My Love Story 2

My Love Story 2
95. Extra Part 2


__ADS_3

dimalam yang sama, Naira benar benar tidur dengan Adnan Naira terus mengoceh disana, Adnan hanya diam memperhatikan kelucuan Naira yang mengoceh. menurutnya yang Naira lakukan itu adalah hiburan baginya, bahkan Adnan merasa sangat nyaman saat bersama Naira.


"kak Anan apa kakak tidak mengantuk?" tanya Naira, Adnan menggelengkan kepala. Naira memperhatikan Adnan yang tidak mau menjawabnya.


"kenapa kakak tidak bicara, apa kakak tidak mau bicara dengan Naira?." ucap Naira sedih, ia merasa Adnan tidak mau bicara dengannya. Adnan langsung menggelengkan kepala.


"kak Anan tidak pernah bicara pada siapapun, bahkan tidak mau bicara dengan Naira..." ucap Naira lagi, Adnan tersenyum.


"aku mau kok bicara sama Nara!" ucap Adnan, Naira tersenyum dengan itu.


"namaku Naira bukan Nara." ucap Naira, Adnan sedikit tersenyum.


"karena aku suka nama Nara, sangat cantik." Naira tersenyum lebar dengan itu.


"oke terserah kak Anan. suaramu sangat indah, aku sangat senang mendengarnya." ucap Naira tersenyum lalu memeluk Adnan, Adnan pun tersenyum.


"kakak umurnya berapa?" tanya Naira.


"9 tahun mungkin." jawab Adnan lembut.


"lalu apa cita cita kak Anan?" tanya Naira lagi, Adnan menyisir rambut Naira.


"kenapa?" tanya Adnan.


"jadilah seperti papa Naira, papa jadi bos besar." ucap Naira, Adnan tersenyum.


"jadi Nara mau aku seperti apa?" tanya Adnan.


"Naira ingin, kakak jadi seperti papa Naira lalu menikah dengan Naira juga." ucap Naira membuat Adnan terkejut.


"memangnya Nara mau menikah dengan kakak?" tanya Adnan, Naira menoleh kearah Adnan yang ada dibelakangnya.


"tentu saja mau, kakak harus menikah dengan Naira!" ucap Naira, Adnan mengacak rambut Naira.


"kau ini, sangat nakal!" ucap Adnan lembut.


"kakak Anan jangan tinggalkan Naira ya, Naira nggak mau kalau kakak menikah dengan orang lain. tunggu Naira besar seperti mama, Naira pasti cantik." ucap Naira, Adnan tersenyum lebar.


"sekarang Naira 6 tahun udah cantik, nanti kalau Naira gede pasti lebih cantik." ucap Naira lagi, Adnan tertawa pelan mencubit pipi Naira.


"baiklah, kakak janji." ucap Adnan. Naira mengulurkan jari kelingkingnya, Adnan pun menyatukan kelingkingnya.


"janji." ucap Naira senang, mereka saling tertawa.


tanpa mereka tahu diluar kamar Nadia dan Kara mendengar percakapan mereka, Nadia sangat terkejut ketika mendengar Naira membahas pernikahan begitu pun dengan Kara.

__ADS_1


"Kara, kamu yang mengajarinya?" tanya Nadia, Kara menggelengkan kepalanya.


"mana ada aku mengajarinya seperti itu, kamu mungkin!." saut Kara, Nadia terdiam. mereka sama sama berpikir tentang dari mana Naira mendapat pemikiran tentang menikah.


"Kara.. aku rasa Naira terlalu banyak menonton sinetron!." ucap Nadia panik, Kara menggelengkan kepalanya.


"kamu sih, liat sinetron bawa Naira. jadinya gitu kan!" saut Kara pergi, Nadia mengikuti Kara.


"tapi dipikir pikir, Adnan itu ganteng juga. masih kecil saja sudah ganteng gitu, apalagi nanti besar?" ucap Nadia, Kara menatap Nadia.


"lebih ganteng aku!" celetuk Kara, Nadia mencibirnya.


"kamu lihatkan, disini ada Bagas, Riana dan juga lainnya. tapi, Adnan malah senang jika dengan Naira, dia bahkan sangat dekat dengan Naira!." ucap Nadia lagi, Kara merasa heran.


"jadi?" tanya Kara bingung.


"aku rasa Adnan tertarik pada Naira?" saut Nadia, Kara tertawa.


"Yasudah, nikahkan mereka berdua saja jika sudah besar." saut Kara tertawa, Nadia pun ikut tertawa dengan lelucon Kara.


***


setelah beberapa menit Vano keluar dari kamarnya, terlihat Vano memakai kaos dan celana panjangnya. dengan rambut basah Vano turun dari tangga, ia melangkah untuk menghampiri Amelia.


"ada apa denganmu?" tanya Vano, Amelia menggelengkan kepala.


