
keesokan paginya Vano pulang kerumahnya, ia merasa lelah karena berada didalam kantor seharian. Vano duduk disofa, Vano teringat seseorang yang mengangkat telfon.
"halo!" "halo"
Vano merasakan tidak asing pada suara itu, saat sedang melamun Risa datang memberikan air untuk Vano. Vano pun terkejut, Risa tersenyum kearah nya.
"minumlah, kau pasti lelah!" ucap Risa, Vano pun menerima air itu.
"hm.. iya, terima kasih. kapan kau bangun?" ucap Vano, Risa pun duduk disampingnya.
"dari subuh, oh iya saudariku kemari dia ingin bertemu denganmu kemarin!"
"saudari?" tanya Vano karena bingung pasalnya Risa pergi dari rumah tapi bertemu saudarinya.
"eh, aku belum cerita. kemarin aku bertemu dengannya tanpa sengaja, aku menceritakan tentangmu. terus aku membawanya kesini tapi kamu malah lembur." jelas Risa, Vano pun tersenyum.
"jadi yang mengangkat telfon?"
"iya dia, eh aku sudah buat sarapan mari makan." Vano pun mengangguk, saat hendak melangkah Vano melihat bunga asing yang ada dimeja. Vano mengambil bunga itu dan terlintas diingatannya, ia selalu memberikan bunga yang sama pada Nadia, karena itu bunga favorit Nadia.
"hm.. itu saudariku yang memasang, tidak apa kan?" tanya Risa, Vano tersenyum.
"iya tidak apa, aku teringat dulu bunga ini aku selalu memberikannya pada kekasihku." ucap Vano.
"istrimu?" tanya Risa, Vano menggelengkan kepala.
"bukan, dia kekasihku saat kuliah. hanya dia yang aku cintai mungkin sampai saat ini." Risa melihat wajah kesedihan pada Vano.
"kemana dia?" tanya Risa lagi.
"disini." singkat Vano.
"apa kau meninggalkannya karena kamu menikah, atau sebaliknya?" tanya Risa, Vano tersenyum.
"benar yang kau katakan, aku meninggalkan nya. pada akhirnya dia menikah dengan seseorang dan rasanya itu sakit sekali, mungkin itulah yang dia rasakan dulu saat tahu aku menikah dengan orang lain." jelas Vano, Risa pun memegang pundak Vano.
"tenanglah, kau bisa mencari orang yang lebih baik lagi, hm.." ucap Risa tersenyum, Vano pun juga melempar senyum.
****
disaat yang bersamaan Nadia terbangun terlebih dulu dari pada Kara, Nadia terkejut saat Kara tidur diatas sofa. alarm yang dipasang Kara berbunyi, Kara terbangun dan melihat Nadia yang mematikan alarm.
"kenapa kau tidur di sofa?" tanya Nadia, Kara bingung menjawab apa.
"hm.. aku tidak bisa tidur dengan lampu menyala, karena itu aku tidur di sofa." ucap Kara membuat alasan.
"Kara kenapa kau tidur di sofa?" tanya Nadia lagi karena tidak puas dengan jawaban Lara, Kara menjadi bingung sendiri.
"ya.. itu Nadia, aku akan kekamar mandi dulu." ucap Kara lalu masuk kedalam kamar mandi, Nadia menatap kepergian Kara dengan sejuta pertanyaan.
"ada apa Kara, kenapa kau berubah." gumam Nadia, ia pun berdiri merapikan tempat tidurnya. beberapa menit kemudian Kara keluar dari kamar mandi,
"pergilah mandi." ucap Kara, Nadia pun mengiyakan.
Nadia masuk kamar mandi, tapi meninggalkan handuk tanpa sengaja di luar, Nadia dengan rambutnya yang basah memanggil Kara untuk memberikan handuk.
"Kara handuknya, aku lupa!" teriak Nadia, Kara memberikan handuk, tapi Nadia menarik Kara dan mendorongnya ke dinding . Kara terpesona dengan Nadia, ia pun tersenyum.
