My Love Story 2

My Love Story 2
54. Risa 2


__ADS_3

Risa membuka matanya, kepalanya terasa berat dan tubuhnya merasakan tidak enak. Risa merasakan mual pada perutnya, ia pun berlari kearah kamar mandi dan memuntahkan rasa mualnya itu.


"hoek.. hoek.. uhuk.. uhuk.. hoek..."


Risa membersihkan mukanya dan memandang kearah cermin dihadapannya, Risa memegang perutnya sendiri. Risa teringat saat tidur bersama Febriyan divila malam itu.


"apa aku.." gumam Risa memegang perutnya, ia pun keluar dari kamar mandi. saat Risa keluar terlihat Vano duduk dikasurnya, Vano menunggu Risa keluar dari kamar mandi.


"hai.." ucap Risa, Vano pun tersenyum.


"hai, ini makanlah, tubuhmu tidak sehat." ucap Vano memberikan bubur, Risa pun menerimanya.


"terima kasih, maaf. aku selalu merepotkanmu." Vano tersenyum.


"tidak repot aku hanya membantumu, oh iya kamu harus jaga kesehatan kamu sedang hamil." Risa terkejut dengan perkataan Vano, ia menjatuhkan bubur yang ada pada tangannya.


"apa yang terjadi, kau tidak apa?" tanya Vano karena khawatir kaki Risa terkena pecahan mangkuk.


"apa yang kau katakan tadi?" tanya Risa


"tadi kamu pingsan, karena khawatir aku memanggil dokter. dokter mengatakan kau sedang hamil dan usianya masih 1minggu, kau tidak boleh tertekan." ucap Vano, Risa pun memegang perutnya dan menangis.


"aku hamil.. hiks.. aku tidak percaya ini..." ucap Risa memegangi perutnya.


"kau harus katakan pada suamimu, mungkin keluargamu sedang mencarimu." ucap Vano, Risa terdiam.


"tidak, aku tidak punya keluarga."


Risa menangis, Vano tidak tega melihat semua itu.


****


satu minggu telah berlalu, Kara terus mencari keberadaan Risa tapi tidak ditemukan. tiba tiba David menghubungi Kara, membuat Kara bingung karena jarang sekali David menghubunginya.


"halo, ada apa David?"


"halo Kara, bisa kita bertemu?"


"hm.. iya, aku yang kesana atau kau yang kekantorku?"


"aku saja yang kekantormu, bagaimana?"


"tentu datanglah, tapi ada apa?"


"ini tentang kau dan Nadia, baik aku akan datang sore ini."


"iya, aku tunggu."


setelah menutup telfon Kara sangat penasaran kenapa David mengatakan tentang dirinya dan Nadia.


sore harinya terlihat David memasuki ruangan Kara, Kara mempersilahkan David duduk. awalnya mereka saling menyapa, setelah itu mereka mulai membicarakan hal serius.

__ADS_1


"ada apa David, apa ada yang terjadi pada Nadia?" ucap Kara, David pun memberikan Kara amplop berwarna coklat.


"apa kau dan Nadia berhubungan badan akhir akhir ini?" ucap David, Kara membuka amplop itu.


"tidak, semenjak kecelakaan kami belum melakukannya. kenapa?"


"(menghela nafas) kalian tidak boleh melakukan itu, mungkin sampai anak kalian lahir." Kara terkejut dengan itu, ia memandangi David.


"Kara kandungan Nadia sangat lemah, kecelakaan itu membuat pertahanan janin itu lemah. demi kebaikan anak kalian jangan berhubungan dulu, kau mengerti maksudku kan." Kara terdiam, David mencoba menjelaskan kembali.


"aku mengerti David, terima kasih." ucap Kara, David pun mengangguk.


"jangan buat Nadia merasa tertekan, karena emosinya juga mempengaruhi itu semua." Kara pun mengangguk,


"iya sudah, aku pergi dulu. ingat pesanku." ucap David dan berlalu pergi dari ruangan Kara.


Kara terduduk dikursinya, ia mengusap wajahnya kasar.


dimalam hari Kara pulang dari kantor, Nadia menyambut Kara dengan senyuman. Kara pun sangat bahagia melihat istrinya itu tersenyum bahagia, Kara pun mendekati Nadia.


"ada apa, kenapa tersenyum?" ucap Kara memeluk Nadia.


"hm.. aku hanya ingin tersenyum, Kara masih belum menemukan Risa?" Kara menggelengkan kepala, Nadia merasa sedih dengan itu.


"tidak perlu dipikirkan, pasti nanti ketemu." Nadia mengangguk, Kara pun memeluk Nadia.


Nadia mencoba mencium Kara, Kara pun membalas ciuman itu. Kara menggendong tubuh Nadia ke atas kasur, Kara larut dalam ciuman itu melupakan pesan David. Kara membuka kemejanya lalu ia mencium Nadia lagi. saat tangan Kara menyentuh perut Nadia, Kara menyadari sesuatu ia mengingat perkataan David yang mengatakan mereka tidak boleh berbuhungan dulu sebelum anak mereka lahir, Kara menghentikan semuanya Nadia pun bingung dengan itu.


