
keesokan hari nya, Risa membuka mata dipagi hari. ia berada disebuah ruangan, sebuah kamar yang asing baginya. Risa mendudukan dirinya, kepalanya sangat pusing dan berat. ia melihat sekeliling kamar itu, Risa mengingat seseorang menyelamatkannya tapi ia tidak tahu siapa itu. tiba tiba suara pintu terbuka, Risa terkejut saat melihat seorang pria membawa nampan makanan.
"hm.. kau sudah sadar, makanlah aku membuatkan sarapan untukmu nona!" ucap seorang pria, Risa berpikir dia lah yang menyelamatkannya.
"di..dimana a..aku, dan s..siapa kamu?" ucap Risa terbatah, pria itu tersenyum.
"aku melihatmu di halte bus kemarin malam, kau sedang kedinginan karena hujan. saat aku menghampirimu kau terjatuh dan tidak sadarkan diri. jadi aku membawamu kerumahku." jelas pria itu, ia memberikan air hangat untuk Risa.
"terima kasih tuan kau sudah menolongku, sekarang aku harus pergi." ucap Risa, Risa ingin berdiri tapi kepala dan perutnya merasa sakit.
"jangan kemana kemana dulu, kau sedang tidak sehat. setelah sehat kau boleh pergi nona." Risa menurut ia pun mendudukan dirinya, pria itu memberikan bubur untuk Risa.
"terima kasih, namaku Risa tidak perlu memanggilku nona." ucap Risa, pria itu tersenyum.
"iya Risa, namaku Vano."
****
dirumah Kara, Febriyan pulang dengan hampa karena tidak bisa menemukan Risa, terlihat Nadia menunggu disofa sampai ketiduran. Kara menghampiri Nadia, Nadia terbangun ketika merasakan kehadiran Kara.
"Kara, dimana Risa?" ucap Nadia, Kara hanya diam.
"mas Riyan, dimana Risa?" tanya Nadia lagi, Febriyan pun tetap diam.
"kami tidak menemukan Risa." Nadia menangis mendengar perkataan Kara.
"ini semua salahmu, salahmu Kara. kenapa kau mengusirnya, ini salahmu!" ucap Nadia meninggalkan Kara dan Febriyan. Kara mendekati Febriyan.
"mas.."
"Nadia benar, ini salahmu. jika kau bisa menahan kemarahan mu ini tidak akan terjadi, aku tidak akan kehilangan istriku." ucap Febriyan lalu pergi meninggalkan Kara, Kara hanya terdiam ditempatnya.
di tempat Risa berada.
Risa sedang duduk dihalaman rumah pria yang menyelamatkannya, rumah Vano. Risa melamun duduk disebuah ayunan, ia masih sangat sedih masalah yang menimpa dirinya. dari dalam rumah Vano melihat Risa yang melamun, ia pun menghampiri Risa.
"apa kau ada masalah?" ucap Vano, Risa terbuyar dari lamunannya.
"hm.. maaf, bukan maksudku menanyakan hal itu." Risa tersenyum.
"tidak masalah," saut Risa, Vano pun duduk dikursi dekat ayunan disana.
"dimana rumahmu, aku akan mengantarmu pulang." Risa terdiam, terlintas bayangan semua orang marah padanya dan saat Kara mengusirnya.
__ADS_1
"pergi! tidak ada tempat bagimu dirumah ini!"
suara Kara terdengar ditelinganya saat berusaha mengusir dirinya, karena tidak mendapat jawaban Vano memegang pundak Risa, membuat Risa tersadar lagi dari lamunannya.
"aku bertanya, kenapa kamu malah melamun?" ucap Vano
"hm.. aku tidak punya rumah, aku akan pergi dan mencari rumah." ucap Risa berdiri, Vano mencegahnya.
"tidak perlu, tinggallah dirumahku. tidak masalah." Risa menatap Vano.
"hm.. maksudku aku hanya ingin membantumu, begini selama kau belum menemukan rumah, tinggallah dirumahku tidak masalah. kau bisa bekerja disini, dan aku akan membayarmu." Risa terdiam memikirkan perkataan Vano.
"bagaimana?" Risa pun mengangguk.
"iya, sekali lagi terima kasih. aku bisa bekerja dirumahmu." Vano pun tersenyum, mereka berjabat tangan.
malam harinya, Risa membersihkan kamar yang diberikan Vano untuknya. terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya, saat Risa membuka kamar itu terlihat Vano membawa beberapa baju perempuan.