"kenakalan apa ini?" tanya Kara, Nadia mengalungkan tangannya pada leher Kara.
"aku hanya melakukan ini padamu, jika bukan nakal padamu, lalu pada siapa?" Kara tersenyum, Nadia pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"pergilah, aku akan terlambat kekantor." Kara melangkah pergi tapi Nadia memegang tangannya.
"tidak, kemarilah." Nadia terus menggoda Kara didalam kamar mandi. sampai akhirnya suara ibu Kumala memanggil Nadia.
"Nadia.. kamu dimana?" Nadia menutup mulut Kara.
"Nadia dikamar mandi ma, nanti Nadia turun." jawab Nadia, Kara hanya pasrah.
"mama pinjam penjepit bulu mata kamu."
"iya ma ambil aja, ada dimeja rias"
Nadia mengangkat tangan untuk menyentuh wajah Kara, dan kemudian bibirnya. Kara kaget namun dia kalah oleh sentuhan Nadia dan Nadia tersenyum melihat Kara menikmati saat dia menyentuh bibirnya. Kara menutup matanya, Kara dan Nadia lebih dekat untuk berciuman, tetapi suara pak Wijaya mengejutkan mereka.
"Kara dimana kamu, klien mu sudah datang." ucap pak Wijaya.
"iya pa, Kara turun sebentar lagi." ucap Kara, Nadia menyandar pada dada Kara.
saat pak Wijaya ingin pergi ia berpapasan dengan ibu Kumala.
"apa yang kau lakukan?" tanya pak Wijaya.
"aku ingin menemui Nadia!" jawab ibu Kumala.
"dia tidak ada, hanya ada Kara." ucap pak Wijaya lagi.
"kau ini, aku baru saja kesana, Nadia ada dikamar mandi." ketus ibu Kumala.
"kenapa kau tidak percaya, aku juga habis dari sana dan hanya ada Kara dikamar mandi." jelas pak Wijaya,
mereka pun saling memandang, tiba tiba mereka menyadari sesuatu.
"tunggu tunggu, jika kamu mendengar Kara dan aku mendengar Nadia, itu artinya..."
"kita dibodohi mereka!" ucap pak Wijaya menuju kamar Kara, ibu Kumala mengikuti pak Wijaya.
" Nadia aku sudah selesai, aku akan kembalikan."
"Kara aku menyuruh klien kita kembali nanti kau temui dia dikantormu."
pak Wijaya dan ibu Kumala sengaja mengatakan itu bersamaan, agar Nadia dan Kara menjawab.
"iya ma!"
"iya pa!"
ucap Nadia dan Kara bersamaan, mereka pun tersadar dan perlahan keluar dari kamar mandi. mereka merasa malu saat melihat kedua orang tua itu, Nadia tersenyum Kara pergi dari sana. ibu Kumala dan pak Wijaya tertawa, Nadia hanya tersenyum.
didalam mobil Kara memikirkan tentang Nadia, ia merasa pusing memikirkan semua itu.
"aku minta maaf Nadia. aku tahu jarak ini mengganggumu, tapii aku juga terpaksa melakukan ini. tapi aku juga tidak bisa katakan padamu." ucap Kara,.
Di sisi lain, Nadia memutuskan untuk berbicara dengan ibu Kumala mengenai Kara , tapi Nadia melihat ibu Kumala sedang menonton tv melihat acara di mana seorang menantu berbicara tentang masalah suaminya pada ibu mertuanya.
"ma.."
"sstt, ini sangat seru Nadia." ucap ibu Kumala, Nadia pun diam memperhatikan tv.
(acara tv)
"**saya merasa dia menjauhiku akhir akhir ini bu, apa yang terjadi padanya?"
__ADS_1
"saya pikir itu karena dia tidak mencintaimu lagi, karena itu putraku menjauhi mu."
Nadia mulai berpikir bahwa Kara tidak mencintainya lagi dan kenapa Kara tidak mengatakan itu malah menjauhinya .
