My Love Story 2

My Love Story 2
30. terima kasih


__ADS_3

Nadia terbangun dari tidurnya ia melihat sekelilingnya, ia merasa bingung dimana dia berada sekarang. Nadia melihat beberapa peralatan rumah sakit akhirnya dia tahu kalau dirinya sedang berada dirumah sakit, Nadia merasakan tubuhnya sangat lelah tidur dan bertanya tanya dari kapan dirinya tertidur. Nadia melihat Kara yang sedang tidur disofa dan ia pun tersenyum, ia ingin sekali memegang tangan Kara langsung tanpa membangunkannya.


Nadia mencoba untuk bangkit tapi dirinya merasa bingung saat tidak merasakan apapun pada kakinya, dia membuka selimut yang menutup kakinya. Nadia memegang kedua kakinya tapi tidak merasakan apapun, Nadia tahu benar apa yang terjadi padanya.


"tidak!!!"


Kara terkejut dengan teriakan Nadia, Kara langsung menghampiri Nadia.


"Nadia ada apa, apa ada yang sakit?" tanya Kara khawatir melihat wajah Nadia menangis, Nadia masih memegangi kakinya.


"ada apa.. dengan kakiku, Kara katakan sesuatu apa yang terjadi pada kakiku... hiks..." tanya Nadia menarik baju Kara, Kara hanya diam dengan itu.


"Kara aku seorang dokter.., tapi aku ingin tahu kakiku kenapa... hikss.." Kara memeluk tubuh Nadia yang menangis, beberapa saat kemudian David masuk.


"David kakiku kenapa, katakan padaku..." David memandang Kara, Kara sudah tidak bisa melakukan apapun.


"Nadia kakimu terluka parah karena jatuh itu, dan sekarang kakimu mengalami kelumpuhan."


Nadia terkejut dengan perkataan David, tangis Nadia pun pecah seketika.


"tidak!! tidak mungkin, Kara.. ini tidak mungkin.. hiks.." Kara memeluk Nadia yang menangis histeris.


"Nadia tenanglah, itu bisa sembuh!" Nadia tidak berhenti menangis dalam pelukan Kara.


"aku tidak tahu Nadia, berapa lama kelumpuhan itu akan terjadi!"


Nadia masih menangis dalam pelukan Kara, David akhirnya meninggalkan mereka berdua. Kara mencoba menenangkan Nadia yang sesenggukan menangis, lalu Nadia melepas pelukan itu dan mendorong Kara.


"pergilah.. aku.. ingin sendiri..." ucap Nadia tidak memandang wajah Kara.


"tidak, aku akan menemanimu disini!" ucap Kara ia ingin menyentuh Nadia, tapi tangannya terhenti ketika Nadia berteriak menyuruhnya keluar.


"aku bilang keluar!!"

__ADS_1


Kara akhirnya keluar, dan membiarkan Nadia untuk sendiri. setelah Kara keluar Nadia menangis memandang kakinya, ia merasa hancur dengan itu.


"sekarang aku tidak berguna hiks.. aku membenci diriku sendiri... hiks.. hiks.. hiks... " ucap Nadia memukul mukul kakinya.


Kara mendengar tangis Nadia, sebenarnya Kara tidak menutup pintunya karena ingin melihat apa yang dilakukan Nadia. Kara merasa sakit Nadia mengatakan semua itu, apalagi dengan isak tangis seperti itu.


****


Akhirnya Nadia pulang kerumah, sepanjang jalan di mobil Nadia hanya diam menatap kearah luar mobil, Kara memperhatikan wajah sedih Nadia itu membuat Kara merasakan hal yang sama.


"Nadia apa kau baik baik saja?" tanya Kara, Nadia hanya mengangguk pelan.


"kau tidak perlu bekerja lagi, diam saja dirumah!" Nadia menoleh ke arah Kara, Kara tersenyum


"kenapa, apa karena aku lumpuh?"


"apa maksudmu, aku tidak mengijinkanmu untuk bekerja lagi. aku masih bisa menafkahimu dengan cukup, karena aku suamimu!"


"benarkah?" Kara menghentikan mobilnya, Kara membuka sabuk pengaman nya dan memeluk Nadia. Nadia terkejut dengan itu, perlahan ia membalas pelukan itu.


