
waktu berjalan begitu cepat hari pertunangan Kara dan Nadia akan dilakukan besok, bahkan selama 2 hari terakhir mereka tidak bertemu, terkahir bertemu hanya pada saat makan malam bersama keluarga.
Nadia sedang memeriksa semua pasien yang harus ia periksa, setelah selesai ia kembali kedalam ruangannya dan merenggangkan semua otot otot tangannya yang sedikit pegal. Nadia sempat berpikir ia tidak menyangka kalau acara pertunangan itu dilakukan besok, dan setelah itu dia akan menjadi istri dari seorang Kara.
Nadia selalu memimpikan menikah dengan perasaan saling mencintai, bukan perasaan seperti ini.
"aku tahu apa yang kamu rasakan!" ucap seseorang tiba tiba, Nadia melihat kearah pintu dan sudah berdiri Nita disana.
"haii Nit, kenapa datang?" tanya Nadia berusaha tersenyum.
"besok pertunanganmu, apa kamu siap?" Nadia hanya tersenyum dan mengangguk.
"bukan kah aku sahabatmu, apa kau tidak mau cerita." Nadia mulai terisak, Nita pun menghampiri nya.
"aku.. tidak tahu.. Nit.. " hanya itu yang dikatakan Nadia,
kejadian sesudah makan malam...
Kara dan Nadia berada dalam satu mobil, kedua orang tua itu sudah sepakat untuk membuat mereka semakin dekat. bukannya semakin dekat mereka malah semakin menjauh dan saling membenci, selama didalam mobil Nadia hanya diam memandang gelang yang diberikan Febriyan, Kara memperhatikan itu.
"aku akan membuat surat kontrak nikah setelah kita bertunangan!" ucap Kara tiba tiba, Nadia pun menoleh kearah Kara.
"apa maksudmu?" Kara menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
"setelah kita bertunangan dan menikah kau dan aku akan menandatangi surat kontrak yang akan berjalan 1 tahun saja, setelah itu kita akan bercerai dengan berbagai alasan." ucap Kara dengan angkuh.
tega sekali kau Kara, kau memang tidak punya hati, kau mempermainkan sebuah pernikahan, aku sangat membencimu.
"katakan isi kontak itu?" jawab singkat Nadia.
"pertama, setelah pernikahan kau akan mendapat gelar sebagai seorang istri dari Kara dan menjadi nyonya Kara.
kedua, kau bebas melakukan apapun, seperti belanja, kesalon atau apapun itu, aku akan memberikan mu kartu hitam tanpa batas limit, kau bebas menggunakan itu.
ketiga, kita tidak perlu menjadi seorang pasutri layaknya pasutri lain, kau hanya akan aku ijinkan untuk melayaniku dengan hal hal normal saja.
keempat, jangan pernah mengharapkan cinta dariku, karena aku tidak akan mencintaimu. jadilah menantu yang baik, tidak perlu menjadi istri yang baik untukku.
__ADS_1
semua itu berlaku sampai 1 tahun kita menikah, setelah bercerai kau bebas melakukan apapun." tegas Kara, Nadia hanya memandang wajah Kara yang serius mengatakan semua itu.
kau tidak layak dicintai..
"aku terima, buat saja kontrak itu akan aku tanda tangani setelah acara pertunangan." jawa Nadia, Kara pun melajukan mobilnya mengantar Nadia pulang.
Off...
Nita terkejut dengan apa yang diceritakan Nadia, ia tidak menyangka Kara melakukan semua itu dengan tega.
"lebih baik aku tidak menikah Nit, tapi orang tuaku berpikir aku akan bahagia bersama keluarga itu. aku juga berpikir aku hanya bahagia dengan mereka, bukan dengan Kara." ucap Nadia
"Nad aku tidak tahu harus bilang apa, tidak ada yang bisa melawan takdir, bertahan atau tidak hanya diri kita yang bisa melakukannya, apa kau mengerti maksud ku?" Nadia mengangguk dan tersenyum kearah Nita.
"tidak, Kara tidak akan mendapatkan apapun dari ku, tidak cintaku, tidak juga diriku, dia tidak pantas!" Nita pun hanya menggelengkan kepala.
