
kelanjutan Flashback...
"aku hamil, lihatlah!" ucap Amelia, Adnan terkejut langsung menghampiri Amelia.
"apa ini sungguhan?" tanya Adnan yang masih tidak percaya, Amelia mengangguk.
"iya, aku sudah 2 kali aku melakukan test itu. awalnya aku masih ragu dan sekarang aku yakin.." saut Amelia memegang perutnya, Adnan juga memegang perut itu.
"aku.. aku sangat senang, besok kita kedokter." ucap Adnan, Amelia mengangguk.
8 bulan berlalu, perut Amelia sudah membesar dengan kehamilan pertamanya. siang itu Amelia merasa lapar, ia pergi kedapur. disana ia melihat tidak ada makanan yang ia mau, Amelia mencoba memasak sesuatu.
"nyonya, biar saya bantu?. (bahasa inggris)" ucap pelayan, Amelia merasa bingung dengan bahasa inggris. ia memang belajar dengan Adnan, tapi Amelia belum mengerti semuanya.
"hm.. bisakah kamu.. pakai bahasa.. indonesia? (bahasa inggris)" ucap Amelia, pelayan itu mengangguk dan tersenyum.
"nyonya mau apa biar saya bantu!" ucap pelayan itu dengan bahasa indonesia, Amelia tersenyum.
"aku ingin sesuatu yang pedas." ucap Amelia,
"baiklah biar saya buatkan!" ucap pelayan itu, Amelia mengangguk.
"berhenti!" teriak Rosa membuat mereka terkejut.
"untuk apa dibuatkan, itu sudah tugasnya. jika mau buat saja sendiri, kenapa harus menyuruh pelayan." saut Rosa, Amelia menyuruh pelayan itu pergi.
"buatkan saya teh, setelah itu lakukan pekerjaanmu." ucap Rosa, Amelia mengangguk.
Amelia berjalan memberikan teh pada Rosa, Rosa menerima itu tanpa terima kasih Rosa langsung menyeruput teh itu.
pfftt...
"akhh!!" teriak Amelia saat Rosa menyemburkan teh panas mengenai tangan Amelia.
"apa kamu gila!" teriak Rosa membuang cangkir itu kesembarang arah.
"ada apa mi, apa aku membuat kesalahan?" tanya Amelia dengan meniupi tangannya.
"kamu kasih aku teh panas, kamu ingin membunuhku!" ucap Rosa marah,
"Amel tidak tahu kalau mami langsung meminumnya!" saut Amelia.
"bersihkan itu, jangan ada yang membantunya!." ucap Rosa lali pergi dari sana, dengan memegangi perutnya Amelia memungut pecahan cangkir dengan perlahan.
"jangan, pergilah. aku bisa melakukannya!" ucap Amelia saat seorang pelayan ingin membantunya.
malam harinya Amelia sedang mengolesi tangannya dengan salep, akibat teh panas itu tangannya melepuh. Adnan ingin memberi kejutan pada Amelia tapi malah dirinya yang terkejut melihat luka Amelia.
"apa ini?" tanya Adnan, Amelia terkejut dengan itu.
"eh kamu sudah pulang, ini terkena air panas." ucap Amelia, Adnan meniupi luka itu.
__ADS_1
"kenapa kamu tidak hati hati!" ucap Adnan lembut, Amelia tersenyum.
"karena aku merindukanmu, aku melamun lalu begini!" saut Amelia berbohong, Adnan mengelus perut besar Amelia.
"jangan manja seperti mamamu ya.." ucap Adnan pada perut Amelia.
"mandi sana, kamu bauk." Adnan mencium bau badannya sendiri, Amelia tertawa geli melihat itu.
setelah beberapa menit dari kamar mandi Adnan keluar, ia melihat istrinya itu sedang berbicara sendiri dengan mengusap perutnya. Adnan tidur disamping Amelia, mereka melempar senyum.
"cepatlah lahir, jangan membuat mama mu susah sayang." ucap Adnan, Amelia tersenyum.
