My Love Story 2

My Love Story 2
59. harus sehat


__ADS_3

keesokan hari nya Risa menemani Febriyan yang masih terbaring, Risa meminta pada ibu Kumala untuk pulang dan istirahat dengan membawa Bagas.


setelah kepergian ibu Kumala, Risa melihat Febriyan dan menangis. Risa menyesali semuanya, seharusnya dirinya berhenti ketika Febriyan memanggilnya. Risa menangis memegang tangan Febriyan.


"mas Riyan.. bangunlah... ini aku lihatlah, aku sedang hamil..." ucap Risa, sesaat Risa teringat pada Vano, kalau dirinya belum memberitahukan Vano tentang semua ini, Risa pun menelfon Vano.


"halo, Vano?"


"Risa kamu dimana?" suara Vano terdengar khawatir.


"aku ada dirumah sakit, Van."


"apa yang terjadi padamu, kenapa tidak menelfonku,"


"aku tidak apa, suamiku kecelakaan, ceritanya panjang Vano." ucap Risa menahan air matanya.


"oke siang nanti aku akan kesana, aku masih ada rapat."


"iya Vano, terima kasih." Risa menutup telfon nya, saat Risa berdiri ia merasakan Febriyan menggenggam tangannya. Risa terkejut ketika Febriyan membuka mata sedikit demi sedikit.


"mas Riyan?" ucap Risa tersenyum, Febriyan melihat Risa dengan jelas.


"Risa..." ucap Febriyan, Risa sangat bahagia ia mencium tangan Febriyan.


"iya ini aku mas..." ucap Risa, Febriyan tersenyum. saat Risa hendak memanggil dokter, Febriyan mencegahnya.


"aku.. tidak butu dokter, aku hanya ingin kamu..." Risa tersenyum mendengar perkataan Febriyan.


"maafkan aku, seharusnya waktu itu aku berhenti dan tidak membuatmu sampai seperti ini, tanganmu harus sampai patah tulang begini hiks..." Risa menangis, Febriyan perlahan menghapus air mata Risa.


"kan ada tanganmu, tanganmu yang akan menggantikan tanganku yang sakit." ucap Febriyan tersenyum, Risa memeluk Febriyan.


"terima kasih, aku sangat bahagia.." ucap Risa, Febriyan tersenyum.


***


Nadia terbangun dipagi hari, terlihat Kara tidur nyenyak disampingnya. Nadia masuk dalam kamar mandi, lagi lagi dia tidak membawa handuk sampai harus memakai kemeja Kara. perlahan Nadia keluar dari kamar mandi memakai kemeja Kara, Kara terbangun melihat Nadia yang mengendap endap. saat Nadia melihat Kara, Kara berpura pura tidur. Nadia mengambil bajunya dan handuk, lalu dengan cepat kembali kekamar mandi.


pada saat berlari kakinya tergelimcir oleh air yang menetes dari tubuhnya, dengan cepat Kara menangkap tubuh Nadia. mereka pun saling memandang, sampai pada akhirnya Kara menyentil dahi Nadia.


"ceroboh!" ucap Kara menyentil dahi Nadia.


"aukh.. sakit Kara, aku tidak bawa handuk tadi." saut Nadia, Kara memperhatikan tubuh Nadia yang memakai kemejanya.


"itu kemjaku kan, berikan padaku." Nadia memeluk tubuhnya dan menggelengkan kepala.


"hei aku pinjam dulu, aku akan berganti pakaian" ucap Nadia lalu dengan cepat masuk kedalam kamar mandi, Kara tersenyum.

__ADS_1


"sabar Kara, kuatkan dirimu." gumam Kara memegang dadanya.


Nadia sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit mengunjungi Febriyan, Kara pun keluar dari kamar mandi, ia melihat Nadia sedang berada dihadapan cermin. Kara menghampiri Nadia


"wah, cantik." ucap Kara, Nadia tersenyum meledek, Kara mengacak rambut Nadia.


"tentu saja, aku istrimu!" ucap Nadia, Kara tersenyum


beberapa jam kemudian mereka sampai dirumah sakit, Nadia dan Kara menuju keruangan Febriyan. Kara terkejut saat melihat Risa berada disana, sedang menyuapi Febriyan makan. Risa juga terkejut dengan kedatangan Kara, Nadia memeluk Risa.


"bagaimana keadaanmu?" tanya Kara, Febriyan tersenyum.


"baik, sepertinya kalian sudah baikan!" jawab Febriyan, Nadia tersenyum.


"apa kabarmu?" tanya Kara pada Risa, Nadia sempat terkejut karena Kara bicara dengan Risa.


"hm.. baik Kara, bagaimana denganmu?" jawab Risa, Kara hanya mengangguk.


"terima kasih, dokter bilang kau yang menolongku." ucap Febriyan, Nadia tersenyum.


"semua dokter pasti melakukan itu." ucap Nadia, Kara berpamit keluar karena harus mengangkat telfon.


