My Love Story 2

My Love Story 2
29. pantaskah


__ADS_3

ditempat Nadia dan Rudi mereka sedang terbaring diatas tanah yang terkesan keras, mereka jatuh secara terpisah tapi tangan mereka tetap bergandengan.


"ukhh!!!"


Rudi membuka mata dan merasakan sakit pada kepala dan juga tubuhnya, Rudi merasakan tidak kuat untuk berdiri tapi ketika ia merasakan genggaman seseorang dengan cepat ia berdiri. Rudi melihat tangan Nadia tapi tidak melihat tubuh Nadia, dan ternyata tubuh Nadia terhimpit diantara tanah dan bebatuan.


"Nad...Nadia.. bertahanlah..." ucap Rudi ketika mengangkat sebuah batu besar pada tubuh Nadia dan akhirnya berhasil terangkat, tapi Nadia tidak sadarkan diri.


"Nadia.. buka matamu.. hei Nadia.." Rudi mencoba menggendong Nadia dan membangunkan Nadia yang terlihat tidak sadarkan diri.


"sa..kit.." perkataan pertama yang diucapkan Nadia, Rudi merasa lega.


"tenang kita harus keluar dari sini, apa kau bisa jalan." Nadia mengangguk pelan, Rudi pun membantu Nadia agar bisa berdiri.


"kaki... kakiku.. mati rasa..." ucap Nadia, Rudi melihat kaki Nadia terdapat darah yang mengalir.


"baiklah naik kepunggungku..." Rudi membantu Nadia untuk naik kepunggungnya.


"tenanglah mereka pasti mencari kita, aku sempat menghubungi rekanku." jelas Rudi, Nadia hanya terkulai lemas dalam gendongannya.


"kau.. pasti sakit.. turunkan aku.. carilah bantuan... tinggalkan aku disini..." ucap Nadia pelan.


"tidak, bagaimana bisa aku meninggalkanmu aksss!" Rudi merasakan sakit pada lengan kanannya.


"Rudi... kau kesakitan turunkan aku..." Rudi pun menurunkan Nadia, Rudi melihat luka pada tubuh Nadia sangat banyak bukan hanya tubuh Nadia, tapi tubuhnya juga terdapat beberapa luka.


"Nadia, jangan tidur ya tunggu sampai mereka datang..." Nadia hanya mengangguk pelan, Rudi menyobek bajunya untuk menghentikan darah yang mengalir pada kaki dan tangan Nadia.


"apakah kita akan.. berakhir disini.." ucap Nadia lemah.


"tidak akan, kita akan selamat." Rudi melihat sekelilingnya tapi tidak ada satupun cara untuk menyelamatkan diri.


"Nadia jangan tidur,.." Rudi mencoba membangunkan Nadia yang sudah akan tidur.


"kau benar... aku kurang olahraga.." Nadia tersenyum lemah,


"tolong!!! siapapun kami ada dibawah sini!!" teriak Rudi tapi tidak ada sahutan.


"tolong!!!, Nadia aku mohon bertahanlah! tolong!!!" Rudi terus berteriak, tapi pada akhirnya Rudi menyerah dan duduk disamping Nadia. Rudi malah tertidur disamping Nadia.


****


malam pun tiba tapi tim tidak menyerah untuk mencari mereka, semua dokter dan perawat merasa khawatir pada keadaan Nadia yang belum mendapatkan kabar.


beberapa saat kemudian terdapat beberapa mobil yang datang, semua orang merasa heran dengan kedatangan siapa itu. Kara turun dari mobil itu diikuti Reno, ya rombongan mobil itu adalah Kara dan para orang orang yang akan diperintahkan Kara untuk mencari Rudi.


Kara berjalan dengan angkuh tapi terlihat khawatir dan juga emosi pada wajahnya, semua orang merasakan akan kemarahan Kara. Kara berjalan mendekati David, David hanya memandang Kara.


"dimana istriku!" David hanya diam.


"David katakan, bagaimana ini terjadi!" teriak Kara sekali lagi, tapi David masih diam.


"Reno perintahkan semua nya untuk mencari Nadia sekarang juga, jika terjadi apa apa lihat apa yang bisa Kara lakukan!"


semua orang merasa merinding dengan perkataan Kara, orang orang suruhan Kara bergegas untuk mencari Nadia. David mencoba menenangkan diri Kara, Kara menolak minuman yang diberikan David.


