
dirumah Nadia duduk di dapur sendirian, Nadia memikirkan permintaan dari ibu Kumala untuk kembali kerumah sebagai keluarga. Nadia berpikir tidak bisa meninggalkan Vano begitu saja, Vano melihat Nadia yang sedang melamun, ia pun menghampiri Nadia dan memberikan air.
"apa yang kamu pikirkan?" tanya Vano, Nadia tersenyum menerima air itu.
"tidak ada, aku hanya berpikir tentang permintaan mama Kumala yang menyuruhku pulang, aku bingung Vano." ucap Nadia,
"jika kamu ingin kembali, kembalilah kesana. mereka itu adalah keluargamu, kenapa masih berpikir. lagi pula Naira akan bahagia bersama keluarganya," saut Vano, Nadia menatap wajah Vano.
"bagaimana kamu bisa mengatakan itu, aku memikirkan kamu. bagaimana denganmu, kamu akan kesepian?" tanya Nadia, Vano tersenyum dan menggenggam tangan Nadia.
"jika kalian bahagia, aku sudah tenang. jangan pikirkan aku, rumah ini selalu terbuka untuk kalian!" ucap Vano, Nadia terharu dengan itu.
"Vano kenapa kamu seperti ini, kenapa kamu sangat baik." ucap Nadia, Vano tersenyum dan mengusap rambut Nadia.
"dari dulu aku baik, tidurlah sudah malam." Nadia mengangguk lalu pergi, Vano tersenyum semenit kemudian meneteskan air mata.
"kebahagiaan kalian lebih penting Nadia." ucap Vano menyeka air matanya.
****
pagi harinya Nadia dan yang lainnya melakukan aktivitas seperti biasa, di hari minggu mereka lebih santai karena libur. Naira asik main dengan Vano, Nadia sedang menyiapkan sarapan.
"ayo.. sarapan sudah siap!!" ucap Nadia, Naira berlari kearah meja makan.
"mama Naira mau sosis 2." ucap Naira, Nadia memberikan sosis yang diminta Naira.
"mama.. Naira minta 20 biji." ucap Naira lagi, Nadia terkejut dengan itu dan Vano tertawa.
"serakah sekali, kamu hanya dapat 2." saut Nadia, Naira merasa kesal.
"ini ambil sosis milik papa, jangan kesal oke." ucap Vano memberikan sosis nya, Naira tersenyum.
"terima kasih, mama pelit." saut Naira, Nadia menjulurkan lidahnya.
beberapa menit kemudian suara ketukan pintu terdengar, Vano ingin membukanya tapi Nadia mencegahnya.
"biar aku yang buka, kamu lanjutin aja sarapanmu." ucap Nadia berjalan kearah pintu, Nadia berpikir siapa yang datang pagi pagi sekali.
"iya siapa?" ucap Nadia membuka pintu, Nadia terdiam ketika melihat ibu Kumala dan Risa yang menggendong Riana.
"selamat pagi tante, Riana pengen ketemu Naira." ucap Riana lalu turun dari gendongan Risa dan berlari masuk mencari Naira.
"ma, silahkan masuk." ucap Nadia ibu Kumala masuk dengan diikuti Risa.
Vano melihat kedatangan Ibu Kumala dan memberinya salam, Risa pun tersenyum.
"apa kalian sudah sarapan?" tanya Vano.
__ADS_1
"sudah, tante ingin kesini jadi kami kesini pagi pagi, apa kami mengganggu?" Vano tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Riana ayo makan bersama Naira," Riana mengangguk, Nadia memberikan susu dan memberikan roti isi sosis.
"kalian makanlah dengan baik ya." ucap Nadia lalu berlalu pergi.
Nadia memberikan minum untuk ibu Kumala, ibu Kumala menyuruh Nadia untuk duduk disampingnya.
"Nadia duduklah bersama ku." ucap ibu Kumala, Nadia pun duduk disampingnya.
"Nadia bagaimana keputusan kamu untuk kembali kerumah?" tanya ibu Kumala, Nadia hanya diam menatap Vano.
"iya, Nadia akan kembali." ibu Kumala dan Risa merasa bahagia.
"tapi jika kalian mengijinkan Vano ikut bersama kami." ucap Nadia lagi, semua orang terdiam.
"Nadia apa yang kamu katakan?" tanya Vano, Nadia berdiri.
"ma, Nadia tidak bisa meninggalkan Vano. selama ini Vano adalah pendukung Nadia, Vano selalu menolong Nadia, dan selama ini juga Nadia selalu ikut kemana pun Vano pergi. jika Nadia pergi Vano akan ikut bersama Nadia." jelas Nadia, Vano terdiam.
