amelia dan Risa. mereka menuju ketempat Kara yang sudah menunggunya untuk melakukan akad nikah. Kara melihat Nadia dengan perasaan bahagia, hari yang Kara tunggu akan terjadi hari ini. Kara melihat Nadia yang begitu cantik saat menggunakan kebaya berwarna putih, serasi dengan pakaiannya.
"bagaimana sudah siap?" ucap penghulu, Kara dan Nadia mengangguk pelan. Kara mengulurkan tangannya, siap melakukan ijab kabul.
"Saudara Kara Wijaya Bin Wijaya Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Nadia Salsabillah binti Adinata dengan maskawinnya berupa seperangkat sholat dan lainnya, tunai.”
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Salsabillah binti Adinata dengan maskawinnya yang tersebut tunai." dengan satu tarikan nafas Kara mantab mengucapkan itu.
"bagaimana saksi sah!"
"SAH!!!" semua menjawab sah dengan keras dan mengucapkan syukur.
Nadia dan Kara sangat bahagia, Kara mencium kening Nadia. Nadia tidak pernah membayangkan dirinya akan menikah lagi dengan Kara, terlalu bahagianya Nadia sampai meneteskan air mata, Kara menyeka air mata itu.
"sudah kukakatakan jangan pernah meneteskan air mata!" ucap Kara, Nadia tersenyum.
"ini air mata kebahagiaan Kara, aku sangat bahagia." ucap Nadia, mereka saling tersenyum.
__ADS_1
Kara dan Nadia duduk diatas pelaminan, mereka menyalami beberapa orang yang hadir mengucapkan selamat untuk mereka.
" selamat untuk kalian, akhirnya kalian menikah lagi." ucap Dewi memeluk Nadia, Nadia sangat senang sahabatnya itu datang.
"terima kasih, ukhh apa ini keponakanku?." tanya Nadia mengambil bayi yang digendong Dewi.
"tentu, namanya Difa." saut Dewi, Nadia sibuk menimang bayi itu.
"jadi mau buat satu lagi?" ucap David pada Kara, Kara tersenyum.
"hei kenapa kau tersenyum?" tanya David,
"hei David, aku sudah mendapatkan 2 berlian dan aku tidak mau serakah." ucap Kara, David tertawa.
"bukan serakah, kau tidak mau kan jika lahir lagi akan ada Nadia ketiga. mengurus kedua Nadia saja kau pusing, apalagi ketiga. ya kan?" ucap David, Kara hanya diam karena menurutnya itu sangat benar adanya.
"David diam kamu, jangan mengganggunya!" ucap Dewi, David hanya tertawa.
"papa apa om dokter mengganggu papa?" tanya Naira, Kara mengangguk.
"tentu, dia mengganggu ku." Naira menatap David, David tersenyum geli dengan itu.
"tidak, om dokter hanya meminta agar mereka membuat adik untukmu, tapi papamu ini marah. Naira katakan pada om, apa kamu mau punya adik?" ucap David, Naira mengangguk.
"tentu Naira pengen punya adik, Naira mau adik pintar seperti Naira." saut Naira senang, membuat David tertawa.
satu persatu dari teman Nadia dan Kara mengucapkan selamat, Vano juga merasakan kebahagiaan itu. Vano ikhlas melepaskan Nadia, menurutnya kebahagiaan Nadia adalah yang terpenting baginya. meskipun kebahagiaan itu tidak bersamanya, Vano dan Kara saling berpelukan.
"hei beri aku Naira satu lagi ya.." ucap Vano, Kara tertawa.
"bukan aku, seharusnya kamu." saut Kara, mereka tertawa bersama.
"menurutku dia cocok denganmu!" ucap Kara menunjuk Amelia.
__ADS_1
"Kara berhenti mengganggunya!" ucap Nadia, Kara tertawa.
"hei ayo berfoto!!" teriak seseorang.
Mereka semua melakukan foto bersama, mereka sengaja hanya mengundang beberapa kerabat terdekat saja dan keluarga. Amelia dengan membawa Adnan sedikit menjauh dari mereka, tapi Nadia mencegahnya saat ia ingin pergi.
"kenapa kamu pergi, kemarilah foto bersama kami." ucap Nadia, Amelia terkejut dengan itu.
"tidak Nadia, aku orang lain disini." ucap Amelia, ibu Kumala menghampirinya.
"kamu bukan orang lain, kita semua keluarga tidak ada orang lain disini. benarkan Adnan, aku nenekmu kan?" ucap Ibu Kumala, Adnan mengangguk.
"tuh kan, kemarilah."
akhirnya Amelia menyetujuinya, Nadia merasa senang dengan itu. Amelia merasa bahagia, mereka semua mendoakan pernikahan Nadia bersama sama.
"semoga kehidupan kalian sampai maut memisahkan!" ucap Vano.
"semoga kalian mendapatkan momongan lagi!!" ucap David, semua orang tertawa.
"semoga kalian bahagia selalu!, Aminn!!!" ucap serempak mereka semua, tukang foto itu siap mengambil foto.
"1.. 2.. 3.. cheers!!!"
cekrek!!
cekrek!!
Nadia dan Kara saling berpandangan, dan tersenyum. mereka mencium kedua pipi Naira secara bersamaan, Naira tertawa bahagia dengan itu.
(END)
****
__ADS_1