
hari hari telah berlalu, sampai hari dimana kedua keluarga itu berkumpul dan membicarakan tentang peresmian perjodohan antara Kara dan Nadia.
terlihat kedua keluarga itu sedang berada disebuah restoran besar, mereka semua berkumpul. terlihat pak Adi dan pak Wijaya bahkan, istri mereka masing masing sedang bercengkrama. Kara, Reno dan Febriyan sedang mengobrol urusan mereka sendiri, dan Nadia sedang mengobrol dengan Bagas sesekali mereka tertawa.
"doktel.. hari ini doktel cantik.." ucap Bagas, Nadia pun menangkup kedua pipi Bagas.
"dokter selalu cantik Bagas, hahaha..." jawab Nadia membuat Bagas juga tertawa.
"makanan sudah dihidangkan, ayo semuanya kita mulai acara makan malam keluarga ini." teriak ibu Kumala, mereka semua pun melangkah mendekat kearahnya.
"kalian pasti bertanya tanya kenapa, keluarga kita kumpul seperti ini!" ucap pak Wijaya, diacuhkan oleh Kara
"jadi kami kedua orang tua dari kalian ingin membicarakan peresmian perjodohan kalian!" Nadia dan Kara bahkan diam tidak merespon mereka juga tidak terkejut.
"Kara bagaimana menurutmu nak.." ucap ibu Kumala, Kara pun tersenyum.
"Kara terserah kalian saja!" jawab Kara dengan angkuh
"kalau Nadia bagaimana?" ucap ibu Kumala lagi
"iya tante Nadia terserah orang tua saja." jawab Nadia tersenyum.
"baiklah! jika keputusan kalian seperti itu, kami memutuskan acara pertunangan kalian akan dilaksanakan 3 hari lagi.." ucap pak Wijaya mantab.
"apa!!" ucap Kara dan Nadia terkejut, mereka saling memandang sinis.
"kenapa, katanya terserah kami?" tanya pak Wijaya tersenyum kearah kedua orang tua Nadia.
"om.. a..apa tidak terlalu cepat?" ucap Nadia ragu ragu.
__ADS_1
"lebih cepat lebih baik sayang, usia kalian sudah sangat pantas untuk menikah!" ucap ibu Sabilah tersenyum, Nadia pun hanya pasrah begitu juga dengan Kara.
setelah acara makan malam, mereka semua saling mengobrol dan bercengkrama. Febriyan mencari cari keberadaan Bagas ternyata Bagas sedang bersama Nadia, ia pun menghampiri mereka.
"doktel.. apa doktel mau menikah dengan om kala.." Nadia tersenyum dengan pertanyaan dari Bagas.
"iya Bagas, setelah itu kamu panggil doktel dengan sebutan tante ya..." Bagas menggelengkan kepala nya
"kenapa sayang.." tanya Nadia bingung.
"Bagas mau panggil doktel dengan sebutan bunda.." Nadia terdiam dengan itu, ia berpikir selama ini Bagas menganggapnya sebagai ibunya. Nadia memeluk erat tubuh kecil Bagas dan sedikit menangis.
"Bagas mau memanggil doktel bunda?.." Bagas mengangguk dengan polosnya, Nadia pun tersenyum terharu ia pun mencium pipi gembul Bagas.
"Bagas bisa panggil dokter bunda, tapi Bagas gak boleh nakal ya.." Bagas pun tersenyum dan memeluk Nadia.
"telima kasih bunda..." Nadia membalas pelukan itu dan tersenyum.
Febriyan mendekat kearah Nadia dan Bagas, ia duduk disebelah Nadia. Nadia sadar dengan kehadiran Febriyan, ia pun mercoba menghapus sisa sisa air matanya dan tersenyum kearah Febriyan.
"apa aku mengganggu kalian?" ucap Febriyan, Nadia pun menggeleng pelan
"tidak.. apa sudah selesai semuanya, kenapa kau kemari?"
"mereka masih mengobrol, entah lah tapi Kara sedang bicara pekerjaan bersama Reno, aku mencari Bagas ternyata bersamamu disini karena itu aku kemari." Nadia pun hanya mengangguk, lalu Febriyan mencari sesuatu dalam kantong jas nya.
"oh iya, ini gelangmu!" Nadia terkejut dengan itu, karena Nadia sudah mencari gelang itu beberapa hari yang lalu.
"bagaimana bisa ada padamu?" Nadia mengambil gelang itu.
__ADS_1
"entahlah itu ada pada genggaman Bagas saat tidur!" Nadia berpikir bagaimana bisa.
"gelangnya terputus, ini aku ganti dengan yang baru. meskipun tidak tertulis namamu ini sama mahalnya kok!" Nadia tertawa dengan perkataan Febriyan.
"gelang ini tidak mahal, ini hanya buatan seseorang!" Febriyan hanya menatap Nadia yang tertawa.
"siapa?"
"Aidan, dia kakak sulungku yang ada di Amerika. sebelum pergi dia memberiku gelang ini dan memintaku untuk menjaganya. " Febriyan merasa bersalah ketika mengingat gelang itu putus akibat ulah Bagas.
"baiklah terima lah gelang dariku sebagai hadiah peresmian mu menjadi calon saudara iparku?" Nadia tersenyum dan menerima gelang yang diberikan Febriyan.
"terima kasih, jadi aku harus memanggilmu apa?" Febriyan tersenyum kearah Nadia.
"kau boleh memanggilku mas, seperti yang lainnya." Nadia pun mengiyakan, mereka pun meneruskan obrolan mereka.
"kalian disini!" ucap Kara tiba tiba datang.
"iya Kara ada apa?" tanya Febriyan berdiri, terlihat Nadia menggendong Bagas yang tertidur entah sejak kapan, Kara memperhatikan itu dan terlihat kesal.
"mari pulang, semuanya sudah menunggu!" ucap Kara lalu pergi begitu saja, Febriyan menggelengkan kepala.
"sudahlah ayo Nad, maaf ya Bagas tidur digendonganmu lagi."
"tidak masalah mas, aku senang kok!"
mereka pun berjalan menuju tempat keluarga mereka, saat mereka sedang berjalan Febriyan mendengar perkataan seseorang melihat kearah nya dan Nadia.
"lihatlah, mereka sangat cocok. aku tidak pernah melihat seorang ibu seperti itu."
__ADS_1
Febriyan melihat kearah Nadia yang dengan hati hati menggendong Bagas sedang tidur, tidak tahu kenapa Febriyan merasakan perasaan nyaman saat melihat Nadia seperti itu seperti ia bersama Ina dulu.