
dimalam yang sama Risa merapikan barangnya didalam kamar Febriyan, Febriyan duduk dikasur memperhatikan Risa. setelah itu Risa memberikan obat dan air untuk Febriyan, saat Risa ingin berdiri Febriyan memegang tangan Risa.
"butuh yang lain?" ucap Risa tersenyum, Febriyan menggelengkan kepala.
"apa kamu membenciku?" tanya Febriyan, Risa heran dengan itu.
"apa maksudmu mas, kenapa aku haris membencimu?" ucap Risa, Febriyan tampak sedih memegang pipi Risa.
"karena tidak menghentikanmu, pasti kamu membenciku." Risa tersenyum dan menggelengkan kepala.
"tidak, aku tidak pernah membencimu. sekarang aku hanya bisa men..." Risa menghentikan perkataannya, Febriyan menunggu Risa meneruskannya.
"bisa apa?" tanya Febriyan,
"tidak ada." saut Risa berbohong.
"apa yang ingin kamu katakan,?" ucap Febriyan, Risa merasa bingung.
"apa?" tanya Risa,
"kata Nadia, kau ingin mengatakan sesuatu?" Risa teringat kalau Nadia menyuruhnya untuk mengatakan pada Febriyan tentang kehamilannya.
"Oh itu, aku ingin..." belum Risa mengatakan, Febriyan memeluknya Risa terkejut.
"Risa aku benar benar bahagia bertemu denganmu, aku selama ini menderita tidak bisa menemukanmu." Risa membalas pelukan itu dan tersenyum.
"maaf, maafkan aku. sekarang kau tidak perlu mencariku lagi, karena aku tidak akan meninggalkanmu." ucap Risa, Febriyan tersenyum mengeratkan pelukannya.
"aku mencintaimu." ucap Febriyan, Risa terkejut ia memandang wajah Febriyan.
"a..apa yang kamu katakan?" tanya Risa, Febriyan tersenyum. Febriyan mengambil sebuah kotak berisi cincin didalamnya.
"aku ingin kamu menjadi istriku yang seutuhnya.." ucap Febriyan, Risa tersenyum dan menangis.
"aku sudah menjadi istrimu seutuhnya mas, sudah." ucap Risa, Risa memegang tangan Febriyan dan mengarahkan pada perutnya, Febriyan heran.
"disini ada adik untuk Bagas." ucap Risa, Febriyan terkejut sesaat mengingat dimalam vila waktu itu.
"Risa itu..." Risa mengangguk, Febriyan merasa sangat senang, ia memegang perut Nadia dan tersenyum.
"aku.. tidak pernah sebahagia ini!" ucap Febriyan, Risa memeluknya.
"aku juga.." Risa dan Febriyan saling membalas peluk dimalam itu.
****
keesokan harinya Nadia menyiapkan sebuah kotak makan siang untuk Kara, Kara yang tidak sempat sarapan membuat Nadia khawatir. setelah selesai Nadia diantar supir pergi ke kantor Kara, saat disana ia bertemu dengan seorang wanita cantik.
"siang nona, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita itu, Nadia tersenyum.
"aku ingin bertemu Kara." jawab Nadia berjalan, tapi wanita itu menghentikan Nadia.
"tunggu nona, apa anda memiliki janji?" ucap wanita itu, Nadia akhirnya berpikir wanita itu adalah orang baru hingga tidak tahu siapa dirinya.
__ADS_1
"hm.. baiklah berikan ini padanya, katakan ini dari nona batu." wanita itu menerima kotak makan yang diberikan Nadia, setelah itu Nadia berjalan menuju lobby.
wanita itu membawa kotak makan siang itu kedalam ruangan Kara, Kara merasa heran wanita itu membawa kotak makan.
"ada apa Ila?" ucap Kara, wanita itu menaruh kotak itu dimeja Kara.
"pak ada yang mengirim ini, sepertinya kotak makan siang!" ucap wanita bernama Ila, Ila adalah sekretaris Kara yang baru.
"siapa?" tanya Kara melihat kotak itu.
"hm.. dia berpesan, itu dari nona batu." Kara menghentikan aktivitasnya karena nona batu hanya Nadia saja baginya, dan Kara menatap sekertarisnya itu.
"dimana wanita itu?" Ila menggelengkan kepala.
"saya mencegahnya masuk, jadi sepertinya sudah pulang." ucap Ila, Kara berdiri dari duduknya dan melangkah keluar.
"kau dipecat!" ucap Kara melangkah keluar, Ila terkejut dan mengejar Kara.
Kara menghubungi Nadia, tapi tidak diangkat. saat melangkah Kara melihat Nadia sedang asik duduk, Kara pun menghampirinya.
"kenapa tidak keruanganku?" ucap Kara, Nadia menoleh dan tersenyum.
"karyawanmu sangat patuh." ucap Nadia berdiri, Kara melangkah diikuti Nadia.
"tuan, kenapa saya dipecat." ucap Ila, Nadia melihat wajah Ila yang memelas.
"kau tidak dipecat, tapi dinaikkan gajimu." ucap Nadia, Kara menatapnya.
"iya, kembalilah bekerja. dan ucapkan terima kasih padanya." ucap Kara melangkah pergi.
"sama sama, kenalkan namaku Nadia aku istri bosmu yang galak itu." ucap Nadia tersenyum, Ila terkejut dan tersenyum kaku.
"maafkan aku, aku tidak tahu sebelumnya." Nadia tersenyum dan mengangguk, ia pun berjalan memasuki lift menuju ruangan Kara.
