My Love Story 2

My Love Story 2
64. bayi kita 2


__ADS_3

Nadia sudah mulai tenang, tapi hatinya tetap masih kepikiran semua yang terjadi. Nadia mulai makan saat ibu Kumala menyuapinya, semua orang sudah terlihat lega melihat itu.


"ma.. dimana Kara, apa dia juga meninggalkan aku, kenapa semuanya meninggalkan aku." tanya Nadia yang tidak melihat Kara.


"sayang kamu tidak boleh bilang gitu." ucap ibu Sabilah, Nadia kembali diam. semua orang tidak tahu dimana Kara, Vano yang tahu Kara pergi segera mencari Kara.


"tante saya permisi." ucap Vano, semua orang baru menyadari keberadaan Vano dari siang.


"Vano pulanglah nak, semuanya sudah baik. terima kasih sudah membawa Nadia kesini." ucap ibu Kumala, Vano tersenyum dan melihat kearah Nadia. terlihat Nadia menatap ketawa lain dengan tatapan kosong, Vano dibuat sedih dengan itu.


"iya kalau begitu Vano pamit dulu." ucap Vano lalu pergi dari sana.


Vano mencari cari keberadaan Kara lalu ia melihat Kara yang duduk dengan pikirannya, Kara terlihat frustasi, Vano mendekati Kara. Kara yang menyadari kedatangan Vano, ia melihat kearah Vano.


"apa yang terjadi?" tanya Kara, Vano duduk disebelah Kara.


"kau tidak seharusnya berada disini, Nadia membutuhkan mu." ucap Vano, Kara hanya terdiam dengan tatapan kosong.


"jika kau hancur maka siapa yang akan menangani Nadia, dia akan terpuruk semakin mendalam. siapa yang akan menyemangatinya untuk hidup jika kau seperti ini." jelas Vano, Kara tersenyum tipis.


"kenapa ini semua terjadi padaku?" tanya Kara, Vano merasakan kesedihan Kara.


"jika aku tahu, aku tidak akan membiarkan ini terjadi apalagi pada Nadia dan kau!" jawab Vano, Kara meneteskan air mata.


"pergi lah, dia membutuhkan mu." Kara menghapus air matanya dan berjalan lemas meninggalkan Vano.


"aku percaya padamu Kara, kau bisa menjaganya." ucap Vano tersenyum melihat Kara dari belakang.


****


Kara melihat mereka yang ada diluar ruangan Nadia, Kara menghampiri mereka. Kara menyuruh mereka untuk pulang kerumah dan beristirahat, semua orang menurut dan pergi dari sana. Kara masuk untuk melihat Nadia, saat masuk pandangan mereka bertemu dan saling menatap sendu. Kara mendekat lalu memeluk Nadia, Nadia mulai menangis.


"maafkan aku.. aku tidak bisa merawat bayi kita, aku sangat bodoh Kara.. maafkan aku.." ucap Nadia, Kara melepas pelukan itu dan menghapus air mata Nadia.


"jangan katakan itu, ini semua bukan kesalahanmu. ini kesalahanku seharusnya aku tidak meninggalkanmu, maka semua ini tidak akan terjadi." ucap Kara meneteskan air mata.


" tidak Kara, ini bukan kesalahanmu, aku tidak bisa memberikanmu kebahagiaan, aku hanya bisa memberikanmu rasa sakit." ucap Nadia, Kara mencium kening Nadia.


"ini sudah larut, ayo sekarang istirahat lah." ucap Kara membaringkan tubuh Nadia dan menyelimutinya.


"jangan pergi, tetaplah disini." ucap Nadia, Kara tersenyum dan mengangguk.


"aku ada disini, aku tidak akan meninggalkanmu." ucap Kara tersenyum lalu duduk disamping Nadia, Kara melihat wajah Nadia yang tidur, kesedihan terlihat diwajah Nadia, Kara mulai meneteskan air matanya lagi.