"Kara tenanglah, coba minum dulu." ucap David


"tidak, aku tidak bisa tenang. aku tidak bisa kehilangan lagi.." Kara menutupi wajahnya berusaha menutupi tangisnya,


"Kara tenanglah, pasti Nadia ketemu." ucap Reno.


"aku harus mencarinya sendiri!" Kara hendak berdiri, tapi Reno mencegahnya.


"apa yang kau lakukan!" ucap David


"diam! aku bisa melakukan apapun." ucap Kara, Kara mulai berlari mencari Nadia.

__ADS_1


***


tim mencari keseluruh kurang yang ada, mereka meneluauri dengan teliti.


"kapten!!!"


"dokter Nadia!!"


"jika kalian dengar katakan sesuatu!!"


"dimana tempat istriku jatuh?" tanya Kara tiba tiba muncul.


"disini pak, kami menemukan ini milik kapten disini!" Kara akhirnya pergi mencari sendiri tapi para tim itu melarang Kara tetap pergi.


"Nadia!!!"


"Nadia!!!"


Nadia membuka mata ketika mendengar suara yang ia rindukan sedang memanggilnya, Nadia mencoba berdiri tapi tidak bisa karena kakinya mati rasa. Nadia melihat Rudi sedang tidur disampingnya, dan mencoba untuk membangunkannya.


"Rudi... suamiku datang.. " Rudi terbangun ketika Nadia memegang luka yang ada pada tangannya.


"ada apa?" tanya Rudi khawatir melihat Nadia kesakitan


"*Nadia!!!"


"Nadia aku disini, kamu dimana*!!"


Rudi mendengar suara Kara, Rudi pun menggendong Nadia dan sudah tidak peduli dengan lukanya.


"Rudi... mereka datang... itu..." suara Nadia melemah dan mulai lemas.


"Nadia jangan tidur mereka sudah datang. Kami disini! tolong!!!"


Kara masih berusaha untuk mencari Nadia, dia hampir putus asa dengan semua itu. Kara sangat khawatir dengan keadaan Nadia saat ini.


"Nadia!!"


"aku tidak mau kehilangan kamu Nadia!" Kara mengusap wajahnya kasar.


"kami disini!!?, tolong!!"


Kara mendengar suara Rudi, ia pun mencari asal suara itu.


"mereka disana!" teriak tim penyelamat, Kara pun melihat kearah sana dan berlari dengan cepat.


terlihat Rudi menggendong Nadia yang tidak sadarkan diri, para tim mencoba menghampiri mereka. Kara melihat semua itu dan langsung menghampiri Nadia.


"Nadia.. ada apa denganmu?" tanya Kara yang langsung mengambil Nadia dalam gendongannya, Rudi merasa tidak asing dengan Kara.


"kita harus membawanya cepat!" Kara pun langsung menggendong Nadia, ke mobil


"kapten dr Nadia terluka parah, mari masuk mobil kita harus cepat memeriksa dirimu juga." Rudi masih memperhatikan Kara yang terlihat khawatir menggendong Nadia.


"kapten anda tenang saja, itu suami dr Nadia beliau sudah sangat khawatir dengan istrinya." Rudi terkejut ketika mendengar kata suami Nadia.


dimobil Kara berusaha membangunkan Nadia, Nadia terlihat lemah dan tidak bertenaga.


"Nadia buka matamu, aku disini coba lihat!" ucap Kara menggosok telapak tangan Nadia.


"em... aku.. tahu.. kahmu... pasti datang..." Kara senang mendengar suara Nadia, ia mencium tangan Nadia.


"Kara... kaki..ku sahkit..." Kara memperhatikan Kaki Nadia dan mulai khawatir lagi.


"tidak akan terjadi apa apa padamu.. aku berjanji.." ucap Kara meyakinkan Nadia, Nadia tersenyum lemah.


"Kara... kau tahu... aku.. bahagia menjadi istrimu... kadang.. kamu baik.. kadang juga... menyebalkan.. tapi aku.. masih menyukainya.. pantaskah aku.. menjadi.. istri yang baik.." tanpa sadar Nadia mengatakan itu, Kara tersenyum mendengar ucapan Nadia, meskipun tidak jelas tapi dapat dimengerti oleh Kara.

