
Risa menghampiri Nadia yang sedang menunggu Kara kembali, sudah beberapa menit berlalu tapi mereka belum kembali, membuat Nadia merasa khawatir.
"mereka pasti dalam perjalanan." ucap Risa, Nadia hanya tersenyum.
"apa yang lainnya sudah tidur?" Risa mengangguk, Nadia kembali mengkhawatirkan Kara
"sudah 1 jam Risa, kita harus mencari mereka." ucap Nadia, Risa tersenyum.
"tidak, kita tunggu saja." ucap Risa, Nadia pergi kekamarnya. Risa membiarkan Nadia melakukan apa yang ingin dia lakukan.
setelah keluar kamar, Nadia membawa jaket dan keluar dari vila. Nadia menunggu Kara diluar, Nadia tidak bisa melihat apapun karena cuaca yang berkabut sangat tebal, Nadia semakin khawatir dengan itu.
"Kara cepat kembali." ucap Nadia, dari dalam Risa hanya memperhatikan Nadia.
"Kara mungkin tidak akan kembali, setelah ini adalah giliranmu Nadia." gumam Risa tersenyum licik.
Kara sedang fokus menyetir untuk menghindari kabut, ia juga sesekali meniupi tangannya karena merasa kedinginan. karena jalanan licin Kara berhati hati saat menyetir, saat ia menginjak rem, rem itu tidak berfungsi atau remnya blong. Kara panik dengan itu, ia terus menginjak rem tapi mobilnya terus berjalan.
"oh tidak, ada apa ini!" ucap Kara terus berusaha menghentikan mobilnya.
Nadia sudah sangat khawatir, ia berniat untuk mencarinya dijalan. Nadia mulai menjalankan kursi rodanya untuk mencari Kara, dengan perlahan Nadia sudah menjauh dari vila itu
"pergilah Nadia, maka kau tidak akan kembali." gumam Risa tersenyum, ia menutup pintu vila itu.
Nadia terus berjalan menyusuri jalan untuk mencari suaminya, kabut yang tebal Nadia tidak menghiraukannya. tapi tiba tiba Nadia menghentikan kursi rodanya, karena Nadia tepat berhadapan dengan jurang.
"Kara.. kau dimana!" ucap Nadia, Nadia meneteskan air mata, Nadia tidak tahu harus apa lagi.
Nadia kembali menjalankan kursi rodanya dijalan Raya, Nadia terus melewati setiap kabut disana. tiba tiba ada sebuah mobil didepan Nadia, yang ingin menabraknya jika mobil itu tidak berhenti dengan tepat.
"akhh..." teriak Nadia, mobil itu berhenti tepat didepan Nadia, lalu seseorang turun dari mobil itu.
"Nadia?" Nadia melihat kearah suara yang memanggilnya, Nadia terkejut melihat Febriyan.
"mas Riyan, dimana Kara."
"Kara ada divila."
"tidak, dia pergi untuk mencarimu. Risa mengatakan itu padaku." Febriyan mengangkat Nadia masuk kedalam mobilnya, lalu memutar balik mobilnya untuk mencari Kara.
"kenapa kamu keluar?" tanya Febriyan yang fokus menyetir.
"aku khawatir pada Kara, jadi aku berniat mencarinya." jawab Nadia yang melihat ke arah luar jendela.
di vila Risa sedang menonton tv, ia melihat berita yang mengatakan cuaca buruk terjadi disana, kabut tebal melanda dikota itu. Nadia tersenyum melihat semua itu, terdapat beberapa kecelakaan mobil yang terjadi.
"ya.. setelah itu akan bertambah korban," gumam Risa.
***
Febriyan terus mencari keberadaan Kara, tiba tiba didepan mobil Febriyan terdapat sebuah mobil yang ingin menabraknya, yang tidak lain adalah mobil Kara. mobil mereka saling bertabrakan, hingga terjadi guncangan.
"Kara!!" teriak Nadia, Kara tersadar mobil siapa yang ia tabrak, saat Kara membuka pintu mobilnya tiba tiba mobil Kara terpental hingga tubuh Kara harus terlempar keluar dan terjatuh di jurang.
"Kara!!!!" teriak Nadia terdengar lagi, mobil Febriyan menabrak sebuah pohon hingga membuat depan mobilnya rusak parah, Febriyan dan Nadia pingsan disana.