"oh iya mas, nanti orang yang nolong aku bakalan kesini." ucap Risa, Nadia terdiam karena berpikir itu pasti Vano


"oh iya, aku harus berterima kasih telah menolongmu." ucap Febriyan. Risa tersenyum, lain halnya dengan Nadia yang terdiam.


"Kara..." ucap Nadia terhenti ketika melihat siapa yang datang,


"Vano?" ucap Nadia, terkejut melihat Vano.


"oh hai, apa ini ruangan suami Risa?" belum Nadia menjawab Kara dan Risa datang secara bersamaan.


"siapa?" ucap Risa, Vano pun menoleh karena mendengar suara Risa. Kara terkejut melihat Vano, begitu juga dengan Vano yang terkejut melihat Kara.


"Vano, kapan datang?" tanya Risa, Vano tersenyum ke arah Risa.


"baru saja." singkat Vano, Risa mempersilahkan Vano masuk bertemu Febriyan.


"om ini Vano. Vano ini yang udah nolong Risa waktu pergi kemarin, dia udah bantu Risa banyak." ucap Risa, Vano menyalami pak Wijaya dan Febriyan.


"dan Vano ini suamiku Febriyan, mas ini Vano." Febriyan tersenyum.


"terima kasih, kau telah menolong istriku selama dia membutuhkan." ucap Febriyan.


"tidak masalah, sesama manusia kita berhak untuk membantu sama lain." ucap Vano, mereka semua tersenyum.


"papa kayak pernah bertemu dengannya Kara?" bisik pak Wijaya pada Kara, ia melihat Vano yang berbincang dengan Febriyan tampak tidak asing.

__ADS_1


"dia temen Kara pa, dulu saat bisnis." saut Kara singkat.


"oh iya, tuan Alatas ya.." Kara mengangguk, pak Wijaya hanya ber oh.


Kara terus melihat kearah Vano yang merasa tidak senang, Nadia memperhatikan suasana wajah Kara. Nadia mendekati Kara dan menyentuh tangannya, Kara melihat Nadia yang tersenyum.


"pa Kara balik dulu ya sama Nadia!" ucap Kara, Nadia merasa bingung, pak Wijaya pun mengiyakan.


Kara membawa Nadia pergi dari sana, terlihat Vano menatap kepergian mereka. Nadia hanya tersenyum tipis kearah Vano.


"Kara.. kita akan kemana?" tanya Nadia saat Kara mulai menjalankan mobilnya.


"pergi ke suatu tempat!" ucap Kara, Nadia sangat penasaran.


"kemana emangnya?" tanya Nadia lagi.


"kalau aku beri tahu sekarang, kamu gak terkejut dong." saut Kara.


"yaudah beri tempe aja sekarang." saut Nadia lagi, mereka saling menatap kemudian tertawa.


Kara membawa Nadia pada sebuah mall dan berhenti di toko mainan anak anak, Nadia sangat senang. mereka asik memilih mainan yang menurut mereka lucu, setelah itu Kara juga membawanya pada toko perlengkapan bayi.


"kau senang?" ucap Kara membawa beberapa shopping bag, Nadia menggandeng tangan Kara dengan bahagia


"tentu saja, ini pertama kalinya aku belanja denganmu." ucap Nadia, Kara tersenyum.


"kemana lagi kita?" tanya Kara saat memasukkan semua barang belanjaannya dimobil.


"pulang saja, aku lelah." Kara tersenyum lalu mencium dahi Nadia.


"yasudah, ayo naik." Kara membuka pintu mobil untuk Nadia, setelah Nadia masuk, Kara ikut serta setelah itu mereka melaju pergi dari sana.


sesampainya dirumah mereka pun beristirahat, Kara memberikan susu untuk Nadia layaknya anak kecil. Kara tersenyum begitu juga dengan Nadia.


"baiklah sekarang kamu tidur." ucap Kara, Nadia menggelengkan kepala.


"aku tidak mengantuk, peluk aku." ucap Nadia.


"Nadia, kenapa kamu seperti anak kecil hm.." saut Kara menarik hidung Nadia, Nadia tersenyum.


"ayo main ular tangga, aku sudah beli tadi." ucap Nadia lalu mencari ular tangga itu.


"kenapa aku tidak tahu?" ucap Kara, Nadia akhirnya menemukan ular tangga nya.


akhirnya malam itu Nadia dan Kara bermain ular tangga, Kara terlihat terus menatap Nadia yang senang bermain, perubahan sifat Nadia menurut Kara sangat lah lucu, mungkin dikarenakan bawaan dari bayinya. Kara menyuruh Nadia untuk tidur, setelah itu Kara pergi ke ruang kerjanya dan tidur disana. Nadia yang tidak bisa tidur merasa sangat merindukan Kara, begitu juga dengan Kara yang merindukan Nadia.


"papa dan mama rela berkorban demi kamu, jadi kamu harus sehat nak.." ucap Nadia memegang perutnya, lalu menutup mata.

__ADS_1


"sehatlah selalu, hanya itu yang aku inginkan." gumam Kara lalu menutup mata.


__ADS_2