"papa berjanji padamu setelah kamu lahir, papa akan menjaga kamu dan mama kamu selamanya. meskipun papa harus mengorbankan nyawa papa, papa tetap akan melindungi kalian." ucap Adnan, Amelia mencium pipi Adnan.
"iya kamu pria terbaik!" ucap Amelia, Adnan mengambil sebuah kalung dari dalam lacinya.
"sangat cocok untukmu!" ucap Adnan memasangkan kalung itu pada leher Amelia.
"iya terima kasih. sekarang anakmu ini ingin jalan jalan, mari kita jalan jalan." ucap Amelia, Adnan mengangguk.
setelah mereka berganti pakaian mereka keluar dari rumah itu, mereka berdua bersenang senang diluar. saat dimobil mereka sedang berbincang dengan nama calon anak mereka, sampai tidak sadar sebuah mobil berjalan kearah mereka.
"Adnan awas!!!" teriak Amelia,
"Amelia pegangan, aku akan melindungi kalian!" teriak Adnan, ia mengarahkan mobilnya kesembarang arah.
"Amel aku mencintaimu, sangat mencintaimu." ucap Adnan. Amelia sangat takut dengan itu, hingga mobil Adnan menabrak sebuah pohon besar. tabrakan itu sangat keras, membuat kerusakan yang parah.
"Adnan bangunlah, tolong, tolong." teriak Amelia mulai menangis karena Adnan tidak membuka mata.
beberapa orang datang bersama ambulan, hal pertama yang mereka selamatkan adalah Amelia. mereka membantu Amelia untuk keluar, Amelia terus melihat kearah Adnan. ia terkejut saat beberapa orang menggelengkan kepala saat melihat Adnan.
Amelia merasakan sakit luar biasa pada perutnya hingga tidak sadarkan diri saat menahan sakit itu. ambulan membawa Amelia kerumah sakit, begitu juga dengan Adnan di ambulan lain.
***
"Amel lihatlah, anak kita laki laki!" ucap Adnan, Amelia membuka matanya. terlihat Adnan berdiri menunjuk putra mereka.
"Amel jagalah anak kita, lindungilah dia. maafkan aku, maaf aku tidak bisa melindungi kalian lagi. Amel aku sangat mencintaimu, jika nanti kamu tidak melihatku lagi jangan merasa sedih. karena aku selalu berada di sisimu, bangunlah. bangunlah!!"
*
*
Amelia membuka mata ternyata semua itu hanya mimpi, Amelia melihat sekelilingnya itu adalah rumah sakit. terlihat seorang pelayan rumah yang dikenal Amelia masuk mendekatinya dengan membawa seorang bayi.
"nyonya, anak nyonya laki laki. dia sangat tampan seperti tuan." ucap pelayan itu memberikan putra Amelia, Amelia bahagia melihat putranya lahir dengan sehat.
"bu dimana tuan, dimana suamiku?" tanya Amelia, pelayan itu tidak menjawab hanya diam saja.
"bu kenapa diam, apa yang terjadi. kecelakaan itu, tidak terjadi apapun pada suamiku kan?" tanya Amelia lagi, tiba tiba seseorang membuka pintu dengan kasar.
__ADS_1
brakk!!!
terlihat Rosa berjalan cepat menghampiri Amelia, terlihat wajah sedih disana. Rosa berjalan kearah Amelia dan langsung menarik Amelia, Amelia memgangi putranya.
"pembunuh, kamu pembunuh putraku!" teriak Rosa, pelayan itu mengambil anak yang dipegang Amelia.
"mami apa yang mami maksud?" tanya Amelia yang masih tidak mengerti.
"jangan berpura pura, jika kau tidak mengajak putraku pergi malam itu. kecelakaan ini tidak akan terjadi, dan bahkan putraku tidak akan meninggal. kamu pembunuh, pembunuh putraku!!" teriak Rosa menangis frustasi, Amelia terkejut dengan itu.
"kamu wanita pembawa sial!!"
dengan lemah perlahan Amelia berjalan keluar, Amelia melihat kamar sebelah yang ia yakini kamar Adnan. Amelia melihat seseorang ditutup tubuhnya oleh selimut sampai kepala, perlahan Amelia membuka selimut itu.
betapa terkejutnya Amelia melihat tubuh Adnan yang terdapat luka pada kepalanya, Amelia melihat wajah Adnan yang sudah pucat. ia mencoba merasakan nafas Adnan, tapi tidak ada pergerakan sama sekali.
