
Nadia sampai dirumah Kara, ia sangat gugup saat berada diluar rumah itu. Nadia melihat semuanya tampak sama, tidak ada yang berbeda dari rumah itu. perlahan Nadia dan Vano melangkah perlahan masuk, Nadia teringat perkataan Kara sebelum ia pergi dari rumah.
"jika kau sekali lagi melangkah keluar, jangan pernah kembali lagi!."
seketika Nadia terkejut saat Vano menyentuh pundaknya, Vano tersenyum ketawa Nadia.
"ayo, jangan khawatir. ini adalah rumahmu." ucap Vano, Nadia pun mengangguk.
Saat Nadia sampai ia dikejutkan dengan suara Kara yang berbicara dengan Naira.
"papa ganteng kenapa, apa sakit?"
"pergilah bermain, papa akan naik keatas dulu."
"Kara kamu kenapa?" tanya Febriyan, Nadia dan Vano tetap berdiri didepan pintu.
"kepalaku sangat berat, mungkin kecapekan saja." setelah mendengar itu Nadia terkejut ketika melihat Kara jatuh tidak sadarkan diri.
"hei Kara! bangunlah, kau demam dasar bodoh!" ucap Febriyan, Nadia berlari kearah Kara menjatuhkan tasnya.
Nadia mencoba untuk membangunkan Kara, Kara membuka mata dan tersenyum kearah Nadia.
"Nadia.." Nadia memegang dahi Kara yang terasa panas, Kara pun menutup matanya.
"mas dia demam tinggi, ayo bawa kerumah sakit." ucap Nadia, Febriyan dan Vano pun berusaha mengangkat Kara dan membawa kerumah sakit.
sampainya dirumah sakit Kara dirawat oleh David dan Nadia, Nadia menangis ketika melihat wajah Kara yang pucat dan tubuhnya lemas.
"Nadia tenanglah, ini hanya demam tinggi karena dia tidak makan dan tidur secara teratur." ucap David, Nadia pun merasa lega.
setelah beberapa menit Kara tidur dengan nyenyak, Nadia menghampiri Kara dan meneteskan air mata lagi. Nadi duduk disamping Kara dengan memegang tangan Kara,
"Kara.. bagaimana kabarmu, bagaimana keadaanmu selama enam tahun ini?" ucap Nadia menangis, mencium tangan Kara.
"apa makanmu teratur, apa tidurmu nyenyak." Nadia semakin menangis memikirkan keadaan Kara yang tidak ia ketahui, tidak lama kemudian Nadia ketiduran.
**
Setelah membuka mata Kara melihat sekeliling ruangannya, ternyata itu adalah rumah sakit. Kara merasakan berat dikepalanya, saat Kara ingin bangun ia melihat Nadia sedang tidur dan menggenggam tangannya. Kara tersenyum, ia merasa bahagia melihat Nadia disampingnya. Kara mencoba mengelus rambut Nadia, Kara melihat sisa air mata pada mata Nadia.
Nadia merasakan sentuhan itu, Nadia membuka matanya. Nadia terkejut ketika melihat Kara ingin bangun, Nadia membantu Kara untuk duduk. Kara tersenyum lemah pada Nadia, Nadia merasa sakit melihat itu.
"apa pekerjaanmu lebih penting, sampai tidak makan dan tidur dengan teratur!" ucap Nadia mengambil makanan, dan menghapus air matanya yang sempat menetes.
"makan ini, kau tahu demammu sangat tinggi dan itu berbahaya." ucap Nadia lagi, Kara hanya diam tersenyum.
"kenapa malah tersenyum, ayo makan!" ucap Nadia menyodorkan makanan, Kara membuka mulutnya. setelah beberapa menit Nadia menyuapi Kara, Nadia ingin berdiri tapi Kara memegang tangan Nadia
"mau kemana?" tanya Kara, Nadia terkejut dengan itu.
__ADS_1
"a..aku mau ambil air!" ucap Nadia, Kara melepas tangan Nadia.
"kamu menangis." Nadia menaruh piring bekas Kara makan, Nadia mengelap matanya.
"tidak, aku tidak menangis." saut Nadia
"bagaimana kamu tahu aku ada disini?" tanya Kara lagi, Nadia memberikan air.
"aku tahu karena ini rumah sakit tempat aku bekerja." saut Nadia, Kara meminum air.
saat Kara ingin bicara, seseorang membuka pintu. terlihat Naira berdiri membawa boneka, Kara memberi isarat pada Naira untuk mendekat kearahnya, Naira pun langsung berlari.
"mama, amgkat aku." ucap Naira, Nadia mengangkat Naira duduk disamping Kara.
"papa kenapa?" tanya Naira, membuat Nadia terkejut saat Naira memanggil Kara papa.
"apa papa sakit?" tanya Naira lagi, Kara tersenyum.
"papa tidak apa, hanya demam." saut Kara, dengan lucunya Naira memegang dahi Kara.
"panas, kenapa bisa demam?" tanya Naira lagi.
