My Love Story 2

My Love Story 2
37. ditakdirkan


__ADS_3

2 bulan telah berlalu, hubungan Kara dan Nadia semakin membaik. Hari ini Kara membawa Nadia kedokter untuk memeriksa kakinya, Nadia sangat ingin bisa berjalan lagi, terlebih lagi Kara selalu memberinya semangat.


"Kakimu pasti sembuh!" ucap Kara mengelus rambut Nadia


"Hm... Iya Kara aku juga yakin itu, terima kasih kau selalu memberiku semangat." Kara tersenyum saat Nadia memegang pipinya, Nadia merasakan geli saat memegang pipi Kara karena brewok tipis yang Kara punya.


Setelah beberapa menit menunggu giliran mereka telah dipanggil, dokter sedang memeriksa kaki Nadia. Saat dokter mengetuk kaki itu Nadia belum merasakan apa apa, Nadia menjadi sedih dengan itu.


"Bagaimana dok keadaan istri saya?" ucap Kara, dokter itu menghela nafasnya.


"Jangan khawatir tuan, aku percaya kaki istrimu pasti bisa sembuh!" Nadia tersenyum dan Kara pun juga.


"Dengan terapi yang rutin, kalian bisa melihat perbedaannya." Nadia tersenyum kearah dokter.


"Tapi..." belum selesai dokter berkata, Kara memotongnnya


"Tapi apa dokter?.." Nadia memegang tangan Kara.


"Tapi didalam diri pasien harus terdapat keinginan untuk bisa berjalan, dia harus punya semangat untuk sembuh secepatnya dan jangan bebani pikiran negatif itu bisa menghambat kesembuhannya." Kara tersenyum lega dengan perkataan dokter itu.


"Tentu, istriku Nadia mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dia sangat ingin sembuh dan juga aku akan selalu memberinya semangat dan dukungan penuh untuknya." ucap Kara tersenyum kearah Nadia, Nadia pun membalas senyuman itu.


"Ya.. Cinta diri suami sepertimu akan memberikan istrimu semangat." ucap dokter, Kara pun tersenyum kearah Nadia.


****


Dirumah Kara, tepatnya dikamar Febriyan dan Bagas sedang tidur bersama dikasur, keduanya dengan posisi yang sama saat tidur. Sejak hari dimana setelah divilla Febriyan memutuskan untuk tinggal bersama keluarga pak Wijaya, agar Bagas bisa berinteraksi atau bermain dengan beberapa orang. Bagas terbangun dari tidurnya ia melihat ayahnya tidur disebelahnya, Bagas melakukan hal nakal pada Febriyan.


"Hm.. Papa ini sudah siang, ayo bangun." ucap Bagas memeluk Febriyan, Febriyan tidak menghiraukannya.


"Yasudah aku akan menemui nenek." Bagas berlari keluar mencari ibu Kumala.


Pada saat keluar Bagas tidak melihat siapapun, ia hanya menemukan Risa yang ada didapur.


"Tante.. Apa kau tahu dimana nenek atau hm... bunda?" ucap Bagas melihat sekelilingnya, Risa menoleh.


"Nenekmu sedang dipasar, bundamu aku tidak tahu. kenapa apa kau lapar hm?" ucap Risa menghampiri Bagas.


"Aku hanya haus!" Risa pun tersenyum dan memberikan Bagas sebuah susu.


"Habiskan susu ini, maka kau akan kuat!" Bagas menerima susu itu dan mulai meminumnya, Risa memperhatikan Bagas yang begitu imut dilihatnya.


hm... anak ini sangat imut, aku tidak pernah tahu mas Riyan memiliki anak imut..


"tante sudah..." ucap Bagas menyadarkan lamunan Risa.


"hm.. jadi mau apa lagi?." ucap Risa, Bagas malah mendorong kursi untuk mendekat kearah Risa, Bagas menaiki kursi itu lalu mencium pipi Risa, Risa terkejut dengan itu.


