
Setelah kepergian Risa, Kara menutup pintu dan memindahkan Nadia kekasur. Kara berjalan ketempat tungku api dan menyalakan api agar hangat.
"apa sudah hangat?" tanya Kara, Nadia mengangguk.
"kemarilah duduk disini Kara." ucap Nadia, Kara pun tersenyum dan memberikan teh hangat untuk Nadia.
mendengar ajakan Nadia, Kara langsung melompat diatas tempat tidur dan memeluk Nadia.
"Kara teh nya akan tumpah!" ucap Nadia, Kara mengambil teh itu dan menaruhnya dimeja.
"hm.. katakan padaku, apa kau senang berbulan madu disini?" ucap Kara memeluk Nadia lagi, Nadia tersenyum.
"sangat bahagia, aku ingin pergi ke negara lain!."
"tentu, kau bisa kemana pun yang kamu mau!" ucap Kara, Nadia tersenyum mencium pipi Kara.
dikamar Risa masih bingung dengan hilangnya ular yang ia taruh, ia terus mondar mandir dalam kamarnya sedangkan Febriyan tertidur pulas.
"bagaimana kalau ular itu ada dikamar ini, benar benar ular sialan!" gumam Risa, Risa mencari cari disetiap sudut kamar itu lalu Risa melihat kearah Febriyan, ia melihat Febriyan tidur dengan nyenyak.
"jika ular itu menggigitmu, aku akan tertawa melihat kau kesakitan," gumam Risa melihat Febriyan.
kembali kekamar Nadia dan Kara.
mereka masih asik mengobrol dan bercanda berdua, Kara terus memeluk Nadia karena merasa kedinginan.
"Kara aku harus minum obat!" Kara tersadar ular mainan itu belum ditemukan Nadia.
"oh iya, aku lupa. obatnya ada ditasmu, aku akan ambil air putih." Kara langsung bersemangat ketika mendengar itu, Nadia membuka tasnya. tanpa mereka sadari sesuatu bergerak didalam selimut mendekati kaki Nadia, Kara sibuk memikirkan rencananya sedangkan Nadia membuka tasnya mencari obat.
"Kara kenapa tidak ada obatku ya?"
"cari dengan benar sayang." saut Kara melirik sekilas.
sesuatu yang bergerak itu muncul dan seekor ular kobra tepat berada disebelah kaki Nadia diatas selimut. Nadia terkejut, ia menaruh tasnya sembarangan dan mulai panik.
"K.. Kara.." ucap Nadia lirih, tapi masih didengar Kara.
"ketemu?" saut Kara.
__ADS_1
"itu Kara.. "
"ada apa?"
Nadia semakin panik ketika ular itu melingkar diatas selimut dan mendirikan tubuhnya,
"Kara!!!" teriak Nadia
Nadia langsung berdiri, ketika ular itu mencoba mematuk sesuatu. Kara yang terlihat senang melihat Nadia berdiri langsung berubah masam ketika melihat ular diatas selimut. kaki Nadia tidak bisa menahan tubuhnya, ia pun jatuh duduk dilantai, ular itu bukannya diam malah mengikuti Nadia.
"Kara... lakukan sesuatu.." ucap Nadia, Kara masih mencari sesuatu untuk menangkap ular itu.
"Nadia jangan bergerak, tetap tenang." ular itu perlahan mendekati Nadia.
"Kara.. aku takut..." hanya itu yang bisa dikatakan Nadia.
Kara mendekati ular itu dan perlahan bersiap untuk mengambil ular itu. Nadia sangat panik ketika ular itu berusaha ingin mematuk Kara.
"akhh Kara, hati hati.. hikss.." Nadia menangis, ia mencari cara untuk membantu Kara.
dikamar lain Risa sedang termenung dan Febriyan tertidur nyenyak. tiba tiba Risa mendengar suara teriakan Nadia.
"mas Riyan bangun, Nadia berteriak apa terjadi sesuatu?" Febriyan membuka mata.
"benarkah, ayo kesana!" Febriyan melangkah keluar pintu diikuti Risa.
saat Nadia sibuk mencari cara, ular itu hampir berhasil mematuk Kara. dengan cepat dan spontan Nadia berdiri dan mengambil ular itu lalu melemparkannya keluar jendela, Kara terkejut melihat itu. beberapa saat kemudian kaki Nadia tidak merasakan apapun lagi, hingga tubuhnya terduduk dilantai.
"Nadia kamu gak papa kan?" ucap Kara mengangkat Nadia
"aku sangat takut, benar benar takut.." ucap Nadi memeluk Kara, Kara mencoba menenangkannya.
"dari mana datangnya ular itu." ucap Kara, suara ketukan pintu terdengar.
"aku buka pintu dulu." Kara melepas pelukannya, dan mengarah ke pintu.
"Kara apa terjadi sesuatu?" tanya Febriyan, Risa langsung masuk melihat Nadia.
"ada ular mas, tapi Nadia sudah melemparnya." jelas Kara, Febriyan masuk dan ia lega tidak terjadi apapun pada Nadia. Risa kecewa rencananya gagal membuat Nadia celaka.
__ADS_1
"dia gak papa kan?" ucap Febriyan, Kara mengangguk.
"bagaimana ada ular?" ucap Febriyan lagi.
"aku tidak tahu, aku memasukkan ular mainan dan tidak mungkin kan berubah menjadi ular sungguhan." jelas Kara.
"ular mainan?" tanya Nadia, Kara hanya tersenyum kikuk.
"iya kau membeli ular mainan, agar bisa menakutimu dan kau berdiri pada kakimu sendiri, dan aku berhasil tapi aku tidak tahu bisa menjadi ular sungguhan. Risa kau ingat kan aku memasukan ular mainan?"
"i..iya aku lihat kok.." Febriyan langsung menatap tajam kearah Risa
"oke kalian istirahatlah, Risa ayo kembali kekamar." Febriyan langsung menarik tangan Risa, Risa hanya bisa mengikuti langkah Febriyan.
Febriyan terus menarik tangan Risa, menuju kamarnya. sampai dikamar Febriyan melempar Risa hingga terpental diatas kasur, kemudian Febriyan menutup pintunya.
"ulahmu?" ucap Febriyan, Risa hanya diam.
"jawab!"
"iya kenapa?" Febriyan menatap tajam kearah Risa, Risa melihat kemarahan pada mata Febriyan.
"sudah kukatakan jangan melakukan hal apapun untuk melukainya?" ucap Febriyan memegang erat bahu Risa.
"kenapa kau begitu peduli pada Nadia, apa kau tertarik padanya?" Febriyan diam dan melepas bahu Risa dengan kasar.
"haha kasian, masa lalu terulang lagi. disaat kau mencintai seseorang, kau hanya bisa menjaga jodoh orang." Febriyan marah dengan perkataan Risa, ia mendorong tubuh Risa hingga jatuh ke kasur.
"akh.. apa yang kau lakukan?" ucap Risa, ia sedikit terkejut saat Febriyan membuka kemeja yang dipakainya dan mendekati Risa.
"ada apa, apa kau tidak ingin melayani suamimu?" Risa mulai merasa takut saat Febriyan mencium lehernya.
"jika kau melakukan nya lagi aku akan melakukan hal lebih dari ini, dengan keinginanku!" bisik Febriyan ditelinga Risa.
"kau mengancamku!"
"iya, anggap saja seperti itu." Febriyan berdiri meninggalkan Risa yang sedang mengutuk dirinya
"sialan, seharusnya aku tidak mau menikah denganmu." umpat Risa melempar bantal.
__ADS_1