My Love Story 2

My Love Story 2
41. Bahagia


__ADS_3

satu minggu telah berlalu setelah pernikahan Risa dan Febriyan, mereka tidur secara terpisah. Febriyan selalu membuat alasan tidur dengan Bagas agar tidak dicurigai orang orang disana.


Risa bangun dipagi hari, setelah keluar dari kamar mandi ia menuju ke dapur. saat berada didapur Risa merasa bingung tidak ada siapapun hanya ada si mbok prt dirumah itu.


"eh pagi non Risa?" ucap si mbok saat melihat Risa.


"pagi mbok!" balas Risa mengambil air minum.


"mbok kemana semuanya?" tanya Risa, selagi mengambil minum.


"baru saja non Nadia pergi kerumah sebelah sama nyonya besar, katanya ibunya terpeleset non." jawab si mbok sopan.


"oh. kalau itu Bagas sama papanya?" tanya Risa melihat masakan yang dibuat si mbok.


"tuan Riyan pergi nganterin tuan kecil sekolah." Risa hanya ber oh dengan melihat masakan itu.


"non Risa lapar ya?" tanya si mbok lagi.


"hehe iya mbok, ini untuk siapa?"


"ini untuk tuan Kara." Risa terlihat senang, saat si mbok ingin mengantar makanan itu dihalangi oleh Risa.


"mbok biar Risa aja, sini!" Risa mengambil nampan ditangan si mbok.


"eh gak papa non, si mbok aja!"


"udah, si mbok lakukan yang lain aja oke!" si mbok pun mengangguk lalu Risa berlalu dari dapur.


"hm.. niatnya aku ingin mengerjai Nadia hari ini, tapi ada kesempatan dengan Kara tidak akan aku sia sia kan." gumam Risa tersenyum.


didalam kamar Kara selesai mandi, ia merapikan rambutnya didepan cermin hanya menggunakan celana panjang atau lebih tepatnya dirinya sedang telanjang dada.


"(tok tok tok) siapa yang mengetuk pintu." gumam Kara saat mendengar ketukan pintu, Kara melangkah untuk membuka pintu.


" Risa!" ucap Kara saat melihat Risa, Risa terkejut melihat Kara telanjang dada.


"eh maaf Kara, aku hanya mengantarkan sarapan untukmu." ucap Risa, dalam hatinya sangat senang.


"ehm.. iya tarulah disana aku akan ganti baju." ucap Kara lalu masuk kedalam ruang ganti untuk berpakaian, Risa menunggu Kara ia melihat foto Kara dan Nadia yang tersenyum penuh cinta membuatnya jijik.


"kau masih disini?" tanya Kara, Risa pun menoleh.


"biarkan aku disini, semua orang tidak ada aku tidak mau sendirian!" ucap Risa, Kara pun mengiyakan dan duduk disofa dan mulai memakan makanan yang dibawa Risa, Risa memandanginya terus.


kenapa kau tidak pernah mencintaiku Kara, kenapa.


"apa kau sudah makan?" ucap Kara mengejutkan Risa dari lamunannya.


"eh iya, aku sudah makan!" jawab Risa senyum, Kara pun mengangguk.


"itu ...." belum Risa berkata tiba tiba terdengar suara Nadia memanggil Kara.

__ADS_1


"Kara!!"


mendengar itu Kara menghentikan acara makannya, ia langsung keluar kamarnya dan turun ke bawah membawa makanan itu meninggalkan Risa. Risa sangat kesal dengan itu, ia pun mengikuti Kara keluar dari kamar itu.


"sayang. gimana ibumu, mana mama?" ucap Kara saat turun tangga lalu duduk disofa


"hm.. gak papa kok cuman keseleo aja, mama masih nemenin mamaku. eh kamu baru sarapan?" ucap Nadia menghampiri Kara.


"iya Nad, aku yang ngambil tadi, gak papa kan?" ucap Risa menghampiri dan memegang pundak Nadia


"iya gak papa, makasih ya sudah bantu." Nadia tersenyum, Risa juga tersenyum.


tidak lama kemudian Febriyan datang, Febriyan melihat kearah Risa dan Nadia lalu melihat Kara yang sedang makan, Febriyan pun menghampiri Kara.


"kenapa makan disini?" ucap Febriyan duduk disebelah Kara.


"karena tidak disana!" celetuk Kara, Febriyan hanya menggelengkan kepala.


"Kara.. jawab yang bener dong!" ucap Nadia, Kara pun berdiri lalu mengacak rambut nadia.


"iya sayang aku dan dia biasa seperti itu." ucap Kara lalu pergi ke dapur menaruh piring bekas itu.


"jadi kalian mau bulan madu kemana?"


"pfftt.."


pertanyaan Nadia membuat Risa terkejut hingga menyemburkan air yang ia minum,


"kamu ini kenapa bertanya bulan madu.." kesal Risa membuat Kara tertawa, Nadia pun tersenyum mengira Risa malu.


