My Love Story 2

My Love Story 2
22. pesta


__ADS_3

" apa yang kamu lakukan!"


Nadia terkejut dengan suara Kara yang tiba tiba terdengar, Nadia pun berbalik menatap Kara. Kara memandangi Nadia dan pandangannya berhenti pada foto yang ada ditangan Nadia, Kara mendekat kearah Nadia lalu mengambil foto itu.


"kenapa kau lancang sekali." ketus Kara memasukkan foto itu dalam laci lagi.


"maaf, tadi aku membersihkan kamarmu lalu aku membuka laci itu dan menemukan foto itu!" ucap Nadia, Kara hanya diam.


"kau tidak boleh menyentuh barangku!" teriak Kara, Nadia terkejut dengan itu.


"kenapa kau harus berteriak padaku!" saut Nadia, Kara merasa kesal ia melewati Nadia dan masuk dalam kamar mandi dengan menutup pintu dengan kerasa.


didalam kamar mandi Kara langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin, ia berpikir salah telah berteriak pada Nadia, dan berniat minta maaf.


setelah 1 jam dikamar mandi Kara keluar dan mendapati Nadia sudah tertidur, Kara pun mendekat kearah Nadia ia menyelimuti Nadia.


"sebenarnya kau sangat baik, maaf aku janji akan melepaskanmu setelah satu tahun." ucap Kara mengusap rambut Nadia, lalu ia mengambil bantal dan tidur diatas sofa.


Nadia membuka matanya, sebenarnya Nadia belum tidur ia hanya menutup mata. Nadia mendengar apa yang diucapkan Kara, entah kenapa Nadia merasa sedih dengan itu.


"semoga aku tidak mencintaimu Kara, semoga saja..." Nadia pun menutup dan tidur.


****


keesokan paginya Kara bangun dari tidurnya, ia melihat Nadia sudah tidak ada di tempat tidur. Kara pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai Kara keluar dari kamarnya.


terlihat Febriyan dan Bagas disana, saat Bagas melihat Kara, Bagas berlari kearah Kara, dengan cepat Kara menggendong Bagas.


"pagi om.." ucap polos Bagas.


"pagi jagoan!.." Kara tersenyum kearah Bagas, lalu ia mendekat ke arah Febriyan.


"kenapa pagi sekali kemari?" tanya Kara pada Febriyan.


"aku ingin menitipkan Bagas pada tante Mala!" jawab Febriyan, Kara hanya mengangguk.


"aku punya sesuatu untuk kalian.." ucap Bagas, ia membuka kantung kresek yang didalamnya terdapat bunga mawar.


Bagas memberikan satu persatu orang disana dengan bunga mawar itu, sampai akhirnya tinggal satu bunga mawar. Bagas bingung harus diberikan pada siapa bunga itu, karena hanya tinggal Kara dan Nadia.


akhirnya Bagas mempunyai ide, ia memberikan bunga mawar itu pada Kara, setelah itu Bagas menyuruhnya untuk memberikannya pada Nadia. Kara sempat terkejut, tapi ia pun menuruti kemauan Bagas dan memberikan bunga mawar pada Nadia. Nadia menerima senang hati dan tersenyum kearah Bagas, dan semuanya pun tertawa melihat tingkah Bagas yang menggemaskan.


"Bagas, apa Bagas lapar?" tanya Nadia.


"iya bunda dokter, Bagas lapar!" Nadia pun tersenyum dan membawa Bagas ke dapur memberikannya sebuah roti.


Febriyan masih duduk disofa, Kara pun mendekati Febriyan dan memulai minum teh pagi mereka.


"apa dia tidak sekolah?" ucap Kara


"hari sabtu, hari libur untuknya!" Febriyan memperhatikan wajah Kara, Kara memperhatikan Nadia yang sedang menyuapi Bagas.


"Kara?"


"hm?.."


"apa yang kamu lalukan setelah ini?" Kara pun menoleh kearah Febriyan.


