My Love Story 2

My Love Story 2
77. kembali


__ADS_3

Vano, Nadia dan Naira telah sampai dirumah, terlihat Vano turun dari mobil dengan menggendong Naira yang sedang tidur, Nadia masih hilang dalam pikirannya.


Vano berpikir ia takut jika Nadia bertemu dengan Kara, kerena itu Vano mengajak Nadia dan Naira pulang cepat. Vano memperhatikan wajah Nadia yang sedang melamun, Vano menyentuh pundak Nadia hingga mengejutkan Nadia.


"ada apa?" tanya Vano, Nadia menoleh


"oh tidak apa, hanya merasa aneh saja." jawab Nadia, Vano menidurkan Naira dikamar Nadia.


"aneh kenapa?" tanya Vano lagi.


"aku tidak tahu, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya." saut Nadia, Vano bingung.


"mungkin kau lelah, baiklah aku tinggal dulu. beristirahat lah!" Nadia mengangguk, Vano pergi dari sana.


"maaf Nadia, entah kenapa aku takut jika kamu sampai bertemu dengannya." gumam Vano saat menutup pintu.


Nadia duduk dipinggir jendela ia memandang bulan yang indah dimalam itu, terlintas ingatan tentang kebersamaan nya bersama Kara, Nadia menangis dalam diamnya.


***


pagi harinya Nadia dan Naira sudah ada dimeja makan, mereka menunggu Vano untuk sarapan. Nadia terkejut ketika mendengar Vano marah marah ditelfon,


"bagaimana bisa mereka mengambil hotel itu, kau sangat bodoh! aku tidak mau tahu, cari tahu siapa yang membeli itu secara tiba tiba." teriak Vano lalu menutup telfon, Nadia dan Naira saling pandang.


"Vano ada apa?" tanya Nadia menyiapkan sarapan untuknya.


"aku sangat kesal, seseorang mengambil bisnis hotel ku dijakarta." saut Vano.


"papa jangan marah marah, nanti cepat tua." celetuk Naira, Nadia terkejut dan tersenyum.


"oh jadi kamu mendoakan aku cepat tua ya, iya hah..." ucap Vano mengelitiki Naira.


"papa Vano sangat geli.. haha..." ucap Naira tertawa, Nadia juga tertawa.


"oh iya ma, Naira kemarin ketemu om ganteng loh!" ucap Naira, Vano sedikit terkejut.


"om ganteng, siapa dia?" tanya Nadia.


"hm.. tidak tahu, dia sangat tampan!" saut Nadia, Nadia menggelengkan kepala.


"habiskan rotimu, setelah itu baru boleh bermain." ucap Nadia, Naira mengangguk. Vano berpikir om ganteng yang dimaksud Naira adalah Kara, mereka sudah bertemu sebelumnya.


"Vano makanlah, apa yang kamu lamunkan?" tanya Nadia, Vano tersadar dan menggelengkan kepala.


di jakarta, Kara telah kembali dan langsung bekerja. Reno datang menghampiri Kara. Reno menanyakan mengapa Kara membeli hotel yang dibuat oleh perusahaan Vano, Kara hanya tersenyum.

__ADS_1


"aku hanya ingin membelinya, saat ini pasti dia sedang mencari tahu siapa yang sudah membeli hotelnya." ucap Kara.


"jadi apa yang akan kau lakukan?" tanya Vano lagi, Kara tersenyum.


"kemarin aku melihat dia dipesta pam Abi, di bersama seorang anak perempuan. dan aku merasa anak itu mirip dengan Nadia bahkan namanya adalah Naira." Reno terkejut dengan perkataan Kara.


"aku masih tidak mengerti?" tanya Reno.


"aku ingin mencari tahu tentang Vano, setelah mendapat kabar pembelian hotel itu dia akan datang ke jakarta. kau pasti tahu maksudku." saut Kara, Reno yang tidak mengerti hanya diam.


" tanyakan pada mereka untuk meminta nomor dari Vano, aku akan menelfon nya dan mengatakan sendiri." ucap Kara lagi, Reno mengangguk lalu pergi.


"lagi lagi aku merindukanmu!" gumam Kara.


beberapa menit Reno datang membawa permintaan Kara, Kara tersenyum dan segera menghubungi nomor Vano.


****


Nadia yang sedang membersihkan rumah dihari minggu sangat sibuk, terlihat Naira sedang bermain sedangkan Vano berada dalam kamarnya. Nadia membawa beberapa pakaian Vano yang sudah dicuci, Nadia masuk kekamar Vano. tiba tiba Nadia mendengar hp Vano berdering, Nadia berpikir Vano sedang mandi.


"Vano hp mu berdering, apakah harus ku angkat?" teriak Nadia, Vano mendengar teriakan itu.


"iya iya angkat saja." saut Vano, Nadia berjalan untuk mengambil hp itu. Nadia melihat nomor itu tanpa nama, tapi Nadia merasakan nomor itu tidak asing baginya.


