
keesokan hari nya mereka telah sampai ditempat tujuan, mereka semua memasukkan barang bawaan mereka kekamar masing masing. Nadia duduk dihalaman vila disana, kakinya ingin bergerak turun tiba tiba Kara datang mengangkatnya, membuat Nadia terkejut.
"ada apa?" tanya Kara, Nadia menggelengkan kepala.
"turunkan aku." Kara menurunkan Nadia perlahan hingga berdiri.
"bukan berdiri, tapi duduk dikursi." ketus Nadia, Kara langsung menggendong Nadia.
"kamu masih kesal karena soto?" Nadia hanya diam.
"baiklah kita akan pergi sekarang untuk beli soto."
"tidak, aku ingin ke makam Angel." Kara langsung teringat permintaan Nadia sebelumnya.
"oh iya, baiklah kita akan ganti baju dulu." ucap Kara selagi membawa Nadia kekamar mereka.
"mau kemana?" ucap Risa, Kara pun berhenti dan melihat Risa.
"akan ke makam Angel, mau ikut?" ucap Kara, Risa pun mengangguk.
"oke aku akan katakan pada mas Riyan dulu." Risa masuk dalam kamarnya, Kara pun membawa Nadia kekamar mereka.
setelah beberapa jam mereka berempat sampai di pemakaman umum, lebih tepatnya tempat makam Angel. Kara mendorong kursi roda Nadia menuju makam Angel, diikuti Febriyan dan juga Risa.
"wah.. makam Angel tambah indah." ucap Nadia, Kara tersenyum.
"ya karena ada yang merawat setiap hari." ucap Kara mengusap nisan Angel, Nadia tersenyum.
mereka pun membacakan doa untuk Angel, setelah beberapa menit mereka telah selesai. saat ingin pergi Nadia meminta pada Kara untuk meninggalkannya sendiri dengan Angel, Kara pun mengiyakan. Risa penasaran apa yang akan dilakukan Nadia sendirian.
"hm.. hai.. Angel aku Nadia, istri Kara." ucap Nadia.
"maaf aku baru mengunjungi mu setelah sekian lama, oh iya sebelumnya terima kasih, entah lah terima kasih untuk apa. aku sudah melihatmu disetiap sudut kamar Kara, kau sangat cantik dan juga manis aku harap anakku nanti mirip denganmu. oh iya aku ingin katakan padamu, aku sedang hamil anak Kara. doa kan kami disana Angel, kami akan selalu mendoakan kamu selalu disini."
saat Nadia sedang berbincang tiba tiba angin berhembus kencang disana, Nadia merasa penglihatannya tertutup oleh kabut. Kara berlari mendekat kearah Nadia, dan memakaikan jaket pada Nadia.
"ayo kita kembali, sudah selesaikan?" ucap Kara, Nadia hanya mengangguk.
setelah sampai dimobil mereka meninggalkan makam itu, Nadia masih melihat kearah makam Angel. Kara mengelus rambut Nadia perlahan, Nadia melihat Kara dan tersenyum.
"Kara ayo mampir disana!" ucap Risa menunjuk sebuah perbukitan.
"kenapa?" tanya Febriyan.
"disana banyak makanan, dan tempat bagus untuk berfoto." Kara pun mengiyakan, Febriyana berpikir apa yang direncanakan Risa.
"aku akan mendorongnya!" bisik Risa, Febriyan langsung melotot kearahnya, Risa tertawa pelan.
setelah beberapa menit mereka sampai dibukit, benar kata Risa banyak sekali orang berjualan makanan disana. membuat Nadia sangat bahagia melihat jajanan itu, Kara melihat raut wajah Nadia yang bahagia seperti melihat berlian.
"kau senang?" ucap Kara, Nadia mengangguk kuat.
"ah.. dasar wanita." ucap Febriyan, Kara mengangguk pelan.
__ADS_1
Risa dan Nadia membeli makanan apa yang mereka inginkan, Risa sangat terkejut saat Nadia makan banyak.
"Nadia kau tidak apa?" tanya Risa, Nadia mengangguk.
Kara dan Febriyan mendekati mereka karena tiba tiba hawa menjadi sangat dingin.
"ayo kita pulang ini sudah sore, dan lihat sangat berkabut juga dingin." ucap Kara, belum Nadia menjawab seseorang menghampiri mereka.
"hei tuan kembalilah, kasian istri kalian. sekarang cuaca buruk, kami juga sudah bersiap pulang." ucap seorang pria.
"memang ada apa dengan cuacanya?" tanya Febriyan.
"cuaca buruk akhir akhir ini tuan, bagi yang datang berkunjung bisa saja hilang. jadi demi keselamatan kembalilah, malam hari tidak baik disini." jawab orang itu.
"tapi aku baru datang kesini, disini sangat dingin dan sejuk." ucap Nadia
"iya nyonya kemarilah saat pagi atau siang, jika sore menjelang malam itu tidak baik." jelas orang itu, Nadia hanya menatap Kara.
"baiklah, terima kasih." ucap Kara,
"kita bisa kesini besok pagi." Nadia mengangguk pelan, Kara pun mengangkat Nadia dan Febriyan membawa kursi roda Nadia. Risa masih berdiri dan memikirkan sesuatu.