"Naira kenapa terus bertanya pada papamu, hm.. mak.. maksudku dia sedang sakit." ucap Nadia gugup, Kara tersenyum lagi.
"demam karena papa merindukanmu!" saut Kara, Naira tersenyum.
"benarkah, kemarilah!" Kara mendekatkan wajahnya pada Naira, Kara dan Nadia terkejut saat Naira mencium pipi Kara.
"sudah jangan dekat dekat dia, maksudku nanti kamu tertular sakit." ucap Nadia menurunkan Naira.
"tapi Naira pengen sama papa." rengek Naira, Nadia memegang tangannya.
"ya sudah Nadia akan keluar beritahu nenek, papa sudah bangun." ucap Naira lalu berlari keluar, Nadia melihat Kara yang terus menatapnya.
"kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Nadia dengan ketus, Kara menggelengkan kepala.
beberapa menit kemudian Naira datang membawa semua orang, Nadia tersenyum kearah mereka.
"sudah papa bilang, jangan bekerja terlalu keras." ucap pak Wijaya.
"kalau lelah itu istirahat bodoh!" ucap Febriyan, Kara tersenyum.
"Nadia, apa dia boleh pulang?" tanya ibu Kumala, Nadia mengangguk.
"tapi kau tidak boleh bekerja, harus sembuh total baru bekerja. bekerja terus, lupa waktu!" ucap Nadia lalu pergi, semua orang merasakan kekhawatiran Nadia pada Kara.
"mama yakin kalian akan kembali bersama!" ucap Ibu Kumala, Kara mengangguk dan melihat Vano.
"kamu disini?" tanya Kara, Vano mengangguk.
__ADS_1
"nanti mama akan ceritakan setelah kita pulang." jawab ibu Kumala,
"ya, terserah mama. aku ingin pulang sekarang, aku tidak mau disini." ucap Kara, Naira mendekati Kara.
"papa, cepat sembuh. nanti bawa Naira dan Riana beli es krim ya..." ucap Naira, semua pun tersenyum.
"iya sayang." saut Kara tersenyum.
Vano melihat kedekatan Kara dan Naira membuatnya senang, tapi Vano juga memiliki perasaan sedih dan cemas.
***
sore harinya mereka membawa Kara kembali, Kara dengan lemas dibantu Febriyan dan Vano masuk kedalam rumahnya. saat masuk Kara melihat koper besar yang dikenali Kara itu milik Nadia,
"ini koper?" tanya Kara, Naira berlari mengambil tasnya.
"mama ini tas barbie Naira, kenapa ada disini?" tanya Naira, Kara melihat kearah Nadia.
"iya sayang, kita akan pindah. kita akan tinggal bersama nenek, om Riyan, tante Risa dan Riana.." ucap Nadia, Naira terlihat senang.
"benarkah, sungguh. itu artinya Naira akan tinggal bersama papa ganteng." teriak Naira girang.
"iya kamu juga punya teman sekarang." ucap Nadia lagi, Naira berlari ke arah Riana.
"Kara mama sudah meminta pada Nadia untuk pulang, jadi mama membawa merek pulang beserta Vano. apa kamu keberatan?" ucap ibu Kumala, Kara menggelengkan kepala.
"tidak, Vano juga banyak membantu. aku juga akan menganggapnya sebagai saudara." ucap Kara, semua orang tersenyum.
"yeah Riana punya teman, kakak pasti senang melihatmu." ucap Riana, semua teringat dengan Bagas yang masih ada disekolah.
"mas Riyan.. Bagas belum dijemput, ih kok bisa lupa." ucap Risa, Febriyan pun bergegas keluar untuk menjemput Bagas.
"baiklah Kara sekarang masuk kekamar ya, untuk istirahat." ucap Ibu Kumala, Nadia mengangkat kopernya.
"Nadia bantu Kara saja, ini biar aku yang urus." ucap Vano.
"tapi..." Vano mengangguk, Nadia pun tersenyum lalu
"akan ku bantu, ayo" ucap Nadia, Kara pun mengangguk.
sampai dikamar Nadia mendudukan Kara dengan hati hati, Nadia melihat sekeliling kamar itu. ia melihat kamarnya masih sama seperti dulu dan tidak ada yang berubah, Kara memegang tangan Nadia.
"masih sama, sama seperti dulu." ucap Kara tersenyum, Nadia menatap Kara.
"dan sekarang pun aku masih mencintaimu, sampai kapanpun akan seperti itu." ucap Kara lagi, Nadia melepas tangan Kara dan berjalan keluar.
"kenapa kau tidak mau mendengarku, kenapa kamu hanya percaya dengan apa yang kamu lihat!" gumam Kara melihat Nadia keluar
Nadia berhenti diluar kamar Kara ia menangis,
__ADS_1
"iya aku tahu, aku juga mencintaimu." gumam Nadia, dari jauh Vano melihat Nadia yang menangis.
"kalian tidak bisa seperti ini terus, aku harus melakukan sesuatu." gumam Vano.