"halo?" ucap Nadia, tapi tidak ada sahutan dari telfon itu.


"halo!"


deg deg deg


Nadia terkejut mendengar suara itu, suara itu adalah suara Kara. ditempat Kara juga terkejut saat mendengar suara Nadia, Kara terdiam lalu bersuara.


" Kara..." ucap Nadia lirih tetap didengar oleh Kara.


"Nadia..." ucap Kara ditelfon, Nadia meneteskan air mata. tubuh Nadia jadi gemetar saat mendengar suara Kara.


"Nadia..." ucap Kara lagi, Nadia menutup telfon itu dan menangis.


ditempat Kara, Reno merasa heran karena Kara tiba tiba terdiam.


"Kara ada apa?" tanya Reno, Kara melihat kearah Reno.


"itu Nadia, Nadia yang mengangkat telfon nya." saut Kara, Reno terkejut.


"tidak mungkin Kara, pasti kamu salah." ucap Reno.

__ADS_1


"tidak, jika bukan Nadia aku tidak akan merasa seperti ini!" saut Kara, Reno mencoba menenangkan Kara.


Nadia masih menangis dan gemetar saat mendengar suara Kara, suara yang dia rindukan selama ini, lalu Vano keluar dari kamar mandi dan melihat Nadia menangis.


"Nadia ada apa?" tanya Vano, Nadia menghapus air matanya.


"dia.. itu.." ucap Nadia gagap, Vano memberikan minum pada Nadia.


"minumlah, siapa yang telfon?" tanya Vano, Nadia menoleh.


"Kara, Kara yang menelfon." saut Nadia, Vano terkejut.


"bagaimana bisa, itu tidak mungkin!" saut Vano melihat hp nya.


"jika itu bukan Kara, aku tidak akan merasa seperti ini." ucap Nadia, Vano menatap wajah Nadia.


Nadia lalu pergi kekamarnya, Nadia mengambil foto Kara dan memandangnya. Nadia menangis dengan itu.


"Kara, apa itu kamu, jika memang itu kamu, aku ingin menghubungimu lagi, aku ingin mengatakan kalau aku sangat merindukan kamu." ucap Nadia, tapi sesaat terlintas dipikiran Nadia saat Kara berkata kasar dan juga melihat Kara tidur dengan seorang wanita disebuah hotel.


"kamu menyakitiku Kara, kenapa waktu itu kamu lakukan itu padaku, hiks.. hiks..." ucap Nadia lagi dengan menangis.


ditempat Kara ia sedang memikirkan suara Nadia yang ada ditelfon, Kara melihat foto Nadia dilaci mejanya. Kara tersenyum tapi kemudian senyum itu menghilang ketika Kara mengingat Nadia pergi dari rumah dan melihat Nadia bersama Vano.


"apa kamu membenciku, aku seharusnya mendengarkanmu agar kamu mau mendengarkanku. jika itu terjadi aku tidak akan kehilangan kamu seperti ini." gumam Kara.


Kara berhasil menelfon Vano, mereka berdebat satu sama lain ditelfon. Kara menantang Vano untuk mengambil usahanya dengan tangannya sendiri, Vano pun setuju tapi persetujuan itu akan membuat takdir Nadia dan Kara bertemu satu sama lain.


"apa kembali ke jakarta." ucap Nadia terkejut.


"iya Nad, aku tidak bisa hasil usahaku direbut begitu saja." saut Vano, Nadia memikirkan 6 tahun lalu ia telah meninggalkan kenangannya dikota itu, bukan hanya kenangan bahkan keluarganya juga.


"Nad, aku minta maaf. jika kamu tidak mau pergi, tidak masalah aku akan pergi sendiri." ucap Vano lagi.


"aku akan ikut, Naira akan membutuhkanmu jika dia jauh darimu." saut Nadia, Vano tersenyum.


"kapan kita pergi?" tanya Nadia, Vano melihat hpnya.


"lusa, kita urus dulu surat pindah Naira dan pekerjaan mu." saut Vano, Nadia mengangguk. Nadia masih sangat khawatir, entah apa yang dia khawatirkan.


"papa kenapa mama takut pergi ke jakarta?" tanya Naira, Vano menggendongnya.


"benarkah?" tanya Vano, Naira dengan lucu tampak berpikir.


"mungkin mama menyuntik seseorang disana, sehingga orang itu marah. karena itu mama takut, untuk pergi." jawab Naira, Vano tertawa.

__ADS_1


"kau ini sangat suka meledek mama mu ya..." ucap Vano menggelitiki perut Naira, Naira tertawa.


Di dalam ruangan, Nadia menangis bahwa ia telah mengubur rasa sakit ini, air mata ini selama enam tahun terakhir. ia telah lari dari dirinya sendiri. ia bertanya-tanya mengapa ia sangat merindukan Kara selama beberapa hari ini.


__ADS_2