__ADS_1


"aku juga senang kau menjadi istriku, bukan hanya menantu yang baik, kau juga istri yang baik, jangan tinggalkan aku.." Kara memakaikan jas nya pada Nadia, dan memeluk Nadia dengan erat.


Kara menangis, terkahir kali Kara menangis pada saat kematian Angel dan selama 5 tahun Kara tidak pernah memperlihatkan kesedihan nya pada siapapun apalagi sampai menangis tidak berdaya seperti sekarang.


setelah beberapa menit mereka sampai ditenda, Kara langsung menggendong Nadia untuk keluar dari mobil. David melihat keadaan Nadia, David memerintahkan semua untuk menyiapkan kebutuhan untuk menangani Nadia. Kara menunggu diluar, Reno mencoba menenangkan Kara yang sudah terlihat frustasi.


"Kara!"


"David bagaimana?" David diam dengan itu, Kara semakin geram.


"David, katakan" teriak Kara membuat semua orang merasa ketakutan, Reno masih berusaha menenangkannya.


"kita harus membawanya ke jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut!"


"untuk apa?"


"dia hanya kehilangan oksigen dan mengalami dehidrasi tinggi dan kami belum memastikan apa apa, hanya kita harus membawanya karena lukanya pada kaki cukup serius!"


tanpa berpikir lagi Kara langsung memerintahkan semua orang untuk pulang ke jakarta hari itu juga, tapi tidak bisa karena sudah terlalu larut malam. Kara pun menemani Nadia yang sedang tertidur dengan perawatannya, terdapat banyak luka pada tubuh Nadia termasuk kakinya.


"Nadia pantaskah aku mendapat cintamu?" ucap Kara mengelus rambut Nadia yang tertidur, dalam hati Kara sudah benar benar mencintai Nadia. meskipun Angel tidak bisa terlupakan bagi Kara, sekarang dalam hidupnya sudah terdapat seseorang yang sangat penting setelah Angel.


"maaf!"


Kara menoleh kearah suara itu, Rudi berdiri disana.


"siapa kau?" tanya Kara dengan angkuh,


"aku kapten yang membawa dr Nadia jalan pagi!" Kara terkejut mendengar itu, Kara langsung menghampiri Rudi dengan kemarahan.


"jadi kau, kau yang.." Rudi memotong perkataan Kara.


"tunggu apa kita pernah bertemu?" Kara menatap tajam wajah Rudi, Rudi juga memperhatikan wajah Kara.


"apa kau Kara?" tanya Rudi, Kara pun melihat Rudi dengan tajam.


"ya, tapi siapa kau?" Rudi langsung menarik Kara keluar agar tidak mengganggu ketenangan Nadia.


"apa yang kau lakukan!" teriak Kara ketika Rudi menariknya.


"dimana Angel!" Kara terkejut saat Rudi menyebut nama Angel.


"apa kau..." ucap Kara hanya menduga kalau itu Rudi, karena siapa lagi yang berhubungan dengan Angel, selain dirinya dan Febriyan yaitu Rudi


"ya aku Rudi, aku..." Kara menyahut perkataan Rudi.


" kau cinta pertamanya dan kau juga yang menyakitinya dengan berselingkuh bersama sahabatnya sendiri!" Rudi menunduk dengan itu, tapi Rudi juga heran bagaimana Kara menjadi suami Nadia.


"dimana Angel,"


"apa urusanmu!"


"jika kau menikahi Nadia lantas bagaimana dengan Angel?." Kara tertawa dengan itu.


"Angel istriku, dia ada disini dan juga disana!" Kara menunjuk dadanya dan juga arah langit lalu meninggalkan Rudi begitu saja, Rudi masih tidak mengerti dengan perkataan Kara.


***


selamat pagi (buat yang baca dipagi hari)🌹


selamat siang (buat yang baca siang hari)🌹


selamat sore (buat yang baca sore hari)🌹


selamat malam (buat yang baca malam hari)🌹


selamat bobok (buat yang baca mau bobok)🌹

__ADS_1


selamat bahagia (buat yang jadian sama dia) 🥀


apasih author mulai gaje!😂


__ADS_2