"ya kalian kan pengantin baru.." ucap Kara duduk disebelah Febriyan.


"heh.. kau saja belum bulan madu." Kara lalu melihat Nadia, Nadia hanya tersenyum kikuk


"hei kenapa kamu malah melihatku!" ucap Nadia mukanya memerah.


"jadi, apa kamu ingin bulan madu." ucap Kara mendekati Nadia.


"tidak, untuk apa kita sudah menikah lama, jadi untuk akhh.." Kara langsung menggendong Nadia


"iya benar, kita lakukan dirumah saja." ucap Kara berjalan menaiki tangga.


"Kara turunkan aku, kamu ini seperti anak kecil." ucap Nadia menyembunyikan kepalanya pada wajah Kara karena malu dilihat Febriyan dan Risa.


Risa benar benar kesal dengan kemesraan mereka itu, Febriyan mendekati Risa


"apa kau iri?" ucap Febriyan, Risa hanya melihatnya


"ada suamimu jika mau, aku akan melakukannya." Risa kesal dengan itu lalu meninggalkan Febriyan, Febriyan hanya tersenyum.


Risa berjalan kekamarnya lalu menelfon seseorang.

__ADS_1


"halo.. bisa aku pesan tiket ke swiss.." ucap Risa bicara ditelfon.


"iya, 4 tiket. secepatnya kirimkan kerumahku, aku akan mengirimkan alamatnya. oke " Risa menutup telfon itu dan tersenyum menghadap cermin.


"Nadia.. bukan kah kau ingin bulan madu, akan kuberikan kau kejutan, kejutan yang menyenangkan. oh tidak mungkin kejutan yang berbahaya..." gumam Risa tersenyum licik pada cermin.


****


sore hari nya, kedua keluarga itu berkumpul dihalaman rumah Kara. mereka semua sedang menikmati suasana disore hari bersama sama. terlihat Nadia dan Bagas bermain layangan, kedua orang tua sedang bicara. sedangkan Kara dan Febriyan sedang duduk santai, Risa datang dari dalam rumah memberikan teh pada semua orang.


"bunda biarkan layangannya tinggi." ucap Bagas saat bermain layangan.


"nanti benangnya putus sayang, tidak perlu tinggi tinggi." Bagas pun mengangguk dengan perkataan Nadia.


"hati hati benangnya jangan sampai melukai tangan kalian." teriak Kara, Nadia pun menoleh kearah Kara.


"iya, kami akan hati hati." saut Nadia, Bagas masih asik bermain layangan.


beberapa menit kemudian saat mereka sedang bermain layangan tiba tiba tali layangan itu putus, dan layangannya nyangkut diatas pohon.


"bunda, layangannya disana." Bagas menunjuk layangannya yang ada dipohon.


"Bagas panggil om Kara ya, buat ambil layangannya." Bagas pun mengangguk dan berlari kearah Kara.


Nadia melihat layangan itu tidak seberapa tinggi jika dia berdiri pasti langsung menggapainya. Nadia mengulurkan tangannya untuk mencapai layangan itu, perlahan kakinya bergerak menyentuh tanah tanpa disadari Nadia.


"dikit lagi Nadia..." ucap Nadia, tanpa disadari semua orang melihat kearah Nadia yang berusaha berdiri untuk mengambil layangan itu.


"akhh.. berhasil, Bagas bunda dapat layangannya..." teriak Nadia, semua orang terkejut dengan itu. mereka bukan terkejut Nadia berteriak, mereka terkejut melihat Nadia berdiri.


Kara menghampiri Nadia, Nadia melihat kearah Kara.


"hm.. tidak perlu mengambilnya lihat aku sudah mengambilnya." ucap Nadia menunjukan layangan itu, ia belum sadar dirinya telah berdiri. Kara melihat Nadia dari atas kebawah, Nadia tetap bicara soal layangan.


"ada apa, kenapa kamu diam?" Kara memegang kedua bahu Nadia, ia tersenyum bahagia.


"sayang, dimana kursi roda mu?" Nadia pun melihat kearah kursi rodanya, dan ia terkejut ketika mendapati dirinya berdiri tanpa duduk dikursi roda. Nadia tersenyum bahagia dengan itu.


"a..aku berdiri.. Kara.. aku..."


"kau berdiri sayang, akhirnya kamu berdiri." ucap Kara mencium pipi Nadia, Nadia masih merasa bahagia dengan dirinya yang berdiri.


"ini karena kamu Kara..." ucap Nadia memegang kedua pipi Kara.


"aku bahagia sayang, aku bahagia Nadia!!..." ucap Kara langsung menggendong Nadia, Nadia tersenyum bahagia begitu juga dengan semua orang.


Risa tidak merasa senang, ia merasa kesal dengan itu. Risa masih berencana untuk melukai Nadia lebih lanjut,


****


jangan bosen ya...

__ADS_1


jangan lupa like dan komen kalian😍


__ADS_2