
Kara membawa Nadia kekamarnya, Kara menggendong Nadia yang masih menangis. Kara menidurkan Nadia dan menyelimutinya, Kara mencoba menenangkan Nadia.
kenapa aku merasa sakit saat dia menangis, kenapa saat orang lain menyentuh nya aku sangat marah, ada apa denganku.
Kara menarik Nadia dan berusaha memeluknya, Nadia terkejut tapi Nadia menikmati pelukan itu.
"maafkan aku..." ucap Nadia, Kara melepas pelukannya.
"kenapa?" tanya Kara menghapus air mata Nadia.
"aku tidak bisa mencegahnya saat menyentuhku..." Nadia kembali meneteskan air mata.
"apa aku mempermasalahkannya?" Nadia memandang wajah Kara.
"tidak,"
"baiklah sekarang ayo tidur.." Kara membaringkan Nadia dan menyelimutinya, lalu Kara pergi kearah kamar mandi.
Nadia membuka matanya dan menangis.
kamu tidak mempermasalahkannya karena bagimu aku bukanlah istrimu, aku hanya menantu dikeluargamu, mungkin ke khawatiranmu itu karena aku adalah milik keluargamu, bukan milikmu.
didalam kamar mandi Kara menyalakan sower dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin, Kara mencoba menghilangkan emosinya karena Kara masih emosi melihat kejadian itu.
"apa yang terjadi padaku, kenapa aku sangat sakit melihatnya seperti itu!" gumam Kara.
kejadian Kara menemukan Nadia...
Kara dan Reno datang setelah 1 jam Nadia datang, Kara ingin menemui klien disana, tapi klien mereka membatalkan pertemuan nya. akhirnya Kara menyuruh Reno untuk kembali sedangkan ia pergi mencari Nadia.
Kara bertanya tanya dimana keberadaan Nadia, dia mencari keseluruhan restoran itu. tiba tiba Kara mendengar suara yang ia kenali,
"Lepaskan. mmm.. "
Kara mencari cari suara itu, sekali lagi Kara mendengar suara itu.
"Vano kamu brengsek ahh.."
setelah mendengar nama Vano Kara berusaha mencari dan ia menemukan Vano yang berusaha mencium Nadia dengan paksa dan terlihat Baju Nadia tersobek, Kara mendi Vano dan langsung memberikan pukulan diwajahnya.
///////////
setelah beberapa menit Kara keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya, ia mendapati Nadia sedang tidur pulas.
"sejak kapan tubuhnya sangat kecil begini?" gumam Kara karena melihat tubuh Nadia yang mungil.
"Nad, segarkan dirimu, mandilah!" ucap Kara pelan memegang bahu Nadia, tapi Nadia sudah tertidur pulas.
Kara pun menyelimuti Nadia dan dia keluar kamarnya menuju ruang kerjanya, Kara tidur disofa yang tersedia disana.
****
Kara terbangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling dan dia sadar bahwa dirinya tidur diruang kerjanya. Kara keluar dari ruang kerjanya dan bertemu ibunya yang terlihat rapi dipagi hari.
"mama.. mau kemana?" tanya Kara,
"mama dan papa akan kesemarang, papa mu ada urusan bisnis. oh iya kamu dan Nadia disini baik baik ya, mama tinggal selama 5bulan saja."
__ADS_1
"yasudah papa dan mama berangkat dulu, bilang Nadia ya mungkin dia masih tidur."
"iya pa, nanti Kara sampaikan!" Kara melihat mobil ayahnya sudah menjauh dan hilang.
"lama sekali 5bulan," ucap Kara lalu masuk dalam kamarnya, Kara mendapati Nadia yang masih tertidur.
"Nad sudah pagi, bangunlah apa kau tidak bekerja.." ucap Kara pelan membangunkan Nadia
"hm.." hanya itu yang diucapkan Nadia, Kara membalikkan tubuh Nadia.
"Nadia kamu kenapa?" tanya Kara saat melihat wajah Nadia memerah, Kara memegang dahi Nadia dan merasakan panas yang luar biasa.
"Nadia!, bagaimana dia bisa demam!" Kara menggendong Nadia dan membawanya kerumah sakit.
Kara panik, ia mengendarai mobil nya dengan cepat menuju kerumah sakit. saat sampai rumah sakit Kara menggendong Nadia dan berlari, Nadia terus merintih dan berkeringat membuat Kara semakin khawatir.
"dr. Nadia?" ucap dokter disana mengenali Nadia, Kara pun melihat kearah suara itu.
"David?"
"Kara?"
Nadia dibawa oleh beberapa perawat untuk diperiksa, sedangkan Kara sedang menelfon seseorang dan terlihat panik diwajahnya. Kara duduk dikursi tunggu menunggu kabar tentang Nadia, ia melihat tangannya dan berpikir tangan itu membawa Angel dulu tapi sekarang juga membawa Nadia yaitu istrinya.
"Kara!"
Kara melihat kearah suara yang memanggilnya dan ternyata David. Kara dan David bersahabat saat semasa sma disurabaya, tapi mereka berpisah saat David memutuskan untuk kuliah dijakarta mengambil jurusan kedokteran.