"Vano kamu harus ikut aku, aku tidak bisa harus meninggalkanmu sendiri," ucap Nadia pada Vano, ibu Kumala berdiri disamping Vano.
"Vano kamu mau ikut kan, kerumah tante?" tanya ibu Kumala, Vano masih terdiam.
"Vano dulu kamu juga menolongku, kami berhutang padamu." ucap Risa, Vano melihat mereka satu persatu
"terima kasih, kamu juga seperti anak bagiku. darahmu mengalir pada darah Kara, kalian sudah seperti saudara." ucap ibu Kumala, Vano tersenyum dan mengangguk.
"ibuku meninggal ketika usiaku 3 tahun, baru kali ini aku merasakan pelukan seorang ibu." ucap Vano, ibu Kumala tersenyum.
"iya, panggil aku mama jika kamu mau." Vano tersenyum dan menyeka air matanya.
"hm.. boleh kami bawa Naira kerumah, kalian bereskan barang barang kalian dulu." ucap Risa, Nadia tersenyum dan mengangguk.
Risa dan Nadia berjalan kearah Naira dan Riana, Risa sangat gemas melihat Naira.
"halo, namaku Risa." ucap Risa, Naira menatapnya.
"aku tahu, tante mamanya Riana kan?" ucap Naira, Risa dan Nadia saling melihat.
"kok kamu tahu?" tanya Risa.
"iya karena wajah tante mirip dengan Riana." celetuk Naira membuat Risa dan Nadia tertawa.
"Riana yang mirip tante sayang." ucap Risa, Naira menggelengkan kepala.
"tidak, buktinya mama mirip dengan Naira karena itu mama sangat sangat cantik." celetuk Naira lagi, Risa dan Nadia tertawa.
__ADS_1
"anak nakal, beri salam pada tante." ucap Nadia, Naira memberi salam pada Risa.
"Naira mau main kerumah Riana?" ucap Nadia, Naira dan Riana saling mengangguk.
"bagus, ayo pergi sama tante. besok kalian akan sekolah berangkat bersama bagaimana?"
"yeah!! sungguh, itu artinya aku akan tidur dengan Riana?" ucap Naira, Risa mengangguk. kedua anak itu bersorak gembira.
setelah beberapa menit Risa dan ibu Kumala telah membawa Naira pergi, dikamar Nadia memasukkan semua barang barangnya dalam koper. Nadia melipat baju bajunya dengan melamun, Vano datang mendekatinya.
"seharusnya aku tidak ikut!" ucap Vano, Nadia menatap Vano.
"tapi aku tidak mau kamu sendirian disini!" saut Nadia, Vano tersenyum.
"jika sudah selesai mari kita berangkat." ucap Vano lalu pergi.
"aku tidak tahu Vano, apakah ini benar atau tidak." gumam Nadia.
****
Kara yang merasa tidak enak badan kembali kerumah, Kara merasa ada sesuatu yang aneh saat pertama kali masuk kedalam rumah. Kara melihat ruang tamu penuh dengan mainan Riana, membuat Kara semakin pusing melihatnya.
"papa ganteng!!!"
Kara menoleh kearah suara itu, terlihat Naira menuruni anak tangga berlari kearahku. Kara langsung menghampiri Naira dan menggendongnya, Kara terlihat senang melihat Naira.
"kamu disini?" Naira mengangguk,
"iya om eh papa..." ucap Naira, Kara tersenyum lebar dan mencium pipi Naira.
"dengan siapa disini?" Kara melihat sekeliling untuk mencari Nadia.
" mama Riana bilang Naira akan tidur disini, besok akan pergi ke sekolah bersama Riana!" ucap Naira, entah kepala Kara sangat berat ia menurunkan Naira agar tidak menjatuhkannya.
"papa ganteng kenapa, apa sakit?" tanya Naira, Kara tersenyum.
"pergilah bermain, papa akan naik keatas dulu." Naira mengangguk lalu berlari bermain lagi bersama Riana.
"Kara kamu kenapa?" tanya Febriyan, Kara melihat ada dua Febriyan.
"kepalaku sangat berat, mungkin kecapekan saja." setelah mengatakan itu Kara terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"hei Kara! bangunlah, kau demam dasar bodoh!" ucap Febriyan, Kara membuka mata dan melihat Nadia.
"Nadia kamu pulang..." setelah mengatakan itu Kara tidak sadarkan diri.
aku sangat merindukanmu, Nadia kembalilah padaku, aku mencintaimu.
__ADS_1
***