"Adnan, kenapa kamu tidur?, putra kita sudah lahir, bangunlah!" ucap Amelia lemah, Amelia mengguncang tubuh Adnan perlahan.
"Adnan bangun, kita harus memberikan nama untuk anak kita. Adnan buka matamu... Adnan.. bangun..." ucap Amelia mulai menangis
"aku ingin kita melindunginya bersama sama, Adnan aku mohon. lihatlah ini putra kita." Amelia mengambil putranya dan menunjukkan pada Adnan, tapi tidak ada pergerakan apapun karena Adnan sudah meninggal dunia karena kecelakaan itu.
"kamu tidak bisa meninggalkan aku, tidak bisa.. bangunlah!! hiks.. bangunlah..." Amelia menangis semakin keras dengan memeluk anaknya.
"kami membutuhkanmu, putramu membutuhkanmu!!" ucap Amelia merosot kelantai, Amelia menangis semakin keras ketika mengingat pertemuan pertama dengan Adnan hingga menikah sampai sebelum kecelakaan.
Flashback off
"sejak saat itu aku memberikan nama Adnan pada putraku, bertahun tahun aku tinggal bersama ibu mertuaku. aku dianggap pembawa sial, dianggap sebagai seorang pembantu, aku bertahan dengan semua itu karena putraku. " ucap Amelia menangis, Vano mendengar cerita itu meneteskan air mata.
"lalu putramu jadi pendiam kau bilang karena papanya meninggal, tapi pada saat itu Adnan baru saja lahir?" tanya Vano.
"suatu malam ibu mertuaku memarahiku karena membuat kesalahan, ia memakiku dan mengataiku sebagai pembunuh putra semata wayangnya. Adnan melihat semua itu, Adnan tidak sadarkan diri. kami semua panik dan membawanya kerumah sakit, setelah dua hari Adnan terbangun tapi dia menjadi pendiam saat usia 5 tahun hingga sekarang. kadang ia hanya akan memandangku dengan tatapan kosong, lalu menciumku." jelas Amelia menangis.
"ibu mertuaku menyuruhku untuk pergi tanpa membawa Adnan, aku menolaknya bahkan Adnan pun menolak. sampai kesedihan Adnan berlarut ketika melihatku setiap malam menangis sendiri didalam kamar."
"aku tidak mau putraku terus seperti itu, akhirnya setelah 9 tahun aku memutuskan untuk pergi dari neraka itu. aku membawa sisa tabunganku yang diberikan suamiku, lalu aku membawa putraku diam diam hingga kemari, tapi ibu mertuaku memerintahkan orang untuk mengambil putraku, baginya Adnan adalah pewaris keluarga itu." ucap Amelia lagi.
"aku tidak pernah tahu bahwa mereka menemukan aku disini, aku sangat takut Vano. aku takut mereka mengambil putraku, putraku adalah harta ku." ucap Amelia menangis, Vano merasa kasihan melihat itu.
"aku akan melindungi kalian, Amelia tinggallah dirumahku. banyak keamanan disana, kamu bisa tenang tinggal disana dengan putramu. jika kamu butuh apapun, kamu bisa memerintahkan pelayan disana." ucap Vano menyeka air mata Amelia.
"itu akan merepotkan!" ucap Amelia pelan, Vano menggelengkan kepala.
"tidak, aku mohon jangan menolak, ini demi putramu. ayo bereskan barang barang kalian, kalian pindah kerumah ku." ucap Vano, Amelia tersenyum tipis.
"terima kasih Vano, takdir membawaku bertemu dengan orang baik sepertimu." ucap Amelia, Vano tersenyum.
"ada orang lain yang lebih baik, lain kali akan kupernalkan kamu padanya." ucap Vano, mereka pun saling tersenyum.
***
__ADS_1
jangan lupa like dan komen kalian, semua itu semangat untuk author😍 beri vote kalian juga ya..😁