"hm.. kau tidak punya baju untuk dipakai, ini siapa tahu ini muat untukmu." Risa menerima beberapa pakaian yang diberikan Vano.
"hm.. terima kasih, muat kok sepertinya." ucap Risa Vano tersenyum.
"iya, tubuhmu sama seperti istriku dulu."
"istri, dimana dia?" ucap Risa karena mendengar Vano mengatakan tubuh Risa seperti istrinya.
"hm.. maaf aku tidak bermaksud bertanya itu,." Vano tersenyum.
"iya sudah, turunlah waktunya makan malam." ucap Vano, Risa pun mengiyakan.
setelah beberapa menit terlihat Vano sudah menunggu Risa dimeja makan, Risa keluar dari kamarnya ia turun menghampiri Vano. Vano terkejut ketika melihat Risa memakai baju istrinya dulu sangat cocok dan pas, Risa merasa sangat canggung saat Vano mempersilahkannya duduk untuk makan.
"aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu, jadi makanlah ini." Risa melihat beberapa makanan diatas meja.
"tidak perlu repot, aku bukan tamu disini. aku bekerja disini, lain kali aku akan memasak untukmu." ucap Risa, Vano pun tersenyum.
"baiklah, nikmati makananmu!" Risa mengangguk.
"boleh aku bertanya?" tanya Vano, Risa pun melihat ke arah Vano.
"iya katakan tuan?" Vano tertawa saat Risa memanggilnya tuan.
"jangan memanggilku tuan, panggil saja namaku."
__ADS_1
"hm.. iya Vano, mau tanya apa?" ucap Risa merasa canggung.
"apa kau sudah menikah?" Risa tersenyum mengingat Febriyan, ia pun mengangguk pelan.
"jadi, apa suami mu mengusirmu dari rumah?"
"eh.. tidak, suamiku sangat baik dia tidak mengusirku." ucap Risa sepontan, Vano tersenyum.
"jadi, kenapa kau harus pergi dari rumah?" Risa lagi lagi mendapat pertanyaan itu dari Vano, dan ia hanya diam.
"sudahlah, kamu mau mencari rumah dimana?" tanya Vano lagi
"aku tidak tahu, tapi aku akan segera mencarinya dan pergi dari sini." jelas Risa.
"tidak perlu terburu buru, kau bisa tinggal kapan pun yang kau mau." ucap Vano tersenyum.
"terima kasih Vano, kau sangat baik." Ucap Risa tersenyum, Vano mengangguk.
"iya makanlah, setelah itu kau harus istirahat."
Risa pun kembali memakan nasi goreng miliknya, saat Risa memasukkan suapan terkahir dalam mulutnya ia merasakan tidak enak dalam perutnya. Risa berlari kearah wastafel, Vano terkejut dengan itu. Vano pun mengikuti Risa, terlihat Risa memuntahkan semua makanan yang ada dalam perutnya.
"Risa kau baik baik saja." ucap Vano, ia memberikan air putih.
"iya aku baik, aku merasa tidak enak badan." ucap Risa menerima air yang diberikan Vano.
"aku akan memanggil dokter untukmu." ucap Vano, saat Vano melangkah pergi Risa mencegahnya.
"tidak perlu, aku baik baik saja." belum Vano menjawab, Risa jatuh tidak sadarkan diri, Vano segera mengangkat tubuh Risa dan memanggil dokter.
"panggil dokter!." ucap Vano pada seorang pelayan.
"iya tuan."
****
Nadia tidur membelakangi Kara, Kara melihat punggung Nadia. Kara sangat sedih saat melihat Nadia acuh dengannya, biasanya mereka akan tidur berpelukan.
"Nadia maafkan aku, jangan mendiamkan aku seperti ini." ucap Kara memeluk Nadia, Nadia hanya diam dan berpura pura tidur.
"Nadia.. aku tahu kau belum tidur, lihat aku." Kara membalikkan tubuh Nadia, terlihat Nadia menangis.
"tidak, jangan menangis aku mohon. aku akan menemukan Risa, aku berjanji." ucap Kara menghapus air mata Nadia.
__ADS_1
"kamu tidak bohong kan, kasihan Risa kamu harus menemukannya.." ucap Nadia menangis, Kara pun memeluknya.
"iya aku tidak berbohong, aku berjanji padamu. jangan menangis lagi." Nadia mengangguk, Kara pun memeluk Nadia hingga mereka tertidur.