My Love Story 2

My Love Story 2
65. bersedih


__ADS_3

2bulan berturut dikantor Kara dimasukkan oleh stafnya terutama Reno yang mengerti keadaannya, mereka tahu kabar tentang apa yang terjadi pada istri Kara. siang itu Kara menunggu kedatangan Nadia untuk mengirim makan siang, saat dikantor Kara selalu menelfon Nadia tapi tidak pernah diangkat, Kara mencoba menelfon Nadia.


dirumah Nadia hanya berada dalam kamar dan tidak mau keluar dari sana, Nadia seakan terpuruk didalam kamarnya sendiri. siang itu Nadia sedang sendirian dikamar lalu mendapat telfon dari Kara, Nadia akhirnya menjawab telfon itu.


Nadia: "halo,"


Kara: " dimana makan siangku?"


Nadia: "ibu sudah mengirimnya, tunggu saja."


Kara: "aku telfon rumah tapi tidak ada yang merespon, kamu dimana?"


Nadia: "aku dirumah, baiklah akan ku lihat dulu."


Nadia keluar dari kamarnya, Nadia tidak menemukan satu orang pun disana. Nadia melihat kotak makan siang milik Kara, Nadia memeriksa nya dan terlihat sudah ada isinya.


Nadia: "halo Kara, ini sudah disiapkan mama. aku akan mencari supir dulu."


Kara: "tidak, aku ingin kamu yang antar kesini, aku sangat merindukanmu."


Nadia: "(menghela nafas) baiklah, aku akan pergi."


setelah mengatakan itu Nadia bergegas pergi, Kara tersenyum dengan itu. beberapa menit kemudian Nadia sudah datang membawa makan siang Kara, Kara yang bekerja tidak memperhatikan Nadia.


"ini makanannya."ucap Nadia, Kara menoleh dan tersenyum.


"duduklah, nanti temani aku makan." saut Kara, Nadia duduk disofa menyandarkan tubuhnya. tidak lama Reno datang, ia melihat Nadia dan tersenyum.


"Kara, ini ada seorang wanita untuk sumbangan panti asuhan." ucap Reno memberikan kertas pada Kara, Kara melihatnya dan langsung menandatangi kertas itu. Reno pergi dari sana dan tersenyum lagi ke arah Nadia.


"makanlah ini sudah siang, aku melihatmu terus sibuk dengan pekerjaan." ucap Nadia membereskan kertas kertas yang ada dihadapan Kara.


"baiklah, ayo duduk disana." ucap Kara menarik tangan Nadia, Nadia melangkah mengikuti Kara.


Nadia mulai membuka kotak makan untuk Kara, Kara duduk menatap Nadia tanpa henti.


"ada apa?" tanya Nadia, Kara tersenyum dan menggelengkan kepala.


"sebenarnya aku ingin masakanmu, tapi ini masakan mama ya.." ucap Kara, Nadia melihat Kara.


"aku tidak bisa masak, makan ini ayo aa.." ucap Nadia, Kara pun membuka mulutnya.


"eh.. apa kamu sudah makan?" Kara bertanya setelah menelan makanan yang ada di mulutnya, Nadia mengangguk.


"benarkah?" tanya Kara lagi.

__ADS_1


"sudah Kara, aku sudah makan!." ucap Nadia sedikit berteriak, Kara tidak suka dengan itu, Kara memilih untuk tetap diam.


"maaf, aku tidak bermaksud." ucap Nadia lalu meninggalkan Kara, Kara melihat Nadia yang seperti itu menjadi sedih.


"kamu bukan Nadiaku, Nadiaku tidak seperti itu." gumam Kara tersenyum, terlihat wajah sendu Kara.


Kara mengikuti langkah Nadia, Nadia terus melangkah tanpa menyapa orang yang memberikan salam padanya. Nadia menghadang taksi, Kara segera naik mobil dan menyusulnya. sampainya dirumah Nadia langsung masuk tidak menghiraukan panggilan Kara.


"Nadia berhenti!" Nadia tidak mendengar teriakan Kara, ia terus berjalan.


"Nadia, kamu kenapa?" tanya Kara menghentikan Nadia, Nadia memandang Kara. belum Nadiaenjawab ibu Kumala mendatangi mereka.


"kalian sudah datang, Nadia ayo makan kamu belum makan siang." ucap ibu Kumala.


"Nadia akan makan dikamar, Nadia permisi ma." ucap Nadia berlalu pergi, Kara hanya diam melihat.


"ada apa?" tanya ibu Kumala, Kara menggelengkan kepala lalu mengikuti Nadia.


Kara melihat Nadia duduk dikamar bayi, dengan memeluk boneka lalu menangis. Kara menjadi kesal melihat Nadia yang terus bersedih dan menangis.


"kamar ini akan terus mengingatkan Nadia pada bayinya. aku harus melakukan sesuatu." gumam Kara.


***


keesokan harinya Kara datang di kamar bayi dan mengingat obrolan dengan Nadia tentang warna kamar bayi dan ingat ketika Nadia meminta bayinya untuk dikembalikan.


Kara meminta beberapa pelayan untuk mengemas semua barang dari kamar itu dan memindahkannya ke gudang. Kara ingin semua selesai dalam satu jam. Kara terlihat sedih, beberapa menit kemudian Febriyan datang dan melihat semua itu.


"ada masalah apa ini ?" tanya Febriyan.


"tuan Kara meminta kami untuk membersihkan kamar bayi dalam 1 jam ."