"kalau aku tau mandi menyegarkan, aku akan mandi lebih awal tadi." ucap Vano, Amelia tersenyum.


"duduklah, aku akan ambil air dulu." ucap Amelia lalu pergi, Vano mengangkat telfon masuk dari hpnya.


Amelia datang dengan membawa air putih, saat Amelia ingin mengisi gelas dengan air, kakinya tersandung kaki kursi disana. dengan cepat Vano berlari untuk menangkap Amelia, hingga akhirnya Amelia jatuh dalam pelukannya. entah kenapa suasana itu menjadi romantis, mereka saling menatap.


deg deg deg...


mereka berdua merasakan hati yang berdebar debar, Vano terus menatap mata Amelia yang begitu bersinar menatapnya. mereka saling menatap tanpa mengedip, tumbuh perasaan cinta diantara mereka.


"halo pak, apakah anda masih mendengar saya?"


suara telfon Vano membuat mereka tersadar, Amelia segera mendirikan tubuhnya.


"iya besok akan saya beritahu," ucap Vano lalu mematikan telfon itu, Vano menatap Amelia lagi.


"apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Vano,


"itu.. aku.. ingin mengisi gelas itu dengan air, tapi kakiku tersandung." jawab Amelia dengan gugup, Vano pun mendudukan Amelia. Vano berpikir Amelia terkejut saat ingin jatuh.

__ADS_1


"Vano duduklah, kamu pasti sudah lapar!" ucap Amelia, Vano pun mengiyakan dan mulai makan.


selama makan hanya ada keheningan diantara keduanya, mereka menjadi canggung setelah saling menatap beberapa kali. Vano ingin bicara tapi tidak tahu harus memulai dari apa, begitu juga dengan Amelia merasakan hal yang sama.


"Amelia berapa usiamu?" tanya Vano memecah keheningan, Amelia pun menoleh kearah Vano.


"tahun ini 31 mungkin, kalau kamu?" jawab Amelia dengan pertanyaan lagi


"kalau aku 37 tahun ini." jawab Vano, Amelia sedikit penasaran dengan kehidupan Vano sebelumnya.


"kenapa kamu belum memiliki pasangan?" tanya Amelia, Vano sedikit terkejut dengan itu. karena pasalnya Amelia belum tahu kalau dirinya pernah menikah sebelumnya, Vano pun menyudahi makannya.


"aku sudah menikah dulu, tapi cerai." jawab Vano lembut, Amelia semakin penasaran.


"kenapa cerai?" tanya Amelia, Vano tersenyum.


"pernikahanku itu karena saham papaku, setelah papaku meninggal aku memutuskan semuanya. karena aku tidak mencintainya, begitu juga denganya. mungkin aku hanya mencintai seseorang yang belum aku lupakan." jawab Vano.


"Nadia?" tanya Amelia perlahan, Vano pun tersenyum dan mengangguk.


"sekarang aku bahagia melihatnya bahagia, karena mungkin kami tidak berjodoh." ucap Vano lagi.


"iya mungkin jodohmu sudah ditentukan, hanya kamu belum bertemu." ucap Amelia pergi untuk mencuci piring, Vano mengikuti Amelia dengan membantu membawa piring balasnya makan.


"Vano letakkan saja, aku akan bersihkan!" ucap Amelia, Vano tidak memperdulikan itu.


"bagaimana jika aku bertemu jodohku?" ucap Vano, Amelia sedikit terkejut.


"ya dapatkan dia, jangan sampai jodohmu lari darimu." jawab Amelia tanpa menoleh.


"jika sudah jodoh tidak akan lari kemana!" ucap Amelia, Vano menarik Amelia hingga mereka sangat dekat sekarang. entah kenapa Vano mendekatkan wajahnya, ada rasa yang tidak bisa ditahan menurutnya.


"Vano... a..apa.. yang kamu lakukan?.." ucap Amelia memalingkan wajahnya karena ia merasa kan nafas Vano pada pipinya.


"Amel..." suara Vano terdengar pelan ditelinga Amelia, Vano memegang kedua pipi Amelia. semakin lama Vano semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Amelia, Amelia hanya menutup mata dengan merasakan nafas Vano yang panas.


"buka matamu!" ucap Vano pelan, Amelia membuka matanya perlahan.


tatapan mata mereka saling bertemu, sekarang Vano tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat menatap Amelia. Amelia menatap mata Vano dengan tatapan bersinar, Amelia ingin sekali mengatakan bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Vano.


Vano melepaskan tubuh Amelia dengan lembut, Vano tidak tahu apa yang dia lakukan. Vano langsung pergi dari sana, Amelia terdiam melihat kepergian Vano.


tidak, dia tidak mungkin cinta padamu. dia hanya kasian padamu, dia hanya menolongmu. jangan harapkan lebih Amelia.


***

__ADS_1


__ADS_2