__ADS_1
"Nadia.."
"Nadia.."
perlahan Nadia terbangun saat mendengar suara memanggilnya, Nadia membuka matanya dan tersadar apa yang telah terjadi padanya beberapa menit yang lalu. Nadia melihat ketawa Febriyan yang masih pingsan,
"Nadia..."
Nadia mendengar suara Kara memanggilnya, Nadia membuka pintu mobil itu. tapi ia merasa sedih ketika kakinya tidak berfungsi, Nadia menangis.
"Nadia.. akh!!"
mendengar teriakan Kara yang terdengar kesakitan Nadia terkejut hingga tanpa sadar dirinya berdiri tapi seketika tubuhnya terjatuh ditanah, itu tidak membuat Nadia menyerah. Nadia berjalan dengan merangkak menuju suara teriakan Kara
"Kara... aku akan datang..." ucap Nadia dengan terus merangkak perlahan, Nadia bahkan tidak peduli luka yang ada pada kepalanya mengeluarkan darah, dan juga tidak memperdulikan bahwa dirinya sedang hamil.
"Kara..." Nadia terus memanggil nama Kara dengan menangis.
"Kara.. hiks.. dimana kamu.. Kara..." teriak Nadia lemah, ia menangis saat tidak mendengar suara Kara lagi.
"Karaaaaa..!!!!" teriak Nadia menggema di jurang itu, beberapa saat kemudian terlihat tangan Kara yang mencoba menggapai atas.
"Nadia!" ucap Kara, Nadia mendengar suara itu tapi tidak melihat Kara.
"Kara, Kara kau dimana, aku disini Kara.?" ucap Nadia menghapus air matanya.
"di..disini..akh.. Nadia.. aku disini..." ucap Kara, Nadia melihat Kara yang berusaha naik tapi terlihat kesusahan.
"Kara bertahanlah.. hikss... Kara bertahan, mas Riyan!!" teriak Nadia, Febriyan masih pingsan didalam mobil dan tidak mendengar suara Nadia.
"Nadia, aku... sangat.. mencintaimu... Nadia..." ucap Kara, Nadia semakin menangis karena dirinya tidak bisa berbuat apa apa.
"maafkan aku, aku sudah tidak kuat lagi.. mungkin.. kita akan berpisah disini.."
"tidak!, kau tidak boleh meninggalkan aku. tidak boleh!" teriak Nadia semakin menangis, Nadia berusaha memikirkan cara untuk membantu Kara
"Nadia... maaf, aku... tidak bisa... menjagamu lagi..." ucap Kara melemah, Nadia menangis.
"tidak boleh, kau tidak boleh meninggalkan kami. kami membutuhkanmu, aku membutuhkan suamiku, begitu juga dengan anakku, anak kita butuh seorang ayah Kara hiks... hiks... dia juga ingin melihat ayahnya saat lahir. hiks..." Kara terkejut dengan perkataan Nadia yang mengatakan anak kita membutuhkan seorang ayah.
Nadia melihat sebuah kayu pohon yang lumayan panjang, Nadia dengan semangat penuh berusaha berdiri. Nadia berjalan perlahan menghampiri ranting kayu itu, dengan memegangi perut dan kepalanya yang terasa sakit.
"aku akan.. menyelamatkanmu, kamu.. akan selamat Kara.. tidak.. ada.. yang bisa.. memisahkan kita..." ucap Nadia lirih, ia terus berjalan tertatih menghampiri kayu yang akan ia ambil.
setelah beberapa menit Nadia berhasil mengambil kayu itu, tapi kaki Nadia merasa lemah itu pun tidak membuat Nadia putus asa, Nadia terus berusaha untuk berdiri lagi dan menghampiri Kara. saat sudah mendekati Kara Nadia terjatuh hingga dirinya harus duduk, kaki Nadia sudah melemah.
"Kara.. ini.. ayo aku akan menariknya.." ucap Nadia, Kara berusaha menggapai ranting pohon itu.
"Nadia aku berhasil menggapainya!"
"ya Allah berikan hamba ini kekuatan untuk berdiri sekali lagi, hamba ingin menolong suami hamba. akh.."