"yang Kara lakukan salah." ucap Febriyan.


pelayan lain mengambil barang-barang bayi keluar. Febriyan datang ke arah Kara.


"Kara jangan melakukan ini, sampai sekarang kemarahan Nadia masih dalam diamnya. Jika kamu melakukan ini, Nadia akan semakin marah ." ucap Febriyan, Kara menatap Febriyan.


"Mas, aku tidak memberikanmu hak untuk campur tangan dalam hidupku ." ketus Kara.


"Kara aku hanya memberikan nasehat padamu, kenapa kau malah berkata seperti itu." saut Febriyan, mereka saling menatap dengan tajam. membuat semua pelayan takut melihat kemarahan Kara, Kara pergi dari sana.


"tidak, Kara tidak bisa melakukan ini, aku akan menelfon tante."


Febriyan menelfon ibu Kumala yang sedang pergi bersama Nadia dan Risa, Febriyan menceritakan semua apa yang dilakukan Kara. ibu Kumala meminta Febriyan untuk tetap diam dengan masalah Kara, karena Kara juga marah dengan hal itu, Febriyan mengiyakan itu.

__ADS_1


setelah beberapa menit Nadia, Risa dan ibu Kumala kembali, Nadia langsung naik untuk beristirahat. Nadia terkejut saat dia masuk dalam kamar bayi dan melihat semuanya kosong tidak ada apapun. Nadia mencari Kara, dan terlihat Kara dan ibu Kumala sedang berbicara dibawah.


"Kara!" teriak Nadia berjalan menuju ke arah Kara.


"dimana, dimana semua nya. kenapa kosong?" tanya Nadia, Kara menghampiri Nadia dan memegang tangannya.


"aku memindahkan semuanya dalam gudang, aku ingin membersihkannya." saut Kara, Nadia terlihat kesal.


"kenapa?" tanya Nadia melepas tangan Kara, semua orang merasa itu hal yang buruk.


"karena barang-barang itu akan mengingatkan kamu pada masa lalu, berapa lama kamu akan hidup dengan ingatan itu, Nadia terima kenyataan dan kenyataannya adalah bayi kita telah pergi. " ucap Kara memegang bahu Nadia, Nadia terluka mendengar perkataan Kara. Nadia melepas tangan Kara dari pundaknya dan mulai menangis.


"kamu tidak memikirkan perasaanku Kara, kenapa kamu tega seperti itu!." ucap Nadia menangis, dan sangat kesal pada Kara, Kara tidak pernah melihat Nadia seperti itu padanya.


"aku juga sepertimu Nadia, aku juga memikirkan perasaanmu. setiap kali kamu menangis bersedih berdiam aku selalu merasakan apa yang kamu rasakan. aku berusaha untuk menghilangkan semuanya kenapa kamu tidak mengerti." kesal Kara, Nadia menangis dan meninggalkan Kara. Kara kesal dan pergi dari rumah itu.


"ini yang aku takutkan, Nadia akan semakin terluka." ucap Febriyan, Risa memegang tangan Febriyan.


"tenang saja, mereka pasti baik baik saja." saut Risa, Febriyan mengangguk.


"bagaiman kata dokter?" ucap Febriyan memegang perut Risa, Risa tersenyum.


"sehat, usianya sudah 3 bulan, katanya sehat dan aktif." ucap Risa, Febriyan merasa senang.


malam harinya Kara datang dan masuk kedalam kamarnya, terlihat Nadia duduk dan menangis. Kara duduk disamping Nadia, tapi Nadia bangkit dan meninggalkan Kara. saat melangkah Kara menghentikan langkah Nadia, Kara memegang tangan Nadia.


"kamu marah padaku, tapi aku sedang melakukan ini untuk mu. aku tidak bisa melihat kamu hancur karena ingatan bayi kita sepanjang waktu. aku tahu bayi kita sangat berarti untukmu, tapi kebenarannya dia sudah tidak ada di antara kita." ucap Kara, Nadia melepas tangan Kara.


"bayi itu hidupku, jika tidak ada maka aku juga tidak ada." ucap Nadia menangis, Kara memeluk Nadia.


"tapi aku tidak ingin kehilangan kamu, cukup dengan kehilangan bayi kita tapi jangan sampai aku kehilangan kamu." ucap Kara menangis. Nadia semakin menangis dalam pelukan Kara.


"aku tidak tahu Kara, aku tidak tahu.." ucap Nadia, lalu tidur membelakangi Kara, Kara semakin bersedih melihat itu.


keesokan harinya Nadia bangun dipagi hari tapi tidak melihat Kara, Nadia mencoba mencari Kara.


"dimana Kara?" tanya Nadia pada seorang prt.


"tuan sudah berangkat kekantor." jawab prt itu.


"hm.. Kara berangkat lebih pagi." gumam Nadia,


Nadia teringat kejadian kemarin, tiba tiba Nadia melihat sebuah catatan dimeja terdapat boneka kesayangan Nadia, membawa kertas. Nadia membuka kertas itu dan mulai membacanya.


"aku minta maaf Nadia, maafkan aku. jika aku tahu membersihkan kamar itu akan menyakiti kamu, aku tidak akan melakukan itu. itu adalah kesalahanku, maafkan aku Nadia, aku mencintaimu."

__ADS_1


Nadia tersenyum ditengah tengah sedihnya saat membaca surat Kara.


"aku tidak marah Kara, aku hanya kesal kamu membersihkan kamar itu tanpa mengatakan padaku." ucap Nadia memeluk bonekanya.


__ADS_2