"aku mandi dulu," ucap Kara berdiri dan melangkah ke kamar mandi, setelah beberapa menit Kara keluar ia melihat Nadia yang menunggunya.


"Nadia tidurlah, aku juga sangat lelah aku akan tidur." ucap Kara berbaring dan menutup mata, Nadia ikut tidur disamping Kara dan memeluknya.


"Kara apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Nadia, Kara membuka mata.


"tidak ada." saut Kara, ia berdiri dan melihat kearah luar jendela, cahaya bulan terang masuk kedalam kamar mereka.


"aku tidak bisa melakukan itu..." ucap Kara, Nadia merasa bingung. Kara keluar dari kamarnya dan masuk kedalam ruang kerjanya, Nadia hanya membiarkan Kara pergi.


besoknya terlihat Nadia tidur dengan nyenyak, Kara keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Nadia terbangun, Kara tersenyum kearahnya.


bagaimana bertanya padanya, apa yang terjadi padamu tadi malam Kara.


"tidurmu nyenyak. apa yang kau lamunkan pagi pagi, apa mimpi buruk?" ucap Kara, Nadia menggelengkan kepala, Nadia terus menatap wajah Kara.


bagaimana memberitahumu Nadia, apa dan mengapa aku melakukan itu .Bagaimana aku memberitahumu bahwa apa yang aku lakukan adalah untuk kebaikanmu tetapi aku juga tidak bisa menjawab apa yang matamu tanyakan.


Nadia memilih untuk tetap diam, ia pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kara melihat itu hanya bisa diam dan tidak bisa melakukan apapun.


***


Risa membersihkan rumah Vano, mulai dari mengepel lantai hingga membersihkan ruangan yang lain. siang itu Vano pulang dari kantor karena ingin melihat keadaan Risa, disaat itu Risa sedang memasak didapur tidak mengetahui keberadaan Vano.

__ADS_1


Vano memperhatikan Risa dari belakang, entah apa yang dipikirkan Vano ia tersenyum sendiri.


"sudah pulang?" ucap Risa, Vano terkejut hingga tersadar dari lamunannya.


"ehem.. iya, aku datang untuk mengambil berkas yang ketinggalan." Vano berbohong pada Risa, Risa pun mengangguk.


"oh iya, aku sudah membersihkan rumahmu, dan ini aku memasak untukmu. aku berniat menelfonmu untuk menyuruhmu pulang, agar kau bisa makan siang." jelas Risa menata setiap makanan yang ia buat, Vano melihat sekeliling rumahnya tampak bersih dan tertata rapi.


"kau tidak perlu bekerja, jangan terlalu lelah." ucap Vano, Risa tersenyum.


"tidak apa, aku disini bukan tamu tapi pelayan jadi aku melakukan tugasku." ucap Risa.


"(menghela nafas) oke tugasmu hanya memasak untukku, dari sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan lagi kau harus menemaniku makan saat waktunya." Risa tersenyum, Vano tercengang melihat senyum Risa.


"wah, akhirnya aku melihatmu tersenyum beberapa kali hari ini." Risa merasa malu dengan perkataan Vano.


"boleh aku bertanya?" tanya Risa, Vano sedang asik makan.


"iya, katakan?" jawab Vano.


"kenapa.. kau bercerai dengan istrimu?" Vano menghentikan kunyahannya dan menatap Risa.


"hm.. maaf, aku hanya penasaran." ucap Risa menunduk, Vano pun tersenyum.


"hanya formalitas saja, aku menikah dengannya hanya karena saham orang tua, setelah semua selesai untuk apa melanjutkan hubungan itu." jelas Vano.


"apa tidak tumbuh cinta diantara kalian?" tanya Risa lagi, Vano tersenyum lagi.


"tidak ada, aku tidak pernah mencintainya." jawab Vano, Risa hanya diam.


"hm.. sore ini aku akan pergi mencari rumah." ucap Risa.


"hm.. butuh supir?" Risa menggelengkan kepala, Vano mengeluarkan dompetnya dan memberikan Risa kartu kredit.


"ini untukmu, pakai jika kau memerlukannya." ucap Vano menyodorkan kartu itu.


"tidak perlu, aku ada sedikit uang."


"uang dari mana, sudah jangan membohongiku." Risa pun terdiam ia berpikir memang dirinya tidak punya uang sepeserpun, Risa pun akhirnya menerima kartu dari Vano


"terima kasih." Vano tersenyum dan mengangguk.


***


di sore hari Nadia sedang membeli bunga dipinggir jalan, Nadia berniat untuk ke supermarket tapi niatnya terhenti ketika melihat bunga yang bermekaran.


"wah.. cantik sekali, dek berikan bunga yang itu.." ucap Nadia, penjaga bunga pun memberikan permintaan Nadia, setelah itu Nadia pergi menuju mobil yang ia parkir.


saat Nadia berjalan menuju mobilnya, ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenali. Nadia menjatuhkan bunganya dijalan, ia perlahan menghampiri wanita itu. saat berada tepat dibelakang wanita itu Nadia memegang pundak wanita itu, wanita itu menoleh kearah Nadia.


"Nadia!"

__ADS_1


__ADS_2