
keesokan harinya Nadia terbangun saat merasakan pelukan seseorang dari belakang, Nadia membalikkan tubuhnya dan melihat Kara tidur dengan damai. Nadia memainkan pipi Kara, ia berpikir Kara tidur sangat imut. Nadia ingin pergi ke kamar mandi, ia mencoba menarik selimut tapi ditarik oleh Kara hingga Nadia berada didalam pelukan Kara.
"Kara lepaskan aku, aku akan membersihkan tubuhku." ucap Nadia memegang pipi Kara, bukannya melepaskan Kara semakin mengeratkan pelukannya.
"hm... biarkan seperti ini, tubuhmu sangat hangat." ucap Kara,
"ini sudah jam 9, ayo bangun." ucap Nadia. ia merasa risih dengan pelukan Kara ia menggigit pipi Kara hingga Kara terkejut dan membuka mata.
"shh.. apa yang kau lakukan?" tanya Kara, Nadia tertawa. karena kesal Kara menindih tubuh Nadia, Nadia menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kara apa yang kau lakukan, aku akan memukulmu." ucap Nadia, Kara tersenyum dan mendekat ketelinga Nadia.
"lalu apa yang harus kulakukan?" bisik Kara, wajah Nadia memerah merasakan nafas Kara yang panas.
"Kara... lepaskan..." rengek Nadia terlihat sedih, Kara tersenyum dan mencium Nadia.
"baiklah, oke mandilah." ucap Kara duduk, Nadia lega dan segera membungkus tubuhnya dengan selimut, Kara gemas melihat tingkah Nadia ia pun menggendong tubuh Nadia.
"Kara apa yang kamu lakukan?"teriak Nadia, Kara menggendong tubuh Nadia menuju kamar mandi.
"bukankah kamu ingin mandi, kita akan mandi bersama." ucap Kara, Nadia akhirnya menyerah membiarkan Kara melakukan apa yang dia mau.
Kara dan Nadia menuju restoran hotel tersebut untuk sarapan, Kara tersenyum melihat Nadia yang terlihat kesal.
"Kara sialan, punggungku sangat sakit sekarang" gumam Nadia, Kara menahan tawa mendengar itu.
"hei tuan, tertawalah. nanti kamu kentut jika tidak tertawa." ketus Nadia, Kara langsung tertawa. dibalik itu Kara sangat senang Nadia seperti itu, Kara merindukan Nadia yang seperti itu.
"sudah sudah, mari kita makan." Kara melihat daftar menu, Nadia mencoba memanggil pelayan.
"(bahasa inggris) permisi tuan, apakah anda tuan Kara dan nyonya Nadia?" ucap seorang pelayan,
"(bahasa inggris) ada apa, iya saya Kara." ucap Kara, Nadia tampak bingung.
"(bahasa inggris) tuan kami sudah menyiapkan tempat yang spesial untuk kalian, tolong ikuti saya." ucap pelayan itu, Kara dan Nadia bingung, mereka mengikuti pelayan itu.
"apa kau yang pesan?" bisik Kara, Nadia menggelengkan kepala.
pelayan restoran itu membawa Kara dan Nadia pada sebuah meja yang sudah tersedia beberapa menu makanan, Nadia takjub dengan itu.
__ADS_1
"(bahasa inggris) ini adalah meja khusus untuk kalian!" ucap pelayan itu tersenyum, Kara merasa heran.
"(bahasa inggris) dalam rangka apa kalian melakukan ini untuk kami?" tanya Kara, pelayan itu tersenyum.
"(bahasa inggris) kalian tamu spesial kami, dan ini diperintakan oleh tuan kami." saut pelayan itu, belum Kara bertanya lagi Nadia memukul pundak Kara.
"kenapa kamu banyak bertanya, biarkan saja. mari makan, mungkin ini gratis." ucap Nadia tersenyum, Kara menatap Nadia.
"(bahasa inggris) bisakah aku bertemu dengan manajer kalian?" pelayan itu mengangguk, Kara melangkah untuk bertemu manajer. saat sampai Kara tidak menemui manajer karena mereka bilang manajer itu sibuk, Kara memutuskan kembali ketempat Nadia.
"kamu bertemu dengannya?" tanya Nadia, Kara menggelengkan kepala.
"jangan disini, kita pilih tempat lain saja." ucap Kara menggandeng Nadia, Nadia menghentikan Kara.
"Kara semua ini gratis, sayang jika kita tidak memakannya," ucap Nadia.
"kenapa kamu suka barang gratis?" ucap Kara melipat kedua tangannya, Nadia tersenyum.
