
dipagi hari Nadia membuka mata langsung teringat Kara, Nadia pergi keluar untuk menemui Kara. terlihat Kara sedang tidur nyenyak, Nadia mendekat dan duduk memeluk Kara. merasakan keberadaan Nadia, Kara membuka matanya.
"kamu?" ucap Kara, Nadia melihat kearah Kara.
"iya, apa kamu baik baik saja?" tanya Nadia, Kara tersenyum.
"baik, hanya sakit sedikit." saut Kara, Nadia terlihat sedih.
"seharusnya kamu tidak melindungiku seperti itu, aku takut Kara." ucap Nadia menangis, Kara menghapus air mata Nadia.
"aku tidak kemana pun selagi kamu masih bersamaku, tidak perlu takut." ucap Kara, Nadia tersenyum.
"aku tidak menghubungi keluarga, aku takut mereka khawatir." ucap Nadia.
"iya, kamu melakukan hal benar, setelah ini kita akn pulang." saut Kara, Nadia menyuapi Kara.
"kamu sudah sarapan?" tanya Kara, Nadia mengangguk.
saat Kara sedang makan Nadia menatap wajah Kara, Nadia merasa khawatir saat memikirkan perkataan Vano yang memberikan syarat. Kara melihat Nadia hilang dalam pikirannya, Kara memegang tangan Nadia.
"ada apa?" tanya Kara, Nadia tersadar dan tersenyum.
"tidak, aku tidak apa!" saut Nadia dengan menyuapi Kara lagi.
"kamu masih khawatir padaku, aku sudah baik baik saja." ucap Kara memegang pipi Nadia, Nadia tersenyum dan mengangguk.
setelah beberapa menit, perawat datang untuk membersihkan tubuh Kara. Nadia yang melihat itu tidak terima, karena perawat itu membuka baju Kara.
"(bahas inggris) permisi, biarkan saya yang melakukannya, saya istrinya." ucap Nadia, Kara melihat ke arah Nadia.
"ini bukan permainan Nadia, nanti kau bisa mengenai lukanya!" saut Kara.
"(bahasa inggris) tenanglah, saya juga seorang dokter. saya bisa mengatasi nya." ucap Nadia lagi tersenyum, perawat itu mengangguk dan keluar. Kara berpikir dia lupa bahwa istrinya itu seorang dokter.
"kamu senang ya, jika perawat itu melihat tubuhmu yang mulus ini!" omel Nadia membuka baju Kara, Kara berniat menggoda Nadia
"shh, sakit.." ucap Kara, Nadia menjadi panik.
"Kara sebelah mana, maafkan aku." ucap Nadia, Kara tersenyum.
"aishh.. kamu bohong." ucap Nadia memukul lengan Kara, Kara meringis kesakitan.
Nadia mulai membersihkan tubuh Kara dengan air hangat, Nadia berhati hati agar tidak mengenai luka Kara. Kara menatap Nadia yang dengan serius membersihkan lukanya, Kara tersenyum.
"jika kamu merawatku seperti ini, aku mau jika harus kecelakaan setiap hari." ucap Kara, Nadia langsung menatap tajam wajah Kara.
"bodoh, tidak perlu kecelakaan aku akan melakukannya setiap hari." saut Nadia, Kara tersenyum tipis.
beberapa menit kemudian dokter datang dan tersenyum kearah mereka, Nadia pun tersenyum.
"(bahasa inggris) kalian benar benar pasangan serasi, cinta istrimu menguatkanmu." ucap dokter menyuntik Kara, Kara tersenyum.
__ADS_1
"(bahasa inggris) ya.. istriku adalah semangatku, dia juga kekuatanku." saut Kara, Nadia tersenyum begitu juga dokter tersenyum. setelah selesai dokter pamit untuk keluar.
"Nadia, ini sangat sakit." lenguh Kara memegang lengannya, Nadia mengelus lengan Kara dengan lembut.
"Kara, aku sangat takut melihat kamu kesakitan seperti ini!" ucap Nadia menangis mengelus lengan Kara, Kara yang hanya menggoda Nadia terkejut.