"huftt.. sudah cantik, baik lagi." ucap Ila melihat tubuh Nadia berjalan menjauh.
saat sampai diruangan Kara, Nadia duduk dihadapan Kara dan membuka kotak makan siang itu.
"hentikan, makan dulu." ucap Nadia.
"apa kamu sudah makan?" tanya Kara, Nadia memberikan suapan pada Kara tapi Kara tidak membuka mulutnya.
"Kara, buka mulutmu." ucap Nadia, Kara malah mundur.
"aku tahu, jika aku lapar maka kamu tidak makan?" ucap Kara, Nadia tersenyum. Kara mengambil sendok dari tangan Nadia dan menyuapi Nadia.
"hm.. sudah, ayo buka mulutmu." Kara membuka mulut dan mendapat suapan dari Nadia.
dirumah Risa menemani Bagas bermain, Febriyan duduk di sofa memandangi istri dan anaknya yangs sedang bermain itu. Febriyan terus menatap Risa, sampai tidak sadar kalau ibu Kumala datang dan duduk disampingnya.
"kau tampak bahagia?" ucap ibu Kumala memegang kepala Febriyan, Febriyan tersenyum.
"iya tante, Risa sudah berubah." ucap Febriyan, ibu Kumala terlihat bahagia.
__ADS_1
"iya aku juga mendoakan agar Risa menjadi istri dan ibu yang baik bagi kalian!" Febriyan tersenyum, ia tersadar bahwa ibu Kumala belum tahu kalau Risa sedang hamil.
"tante, tante akan dapat 2 cucu sekaligus nanti." ibu Kumala melihat Febriyan, ia tidak tahu apa yang dimaksud Febriyan.
"setelah Nadia lahiran, Risa juga akan melahirkan." ucap Febriyan, ibu Kumala menyadari sesuatu.
"maksudmu, Risa sedang hamil?" ucap ibu Kumala, Febriyan mengangguk. terlihat wajah bahagia dari ibu Kumala.
"Bagas, Bagas mau punya adek 2." ucap ibu Kumala pada Bagas, Bagas terlihat senang dan langsung melompat lompat. Risa merasa terkejut dan memilih untuk diam.
"mama Risa, kata nenek Bagas mau punya adek, apa itu benar?" tanya Bagas pada Risa, Risa tersenyum dan mengangguk.
"yeah... Bagas punya adek dua, satu dari bunda, satu lagi dari mama Risa.." ucap Bagas, Risa, Febriyan ibu Kumala tertawa dengan itu.
"Risa jaga kesehatan ya..." ucap ibu Kumala, Risa tersenyum dan mengiyakan.
"iya tante, pasti Risa jaga." ucap Risa tersenyum melihat Febriyan, Febriyan juga tersenyum.
****
Nadia masih berada didalam ruangan Kara, ia sedang membaca majalah dan Kara sedang sibuk dengan pekerjaannya. Nadia melihat Kara sedikit kesal karena sibuk dengan pekerjaannya, Nadia terus menggerutu.
"Kara selalu sibuk dengan pekerjaan, apa tidak ada waktu untuk melihatku." gerutu Nadia, Kara mendengarnya dan tersenyum.
Nadia pun berdiri dan mencoba mengalihkan perhatian Kara, Nadia mencium pipi Kara tapi Kara tetap tidak berkutik. lalu Nadia mengacak rambut Kara, karena kesal Kara akhirnya melihat kearah Nadia.
"sebaiknya kamu pulang, ini sudah sore. nanti aku akan menyusul, atau aku akan pulang terlambat." ucap Kara, Nadia duduk disamping Kara.
"baiklah sekarang saja pulangnya, nanti kamu bisa mengerjakan itu dirumah. lihatlah ini sudah jam lima waktunya mereka pulang, mereka tidak pulang karena menunggu kamu!" jelas Nadia, Kara mengusap wajahnya.
"aku benar benar kasihan pada anak dan istri mereka yang harus menunggu mereka pulang karena bosnya belum pulang." ucap Nadia, belum Kara menjawab hp nya berdering dengan cepat Nadia mengangkat telfon itu.
"halo, Kara tidak ada dia sedang sibuk bersama istrinya." Kara langsung mengambil hp itu, Kara melihat itu telfon dari kliennya
"halo, maafkan aku tadi itu istriku, dia sensi karena sedang hamil. oh iya bagaimana?" ucap Kara lalu menjauh dari Nadia, Nadia merasa kesal.
beberapa menit kemudian Kara mendekati Nadia, Nadia mengantuk dan hampir saja tidur.
"ayo kita pulang, sudah kubilang untuk pulang, tapi ngeyel disini." ucap Kara, Nadia pun berdiri Kara menggandeng Nadia lalu melangkah keluar.
didalam mobil Nadia tertidur, Kara hanya tersenyum melihat itu. Nadia membuka mata dan melihat Kara, Kara mengacak rambut Nadia.
"Kara jangan!!" ucap Nadia, Kara tertawa.
"aku ingin katakan sesuatu!" ucap Kara, Nadia menyenderkan kepalanya pada jendela.
"Nadia jangan bersandar disana, nanti kepalamu sakit." ucap Kara menarik kepala Nadia, Nadia malas menanggapi Kara.
"katakanlah, aku sangat mengantuk Kara, hoaam..." ucap Nadia, Kara fokus menyetir.
"aku akan ke london!"
****
__ADS_1
halo temen temen apa kabar hehe... jangan bosen ya sama ceritanya, terima kasih juga yang udah kasih semangat author hehe, maaf ya ga bisa balas komen satu2😁 lopyu..😍
jangan lupa like dan komen kalian 😍