"aku akan ke kantor, apa lagi!" Febriyan tertawa dengan itu, dasar Kara masih saja bodoh batin Febriyan.


"ada apa sampai tertawa?" ucap Nadia tiba tiba, Febriyan pun menghentikan tawanya.


"tidak ada Bil, Bagas papa kerja dulu ya, kamu gak boleh nakal.." ucap Febriyan berdiri mencium pipi Bagas.


"Bila aku titip ya.." Nadia pun hanya mengangguk, Febriyan pun berlalu pergi.

__ADS_1


"kenapa dia memanggilmu Bila?" tanya Kara, bukannya menjawab Nadia malah pergi membawa Bagas.


"apa kau marah padaku?" tanya Kara lagi mengikuti langkah Nadia.


"untuk apa aku marah..." saut Nadia yang terus berjalan ke dapur


"maaf"


Nadia menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearah Kara, Nadia melihat wajah Kara terdapat ketulusan disana.


"untuk apa?" tanya Nadia, Kara hanya diam


"katakan pada mama aku pergi kekantor dulu." Nadia pun mengiyakan lalu Kara pergi dari sana.


****


Kara datang seperti biasa dikantornya, pagi itu semua orang menyapa Kara. seperti biasa Kara datang sangat angkuh dan tidak menyahut semua yang menyapanya, saat perjalanan menuju ruangannya Kara mendapat telfon dari temannya.


"Halo?"


"halo KR apa kau sudah melupakanku?"


"oh ayo lah aku tidak melupakanmu, ada apa kau menelfon?"


"aku mengadakan pesta ulang tahun istriku, datanglah bersama istrimu, maaf dihari pernikahanmu aku ada di amerika jadi tidak bisa datang."


"ya tidak masalah, kapan itu?"


"malam ini, kau harus datang, aku tahu kau sangat sibuk tapi kau harus datang!"


"oke oke aku akan datang, tenanglah!"


"haha.. oke datanglah, acaranya jam 7 malam!"


"baiklah!"


"ada apa Ren?" tanya Kara dengan membuka kertas dihadapannya.


"Kara, anak yang dulu itu meninggal!" Kara terkejut dengan itu, ia menghentikan aktivitasnya.


"dokter mengatakan sudah terlambat untuk masa pengobatan karena.."


"hentikan!!" belum sempat Reno meneruskan perkataan nya, Kara menghentikannya dan berteriak.


"cukup, tidak perlu kau teruskan. keluarlah!" Reno pun mengangguk dan keluar dari sana.


Kara mengingat kejadian saat pada Angel dulu, sampai akhirnya pergi meninggalkannya. Kara membuka laci kecil dimejanya, terdapat foto Angel. Kara tersenyum melihat foto itu,


"aku merindukanmu hari ini" ucap Kara tersenyum, tiba tiba dalam pikirannya mengingat Nadia tersenyum.


"oh iya pesta itu, aku harus menghubungi wanita itu."


*****


dirumah Ina sedang mengobrol dengan ibu Kumala, mereka berbicara bincang membicarakan sesuatu.


"ma.. Nadia boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Nadia


"boleh sayang?" ucap lembut ibu Kumala.


"hm.. sebenarnya Angel itu..." Nadia takut meneruskan perkataannya, ibu Kumala pun paham dengan itu.


"Angel itu kekasih Kara dulu saat masih semasa Kara kuliah, dulu Kara bertemu Angel itu saat masih sma, terua mereka akhirnya pacaran. Angel itu anak yang baik, polos dan kalem. sering kali Kara itu menjahilinya, tapi takdir memisahkan mereka selama 3 tahun."


"kenapa ma..."

__ADS_1


"terjadi kesalah pahaman diantara mereka, sampai Angel meninggalkan Kara pindah ke kota lain." Nadia hanya diam mendengar itu.


"setelah 3 tahun mereka bertemu dikota yang Angel tinggali, saat itu Kara sedang kerja disana. kebetulan lagi mereka bekerja disatu tempat, tapi nasib Angel sangat malang." ibu Kumala merasa sedih dengan itu, Nadia pun mendekat.