"terima kasih, sekarang Bagas mau bangunin papa..." Bagas langsung berlari dan meninggalkan Risa yang masih terkejut.

__ADS_1


"hm.. karena itu Nadia sangat menyayanginya, imut sekali." gumam Risa memegang pipinya yang dicium Bagas


Bagas masuk kekamar Febriyan dan terlihat Febriyan masih tertidur nyenyak, Bagas pun menghampiri ayahnya itu dan membangunkannya.


"Papa.. Bangunlah..." Febriyan pun membuka matanya, dan tersenyum melihat Bagas


"Ada apa sayang?" tanya Febriyan dengan suara khas bangun tidur.


"Papa cepatlah mandi..." Febriyan mengangguk, Bagas pun mengikuti kegiatan Febriyan.


Saat sudah mandi Febriyan berkaca dan mengecek brewoknya yang sudah hampir tebal, Bagas melihat Febriyan yang begitu tinggi. Febriyan pun menyeret kursi agar Bagas bisa menaiki kursi itu dan sejajar dengannya, dengan lucunya Bagas melihat kecermin apa kah ia memiliki brewok seperti sang ayah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Febriyan.


"Kapan aku punya seperti papa?" ucap Bagas menyentuh dagu Febriyan.


"Hm.. Itu akan tumbuh jika usiamu sudah cukup!" saut Febriyan tersenyum lalu menggendong Bagas keluar dari kamar mandi.


"Jadi kenapa kau tidak membangunkan aku pagi tadi hm?" ucap Febriyan selagi memakai baju.


"Aku sudah membangunkanmu, tapi papa tidak peduli ya sudah.." jawab Bagas, Febriyan pun tertawa dan menggendong Bagas keluar dari kamarnya.


Saat mereka keluar terlihat Nadia dan Kara datang, Bagas turun dari gendongan Febriyan dan berlari kearah Nadia. Nadia dengan senang hati memangku Bagas, Kara pun juga tersenyum.


"Dari mana,?" tanya Febriyan mendekat.


"Dari dokter, untuk mengecek kaki Nadia." ucap Kara, Febriyan pun hanya ber oh saja.


"Ya... Bagas terlihat senang bersama orang orang disini, kalau aku tahu aku pasti akan tinggal disini sejak dulu dan tidak sendirian dirumah besar itu." Kara memperhatikan wajah Febriyan


"Karena itu menikahlah, agar Bagas memiliki ibu dan kau memiliki istri." Febriyan hanya memperhatikan Nadia dan Bagas yang sedang bermain, tidak menghiraukan Kara


"Apa kau memperhatikan istriku?" ucap Kara, Febriyan langsung menoleh dan menatap Kara.


"kenapa apa kau cemburu?" tanya Febriyan menggoda Kara.


"kenapa harus cemburu, kau seorang duda anak 1 mana mau Nadia padamu!" Kara menjulurkan lidahnya, Febriyan hanya menggeplak kepala Kara.


Nadia dan Bagas melihat aksi keduanya itu, mereka pun tertawa. Kara mendekati Nadia dan mencari sesuatu pada kantung jas nya, lalu terlihat Risa keluar dari kamarnya melihat Kara dan Nadia.


"Nadia tutup matamu!" Nadia hanya diam, ia bingung dengan permintaan Kara.


"hm.. istriku apa kau dengar?."


"hm.. iya, baiklah!" Nadia menutup matanya.


"kenapa, kenapa harus menutup mata?" ucap Nadia selagi menutup mata, Kara mengeluarkan sebuah jepit rambut dan memberikan isyarat pada Bagas untuk dibilang pada Nadia. lalu Kara memasangkan jepit itu pada rambut Nadia, Nadia langsung membuka mata.


"apa ini?" Nadia melepas jepit itu, terlihat jepit itu begitu cantik berwarna emas, apakah emas asli batin Nadia.