"apa kah aku membuat kesalahan?" tanya Nadia, ibu Kumala mendengar itu.
"apa ada masalah?" ucap ibu Kumala, Nadia hanya diam.
Nadia memutuskan untuk bicara pada Kara nanti malam, ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Kara.
waktu berlalu begitu cepat, malam pun tiba terlihat Kara datang bukannya masuk kedalam kamar Kara malah duduk diruang tamu. ibu Kumala menghampiri Kara, Kara tersenyum.
"apa yang kau lakukan disini, Nadia menunggumu." ucap ibu Kumala.
"iya ma.. Kara hanya lelah karena itu duduk disini." saut Kara
setelah beberapa menit Kara masuk dalam kamarnya, terlihat Nadia tidur dengan nyenyak. Kara duduk disamping Nadia dan memainkan hp nya, Nadia terbangun saat merasakan kahadiaran Kara.
"kau butuh sesuatu?" ucap Nadia, Kara menggelengkan kepala.
Nadia menatap Kara, Kara menyadari Nadia menatapnya sedari tadi ia pun melihat ke arah Nadia.
"kenapa kau menatap ku?" tanya Kara.
"aku menunggumu selesai, lalu mari kita tidur." jawab Nadia.
"tidurlah terlebih dulu." saut Kara, Nadia menyentuh tangan Kara.
"tidurlah, oke." ucap Kara mencium kening Nadia, Nadia menurut dan ia mulai tidur.
saat Nadia tidur, Kara pindah ke sofa untuk tidur. Nadia yang belum sepenuhnya tidur melihat Kara yang berpindah tempat, Kara terkejut melihat Nadia masih terbangun. Nadia terlihat sangat kecewa dengan perilaku Kara.
"kau belum tidur?" tanya Kara,
"bagaimana aku akan tidur, jika perlakuanmu padaku seperti ini!" Kara hanya terdiam.
"Mengapa kamu mencoba untuk menjauh dariku sejak aku sembuh kamu telah berubah Kara, apa yang terjadi, apa aku membuat kesalahan?" tanya Nadia,
"tidak, bukan itu." jawab Kara, Nadia meneteskan air mata.
"maka berjanjilah, untuk tidak menjauhi ku." Kara malah terdiam tidak menjawab permintaan Nadia.
"maka itu benar, kamu ingin menjauh dariku. Ok mulai hari ini aku tidak akan mendekatimu. kamu selalu membuktikan bahwa kamu mencintaiku, tapi sekarang kamu mencari alasan untuk menjauh dariku!" jelas Nadia, Kara merasa sedih.
"maafkan aku, aku tahu kamu sangat marah tapi percayalah ini juga tidak mudah bagiku." ucap Kara, Nadia mendekat ke arah Kara.
"lalu kenapa kau menjauhi ku, apa kau sudah tidak mencintaiku Kara?" tanya Nadia.
"bukan seperti itu, kamu tidak tahu Nadia, ini sulit bagiku." Nadia semakin bingung dengan perkataan Kara.
"apa ada suami menjauhi istrinya, pasti ada sebab kenapa suami menjauhi istrinya, atau mungkin suami itu punya wanita lain?" Kara terkejut dengan perkataan Nadia.
"apakah itu yang membuat kamu menjauhiku?" tanya Nadia lagi.
"iya, aku ingin menjauhi mu karena itu."
plak!!
satu tamparan mendarat di pipi Kara, Kara hanya diam memegangi pipinya. Nadia tidak percaya dengan perkataan Kara, Nadia memegang tangan Kara.
"Kara.. katakan,.. itu tidak benar kan.. katakan itu..." ucap Nadia mulai menangis.
__ADS_1
"itu benar, aku memiliki wanita lain!" Nadia benar benar kecewa mendengar perkataan Kara, Nadia melepas tangan Kara.
"Kara... hiks.. kenapa kau lakukan ini... aku sedang hamil anakmu Kara..." Nadia terus menangis, Kara menjadi sedih dengan itu. Kara pergi tanpa mengatakan apapun, Nadia terus menangis.