"hei.. jangan menangis, ini tidak sakit. sudah kukatakan jika ada kamu bersamaku, aku akan baik baik saja." ucap Kara menyeka air mata Nadia, Nadia tersenyum.
maaf Kara aku belum bisa memberitahumu, tentang Vano.
***
tiga hari sudah Kara berada dirumah sakit, Nadia bahkan menghubungi Reno dan menceritakan semua. Reno datang segera mendengar Kara dan Nadia kecelakaan, Nadia pergi membeli sesuatu disebuah mini market. tanpa sengaja Nadia bertemu dengan Vano disana, mereka saling memandang. Nadia teringat Vano belum mengatakan syaratnya, bukannya menyapa Vano melewati Nadia begitu saja.
"kamu belum mengatakan syaratnya pada saya!" ucap Nadia, Vano menghentikan langkahnya.
"lain kali akan aku katakan!" ucap Vano pergi, Nadia hanya berdiri ditempatnya. Nadia masih bertanya tanya tentang syarat itu.
setelah satu minggu Kara diperbolehkan untuk pulang, mereka langsung pulang ke indonesia. Reno juga datang untuk membantu mereka pulang, pagi hari mereka telah sampai di indonesia.
saat pulang semua orang terkejut melihat mereka datang dan melihat Nadia sedang memapah Kara, mereka langsung menghampiri Kara dan Nadia.
"apa yang terjadi?" ucap Febriyan mengambil alih Kara dari Nadia, Risa mendekat kearah Nadia.
"ada apa Nadia?" tanya Risa,
"kami kecelakaan disana saat mau pulang, jadi harus menunggu satu minggu Kara baru boleh pulang. aku langsung meminta Reno untuk mengurus kepulangan kami." jelas Nadia, ibu Kumala terlihat khawatir pada mereka.
"tidak ma, hanya luka dipunggung saja." saut Kara, ibu Kumala membuatkannya jahe hangat untuk diminum.
"maaf kami tidak menghubungi kalian, karena kami tidak ingin kalian khawatir." ucap Nadia, mereka pun mengiyakan.
"tapi Nadia, siapa yang memberikan darah padaku. dokter bilang katanya aku kritis dan membutuhkan darah, darahmu tidak sama denganku kan?" ucap Kara, Nadia terdiam. Nadia belum siap menceritakan nya.
"sudahlah, yang penting kau tidak apa sekarang!" saut ibu Kumala, Kara pun mengangguk.
"biar mas yang bawa Kara keatas," ucap Febriyan, Nadia mengiyakan.
setelah 3 hari Kara telah sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya, Nadia masih berpikir tentang syarat yang akan diberikan Vano. Nadia berniat untuk bertemu Vano dan mengatakan semuanya agar semuanya selesai. sebelum itu Nadia ingin mengatakan pada Kara tentang siapa yang mendonorkan darah pada Kara.
Kara datang dan langsung masuk kekamar, Nadia terkejut melihat Kara. Kara mencari cari sesuatu dilemari, Nadia mendekati Kara, belum sempat bertanya Kara bergumam.
"menyebalkan, dimana file itu. Nadia ceroboh, dia pasti salah menaruh nya." gumam Kara kesal karena tidak menemukan yang ia cari, Nadia kesal dengan itu.
"aku mendengarnya!" saut Nadia, Kara terkejut dan menoleh.
"kamu disini, aku tidak melihatmu." Nadia kesal, Kara hanya meringis.
"kenapa cari dilemari pakaian, cari diatas meja atau didalam laci." saut Nadia, Kara pergi kemeja.
"tidak ada, lalu dimana?" tanya Kara lagi, Nadia kesal saat menemukan file yang dimaksud Kara dan Kara tidak bisa melihat itu.
__ADS_1
"ini, kamu ini tidak sabaran jika mencari sesuatu." omel Nadia, Kara tersenyum dan mencium pipi Nadia.
"terima kasih, aku pergi dulu." ucap Kara, Nadia mengelap bekas ciuman dari Kara.