"hanya tinggal beberapa bulan Kara... aku menjadi istrimu. setelah itu kau bisa mencari istri yang bisa mengurusmu." Nadia melepas pelukan itu dan menatap luar mobil. Kara ingin menyentuh Nadia tapi ia mengurungkan niatnya.


"aku lelah, aku ingin pulang Kara..." Kara pun menyalakan mobilnya dan berlalu dengan kecepatan sedang


aku ingin hanya kamu yang menjadi istriku, hanya kamu Nadia.


setelah beberapa menit mereka sampai dirumah, disana sudah disambut oleh keluarga Nadia dan Kara. Reno membantu mengambil kursi roda untuk Nadia, sedangkan Kara menggendong Nadia untuk duduk dan mulai mendorong Nadia.


terlihat semua orang merasa sedih dengan Nadia yang duduk dikursi roda, ibu Kumala memeluk Nadia, begitu juga ibu Sabilah memeluk putrinya itu. Nadia hanya diam membalas pelukan itu, Kara membawa Nadia masuk kedalam rumahnya, Nadia tersenyum ketika melihat Bagas berdiri dihadapannya.


"bunda dokter, kenapa duduk disitu?" tanya Bagas polos. senyum Nadia seketika hilang. Febriyan menggendong Bagas dan menyutuhnya untuk tidak bicara.


"papa lepasin Bagas, Bagas mau digendong bunda dokter!" Febriyan malah membawa Bagas masuk kedapur untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Kara..." ucap Nadia, Kara pun berjongkok dihadapan Nadia.


"apa kau ingin sesuatu?" tanya Kara pelan


"aku ingin kekamar.."


"nak kamarmu masih diatas, kami akan memindahkannya dibawah!" ucap ibu Kumala, Kara melihatnya wajah Nadia semakin sedih disana.


"tidak perlu ibu, Nadia bisa tinggal dikamarnya setinggi apapun itu." tegas Kara, Nadia memandang wajah Kara saat Kara mulai menggendongnya.


"aku suaminya, aku akan selalu ada untuknya. aku yang akan menjadi kakinya, bukan hanya kakinya aku bisa menjadi tangan mata untuknya !" Kara tersenyum melihat wajah Nadia, Nadia tersenyum dengan haru melihat wajah Kara. Kara mulai menggendong Nadia menaiki anak tangga untuk kekamar mereka, semua orang tersenyum melihat kelakuan Kara yang sangat peduli seperti itu.


Kara membaringkan tubuh Nadia dikasur, dan merapikan selimut untuk menyelimuti Nadia. Kara hendak keluar untuk mengambil kursi roda Nadia, tapi dihentikan dengan genggaman tangan Nadia.


"terima kasih..." ucap Nadia, Kara pun tersenyum dan duduk disampingnya.


"untuk apa?" tanya Kara dengan senyum.


"untuk semua ini!" Kara tertawa dengan itu.


"tidak perlu, aku suamimu Nadia itu sudah kewajibanku." Nadia terdiam memandangi wajah Kara, ia berpikir Kara terus menyebut dirinya sebagai suami Nadia.


"heii aku tahu, aku sangat tampan tidak perlu diliatin!" ucap Kara tersenyum geli.


"ckk.. narsis sekali, kau tidak tampan sama sekali." ucap Nadia kesal Kara pun tertawa.


"benarkah, aku ingat kau bilang aku sangat tampan dan sangat baik. berapa kali ya kamu bilang gitu?" Nadia menatap tajam ke arah Kara.


"Kara berhenti menggodaku, pergilah!" ucap Nadia memukul Kara dengan bantal.


"aku tidak mau, aku ingin menggodamu!" Kara kembali memukul Nadia, Nadia pun membalas lagi dan akhirnya mereka saling membalas.


Sesekali Nadia tertawa saat Kara menggelitiki perutnya, Nadia terus memukul Kara dengan bantal. Kara sangat senang melihat senyum dan tawa Nadia seperti itu, karena senang mereka pun berpelukan.

__ADS_1


Teruslah tertawa Nadia, aku tidak akan membuatmu bersedih. aku akan menjagamu sekarang, besok, dan selamanya.


Terima kasih Kara, ku harap bisa seperti ini selalu denganmu. tidak hanya sekarang, mungkin besok dan selamanya.


__ADS_2