__ADS_1


"kau simpan ini, ini sangat khusus dibuat untukmu!" ucap Kara, Nadia pun tersenyum. tampak Risa sangat kesal dengan itu, ia pun menghampiri mereka.


"wah.. bagus sekali, aku jadi iri!" ucap Risa berpura pura dihadapan Nadia, Nadia hanya tersenyum.


****


malam harinya semua orang sudah tertidur, terdengar Risa terbatuk di malam itu. ia pun mengambil air dalam gelas tetapi air itu telah habis, Risa menggrutu sangat kesal ketika mendapati airnya telah habis dan ia harus mengambilnya didapur.


"ahh aku kesal sekali, kenapa tidak aku ambil tadi!" Risa pun berdiri dan melangkah keluar kamarnya untuk ke dapur.


dilain tempat Kara sedang menelfon dan Nadia sedang duduk dikasurnya menunggu Kara yang sedang sibuk menelfon.


"baik, untuk presentasi besok akan kubuat tugas yang diperlukan. oh iya Reno selesaikan tugas yang kuberikan, iya oke malam." Kara mematikan telfonnya dan mendekati Nadia.


"baiklah istriku sekarang tidurlah, aku akan selesaikan pekerjaanku!" Nadia memegang tangan Kara.


"iya kerjakan saja aku tidak melarangmu, boleh aku beri saran?" Kara duduk disamping Nadia.


"iya katakan?" ucap Kara mencium tangan Nadia.


"duduk disini, dan kerjakan bersamaku aku tidak akan menganggumu, aku janji !" Kara tampak berpikir, Nadia menunggu jawaban Kara.


"Nadia semua berkas ada diruang kerjaku, jika aku membawanya kesini semuanya akan berantakan dan terpencar, lalu bagaimana nanti aku akan menatanya ulang!" jelas Kara, Nadia tampak merengut.


"aku berjanji akan menyelesai kan nya dengan cepat, bagaimana?" ucap Kara lagi memegang bibir Nadia yang mengerucut.


"lalu apa yang akan kulakukan duduk disini sendiri selama menunggumu, aku akan bosan Kara dan juga aku tidak bisa tidur jika tanpamu." ucap Nadia yang membuat Kara harus merayunya lebih.


"hm.. pikirkan kalau kau sangat mencintaiku, bagaimana?" Nadia kesal dengan itu.


"jangan bercanda, kau taruh kursi roda itu dekat sini. dan balik arahnya kesini kemudian letakkan tepat disebelahku, kau bisa kan?" ucap Nadia


"ha ha.. tidak tidak, aku tidak akan lakukan itu. aku tahu benar kau akan mengikuti ku nanti, dengar kau tidak boleh duduk disana sebelum aku kembali."


"tidak! aku tidak akan melakukan itu, sungguh." ucap Nadia dengan ceria, akhirnya Kara menyerah ketika melihat wajah Nadia ceria, ia pun meletakkan kursi itu disamping Nadia.


"ingat perkataanku, jika tidak menurut akan kuhukum kau!" ucap Kara mengancam, Nadia hanya tersenyum.


"iya cepat pergi agar kau cepat kembali." Kara tersenyum dan melangkah keluar dari kamarnya.


mereka tidak tahu pembicaraan mereka didengar oleh Risa, Risa ingin kedapur tapi langkahnya berhenti ketika mendengar pembicaraan Nadia dan Kara. setelah Kara keluar Risa bersembunyi dibalik vas bunga besar yang terletak disebelah kamar Kara.


Kara pun masuk kedalam ruangannya dan mulai sibuk mengerjakan pekerjaan nya dengan fokus dan serius, Risa diam diam mengikuti Kara dan melihat Kara dari luar pintu, ia tersenyum melihat Kara.


"mereka yang ditakdirkan bersama, masih terbangun." Risa tersenyum melihat kearah Kara, entah apa yang dimaksudkan Risa.


***


**jangan bosen ya...

__ADS_1


jangan lupa like dan komen kalian😍**


__ADS_2