"kenapa ma.. kenapa malang bukankah mereka bertemu dan Kara menikahinya."


"Kara selalu menyakitinya, tidak sekali dua kali Kara melakukan itu bahkan Angel selalu memaafkan Kara." ibu Kumala membayangkan wajah Angel saat pertama kali ia bertemu dan terkahir kali bertemu.


"Angel..." belum meneruskan Nadia mendapat telfon dari Kara, Nadia pun pamit untuk mengangkatnya dan pergi ke kamarnya.


"halo?"


"bersiaplah, aku akan mengajakmu ke pesta ulang tahun jam 7 malam!"


"kenapa harus aku?"


"Memangnya pasanganku Reno?"


"iya iya.."


Nadia mematikan telfon itu, ia membuka laci yang terdapat foto Angel disana. Nadia memperhatikan wajah Angel pada foto itu,


"Kara sangat mencintaimu!," gumam Nadia tersenyum.


****


Nadia susah bersiap didalam kamarnya, Kara masuk dalam kamarnya tanpa mengetuk. Kara terkejut saat melihat Nadia sedang memakai gaun tapi terlihat kesusahan saat meraih resliting itu.


"Kara.. seharusnya ketuk pintu!" ketus Nadia


"ini kamarku, kenapa harus mengetuk!" saut Kara dengan acuh.


"tapi sekarang kamu kan tidak sendiri disini!" Kara hanya cuek dan masuk dalam kamar mandi.


"dasar, tidak sopan!" gumam Nadia, ia masih berusaha mencapai reslitingnya tapi tetap gagal.


setelah beberapa menit Kara keluar dari kamar mandi, ia mendapati Nadia yang sudah cantik dan sangat elegan.


"kita akan kemana?" tanya Nadia, saat Kara mengambil setelan pakaiannya.


"istri temanku berulang tahun, mereka mengundangku tapi mereka menyuruhku untuk mengajakmu.!" jawab Kara didalam ruang ganti.


"siapa?" tanya Nadia lagi, Kara pun selesai ia keluar dan bercermin merapikan rambut dan pakaiannya.


"kenapa kau banyak tanya sekali." Nadia hanya membuang muka dan meninggalkan Kara dari kamar itu.


setelah itu Kara dan Nadia sedang dalam perjalanan, mereka sudah terlihat cantik dan tampan. Nadia sangat cocok menggunakan gaun berwarna merah kontras dengan kulitnya putih, bahkan riasannya terlihat natural. begitu pun dengan Kara, Kara memakai setelah jas berwarna hitam dan kemeja putih, wajahnya terlihat fresh dan sangat tampan dengan sedikit brewoknya.


"teman apa itu?" tanya Nadia, Kara fokus pada hp nya.


"temanku sewaktu berbisnis," Nadia hanya ber oh.


"kenapa kau tidak tanya namanya sekalian!" saut Kara lagi dengan kesal karena Nadia yang terus bertanya.


"tidak penting!" saut Nadia dengan cuek,


setelah beberapa menit Kara dan Nadia sampai ditempat tujuan, Nadia turun dari mobil begitu juga dengan Kara. Kara menyuruh Nadia menggandeng lengannya, Nadia pun menurut mereka masuk dalam pesta itu.


"aku tidak yakin ini pesta ulang tahun!" bisik Nadia karena melihat pesta itu seperti acara pernikahan, Kara tetap tersenyum tapi juga mendengarkan bisik Nadia.


"kau tahu dia sangat menurut pada istrinya, ini pasti permintaan istrinya." bisik Kara, Nadia hanya ber oh saja.


"KR!!!"


Kara dan Nadia sama sama merasa mengenali suara itu mereka pun menoleh kearah panggilan itu. Kara tersenyum melihat temannya itu, tapi berbeda dengan Nadia, Nadia melepas tangannya dari lengan Kara, ia terkejut melihat teman Kara, teman Kara pun terkejut melihat Nadia.

__ADS_1


"Vano/Nadia"


__ADS_2