__ADS_1


"maafkan aku, ini tidak seharusnya terjadi padamu." ucap Kara, mencium tangan Nadia.


****


2 hari berlalu, Nadia sudah diijinkan untuk pulang. Kara menggenggam tangan Nadia keluar dari rumah sakit. Kara mendudukan Nadia dan memintanya untuk menunggu, karena dia ingin mengurus kepulangan Nadia dari sana.


Nadia duduk dengan pikiran kosong, ia memegangi perutnya yang selalu membuat Kara bahagia. beberapa menit kemudian Kara datang dan memapah Nadia, saat mereka berjalan, terlihat pasangan yang bergembira menyambut keluarga baru mereka dan Nadia menangis melihat bayi yang baru lahir dalam ayunan. Kara melihat itu langsung menghapus air mata Nadia dan tersenyum.


"Nadia, anak kita tidak pergi atau pun meninggalkan kita. Anak kita ada disurga-Nya, jangan bersedih. anak kita akan sedih jika tahu ibunya bersedih seperti ini." ucap Kara memegang Nadia dan memeluknya, Nadia diam tidak menjawab perkataan Kara.


Kara dan Nadia telah sampai dirumah, terlihat ibu Kumala dan yang lainnya menyambut kepulangan mereka.


"masuklah bersihkan diri kalian, lalu turun untuk makan siang." ucap ibu Kumala, Kara tersenyum dan mengangguk lalu membawa Nadia bersamanya.


saat ingin menuju kamar mereka Nadia melihat kamar yang sudah mereka siapkan untuk kamar bayi mereka, Nadia melepaskan pegangan Kara dan masuk dalam kamar itu. Nadia melihat boneka beruang besar miliknya, lalu mengingat betapa bahagianya dirinya dan Risa waktu menyiapkan kamar itu. Nadia mulai menangis lagi, Kara langsung memeluk Nadia, Kara merasakan kesedihan Nadia.


apa situasi ini. aku tahu Nadia hancur, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun. Tidak ini tidak bisa terjadi, Nadia kamu tidak harus hancur seperti ini.


Kara menggendong Nadia menuju kamar mereka lalu menidurkan Nadia, Nadia memeluk guling menghadap kearah lain. Nadia melakukan itu agar Kara tidak tahu bahwa dirinya sedang menangis, tapi sebenarnya Kara sudah tahu bahwa Nadia sedang menangis.


Kara membersihkan kamarnya, ia mengumpulkan barang barang yang mengingatkan tentang bayinya. Kara melakukan itu agar Nadia tidak merasakan sedih yang berlanjut, Kara meletakkannya dikamar bayi sebelumnya. sejenak Kara memandangi kamar itu, Kara menangis lalu menutup pintu kamar itu.


Kara turun mengambil makan siang untuk Nadia, semua heran tidak melihat Nadia.


"dia istirahat ma, jadi aku bawa saja makanan kesana." ucap Kara.


"Kara makan lah, sejak kamu datang kamu belum tidur atau makan apapun sejak 2 hari, duduklah mama akan siapkan makanan untukmu." ucap ibu Kumala,


"tidak ma, Nadia juga belum makan." saut Kara sibuk mengambil makanan


"tenang saja, Nadia akan melupakannya. kita semua ada disini untuk membantunya." ucap Febriyan pada Kara, Kara melihatnya lalu melihat Risa dan ibu Kumala tersenyum.


"iya, terima kasih." ucap Kara tersenyum, dan melangkah pergi.


Nadia masih memikirkan bayinya, ia tiduran dengan memegangi perutnya. Kara masuk membawa makan siang untuk Nadia, lagi lagi Kara melihat Nadia menangis memegang perutnya. Kara mendekati Nadia, Nadia melihat Kara yang tersenyum.


"ayo makan, kamu belum makan." ucap Kara, ia mendudukan Nadia.


"ayo buka mulutmu, aaa..." ucap Kara menyuapi Nadia, bukannya membuka mulut Nadia menatap Kara.