"aku pikir, jika seseorang melakukan hal baik kenapa kita harus menolaknya, benarkan?" Kara akhirnya mengiyakan permintaan Nadia dan mulai makan.
saat sedang makan Kara mendapat telfon dari Reno, Kara berpamit pergi pada Nadia untuk mengangkat telfon. tanpa Nadia sadari seseorang sedang melihatnya dari jauh, orang itu tersenyum melihat keadaan Nadia yang menjadi lebih baik. Kara sedang asik menelfon melihat seseorang yang berusaha memperhatikan Nadia, Kara mendekati orang itu. tetapi Kara menabrak seseorang, hingga orang itu mendengar suara Kara dan pergi. Kara mencari cari orang itu tapi tidak ketemu.
"tenang, aku akan kirim orang kesana."
Kara mengiyakan lalu menutup telfon itu, Kara kembali duduk dengan Nadia.
***
ditempat lain Risa sedang berbincang dengan Febriyan di sore hari, dengan menemani Bagas bermain.
"mas, aku harap Nadia bisa kembali seperti dulu dan melupakan semuanya." ucap Risa memegang perutnya, Febriyan tersenyum.
"iya, amin. aku juga percaya Kara bisa membuat Nadia melupakan semua itu, dukungan Kara menguatkan Nadia." saut Febriyan, Risa mengangguk tersenyum.
"papa, nanti dedeknya laki laki atau perempuan?" tanya Bagas, Risa dan Febriyan tertawa.
"memangnya Bagas pengen apa?" tanya Risa, Bagas tampak berpikir.
"Bagas mau perempuan yang cantik!" ucap Bagas lalu memegang perut Risa yang sedikit membuncit.
__ADS_1
"nanti dedeknya diberi nama apa?" tanya Risa, Bagas tampak berpikir lagi. membuat Febriyan tertawa geli melihat tingkah Bagas.
"apa ya..." ucap Bagas, Bagas menggambar sesuatu diperut Risa.
"nanti saja, Bagas akan tanya bunda." saut Bagas lagi, Risa tersenyum dengan itu. Bagas melanjutkan aktivitasnya, Febriyan duduk disebelah Risa dan memegang perut Risa.
"sehat terus disana ya, doa kan tante Nadia juga ya agar kamu punya teman nanti." ucap Febriyan, Risa tersenyum mengusap rambut Febriyan.
***
Kara dan Nadia masih berada dalam restoran, Kara masih terpikir siapa yang memperhatikan Nadia dari jauh. Nadia berada di samping pintu keluar menunggu Kara, Nadia melihat pantulan bayangannya pada pintu kaca disana, Nadia merasakan kehadiran Vano yang sedang bicara dengan seseorang. Nadia melihat kearah belakangnya, tapi tidak melihat keberadaan Vano. Nadia mencoba mencari keberadaan Vano, tapi langkahmya terhenti ketika Kara memanggilnya.
"ada apa?" tanya Kara, Nadia menggelengkan kepala. mereka pun pergi dari sana, Nadia masih merasakan keberadaan Vano. Vano bersembunyi dibalik tembok agar Nadia atau pun tidak melihatnya, setelah mereka pergi Vano keluar dan menatap mereka berdua, Vano tersenyum.
"(bahasa inggris) tuan, anda oke?" ucap seorang manajer, Vano mengangguk.
"aku hanya ingin kalian bahagia, aku melakukan semua ini untuk memperbaiki kesalahanku pada Nadia." gumam Vano.
***
Kara membawa Nadia untuk berkeliling, didalam mobil Nadia memikirkan saat melihat Vano. Kara memperhatikan Nadia yang mulai diam lagi, Kara berpikir Nadia memikirkan bayinya lagi.
"Nadia, jangan memikirkan lagi. ingat perkataan kita semalam!" ucap Kara, Nadia tersentak lalu melihat kearah Kara.
"bukan itu yang aku pikirkan, aku memikirkan hal lain." saut Nadia,
"apa yang sedang kamu pikirkan, hm..?" tanya Kara lagi.
"aku memikirkan, tadi sepertinya aku melihat Vano. tapi saat aku mencoba melihat dengan jelas, ternyata tidak ada!" jawab Nadia, Kara langsing menatap Nadia.
"kenapa dia harus disini?" saut Kara, Nadia mengangkat kedua bahunya.
"apa kau terus memikirkan Vano, hingga berhalusinasi dia?" tanya Kara, Nadia langsung menatap tajam Kara.
"tentu saja tidak!" saut Nadia cepat, Kara diam.
"apa suamiku ini, sedang cemburu?" ucap Nadia menggoda Kara, Kara membuang mukanya.
"enak saja, mana ada cemburu!" saut Kara, Nadia tertawa lalu mencium pipi Kara sekilas.
__ADS_1
"aku senang jika kamu cemburu, asalkan cemburu itu tidak berlebihan dan membuat hal buruk." ucap Nadia tersenyum, Kara pun tersenyum dan memegang tangan Nadia.