"dasar menyebalkan!" gumam Nadia tersenyum.
Kara berjalan keluar dari kamarnya diikuti Nadia, Nadia ingin sekali mengatakan pada Kara tapi ia melihat Kara sibuk. saat Kara berhenti, Nadia menabrak tubuh Kara dari belakang.
"Kara kenapa tiba tiba berhenti, isshh.." ucap Nadia kesakitan memegangi dahinya.
"aku merasa kamu ingin mengatakan sesuatu, apa benar?" tanya Kara, Nadia terkejut dengan itu.
"hm.. Kara aku ingin mengatakan tentang Vano." belum diteruskan Kara menatap wajah Nadia.
"dia lagi, aku tidak ingin mendengar tentang dia!" ucap Kara lalu melangkah pergi, Nadia yang ingin menghentikan Kara tidak jadi.
Nadia berjalan menuju dapur, ia melihat Risa yang sedang minum air. Nadia tersenyum, begitu juga dengan Risa melihat Nadia tersenyum.
"perutmu semakin besar, butuh pakaian yang longgar." ucap Nadia, Risa memegangi perutnya.
"hm.. iya, bagaimana bulan madumu. apakah jadi?" tanya Risa duduk disamping Nadia,
"aku tidak tahu, aku belum memeriksanya." saut Nadia, Risa memegang tangan Nadia.
"coba dong, aku punya test kehamilan ambil dikamarku, cek saat pagi hari." ucap Risa, Nadia tersenyum.
"hm.. Iya, akan kucoba besok." saut Nadia, mereka saling tersenyum.
pagi hari berikutnya Kara berangkat lebih pagi, saat Nadia bangun sudah tidak melihat Kara, hanya melihat sepucuk surat yang Kara berikan. Nadia teringat tentang Risa yang menyuruhnya untuk mengecek, Nadia masuk dalam kamar mandi dengan ragu ia mencoba.
Nadia masih melihat kearah cermin, Nadia menggenggam alat itu belum berani untuk melihatnya. perlahan Nadia melihat hasil itu dan iapun terkejut saat melihatnya.
siang hari Nadia keluar dari rumah sakit, Nadia tersenyum dengan membaca sebuah surat. dan tanpa sengaja lagi lagi ia bertemu dengan Vano, Vano mendekat kearah Nadia. Nadia tidak menyangka bertemu Vano di jakarta, Nadia berpikir Vano masih ada di london
"bisakah kita bicara?" ucap Vano, Nadia memasukan kertas yang ia pegang.
"katakan?" tanya Nadia.
"tidak disini, temui saya direstoran xx. kita akan bicara tentang syarat saya." jawab Vano, Nadia menatap Vano.
"kenapa tidak disini!" tanya Nadia, Vano tersenyum
"jam 7, saya akan menunggumu." saut Vano lalu pergi, Nadia berdiri ditempatnya.
malam hari menunjukan pukul setengah tujuh malam, Nadia bersiap untuk pergi. sebelum itu Nadia mencoba menelfon Kara untuk memberitahu tujuannya pergi, karena sibuk pekerjaan Kara tidak menjawab telfon Nadia.
"Kara setelah aku pulang, aku akan menceritakan semuanya padamu." gumam Nadia, ia telah mengirim pesan pada Kara jika ingin pergi. setelah itu Nadia pergi ketempat yang diberitahukan Vano.
Kara telah selesai melakukan rapat, Kara berpikir belum menghubungi Nadia sejak pagi. ia melihat hp nya terdapat panggilan dari Nadia, Kara melihat sebuah pesan dari Nadia.
"Kara aku pergi sebentar, aku ada urusan. aku akan segera pulang, setelah pulang akan kukatakan padamu tentang satu hal."
__ADS_1
Kara penasaran dengan Nadia yang tidak memberitahukan nya pergi kemana, Kara menyuruh Reno untuk melacak lokasi pada hp Nadia. setelah beberapa menit Kara mendapat lokasi Nadia dan segera pergi untuk menemui Nadia.