Nadia pun menarik ranting itu tapi kekuatannya tidak mencukupi jika dia duduk. dengan sekuat tenaga Nadia berusaha untuk berdiri lagi, saat Nadia sudah berhasil berdiri ia menarik Kara secara perlahan.
"Ka...ra... aku akan berhasil." ucap Nadia yang berusaha menarik Kara, Kara juga berusaha agar bisa naik.
__ADS_1
"akhh, ya Allah... berikan aku kekuatan sekali saja.. akh.. aku mohon..." ucap Nadia yang masih menarik Kara, perlahan kakinya mulai berjalan mundur.
"akhhh!!" teriak Nadia, Kara naik keatas dan berlari menghampiri Nadia langsung memeluknya.
"Kara.. hiks.. Kara apa kau tidak apa apa?" ucap Nadia memeluk Kara, Kara terus memeluk Nadia dengan erat.
"terima kasih, terima kasih Nadia. aku sangat mencintaimu." ucap Kara, Nadia mengangguk dan menangis dalam pelukan Kara. tiba tiba Nadia terkulai lemas, Kara mencoba mendudukan Nadia.
"Nadia kau terluka.." ucap Kara melihat luka pada kepala Nadia dan sekitar kakinya, Kara mengingat perkataan Nadia tentang anaknya.
"Kara.. sudah kukatakan... tidak akan ada yang memisahkan kita, tidak ada Kara. disini akan menambah cinta kita semakin kuat, anak kita Kara.." ucap Nadia memegangi perutnya
"iya aku tahu, maafkan aku." ucap Kara memeluk Nadia dengan erat.
terlihat Febriyan mulai tersadar dari pingsan nya, Febriyan memegangi kepalanya yang sakit. saat ia tersadar ia turun dari mobil dan mencari Nadia, ia melihat Nadia dan Kara sedang berpelukan, Febriyan berlari menghampiri mereka.
"apa kalian baik baik saja?" ucap Febriyan, Kara mengangguk.
"aukh... sakit..." ringik Nadia, Kara dan Febriyan merasa terkejut.
"Kara sakit... perutku.. akh..."
"mas Riyan kita harus membawanya kerumah sakit, Nadia berusaha menyelamatkan aku tadi." Febriyan berusaha menelfon seseorang.
"Kara... bayiku .." Febriyan terkejut saat mendengar Nadia mengatakan bayi.
"mas tidak ada waktu, aku akan membawanya." Kara menggendong Nadia, Febriyan berusaha menyalakan mobilnya.
"ayo menyalah lah!!" Febriyan terus berusaha, beberapa saat kemudian mobil itu menyala.
"Kara mobilnya nyala cepat masuk!" Kara langsung masuk Febriyan melajukan mobil dengan cepat, tidak peduli kabut yang tebal.
setelah beberapa menit mereka sampai disebuah rumah sakit, pihak rumah sakit langsung menghampiri mereka dengan cepat dan membawa Nadia, Nadia terus merengek kesakitan.
"Kara.. bayiku.. selamatkan bayiku.. bayi kita Kara..." rengek Nadia, Kara terus menciumi tangan Nadia. Nadia masuk dalam ruang igd, Kara dan Febriyan harus menunggu diluar.
"Kara aku akan menelfon keluarga kita, kau tenanglah mereka akan baik baik saja." Kara duduk menenangkan diri, Febriyan mulai menghubungi Risa tapi tidak diangkat.
"mungkin Risa sedang tertidur." gumam Febriyan.
"kenapa kau menyusulku?." tanya Febriyan, Kara melihat kearah Febriyan.
"Risa khawatir padamu, jadi aku berusaha mencarimu." jelas Kara, Febriyan merasa ganjil karena pasalnya Risa tidak pernah khawatir padanya.
"aku tidak tahu rem mobilku bisa blong, dan olinya bocor." ucap Kara lagi. beberapa saat kemudian dokter keluar, Kara dan Febriyan menghampiri dokter itu.
"dokter, bagaimana istri saya?" ucap Kara
"maaf hanya ada satu kemungkinan yang akan bisa selamat."
"apa maksudnya dokter?" tanya Febriyan yang tidak mengerti maksud dokter.
"silahkan buat keputusan, selamatkan ibunya atau selamatkan anaknya!"
***
__ADS_1
gimana ceritanya, jangan sampe bosen yaa😁 beri aku semangat juga😍
jangan lupa like dan komen kalian😍