"David bagaimana keadaannya?" David menenengkan Kara.
"dia hanya demam tinggi, apa dia mengalami shock berat?" Kara mengangguk pelan, David melihat Kara begitu khawatir pada wajahnya.
"ya dulu istriku sakit parah dan akhirnya meninggalkan aku." David terkejut dengan itu.
"lalu dia bukan istrimu?"
"dia istriku, keluargaku menjodohkan kami!"
"Nadia wanita yang baik, dia juga ramah, sifatnya disukai semua orang disini. bukan hanya dokter dan perawat, para pasien pun selalu mencari Nadia untuk memeriksa mereka." Kara tersenyum dengan itu.
"ya.. dia wanita yang baik dan juga menantu yang baik!"
"apa dia bukan istri yang baik?" ucap David lagi.
"mungkin saja jika aku menerimanya sebagai istri."
"terimalah jika kau ingin menerimanya, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari" Kara menatap David, David menepuk Kara dan meninggalkan Kara.
apa maksudnya itu, aku tidak menyukainya..
Kara masuk dalam ruangan Nadia, terlihat Nadia tidur sangat pulas. sekilas ingatan tentang Angel yang terbaring sakit tergambar dalam otak Kara, lalu Kara melihat kissmark dileher Nadia, Kara jadi mengingat Vano dan Kara mulai marah.
"ukhh..." suara Nadia membuat Kara lega entah kenapa itu.
"apa kau butuh sesuatu?" Kara membantu Nadia duduk, Nadia melihat sekelilingnya.
"dimana ini?" tanya Nadia, Kara sedang mengambil makanan untuk Nadia.
__ADS_1
"kau demam, ini dirumah sakit. sekarang makanlah, buka mulutmu." Nadia menurut dengan itu, Kara mulai menyuapi Nadia sampai habis.
"Kara kau tidak ke kantor?" ucap Nadia lagi.
"kau sakit jadi aku tidak kekantor, Reno yang mengurus semuanya." Nadia hanya mengangguk, Kara pun duduk disofa menelfon seseorang.
"istirahatlah, aku akan keluar sebentar ada Reno didepan!" Nadia hanya mengangguk pelan dan menutup matanya, Kara memegang dahi Nadia yang sudah lumayan tidak panas, Kara pun keluar dan menemui Reno.
"Kara aku sudah mengurusnya, bagaimana keadaannya." tanya Reno.
"demam tinggi sekarang sudah baik baik saja!" ucap Kara fokus pada hp nya.
"kau kesini terburu buru, bahkan kau belum membersihkan dirimu, ini aku sudah bawa pakaian!" Kara menerima setelan pakaian itu.
"kau sudah jatuh cinta padanya!"
"jangan sembarangan bicara Reno!"
"ck.. mungkin kamu belum sadar, nanti kamu pasti akan sadar lihat saja." perkataan Reno membuat Kara semakin kesal.
"pergilah ke kantor jika selesai, aku akan memberikan pelajaran padamu." Reno tertawa dan meninggalkan Kara.
ingatan Nadia...
"Vano berjanjilah kamu tidak akan pernah memaksa saya dengan kehendakmu!" ucap Nadia pada Vano.
"iya sayang, saya berjanji. tapi.."
"tapi apa Van?"
"tapi kalau saya memeluk kamu boleh kan?"
"hahaha.. tentu saja, saya juga mau dipeluk kamu.."
mereka pun berpelukan.
****
Nadia menangis mengingat semua itu, beberapa menit Kara masuk dalam ruangan Nadia, terlihat Nadia duduk ditempat tidur itu dengan melamun.
"kau baik baik saja?" tanya Kara menyadarkan Nadia dari lamunannya.
"hm.. apa kau tadi pulang?" tanya Nadia saat sadar Kara sudah berganti pakaian.
"tidak, Reno yang membawakannya. bagaimana keadaanmu?" Kara duduk disamping Nadia.
"aku baik baik saja, aku ingin pulang!" Kara pun mengangguk, lalu David menghampiri mereka.
"halo dokter Nadia, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya David, Nadia pun tersenyum.
"aku sudah baik baik saja dokter David, bisakah aku pulang?"
"tentu saja, sore nanti kau boleh pulang. Kara ini resep obat untuknya, harus kau belikan loh!" Kara mengangguk, Nadia memandang mereka dan bertanya tanya kenapa David memanggil nama Kara bukannya tuan.
"oh iya dokter Nadia, ini adalah Kara sahabatku dulu saat sekolah sma dan Kara kami ini satu jurusan dulu tapi aku lebih senior. aku tidak menyangka dia adalah suamimu, seharusnya aku datang ke acara pernikahan kalian."
"hm.. tidak masalah pernikahan kami juga sudah 1 bulan." Kara tetap diam saat mereka berbincang, sesekali Nadia tertawa dengan perkataan David.
__ADS_1
aku senang melihatmu tertawa, aku senang melihat senyummu, dan aku tidak senang jika melihatmu bersedih.