"oh iya kamu mau ngapain, kamu lagi luang? " ucap Nadia lagi mengalihkan pembicaraan.
"aku libur, jadi aku kerumahmu dan ternyata tante bilang kau ada disini, jadi aku kesini deh!" Nadia pun hanya beroh saja.
sore hari pun tiba, Nadia membersihkan diri dan siap untuk pulang. saat Nadia berkemas untuk pulang, Nadia mendengar keributan dari luar ruangannya. dengan cepat Nadia berkemas dan keluar dari ruangannya, setelah keluar terlihat para perawat membicarakan sesuatu dengan bisik bisik.
"haduh, kemarin dia kesini karena sakit, sekarang dia mau jemput seseorang loh! siapa ya.." ucap perawat itu terdengar oleh Nadia.
Nadia berpikir siapa yang mereka kagumi sampai seperti itu, Nadia terus berjalan menuju pintu keluar. saat Nadia berjalan matanya tertuju kearah ruang tunggu rumah sakit, seseorang yang Nadia kenali sedang duduk dengan menawan disana.
"lama sekali!" ucap orang itu.
"Kara, apa yang kamu lakukan disini?" ucap Nadia, ya orang itu adalah Kara.
Kara melangkah mendekat kearah Nadia, Nadia merasa malu karena mereka menjadi pusat perhatian semua perawat disana.
"buat jemput kamu calon istriku!" Nadia terkejut dengan perkataan Kara, karena semua perawat merasa terkejut dan saling membisik.
"a..apa yang kamu katakan!" Nadia mendorong tubuh Kara kebelakang, Kara pun tersenyum.
"ayo ikut aku, mama dan tante Sabilah sudah menunggu!" Kara melangkahkan kakinya keluar dan Nadia mengikuti langkah itu.
__ADS_1
"menunggu?, menunggu apa?" Kara menghentikan langkah kakinya dan mulai melihat Nadia.
"mereka menunggu kita di mall, mereka mengajak kita kesana untuk membeli yang dibutuhkan acara besok!" Nadia pun mengangguk.
"tapi aku bawa mobil!" ucap Nadia Kara pun tidak memperdulikan.
"berikan kunci mobilmu!"
"untuk apa?"
"(menghela nafas) kenapa kau lambat sekali! berikan saja, kita akan kesana menggunakan mobilmu, tadi aku menggunakan supir kesini!" Nadia pun memberikan kunci mobil itu, mereka pun melaju menuju mall yang dituju.
setelah beberapa menit mereka sampai di mall, Kara mencari cari keberadaan dua ibu tersebut. ternyata kedua ibu itu sedang berada ditoko perhiasan dan memilih cincin untuk mereka.
"ma..." ucap Kara, kedua ibu itu tersenyum ketika melihat Kara dan Nadia bersama.
"kemarilah sayang, kami memilihkan kalian cincin untuk acara pertunangan besok, coba kalian lihat." ucap ibu Kumala.
untuk apa memilih cincin untuknya. cincin pertunangan itu tanda cinta dan kami tidak ada cinta diantara kami, bahkan dia tidak pantas mendapatkan cinta**.
"Nad kenapa melamun?" Nadia tersadar dari lamunannya dan mulai melihat cincin cincin itu.
"Kara pilih cincin yang cocok untuk Nadia!" ucap ibu Kumala, Kara pun mengiyakan.
"ini!" Kara menunjuk cincin berlian yang cantik dan cocok untuk Nadia.
"wahh ini cocok sekali untuk Nadia, Nadia pilih cincin untuk Kara!" Nadia pun menunjuk cincin untuk Kara.
"wah ini juga cocok, pilihan kalian selalu tepat!" kedua ibu itu memberikan cincin itu kepada kasir dan membayarnya.
Kara dan Nadia hanya saling acuh saat berjalan mendahului kedua ibu itu, ibu Sabilah melihatnya dan mulai khawatir jika mereka menikah. tapi ibu Kumala mengatakan bahwa ia yakin kalau hubungan mereka akan sukses, Nadia akan mendapatkan cinta dari Kara dan begitu juga sebaliknya, ibu Sabilah pun mengiyakan itu dan mendoakan mereka.
***
jangan bosen ya...
jangan lupa like dan komen kalian😍
__ADS_1