"kabut. aku akan menghancurkan orang yang membuatku menderita dengan kabut ini, siapa pun itu. Nadia, Kara bahkan suamiku Riyan, aku membenci kalian. sudah cukup aku berpura pura baik pada kalian, aku sudah muak tidak ada yang mengerti diriku." gumam Risa, terlihat wajah kebencian yang membara pada diri Risa.
****
malam harinya Nadia sedang menelfon seseorang, ia duduk dikasur dan menyelimuti kakinya.
"iya aku akan katakan padanya besok lusa Wi."
"iya iya cerewet sekali kamu, yasudah tutup dulu ya.. kirim salam buat David."
"oke bye..."
"ya.. bye.."
setelah Nadia mematikan telfonnya, terlihat Kara datang menghampirinya. Kara memberikan sepiring buah apel, Nadia menerima itu dengan senyuman. Kara duduk bersama Nadia lalu membuka laptopnya dan mulai fokus mengerjakan pekerjaannya, Nadia melihat Kara seperti itu sangat kesal.
"Kara.. terus saja dengan istri keduamu!" Kara tersenyum tipis.
"pekerjaanku banyak sayang." jawab Kara,
"Kara aku juga butuh perhatianmu." ucap Nadia dengan manja.
"iya lima menit ya. " saut Kara.
"tidak mau." ucap Nadia mengalungkan tangannya pada lengan Kara, Kara tetap fokus pada laptop nya.
" dua menit lagi ya.." ucap Kara mengelus rambut Nadia.
"Kara kalau aku hamil, kau ingin perempuan atau laki laki?" pertanyaan Nadia membuat Kara menghentikan pekerjaannya.
"perempuan." jawab Kara, menutup laptopnya.
__ADS_1
"kenapa perempuan?" tanya Nadia lagi,
"hm.. karena aku ingin dia mirip sepertimu, bagaimana?" jawab Kara mencium pipi Nadia, Nadia tersenyum.
"oke, mau anak berapa?" tanya Nadia lagi.
"lima?" jawab Kara, Nadia tertawa.
"tidak, 10 saja?" Kara gemas mendengar itu, ia menggigit pipi Nadia, bukannya kesakitan Nadia malah tertawa.
mereka tidak tahu, pembicaraan mereka sedang diperhatikan oleh Risa dari jauh. Risa yang ingin memberikan hp Kara terhenti ketika melihat mereka berduaan. Risa sangat kesal melihat canda tawa mereka, bahkan Kara dan Nadia saling menyuapi apel.
"bersenang senanglah sekarang, kalian akan kuhancurkan semua hari ini." ucap Risa mengepalkan tangan.
Risa menghampiri Febriyan yang sedang menggendong Bagas, dan meminta Bagas untuk bergiliran menggendong.
"aku butuh bantuanmu, aku membeli baju ditoko tadi. dan orangnya menghubungiku untuk mengambil baju itu, bisa kau kesana. aku juga beli baju untuk kalian." ucap Risa, Febriyan pun mengiyakan lalu masuk kamarnya mengambil jaket dan kunci mobil.
"tidurkan Bagas." Risa mengangguk, lalu Febriyan keluar dari vila itu.
"Bagas, setelah rencanaku selesai, kau akan tinggal bersamaku, akan kubawa kemana pun aku pergi." ucap Risa, Bagas hanya tertidur dalam gendongannya.
Febriyan sampai ditoko, ia mengambil apa yang diberitahukan Risa. tapi saat ingin kembali dirinya terjebak dengan badai berkabut malam itu, dan harus menunggu di dalam toko.
"hufft sangat dingin." ucap Febriyan menggosok kedua telapak tangannya.
Kara keluar dari kamarnya, ia berniat menghampiri Febriyan untuk mengambil hpnya. saat berjalan Kara melihat Risa menggendong Bagas diruang tamu, Kara pun menghampirinya.
"Risa belum tidur?" ucap Kara, Risa pun menoleh dan tersenyum.
"aku sedang menidurkan Bagas." Kara pun mengangguk
"dimana mas Riyan?" tanya Kara, Risa kembali tersenyum.
"dia mengambil barang pesananku, tapi dia belum kembali dari tadi." Risa memberikan hp Kara, dan menghubungi Febriyan tapi tidak aktif.
"dimana toko nya?" tanya Kara
"toko didekat sana!" Kara masuk kedalam kamarnya, dan mengambil jaket.
"aku akan menyusulnya."
Nadia keluar dari kamarnya karena Kara terburu buru mengambil jaket.
"menyusul siapa?" tanya Nadia, Kara menoleh kearah Nadia.
"Kara diluar berkabut!" ucap Risa.
"tidak masalah, kalian disini ya tidak akan lama." Kara pun melangkah keluar vila, Nadia mendekati Risa.
"menyusul mas Riyan," tanpa ditanya, Risa langsung memberikan jawaban.
setelah kepergian Kara terlihat kebocoran oli pada mobil Kara, Risa tersenyum penuh arti. itu adalah rencana Risa, untuk mencelakai Kara.
__ADS_1
"oli nya akan habis dalam beberapa saat Kara, dan kita lihat berapa lama kau akan kembali." gumam Risa tersenyum penuh arti, Risa melihat sekelilingnya terdapat kabut sangat tebal.