My Love Story 2

My Love Story 2
75. selalu mencintaimu


__ADS_3

terlihat seorang pria keluar dari dalam mobil mewah, dengan tubuhnya yang tinggi memakai pakaian serba hitam. pria itu berjalan dengan angkuh tidak menyapa orang yang menyapa dirinya, pria itu berjalan ke arah lift pribadi yang tersedia khusus untuknya, terlihat Reno berdiri disamping pria itu.


"aku sudah menyiapkan semua berkasnya, kau bisa memeriksanya." ucap Reno, pria itu hanya ditampilkan dari belakang.


"iya, aku akan periksa. satu hal lagi, jangan ada yang menggangguku hari ini!" ucap pria itu dengan suara sedikit berat, Reno mengiyakan.


pria itu keluar dari dalam lift, berjalan angkuh menuju ruangannya. beberapa karyawan nya sedang membicarakan nya dengan berbisik.


"iya dia banyak berubah setelah 6 tahun." ucap seorang wanita.


"6 tahun yang lalu katanya istrinya minggat, karena tuan ketahuan tidur dengan wanita lain." saut wanita lain.


"aku tidak tahu dalam pikiran orang kaya, kenapa bisa seperti itu."


"kalian!"


sentak pria itu, kedua wanita itu terkejut. mereka melihat wajah kesal pria itu atau bos mereka itu, mereka menunduk.

__ADS_1


"kalian dipecat, cari Reno dan minta padanya agar kalian diberikan pesangon." ucap pria itu lalu pergi, kedua wanita itu terkejut dan menangis.


pria itu masuk kedalam ruangannya dan wajahnya pun ditampilkan, siapa lagi kalau bukan Kara. dengan tampilan yang berbeda Kara terlihat galak dan angkuh, Kara telah berhasil membangun beberapa perusahaan selama 6 tahun terkahir. Kara melepas jasnya dan duduk dikursinya memejamkan mata.


Kara POV.


aku Kara Wijaya, pasti kalian sudah mengenalku sebelumnya. saat ini usiaku 38 tahun, tidak terasa usiaku sudah hampir kepala empat. orang mengenalku memiliki sifat keras dan juga angkuh, aku kembali seperti dulu. Kara yang acuh, Kara yang dingin, Kara yang sombong, semua julukan itu kembali pada ku 6 tahun terkahir.


aku kesal saat orang membicarakan diriku, apalagi menyangkut soal Nadia, aku sudah tidak ingin membahas tentang dia, entah kenapa aku membencinya tapi aku juga mencintainya.


hari ini adalah hari ulang tahun Nadia, aku selalu mengingat setiap tahun hari ulang tahunnya, aku memandang foto Nadia yang tersenyum manis padaku. tiba tiba aku mengingat kejadian 6 tahun lalu saat aku melihat dirinya masuk kedalam mobil Vano. Nadia memaksaku untuk membiarkannya pergi, Nadia aku sangat merindukanmu tapi aku tidak pernah berniat mencarinya dia sudah bahagia bersama orang lain.


ceklek!


suara pintu ruanganku terbuka, segera aku memasukkan foto Nadia kedalam laci dan menghapus air mataku yang keluar dengan sendirinya, aku berpikir siapa yang berani masuk ruangan ku tanpa mengetuk.


"om Kara!!" teriak suara gadis kecil berlari kearahku, dengan senang hati aku menggendong nya.

__ADS_1


"hai princes, kalian dari mana?" tanya ku saat melihat kedua adik kakak itu, ya mereka adalah Bagas yang berusia 14 tahun dan adik kecilnya Riana berusia 6 tahun yang sedang kugendong, tiba tiba terlihat mas Riyan turut masuk keruanganku.


"princess mu ingin bertemu denganmu, dia merengek terus." saut mas Riyan, aku melihat kearah Riana yang sedang tersenyum padaku.


"om.. Riana ingin es krim, jadi kita akan pergi kan?" ucapnya dengan lucu, aku pun tersenyum karena merasa gemas dengannya.


"tentu saja, kita akan pergi, om banyak waktu luang jika untukmu." ucapku, aku sangat gemas melihat Riana. mungkin jika ada Nadia aku akan meminta satu yang seperti Riana padanya, dan aku juga sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri.


"om.." panggil Bagas, entah sejak kapan Bagas sudah menjadi besar wajahnya mirip dengan mas Riyan, Bagas mendekat kearahku.


"om.. hari ini ulang tahun bunda, apa om sudah mencari bunda?" ucapnya membuatku terkejut, sudah ratusan kali Bagas menyuruhku untuk mencari Nadia. aku ingin sekali menceritakan tentang kejadian Nadia padanya tapi usianya masih kecil belum cukup untuk mengerti. aku tidak menjawab dengan perkataan Bagas, aku hanya diam.


"Kara setidaknya cari dia, mungkin dia menunggumu untuk menjemputnya." ucap mas Riyan, aku pikir itu mustahil Nadia menungguku.


"apa kau tidak mengajar?" ucapku mengalihkan pembicaraan, mas Riyan terlihat kesal.


"kau ini selalu mengalihkan pembicaraan, aku tahu 6 tahun kau menderita. kau bahkan tidak bahagia dengan kesendirianmu tanpa Nadia." jelas mas Riyan, aku berpikir itu benar, tapi tidak sepenuhnya benar.

__ADS_1


"aku sudah bahagia dengan kalian, bahkan dia juga sudah bahagia dengan orang lain." ucapku lalu melangkah pergi menggendong Riana, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Bagas dan mas Riyan.


Nadia seandainya kamu tahu, aku selalu mencintaimu dan akan selamanya mencintaimu. seperti apa keaadaanmu sekarang, kalau bisa biarkan aku melihatmu meskipun hanya sebentar.


__ADS_2