"kau tidak makan?" ucap Nadia, Kara tersenyum.


"aku sudah makan!" saut Kara, Kara kembali menyuruh Nadia membuka mulut tapi Nadia tetap diam.

__ADS_1


"Nadia makanlah, nanti kamu sakit." ucap Kara, Nadia mengambil sendok dari tangan Kara lalu menyuapkannya pada Kara, Kara membuka mulut dan memakannya.


"sudah, ayo makan." Nadia mengangguk, mereka menghabiskan makanan itu bersama.


***


ditengah malam mereka tertidur, Nadia membuka mata dan merasakan Kara sedang tidur memeluknya dari belakang. Nadia melepas pelukan itu lalu berdiri dan berjalan keluar kamar, Nadia berjalan memasuki Kamar bayi itu. Nadia memeluk boneka beruang dan tidur, Nadia menangisi dirinya sendiri yang telah menghilangkan bayinya.


"maafkan mama sayang, maafkan mama. hiks.. hikss.." Nadia menangis memeluk boneka hingga tertidur.


Kara terbangun dipagi hari, ia tidak merasakan kehadiran Nadia. Kara membuka mata dan benar Nadia tidak ada disampingnya, Kara berpikir Nadia sudah bangun dan turun kebawah. setelah membersihkan dirinya Kara turun memakai kaos polos, Kara melihat Febriyan yang sedang memegang perut Risa, Kara tersenyum.


"pagi Kara, dimana Nadia?" Kara merasa heran ibu Kumala menanyakan dimana Nadia.


"ma.. bukannya Nadia sudah turun?" ucap Kara, ibu Kumala menggelengkan kepala.


"saat aku bangun, Nadia tidak ada. aku pikir dia turun kesini, lalu dimana dia?" ucap Kara bergegas mencari Nadia, ibu Kumala turut serta.


setelah beberapa menit mencari, Febriyan melihat Nadia ada dikamar bayi sedang duduk dengan pikiran kosong, Febriyan menghampiri Nadia.


"Nadia kamu disini, kami mencarimu dari tadi." ucap Febriyan duduk disebelah Nadia, Nadia tersadar kehadiran Febriyan.


"jangan seperti ini terus, ini membuat dirimu sendiri merasa hancur." Nadia menghapus air matanya yang menetes.


"aku menyiapkan kamar ini untuk bagiku dan bayi Risa, sekarang rawat kamar ini untuk bayi Risa." ucap Nadia, Risa datang mengahampirinya.


"tidak, kamu akan punya lagi, biarkan kamar ini seperti ini. kamar ini tetap milik bayi Risa dan bagi Nadia." ucap Risa memeluk Nadia, Nadia tersenyum dengan itu.


"yasudah ayo kita sarapan, nanti kamu sakit lagi." ucap Risa, Nadia mengangguk dan melihat Kara yang tersenyum kearahnya. perlahan Kara menghampiri Nadia dan mencium keningnya.


"semua akan baik baik saja, ayo kubantu." ucap Kara, Nadia mengangguk.


ibu Kumala berdiri bersama Febriyan dan Risa mereka melihat Kara dan Nadia dari belakang.


"aku merasakan kesedihan Kara, itu berat bagi Kara, apalagi Nadia terhanyut dalam kesedihan." ucap Febriyan, Risa memegang pundak Febriyan.


"kita akan membuatnya menghilangkan semua kesedihan itu, kita semua akan berusaha." ucap Risa tersenyum, Febriyan pun memegang tangan Risa dan tersenyum.


"ehem.. ada tante disini, ayo kita sarapan." ucap ibu Kumala, mereka pun tersenyum lalu melangkah pergi dari kamar itu.


***


aku suka baca komen kalian, sampe senyum2 sendiri wkwk😁, maaf ya ga bisa bales komen satu2, intinya terima kasih buat kalian😍

__ADS_1


jangan lupa like dan komen kalian😍


__ADS_2