My Love Story 2

My Love Story 2
42. Bulan madu


__ADS_3

keesokan harinya Nadia dan Kara pergi kedokter untuk periksa kakinya.


"kemarin istri saya tanpa sadar bisa berdiri dokter, tapi kemudian kakinya tidak merasakan apapun lagi." jelas Kara pada dokter.


"ya itu keadaan yang sangat baik tuan, suatu peningkatan yang cepat. batin keinginan nona sangat besar karena itu saat bisa saja terjadi seperti itu, terus diterapi agar bisa terus berjalan ya..."


Nadia tersenyum mendengar penjelasan dokter, Kara mencium pelipis Nadia kemudian mengucapkan terima kasih pada dokter lalu pergi dari sana.


***


disore hari Nadia sedang duduk dikursi rodanya dalam kamar, ia membaca novel yang selalu menjadi kegemarannya. tiba tiba terlihat Risa sedang mengetuk pintu kamarnya, dan berdiri didepan pintu.


"hai.." ucap Nadia, Risa pun tersenyum dan masuk.


"hai.. maaf apa aku mengganggumu?" tanya Risa duduk dikursi.


"oh tidak aku sedang menunggu Kara, lalu membaca buku." jelas Nadia.


"oh iya, apa kamu pernah ke swiss.." tanya Risa, Nadia menutup bukunya.


"hm.. belum, disana sangat dingin." jawab Nadia.


"wahh bagus, lihatlah aku ada 4 tiket untuk ke swiss. kita akan kesana dengan suami kita bagaimana,"


"wah itu bagus, apa mas Riyan yang memberikannya?."


"aku yang mempersiapkan semuanya, kita pergi ya itu pasti menyenangkan.." ucap Risa girang, Nadia hanya diam


"ya aku setuju." ucap Kara tiba tiba bersama Febriyan, terlihat Risa sangat senang tapi tidak dengan Nadia.


"hm.. kenapa harus kita, mereka yang baru menikah. tentang kita, tidak perlu perlu kita dirumah saja, agar tidak menyusahkan mereka." ucap Nadia menolak halus.


Kara memperhatikan wajah Nadia yang terlihat murung, Kara tahu apa yang dipikirkan Nadia. Kara menjadi ingat perkataan ibu Sabila padanya.


"Nadia beruntung mendapatkan suami sepertimu bisa melindunginya setiap saat dengan setia. kau selalu ada jika Nadia membutuhkan mu, dan kau dengan senang hati membantunya dan mencintainya tanpa rasa bosan."


Kara menghampiri Nadia dan berlutut dihadapannya. Kara memegang tangan Nadia.


"siapa yang bilang kamu itu menyusahkan?" ucap Kara pelan.


"hm.. tidak.. tidak. kapan aku bilang begitu." ucap Nadia terlihat gugup.


"dengar, aku tahu dan mengerti apa yang sedang kau pikirkan. Nad kita semua tidak pernah berpikir kamu menyusahkan kami,"


"aku akan menyusahkan kalian, dan juga aku tidak akan bisa kemana kemana dengan keadaan seperti ini. aku tidak bisa mengikuti kalian dengan kursi roda, nanti kalian tidak bisa bersenang senang karena diriku." jelas Nadia perlahan.


"apa gunanya aku disini, aku selalu ada untukmu, aku akan terus disampingmu." ucap Kara tersenyum.

__ADS_1


"bukan hanya dia, ada aku juga dan..." Febriyan melihat kearah Risa, Risa memutar bola mata malas.


"iya Nad, ada kami. kau harus ikut." ucap Risa semangat, Nadia tersenyum kearah mereka.


"kami tidak akan pergi jika kamu tidak ikut!" ucap Febriyan.


"iya benar, akan kubatalkan rencana ini!" saut Risa


Nadia diam sejenak mereka menunggu jawaban Nadia, Kara dan Nadia saling menatap.


"memangnya kapan kita berangkat?"


"besok pagi!!!" ucap Febriyan, Kara dan Risa secara bersamaan. Nadia tersenyum begitu juga dengan mereka.


ya.. kita akan bersenang senang Nadia, tunggu dan lihat apa yang bisa kulakukan padamu.


setelah makan malam, Nadia berpamitan untuk pergi ke rumah sebelah. setelah Kara mengantar Nadia, Kara kembali kerumah. terlihat Nadia sedang mengobrol dengan ibunya diruang tamu.


"mama.. besok Nadia mau pergi bulan madu sama Kara." ucap Nadia, ibunya terlihat senang.


"benarkah, itu sangat bagus."


"iya, Risa mengatur agar kami bulan madu dihari yang sama ke swiss.." ibunya terlihat khawatir dengan itu.


"ma.. mama kenapa?" tanya Nadia karena melihat wajah ibunya khawatir.


"kenapa ma.. Risa itu baik loh, dia selalu bantu Nadia menyiapkan semua yang menurut Nadia gak bisa. kemarin juga dia bantu menyiapkan sarapan Kara,"


"Nad.. mama tau apa yang kamu pikirkan, tapi nak tidak semua orang bisa dipercaya. mama pernah dengar Risa itu calon tunangan Kara dulu, bisa saja dia ingin mengambil Kara lagi. mungkin dia mencari perhatian Kara, karena itu dia seperti itu"


"mama.. ngomong apasih, Risa nggak kayak gitu kok. dia baik sama Risa, mama jangan pikirkan yang tidak tidak. lagian Risa sudah menikah dengan mas Riyan."


"iya iya mama percaya, semoga saja pemikiran mama salah." Nadia mengangguk, ibu Sabila pun pergi ke dapur.


"bagaimana mama bisa kepikiran seperti itu!" gumam Nadia.


****


mereka berempat telah bersiap untuk berangkat ke swiss, mereka juga berpamitan pada semua orang tua disana.


"kalian hati hati ya disana, dan dengar kalian harus saling menjaga satu sama lain!" ucap ibu Kumala.


"iya ma kami akan ingat." saut Nadia, Risa hanya tersenyum.


"ayo mobil sudah siap." ucap Febriyan,


mereka pun naik ke mobil menuju bandara dan siap berangkat ke swiss. setelah beberapa jam mereka sampai dibandara swiss, dan segera menuju hotel.

__ADS_1


"ada yang bisa dibantu tuan?" tanya resepsionis pada Kara saat mereka sampai dilobi hotel.


"iya aku Kara Wijaya sudah memesan 2 nama kamar, coba dicek!" ucap Kara.


"baik tuan, mohon ditunggu."


"iya.." setelah itu resepsionis itu memberikan kunci kamar itu, kemudian Kara memberikan satu kunci untuk Febriyan.


aku akan membuatmu bisa berdiri lagi disini Nadia, akan kubuat kau berjalan lagi


Nadia... akan kubuat kau tidak bisa berjalan untuk selamanya saat disini.


setelah menaiki lift mereka sampai dikamar masing masing, Nadia sangat bahagia saat melihat kamar itu, terlihat pemandangan yang indah dari luar jendela.


"Kara kamar kita sangat indah." ucap Nadia melihat diluar jendela.


"tentu saja, aku memilikimu untuk mu sayang." ucap Kara mencium rambut Nadia, Nadia tersenyum bahagia.


"tapi sangat dingin jika jendelanya kau buka, tutup ya.." ucap Kara ingin menutup jendela, tapi Nadia mencegahnya.


" tidak jangan, itu sangat menyenangkan." ucap Nadia, akhirnya Kara mengambil syal dan jaket tebal milik Nadia.


"kalau begitu pakai ini ya, biar tidak dingin." ucap Kara, Nadia tersenyum dan mencium pipi Kara


"terima kasih suamiku sayang." Kara gemas dengan itu, ia kembali mencium pipi Nadia.


"bagaimana kaki mu?" tanya Kara menyentuh kaki Nadia.


"tidak apa apa, aku akan mencoba berdiri lagi." Kara mengangguk dan mencium tangan Nadia.


"baiklah aku akan sholat dulu oke, kamu istirahat ya.." Nadia mengangguk, Kara mengangkat Nadia untuk berbaring dikasur.


dikamar Febriyan dan Risa sedang menata isi koper mereka, Febriyan ingin mengajak Risa berbicara tapi rasanya mulutnya tidak mau bergerak.


"katakan apa yang ingin kamu katakan!" ucap Risa yang sadar dengan Febriyan ingin mengatakan sesuatu.


"apa yang kau rencanakan disini!" Risa berhenti beberes ketika mendengar pertanyaan Febriyan.


"kenapa, apa kau akan melindunginya?" jawab Risa ketus.


"Risa kuperingatkan jangan lakukan apapun yang membahayakan mereka, jika tidak.."


"tidak apa, katakan?" bukannya menjawab Febriyan langsung masuk dalam kamar mandi, Risa memutar bola matanya.


dikamar Kara, dia telah selesai dengan sholatnya. ia melihat Nadia yang sedang tertidur pulas, Kara mendekati Nadia dan membelai rambut Nadia.


"aku sangat mencintaimu sayang, sangat. aku berterima kasih pada Allah karena telah memberikan dirimu setelah mengambil Angel dariku. aku pastikan kamu akan sembuh, aku berjanji padamu." gumam Kara, setelah itu Kara mencium kening Nadia dan tersenyum.

__ADS_1


****


__ADS_2